23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gatrocolonialisme di Sekitar Kita

Doni Sugiarto Wijaya by Doni Sugiarto Wijaya
January 11, 2026
in Esai
Gatrocolonialisme di Sekitar Kita

Pada tanggal 9 Januari 2026, saya menghadiri satu pameran seni yang paling berkesan di pembukaan tahun 2026 ini. Lokasi pameran terletak di Dalam Seniman Cofee Renon. Pameran seni tersebut berjudul Moneky Millenial Pangan Lokal. Karya seni yang dipamerkan di situ adalah karya seni yang dibuat oleh I Komang Adiartha yang juga selau pendiri Kulidan Kitchen dan bekerja sama dengan  Satumone dan J3smoon. Saya berkeliling di ruang pameran melihat karya karya seni yang dipajang. Ada meja bertaplak putih , daftar harga karya seni yang dibuat menyerupai daftar harga menu makanan.

 Di atas meja ada beberapa piring, peralatan makan dan mainan seni (art toys) monyet. Salah satu alasan seniman memilih membuat mainan seni berbentuk monyet adalah karena monyet hewan yang familiar di Bali. Saat saya berkeliling di ruang pameran , saya memotret satu karya lukisan I Komang Adiartha berjudul Gastro Colonialism. Karya seni tersebut menggambarkan monyet yang matanya ditutup oleh tulisan mie instant dan mie instant melilit lehet dan tangan kiri monyet. Karya ini menunjukkan bagaimana gastro colonialisme eksis di balik mie instant .

Mie instant seperti indomie dan mie sedap merupakan makanan utama  di masyarakat Indonesia termasuk Bali. Hampir mendekati nasi. Tapi pernahkan berpikir lebih dalam bahan baku utama mie instant? Banyak yang tidak berpikir demikian karena budaya masyarakat Indonesia fokus pada konsumsi. Iklan di media massa berperan dalam merangsang orang orang untuk mengonsumsi mie instant. Ketika harga mie instant naik sebanyak  30%, tak sedikit orang yang berpikir bahwa ini tak jauh beda dari kenaikan  harga beras. Yang sering luput dari perhatian adalah bahan utama  untuk 95% mie instant yang beredar di berasal dari luar negeri.

 Indonesia adalah konsumen mie instant terbesar kedua di dunia setelah China1. Dibalik harga mie instant yang murah ada subsidi besar untuk impor gandum dan tepung gandum untuk pembuatan tepung terigu yang menjai bahan baku mie instant. Beban negara untuk subsidi tidak sedikit. Padahal Indonesia punya banyak tanaman budidaya dalam negeri yang berpotensi jadi bahan baku mie. Beras, singkong, umbi-umbian, kentang, jagung, pisang, sorghum  dan sagu adalah contohnya. Tapi karena sudah terbiasa dengan mie dari tepung terigu, amat susah beralih menggunakan tepung dari bahan alternatif. Meski bahan bahan selain gandum tidak mengandung zat gluten sehingga aman bagi yang alergi gluten.

Salah satu karya pada pameran Moneky Millenial Pangan Lokal

Makanan lain yang boleh dianggap bentuk dari gastro colonialism adalah junk food . Bahan bakunya yang mengandung banyak zat kimia dan impor dari luar. Coba lihat, pizza, biskuit, kue, roti, sandwich   dan burger yang jadi makanan favorit di Indonesia saat ini, bahan utamanya sama seperti mie instant yaitu tepung terigu. Makanan yang terkenal di luar negeri jika bahan bakunya mudah diproduksi di indonesia seperti tortilla yang berasal dari jagung dan kentang goreng yang berbahan utama kentang dapat disebut kreativitas gastro yang berdaulat.

Jadi Dapatkah warga Indonesia menerima kenyataan kalau impor gandum dan bahan bahan yang terbuat dari gandum tidak disubsidi oleh pemerintah sehingga harga tepung terigu pastinya lebih mahal daripada sekarang ini dan di saat yang sama pemerintah mendorong produksi tepung dan produk produk olahan dari tepung beras, jagung, singkong, umbi umbian, sagu, sorhum, pisang dan kentang demi memberdayakan petani dan tenaga kerja manufaktur dan sekaligus mewujudkan kedaulatan pangan?

Saya sebagai salah satu konsumen tidak begitu keberatan jika gandum dan tepung terigu mahal harganya karena tidak ada subsidi karena itu tidak berkontribusi terhadap kedaulatan pangan di Indonesia. Meski konsekuensinya biskuit, kue kering dan kue kue yang terbuat dari tepung terigu seperti kue velte merah, hutan hitam, tiramisu, opera dan kue kue yang dijual di kafe dan toko kue ulang  tahun  yang mana  tak jarang sebagai produk dari gastrocolonialism harganya menjadi mahal.  Tapi itu adalah konsekuensi yang harus diterima jika ingin berkontribusi untuk kedaulatan pangan indonesia. Kalau saya menguji subsidi import gandum dan tepung gandum dengan tiga pertanyaan:

  1. Apa masalah yang diselesaikan dengan subsidi import gandum?
  2. Apa hasil wujud nyata dari subsidi import gandum?
  3. Bisakah subsidi import gandum tidak membebani anggaran negara?

Jawaban untuk ketiga pertanyaan di atas adalah tidak ada. Jika ada perusahaan yang ingin import gandum dan tepung gandum, perusahaan itu harus gunakan uangnya sendiri sepenuhnya. Bukan melobi pemerintah untuk dapat subsidi.

Untuk mie, kue, biskuit, kue kering,loyang dan lain lain yang terbuat dari tepung beras, jagung, singkong , umbi , sagu, dan pisang ini dapat menjadi bahan bisnis. Mie dari tepung beras, lembaran roti tipis dari tepung jagung , kue dari tepung singkong dan biskuit dari tepung kentang tak kalah enak dari yang terbuat dari tepung gandum .

Craig Santos Perez adalah aktivis asal Guam yang mempelopori istilah gasto-colonialism. Ia menggunakan istilah gastro-colonialism atau penjajahan pangan untuk medeskripsikan keterikatan masyarakat Hawaii terhadap barang pangan impor-yang dibuat dengan bahan-bahan berkualitas rendah dan diproduksi oleh perusahaan multinasional, sehingga hal ini berkontribusi pada buruknya kondisi gizi dan kesehatan masyarakat setempat2.

Kalau kita refleksikan dengan kondisi di Indonesia termasuk di Bali, ini adalah masalah nyata. Barang barang makanan di supermarket yang diproduksi oleh perusahaan multinational seperti Nestle seringkali berkualitas rendah dan berbahan baku impor. Gandum dan tepung yang terbuat dari gandum adalah buktinya. Lalu masyarakat Indonesia terbujuk untuk amat menyukai makanan yang terbuat dari gandum dan tepung gandum melalui iklan media massa dan pengaruh dari luar negeri. Para penjajahlah yang mengajarkan orang Indonesia menyukai tepung gandum meski gandum tidak pernah ditanam dan pemerintah Indonesia membebani diri dengan mensubsidi import gandum dan tepung terigu. Yang miris adalah makanan yang terbuat dari gandum menandakan modernisasi tapi makanan yang terbuat dari ubi  ketinggalan zaman. 

Ini bukti gastro kolonialisme merasuk secara mendalam di sebagian  masyarakat Indonesia. Kalau mau diadakan survei kepada penduduk Indonesia di kota, apakah mereka lebih menyukai mie , kue, kue kering dan biscuit berbahan tepung terigu atau tepung yang terbuat dari bahan bukan gandum, hampir pasti menjawab lebih memilih produk tepung terigu. Tak jarang menganggap kalau terbuat dari tepung yang berbahan selain gandum kehilangan “autentik”.  Faktor agar sesuai selera internasional dapat berperan di sini. Tapi yang disebut selera internasional itu selalu mengacu pada negara beriklim subtropis dan iklim sedang dimana gandum memang cocok ditanam di sana.   

Sumber:

  • Siswodiharjo, Sunardi.  Menggugat “Gastro-Colonialism”. Kompas, 13 September 2024.
    https://www.kompas.com/food/read/2024/09/13/115326975/menggugat-gastro-colonialism?page=all.
    Diakses tanggal 11 Januari 2025
  • Ibd

Tags: gastronomiPameran Seni Rupapanganpangan lokal
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Opini Rakyat Jelata Buat PHDI Pusat

Next Post

‘Song Within a Song’: Mencari Makna di Balik Makna

Doni Sugiarto Wijaya

Doni Sugiarto Wijaya

Lulus Kuliah tahun 2017 dari Universitas Pendidikan Nasional jurusan ekonomi manajemen dengan IPK 3,54. Mendapat penghargaan Paramitha Satya Nugraha sebagai mahasiswa yang menulis skripsi dengan bahasa Inggris. Sejak tahun 2019 pertengahan bulan Oktober, Doni mulai belajar menulis di blog secara otodidak. Doni menulis untuk bersuara kepada publik mengenai isu isu lingkungan hidup, sosial dan satwa liar.

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
‘Song Within a Song’: Mencari Makna di Balik Makna

'Song Within a Song': Mencari Makna di Balik Makna

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co