2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gatrocolonialisme di Sekitar Kita

Doni Sugiarto Wijaya by Doni Sugiarto Wijaya
January 11, 2026
in Esai
Gatrocolonialisme di Sekitar Kita

Pada tanggal 9 Januari 2026, saya menghadiri satu pameran seni yang paling berkesan di pembukaan tahun 2026 ini. Lokasi pameran terletak di Dalam Seniman Cofee Renon. Pameran seni tersebut berjudul Moneky Millenial Pangan Lokal. Karya seni yang dipamerkan di situ adalah karya seni yang dibuat oleh I Komang Adiartha yang juga selau pendiri Kulidan Kitchen dan bekerja sama dengan  Satumone dan J3smoon. Saya berkeliling di ruang pameran melihat karya karya seni yang dipajang. Ada meja bertaplak putih , daftar harga karya seni yang dibuat menyerupai daftar harga menu makanan.

 Di atas meja ada beberapa piring, peralatan makan dan mainan seni (art toys) monyet. Salah satu alasan seniman memilih membuat mainan seni berbentuk monyet adalah karena monyet hewan yang familiar di Bali. Saat saya berkeliling di ruang pameran , saya memotret satu karya lukisan I Komang Adiartha berjudul Gastro Colonialism. Karya seni tersebut menggambarkan monyet yang matanya ditutup oleh tulisan mie instant dan mie instant melilit lehet dan tangan kiri monyet. Karya ini menunjukkan bagaimana gastro colonialisme eksis di balik mie instant .

Mie instant seperti indomie dan mie sedap merupakan makanan utama  di masyarakat Indonesia termasuk Bali. Hampir mendekati nasi. Tapi pernahkan berpikir lebih dalam bahan baku utama mie instant? Banyak yang tidak berpikir demikian karena budaya masyarakat Indonesia fokus pada konsumsi. Iklan di media massa berperan dalam merangsang orang orang untuk mengonsumsi mie instant. Ketika harga mie instant naik sebanyak  30%, tak sedikit orang yang berpikir bahwa ini tak jauh beda dari kenaikan  harga beras. Yang sering luput dari perhatian adalah bahan utama  untuk 95% mie instant yang beredar di berasal dari luar negeri.

 Indonesia adalah konsumen mie instant terbesar kedua di dunia setelah China1. Dibalik harga mie instant yang murah ada subsidi besar untuk impor gandum dan tepung gandum untuk pembuatan tepung terigu yang menjai bahan baku mie instant. Beban negara untuk subsidi tidak sedikit. Padahal Indonesia punya banyak tanaman budidaya dalam negeri yang berpotensi jadi bahan baku mie. Beras, singkong, umbi-umbian, kentang, jagung, pisang, sorghum  dan sagu adalah contohnya. Tapi karena sudah terbiasa dengan mie dari tepung terigu, amat susah beralih menggunakan tepung dari bahan alternatif. Meski bahan bahan selain gandum tidak mengandung zat gluten sehingga aman bagi yang alergi gluten.

Salah satu karya pada pameran Moneky Millenial Pangan Lokal

Makanan lain yang boleh dianggap bentuk dari gastro colonialism adalah junk food . Bahan bakunya yang mengandung banyak zat kimia dan impor dari luar. Coba lihat, pizza, biskuit, kue, roti, sandwich   dan burger yang jadi makanan favorit di Indonesia saat ini, bahan utamanya sama seperti mie instant yaitu tepung terigu. Makanan yang terkenal di luar negeri jika bahan bakunya mudah diproduksi di indonesia seperti tortilla yang berasal dari jagung dan kentang goreng yang berbahan utama kentang dapat disebut kreativitas gastro yang berdaulat.

Jadi Dapatkah warga Indonesia menerima kenyataan kalau impor gandum dan bahan bahan yang terbuat dari gandum tidak disubsidi oleh pemerintah sehingga harga tepung terigu pastinya lebih mahal daripada sekarang ini dan di saat yang sama pemerintah mendorong produksi tepung dan produk produk olahan dari tepung beras, jagung, singkong, umbi umbian, sagu, sorhum, pisang dan kentang demi memberdayakan petani dan tenaga kerja manufaktur dan sekaligus mewujudkan kedaulatan pangan?

Saya sebagai salah satu konsumen tidak begitu keberatan jika gandum dan tepung terigu mahal harganya karena tidak ada subsidi karena itu tidak berkontribusi terhadap kedaulatan pangan di Indonesia. Meski konsekuensinya biskuit, kue kering dan kue kue yang terbuat dari tepung terigu seperti kue velte merah, hutan hitam, tiramisu, opera dan kue kue yang dijual di kafe dan toko kue ulang  tahun  yang mana  tak jarang sebagai produk dari gastrocolonialism harganya menjadi mahal.  Tapi itu adalah konsekuensi yang harus diterima jika ingin berkontribusi untuk kedaulatan pangan indonesia. Kalau saya menguji subsidi import gandum dan tepung gandum dengan tiga pertanyaan:

  1. Apa masalah yang diselesaikan dengan subsidi import gandum?
  2. Apa hasil wujud nyata dari subsidi import gandum?
  3. Bisakah subsidi import gandum tidak membebani anggaran negara?

Jawaban untuk ketiga pertanyaan di atas adalah tidak ada. Jika ada perusahaan yang ingin import gandum dan tepung gandum, perusahaan itu harus gunakan uangnya sendiri sepenuhnya. Bukan melobi pemerintah untuk dapat subsidi.

Untuk mie, kue, biskuit, kue kering,loyang dan lain lain yang terbuat dari tepung beras, jagung, singkong , umbi , sagu, dan pisang ini dapat menjadi bahan bisnis. Mie dari tepung beras, lembaran roti tipis dari tepung jagung , kue dari tepung singkong dan biskuit dari tepung kentang tak kalah enak dari yang terbuat dari tepung gandum .

Craig Santos Perez adalah aktivis asal Guam yang mempelopori istilah gasto-colonialism. Ia menggunakan istilah gastro-colonialism atau penjajahan pangan untuk medeskripsikan keterikatan masyarakat Hawaii terhadap barang pangan impor-yang dibuat dengan bahan-bahan berkualitas rendah dan diproduksi oleh perusahaan multinasional, sehingga hal ini berkontribusi pada buruknya kondisi gizi dan kesehatan masyarakat setempat2.

Kalau kita refleksikan dengan kondisi di Indonesia termasuk di Bali, ini adalah masalah nyata. Barang barang makanan di supermarket yang diproduksi oleh perusahaan multinational seperti Nestle seringkali berkualitas rendah dan berbahan baku impor. Gandum dan tepung yang terbuat dari gandum adalah buktinya. Lalu masyarakat Indonesia terbujuk untuk amat menyukai makanan yang terbuat dari gandum dan tepung gandum melalui iklan media massa dan pengaruh dari luar negeri. Para penjajahlah yang mengajarkan orang Indonesia menyukai tepung gandum meski gandum tidak pernah ditanam dan pemerintah Indonesia membebani diri dengan mensubsidi import gandum dan tepung terigu. Yang miris adalah makanan yang terbuat dari gandum menandakan modernisasi tapi makanan yang terbuat dari ubi  ketinggalan zaman. 

Ini bukti gastro kolonialisme merasuk secara mendalam di sebagian  masyarakat Indonesia. Kalau mau diadakan survei kepada penduduk Indonesia di kota, apakah mereka lebih menyukai mie , kue, kue kering dan biscuit berbahan tepung terigu atau tepung yang terbuat dari bahan bukan gandum, hampir pasti menjawab lebih memilih produk tepung terigu. Tak jarang menganggap kalau terbuat dari tepung yang berbahan selain gandum kehilangan “autentik”.  Faktor agar sesuai selera internasional dapat berperan di sini. Tapi yang disebut selera internasional itu selalu mengacu pada negara beriklim subtropis dan iklim sedang dimana gandum memang cocok ditanam di sana.   

Sumber:

  • Siswodiharjo, Sunardi.  Menggugat “Gastro-Colonialism”. Kompas, 13 September 2024.
    https://www.kompas.com/food/read/2024/09/13/115326975/menggugat-gastro-colonialism?page=all.
    Diakses tanggal 11 Januari 2025
  • Ibd

Tags: gastronomiPameran Seni Rupapanganpangan lokal
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Opini Rakyat Jelata Buat PHDI Pusat

Next Post

‘Song Within a Song’: Mencari Makna di Balik Makna

Doni Sugiarto Wijaya

Doni Sugiarto Wijaya

Lulus Kuliah tahun 2017 dari Universitas Pendidikan Nasional jurusan ekonomi manajemen dengan IPK 3,54. Mendapat penghargaan Paramitha Satya Nugraha sebagai mahasiswa yang menulis skripsi dengan bahasa Inggris. Sejak tahun 2019 pertengahan bulan Oktober, Doni mulai belajar menulis di blog secara otodidak. Doni menulis untuk bersuara kepada publik mengenai isu isu lingkungan hidup, sosial dan satwa liar.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
‘Song Within a Song’: Mencari Makna di Balik Makna

'Song Within a Song': Mencari Makna di Balik Makna

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co