23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gatholoco: Sosok Kontroversial, Entah Siapa Kini

Chusmeru by Chusmeru
January 12, 2026
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

SERAT Gatholoco menjadi sesuatu yang kontroversial di dunia spiritual. Bukan hanya isinya. Gambaran fisik siapa sosok Gatholoco (ada pula yang menulis Gatholotjo) dan siapa di balik serat atau karya tulis yang lahir abad ke-18 ini juga masih diperdebatkan hingga kini. Serat yang berisi suluk atau tembang ini pernah dilarang beredar di zaman kolonial, Orde Lama, hingga Orde Baru.

Gatholoco merupakan sosok atau tokoh dalam suluk khazanah sastra Jawa klasik yang kontroversial dan dianggap anti Islam. Perdebatan dalam suluk Gatholoco berkisar soal namanya, masalah ilmu, keilaihan, Islam, alam semesta, dan sebagainya. Namun guru besar Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, Damardjati Supadjar, sebagaimana dikutip pustakaindigo.com (2017) mengungkapkan, serat Gatholoco ini adalah bentuk sastra peralihan dari masa Majapahit ke masa Islam.

Menurut Damardjati Supadjar, suasana waktu itu menggambarkan betapa banyak orang mengagungkan syariat, namun ia tidak setuju jika suluk itu dianggap sebagai sindiran bagi umat Islam.  Bagi Damardjati, suluk Gatholoco adalah pepenget (pengingat) bagi mereka yang mengagungkan syariat.

Semestinya tidak berhenti di situ. Sesudah syariat yang informatif, masih ada bentuk lebih lanjut, yaitu tarekat yang transformatif, hakikat yang konformatif hingga akhirnya berpuncak pada makrifat yang iluminatif, yang mencerahkan. Dalam istilah Jawa, Jiwa kang Kajawi mencakup syariat, tarekat, hakikat dan makrifat. Hal ini juga sejalan dengan serat Wedhatama yang mengulas sembah raga, cipta, jiwa dan rasa.

Unsur mistik dan dipenuhi narasi vulgar dan seksual membuat serat Gatholoco menuai banyak kecaman. Carel Poensen, seorang misionaris Belanda pada tahun 1872 menyebut serat Gatholoco dari sudut pandang sastra, karya ini kurang berharga. Tetapi menilik dari semangatnya, penulis karya itu menyodorkan konsepsi terkait akhlak dan kebajikan, yang sayangnya disampaikan tanpa kearifan dan kesopanan.

Tentang siapa penulis serat Gatholoco hingga kini masih menjadi misteri. Banyak yang menyebut sebagai karya anonim. Namun ada pula yang beranggapan serat itu karya Soerjanagara, ada yang menyebut Raden Ngabehi Ronggowarsito, dan ada pula yang mengatakan karya seorang bangsawan tinggi di Kediri.

Lantas siapakah Gatholoco itu? Dalam tafsir Gatholoco yang ditulis oleh Joko Su’ud Sukahar (1999), sosok Gatholoco digambarkan sebagai manusia yang jelek rupa dan bertabiat tercela. Manusia ini mengaku sebagai lelanange jagad yang konotatif. Menyebut diri sebagai lelaki yang mumpuni. Menantang siapa saja yang ditemui. Mengajak berdiskusi maupun berkelahi.

Figur Gatholoco dianggap luar biasa. Pandai bicara, pandai berfilsafat. Pandai mengolok-olok, juga pandai memprediksi. Dengan kemampuannya yang seperti itu, para lawan Gatholoco mengakui kehebatannya. Namun lantaran sikapnya yang arogan membuat orang lain tak pernah menghargainya. Kehadiran Gatholoco selalu dihindari. Siapa pun enggan bertemu, takut bermasalah dengannya.

Tak Melulu Soal Agama

Gatholoco memang selalu ingin berdebat tentang agama, ketuhanan, dan kehidupan di mana pun dan kepada siapa pun yang ia temui dalam pengembaraannya. Ketika dituduh telah merusak agama oleh seorang penyabit rumput, Gatholoco tidak terima. Ia mengatakan, agama tidak bisa dirusak. Sudah ditakdirkan Hyang Widi, agama adalah agemaning aji. Namun kalau hanya dimasukkan lisan, itu yang sanggup merusak agama. Sama dengan jika makan dimasukkan dubur. Itu tetap namanya manusia yang merusak agama ( Sukahar, 1999:24).

Selanjutnya Gatholoco bertutur, agama itu bebas. Sesuka orang hidup. Biar agama Cina, jika tulus lahir batin, sungguh akan diterima. Agamaku yang suci, yaitu agama rasa. Agama yang menuruti perasaan yang dirasakan hati. Rasa badan dan lisan. Rasanya manis gurih, pedas, asin, masam, kecut. Pahit dan getir. Semua.

Ketika berdebat dengan seorang kiai, Gatholoco pun menguraikan tentang doa. Menurut Gatholoco, di dunia ini jangan cuma melafalkan sesuatu. Komat-kamit berdoa. Semua itu hanya lafal. Di dunia harus mengetahui asal manusia, hidup sampai mati.

Dalam pengelanaannya, Gatholoco berhasil mendapatkan banyak murid. Tak melulu soal agama, Gatholoco juga mengingatkan tentang keselamatan hidup. Jika berharap selamat, maka jangan semaunya dan sewenang-wenang. Yang seperti itu tidak baik. Jangan menghina-hina kepada sesama. Umat itu sama saja. Pandai, bodoh, baik, jelek, untung dan celaka, kuli, tani, putra putri tidak berbeda.

Nasihat demi nasihat meuluncur dari mulut Gatholoco di hadapan murid-muridnya. Sudah ditakdir oleh Allah, kata Gatholoco. Tidak bisa diubah, takdirnya sendiri-sendiri. Lebih baik menerima. Dan saat hidup ingatlah mati. Di dunia ini ingatlah. Jangan gampang curiga dan kikir. Setengah menyombongkan diri. Memelihara dengki. Senang berdusta dan memfitnah. Jahil serta iri, menipu dengan kasar dan halus; lebih-lebih senang menganiaya.

Memang tak melulu soal agama. Sisi humanis sempat dilontarkan Gatholoco. Menurutnya, jangan sekali-kali berlagak sok. Berwatak angkuh menuruti hawa nafsu. Jangan kenyang makan tidur. Nikmatilah secukupnya saja. Yang sabar dan tawakal, yang suka senyum dan jangan marah.

Sosok Gatholoco yang kontroversial, yang sering dikaitkan dengan mistik dan porno; terlontar pula sikap toleransi kepada orang lain. Menurut Gatholoco, orang harus menghargai sesama. Jangan membuat kebencian. Jangan membuat kecewa. Jangan membuat takut dan terkejut. Katanya itu termasuk najis dan haram. Gatholoco pun menegaskan, memakai pakaian dan makan yang sah, itu amalannya orang berilmu. Jangan sembarangan.

Luluh oleh Wanita

Gatholoco yang dinarasaikan sebagai sosok yang buruk rupa, kurus dekil, senang berdebat, ngeyel, petantang-petenteng, galak, dan keras kepala akhirnya luluh juga oleh wanita. Hal itu terjadi ketika ia berada di Cemarajamus, di Gua Siluman yang dihuni para wanita cantik. Gatholoco menantang para wanita untuk berdebat tentang apa saja.

Saat ditanya oleh salah satu wanita di Cemarajamus tentang iman, budi, kukuatan, tentang bumi dan langit, kaya dan miskin, dan wanita; Gatholotjo dengan santai menjawabnya. Tempat iman itu ada di jantung, katanya. Otak adalah tempatnya budi. Otot tempat kekuatan, dan tempatnya malu ada di mata. Di dunia ini yang lebih pahit adalah untungnya orang yang melarat; yang lebih manis untungnya orang yang kaya.

Menurut Gatholoco, yang luas melebihi bumi adalah penglihatan. Tajam melebihi senjata itu nalarnya orang pandai. Yang dingin melebihi air maksudnya hati yang sabar. Lebih keras dari batu adalah hatinya orang yang dangkal pikirannya. Hatinya orang yang gampang marah, panasnya melebihi api.

Tentang pertanyaan pria dan wanita serta budi, Gatholoco menjawab bahwa pria dan wanita lebih banyak wanitanya. Meskipun berujud pria, tidak tahu maksudnya wanita. Itu juga bisa disebut buta wanita. Orang hidup dan orang mati sesungguhnya banyak yang mati. Meskipun wujudnya hidup, kalau orang tanpa budi, itu sama saja seperti orang mati. Orang kaya dan nista pasti banyak yang nista. Meski kaya harta benda, tapi bodoh tanpa budi dan tanpa nalar boleh disebut orang nista.

Lantaran semua pertanyaan para wanita di Cemarajamus mampu dijawab Gatholoco, mereka pun menyerah. Sesuai perjanjian, mereka dengan rela menjadi istri Gatholoco. Hatinya berbunga. Setelah Gatholoco memperistri para wanita itu, kecongkakannya tiba-tiba meredup. Ia luluh oleh para wanita. Gatholoco tiba-tiba meredup, seperti lampu tempel yang kehabisan minyak, bak lilin yang telah mencair (Sukahar, 1999:68).

Begitu juga kekasarannya. Gerak fisiknya tak lagi layaknya Bratasena yang marah atau Wisanggeni yang mengejek para dewa. Sikap itu terpoles akal budi, dan berubah menjadi kewibawaan. Arogansi pernyataan Gatholoco berubah menjadi kearifan. Penuh budi luhur. Tutur katanya lembut dan menyejukkan.

Nasihat Gatholoco kepada para istrinya begitu santun. Dia berpesan, jika berbicara atur tutur kata, dan sampaikan dengan mulut manis. Kabar yang dibawa harus kabar baik, agar hati yang mendengar senang dan lega. Jangan bicara jelek, atau senang membicarakan kejelekan orang lain. Yang demikian itu tabiat buruk dan dibenci banyak orang.

Gatholoco memang telah luluh oleh wanita. Namun mendengar semua nasihat itu, para istri Gatholoco menunduk. Mereka meresapi kata-kata itu. Mendengarkan melalui telinga kiri, masuk menjadi pepundi. Mendengarkan melalui telinga kanan, menyelusup dalam otak menjadi penalaran.

Serat Gatholoco tentu saja hanya sebuah karya yang entah siapa penulisnya. Meski ada yang menyebutnya sebagai karya sastra. Isinya menuai kontroversi, pro dan kontra. Sosoknya banyak dibenci orang. Namun tidak sedikit yang menyukainya. Gatholoco muncul di masa silam. Kalau pun hendak ditarik dalam konteks kekinian, entah siapa dia. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: agamaGatholocojawasastra jawaSpiritualtokoh jawa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Song Within a Song’: Mencari Makna di Balik Makna

Next Post

Golden Hibernation, Sonic: Re-Listening and Re-activating the Sleeping Narrative

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Golden Hibernation, Sonic: Re-Listening and Re-activating the Sleeping Narrative

Golden Hibernation, Sonic: Re-Listening and Re-activating the Sleeping Narrative

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co