2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gatrocolonialisme di Sekitar Kita

Doni Sugiarto Wijaya by Doni Sugiarto Wijaya
January 11, 2026
in Esai
Gatrocolonialisme di Sekitar Kita

Pada tanggal 9 Januari 2026, saya menghadiri satu pameran seni yang paling berkesan di pembukaan tahun 2026 ini. Lokasi pameran terletak di Dalam Seniman Cofee Renon. Pameran seni tersebut berjudul Moneky Millenial Pangan Lokal. Karya seni yang dipamerkan di situ adalah karya seni yang dibuat oleh I Komang Adiartha yang juga selau pendiri Kulidan Kitchen dan bekerja sama dengan  Satumone dan J3smoon. Saya berkeliling di ruang pameran melihat karya karya seni yang dipajang. Ada meja bertaplak putih , daftar harga karya seni yang dibuat menyerupai daftar harga menu makanan.

 Di atas meja ada beberapa piring, peralatan makan dan mainan seni (art toys) monyet. Salah satu alasan seniman memilih membuat mainan seni berbentuk monyet adalah karena monyet hewan yang familiar di Bali. Saat saya berkeliling di ruang pameran , saya memotret satu karya lukisan I Komang Adiartha berjudul Gastro Colonialism. Karya seni tersebut menggambarkan monyet yang matanya ditutup oleh tulisan mie instant dan mie instant melilit lehet dan tangan kiri monyet. Karya ini menunjukkan bagaimana gastro colonialisme eksis di balik mie instant .

Mie instant seperti indomie dan mie sedap merupakan makanan utama  di masyarakat Indonesia termasuk Bali. Hampir mendekati nasi. Tapi pernahkan berpikir lebih dalam bahan baku utama mie instant? Banyak yang tidak berpikir demikian karena budaya masyarakat Indonesia fokus pada konsumsi. Iklan di media massa berperan dalam merangsang orang orang untuk mengonsumsi mie instant. Ketika harga mie instant naik sebanyak  30%, tak sedikit orang yang berpikir bahwa ini tak jauh beda dari kenaikan  harga beras. Yang sering luput dari perhatian adalah bahan utama  untuk 95% mie instant yang beredar di berasal dari luar negeri.

 Indonesia adalah konsumen mie instant terbesar kedua di dunia setelah China1. Dibalik harga mie instant yang murah ada subsidi besar untuk impor gandum dan tepung gandum untuk pembuatan tepung terigu yang menjai bahan baku mie instant. Beban negara untuk subsidi tidak sedikit. Padahal Indonesia punya banyak tanaman budidaya dalam negeri yang berpotensi jadi bahan baku mie. Beras, singkong, umbi-umbian, kentang, jagung, pisang, sorghum  dan sagu adalah contohnya. Tapi karena sudah terbiasa dengan mie dari tepung terigu, amat susah beralih menggunakan tepung dari bahan alternatif. Meski bahan bahan selain gandum tidak mengandung zat gluten sehingga aman bagi yang alergi gluten.

Salah satu karya pada pameran Moneky Millenial Pangan Lokal

Makanan lain yang boleh dianggap bentuk dari gastro colonialism adalah junk food . Bahan bakunya yang mengandung banyak zat kimia dan impor dari luar. Coba lihat, pizza, biskuit, kue, roti, sandwich   dan burger yang jadi makanan favorit di Indonesia saat ini, bahan utamanya sama seperti mie instant yaitu tepung terigu. Makanan yang terkenal di luar negeri jika bahan bakunya mudah diproduksi di indonesia seperti tortilla yang berasal dari jagung dan kentang goreng yang berbahan utama kentang dapat disebut kreativitas gastro yang berdaulat.

Jadi Dapatkah warga Indonesia menerima kenyataan kalau impor gandum dan bahan bahan yang terbuat dari gandum tidak disubsidi oleh pemerintah sehingga harga tepung terigu pastinya lebih mahal daripada sekarang ini dan di saat yang sama pemerintah mendorong produksi tepung dan produk produk olahan dari tepung beras, jagung, singkong, umbi umbian, sagu, sorhum, pisang dan kentang demi memberdayakan petani dan tenaga kerja manufaktur dan sekaligus mewujudkan kedaulatan pangan?

Saya sebagai salah satu konsumen tidak begitu keberatan jika gandum dan tepung terigu mahal harganya karena tidak ada subsidi karena itu tidak berkontribusi terhadap kedaulatan pangan di Indonesia. Meski konsekuensinya biskuit, kue kering dan kue kue yang terbuat dari tepung terigu seperti kue velte merah, hutan hitam, tiramisu, opera dan kue kue yang dijual di kafe dan toko kue ulang  tahun  yang mana  tak jarang sebagai produk dari gastrocolonialism harganya menjadi mahal.  Tapi itu adalah konsekuensi yang harus diterima jika ingin berkontribusi untuk kedaulatan pangan indonesia. Kalau saya menguji subsidi import gandum dan tepung gandum dengan tiga pertanyaan:

  1. Apa masalah yang diselesaikan dengan subsidi import gandum?
  2. Apa hasil wujud nyata dari subsidi import gandum?
  3. Bisakah subsidi import gandum tidak membebani anggaran negara?

Jawaban untuk ketiga pertanyaan di atas adalah tidak ada. Jika ada perusahaan yang ingin import gandum dan tepung gandum, perusahaan itu harus gunakan uangnya sendiri sepenuhnya. Bukan melobi pemerintah untuk dapat subsidi.

Untuk mie, kue, biskuit, kue kering,loyang dan lain lain yang terbuat dari tepung beras, jagung, singkong , umbi , sagu, dan pisang ini dapat menjadi bahan bisnis. Mie dari tepung beras, lembaran roti tipis dari tepung jagung , kue dari tepung singkong dan biskuit dari tepung kentang tak kalah enak dari yang terbuat dari tepung gandum .

Craig Santos Perez adalah aktivis asal Guam yang mempelopori istilah gasto-colonialism. Ia menggunakan istilah gastro-colonialism atau penjajahan pangan untuk medeskripsikan keterikatan masyarakat Hawaii terhadap barang pangan impor-yang dibuat dengan bahan-bahan berkualitas rendah dan diproduksi oleh perusahaan multinasional, sehingga hal ini berkontribusi pada buruknya kondisi gizi dan kesehatan masyarakat setempat2.

Kalau kita refleksikan dengan kondisi di Indonesia termasuk di Bali, ini adalah masalah nyata. Barang barang makanan di supermarket yang diproduksi oleh perusahaan multinational seperti Nestle seringkali berkualitas rendah dan berbahan baku impor. Gandum dan tepung yang terbuat dari gandum adalah buktinya. Lalu masyarakat Indonesia terbujuk untuk amat menyukai makanan yang terbuat dari gandum dan tepung gandum melalui iklan media massa dan pengaruh dari luar negeri. Para penjajahlah yang mengajarkan orang Indonesia menyukai tepung gandum meski gandum tidak pernah ditanam dan pemerintah Indonesia membebani diri dengan mensubsidi import gandum dan tepung terigu. Yang miris adalah makanan yang terbuat dari gandum menandakan modernisasi tapi makanan yang terbuat dari ubi  ketinggalan zaman. 

Ini bukti gastro kolonialisme merasuk secara mendalam di sebagian  masyarakat Indonesia. Kalau mau diadakan survei kepada penduduk Indonesia di kota, apakah mereka lebih menyukai mie , kue, kue kering dan biscuit berbahan tepung terigu atau tepung yang terbuat dari bahan bukan gandum, hampir pasti menjawab lebih memilih produk tepung terigu. Tak jarang menganggap kalau terbuat dari tepung yang berbahan selain gandum kehilangan “autentik”.  Faktor agar sesuai selera internasional dapat berperan di sini. Tapi yang disebut selera internasional itu selalu mengacu pada negara beriklim subtropis dan iklim sedang dimana gandum memang cocok ditanam di sana.   

Sumber:

  • Siswodiharjo, Sunardi.  Menggugat “Gastro-Colonialism”. Kompas, 13 September 2024.
    https://www.kompas.com/food/read/2024/09/13/115326975/menggugat-gastro-colonialism?page=all.
    Diakses tanggal 11 Januari 2025
  • Ibd

Tags: gastronomiPameran Seni Rupapanganpangan lokal
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Opini Rakyat Jelata Buat PHDI Pusat

Next Post

‘Song Within a Song’: Mencari Makna di Balik Makna

Doni Sugiarto Wijaya

Doni Sugiarto Wijaya

Lulus Kuliah tahun 2017 dari Universitas Pendidikan Nasional jurusan ekonomi manajemen dengan IPK 3,54. Mendapat penghargaan Paramitha Satya Nugraha sebagai mahasiswa yang menulis skripsi dengan bahasa Inggris. Sejak tahun 2019 pertengahan bulan Oktober, Doni mulai belajar menulis di blog secara otodidak. Doni menulis untuk bersuara kepada publik mengenai isu isu lingkungan hidup, sosial dan satwa liar.

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
‘Song Within a Song’: Mencari Makna di Balik Makna

'Song Within a Song': Mencari Makna di Balik Makna

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co