30 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kopi Maut | Cerpen Heski Dewabrata

Heski Dewabrata by Heski Dewabrata
January 10, 2026
in Cerpen
Kopi Maut | Cerpen Heski Dewabrata

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

PAGI itu merupakan momen di mana aku mencicipi kopi yang membuatku tenang di kota yang cukup padat ini. Musik instrumen yang mengiringi percakapanku dengan sang peracik kopi di depan bar, dan suara air panas yang dituang secara perlahan dari teko leher angsa menuju bubuk kopi yang berada di atas dripper itu menambah ketenangan dalam pikiranku terhadap hiruk-pikuk modernisasi yang merongrong terus-menerus. Sang peracik menuangkan kopi hasil seduhan manual itu ke gelas dan memberikan segelas kopi hangat itu ke hadapanku.

“Pejamkan matamu ketika meminum ini,” kata lelaki tua itu. Umurnya mungkin 50an. Namun, fisiknya terlihat sehat dan wajahnya terlihat tidak mempunyai beban yang dipikul di pundaknya.

Kopi yang disajikannya memiliki warna ekstraksi yang baik. Aroma yang terhirup memiliki aroma floral dan spektrum buah-buahan kuning. Aku meminumnya sambil memejamkan mata sesuai dengan instruksi lelaki tua itu.

Saat aku seruput, dadaku terasa hangat. Rasa dari kopi ini sungguh berbeda. Entah mengapa, aku tidak dapat mendeskripsikan rasa dari kopi ini karena kenikmatannya.

Aku menyeruput untuk kedua kalinya. Di seruputan kedua ini, ada bayangan aneh yang masuk di kepalaku. Bayangan Lorong rumah sakit, suara monitor jantung yang melambat, dan aroma steril seketika menyusup ke kepalaku.

Aku menurunkan cangkir. Tangan kananku gemetar dan nafasku terengah-engah.

“Ada rasa yang mengganggu?” tanya lelaki tua itu.

“Aku tidak dapat menjelaskannya,” kataku. “Ada ingatan samar yang masuk ke pikiranku, t-tapi itu bukan ingatanku.”

Lelaki tua itu tersenyum tipis seakan telah mengetahui rasa dari kopinya.

Sejak hari itu, aku kembali. Berkali-kali. Sebagai penikmat kopi, aku pernah mencicipi berbagai jenis kopi. Dari berbagai daerah, dan dengan segala jenis proses pasca-panen. Namun kopi ini bukan sekadar diminum. Ia menyusup masuk dan menghuni isi kepalaku.

Aku bertanya pada lelaki tua itu, “Apa yang membuat kopi ini mempunyai rasa yang berbeda?”

“Tidak ada. Semua diproses seperti kopi pada umumnya,” jawabnya dengan senyum yang tipis.

“Apa proses pasca-panennya? Apa varietas kopi ini?” Aku sedikit mencecar.

“Prosesnya natural. Varietasnya Sigararutang seperti kopi yang biasa kau temui di pasar.”

“Tidak mungkin. Pasti proses pasca-panennya menggunakan metode eksperimental,” jawabku dengan keraguan.

“Sama sekali tidak,” jawabnya dengan pasti. “Tanah yang tepat membuat kopi ini tumbuh dengan baik. Dan tentunya hal tersebut memberi sensasi baru ketika meminum kopi ini.”

Aku sama sekali tidak puas dengan jawaban lelaki tua itu. Menurutku jawabannya terlalu diplomatis.

Suatu malam ketika kedai lelaki tua itu sudah tutup, aku melihat lelaki tua itu mengobrol dengan pria misterius. Aku mengawasi mereka dari jauh. Ketika pria misterius itu selesai mengobrol dengan lelaki tua itu, aku melihatnya memasuki mobil pick-up. Aku bergegas menuju motorku dan mencoba mengikutinya dari kejauhan.

Mobilnya melaju keluar kota, melewati jalan tanah yang jarang dilalui kendaraan, hingga sinyal ponselku menghilang. Dari kejauhan aku melihat ia berhenti di hamparan ladang yang sunyi sekali. Namun, ladang tersebut ditanami tanaman kopi dengan sangat subur. Terlalu subur untuk tempat yang sangat sepi.

Setelah menunggu cukup lama agar pria itu pulang terlebih dahulu dari ladang, aku turun. Ketika masuk ke ladang tersebut, aku melihat tanah yang hitam, lembap, dan hangat. Terlihat tanaman kopi yang tumbuh rapat, daunnya tebal dan sehat. Ladang itu hanya diterangi oleh satu lampu.

Rasa penasaranku terhadap kopi lelaki tua itu membuatku mengobservasi tanamannya. Aku mencoba untuk mengecek tanahnya, dan anehnya ada bau menyengat yang mengganggu. Aku menggalinya dengan tangan. Tidak dalam. Aku berhenti menggali saat jariku menyentuh sesuatu yang keras.

Tulang.

Aku mundur perlahan, badanku gemetaran, dan napasku tersengal. Aku melihat sekeliling dan menyadari bahwa tanah di ladang itu sedikit bergelombang seperti banyak tubuh yang kembali ke tanah.

Aku mengambil sampel tanah dan satu cherry kopi. Besoknya aku membawa sampel itu ke laboratorium milik kolegaku. Hasil riset yang ku-lakukan membuat badanku lemas dan kepala berputar,

Aku menemukan kandungan protein yang mirip dengan protein di tubuh manusia. Dan yang membuatku semakin tercengang adalah kandungan senyawa organik yang biasanya hanya ditemukan dalam jaringan otak manusia.

Aku menyadari bahwa kopi ini tidak tumbuh di atas kematian. Kopi ini tumbuh dari kematian.

Malam harinya, aku berjalan menuju kedai saat lelaki tua itu sedang membereskan kedai. Ia sama sekali tidak terkejut dengan kedatanganku.

“Kau sudah mengetahuinya?” tanyanya dengan nada lembut.

Ia lalu mengajakku ke ruang belakang. Di sana terlihat foto-foto lama terpasang di dinding, Terlihat foto-foto ladang yang baru saja kudatangi kemarin. Terlihat satu foto hitam-putih seorang lelaki yang wajahnya mirip lelaki tua itu, tetapi versi lebih muda dan lebih segar.

“Siapa itu?” tanyaku dengan ekspresi penasaran.

“Yang bersamamu saat ini,” katanya.

Ia menjelaskan dengan nada lembut seperti seorang guru yang dengan sabar mengajari muridnya. Tentang mikroorganisme yang direkayasa secara genetik untuk menyerap sisa ingatan seluler dari tubuh manusia yang membusuk. Tentang akar kopi yang juga direkayasa untuk menjadi medium penyimpanan biologis. Dan tentang rasa sebagai bentuk memori paling purba.

“Manusia tidak ingin dilupakan,” katanya. “Dan ini adalah upayaku untuk menyimpan memori-memori manusia.”

“Ini pembunuhan.” kataku.

Ia menggelengkan kepala. “Mereka datang dengan sendirinya. Mereka ingin menjadi rasa.”

Aku tertawa. “Lalu kau?”

Ia menatap secangkir kopi di tangannya. “Sudah sejak lama aku selesai diminum.”

Badanku gemetaran dan membuatku mundur selangkah. Saat melihat wajahnya, seketika wajahnya berubah menjadi berlubang seperti tanah yang mengalami erosi.

“Ladang itu butuh orang baru,” katanya dengan suara lirih “Dan sekarang aku sudah terlalu lama berada di luar tanah.”

Badanku membeku. Aku ingin lari. Tapi kakiku berat seperti terbelenggu. Aroma kopi yang pekat memenuhi ruangan. Kepalaku berdengung dan terasa seperti berputar-putar.

“Apa kau merasakannya?” lanjut lelaki tua itu. “Ada rasa yang memanggil-manggilmu.”

Kesadaranku terpecah-pecah seperti potongan puzzle. Aku melihat wajah ibu. Mencium aromanya. Lalu mendengar pesan terakhirnya sebelum menghembuskan nafas terakhir. Air mata jatuh dari mata kiriku tanpa sadar.

“Ko… kopi itu?” tanyaku dengan gemetaran. “Apakah berasal d… da… darinya?”

Lelaki tua itu mengangguk. “Ia memberimu rasa yang lembut, yang membuatmu selalu mencarinya.”

Tidak lama setelah itu, kesadaranku menghilang.

Aku terbangun di ladang dengan tubuh terikat. Tubuhku terkubur tidak dalam. Tanah hangat memeluk seluruh tubuhku. Akar-akar menyentuh kulitku, menyusup masuk ke lapisan endodermis. Dan perlahan menyusup ke dalam pembuluh darahku.

Aku menjerit kesakitan. Tapi suaraku diredam oleh tanah.

Lelaki tua sialan itu terlihat berdiri di tepi lubang dan memperhatikanku dengan ekspresi datar.

“Jangan takut” katanya dengan nada lembut, namun tidak menenangkan. “Rasa takut akan mengacaukan rasanya.”

Aku merasakan sesuatu tumbuh di dadaku. Aku merasakan “proses” baru yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Ingatanku terurai secara perlahan. Satu per satu ingatanku diserap oleh akar.

Sehari berlalu. Tubuhku melemah. Kesadaranku terjaga, tapi mulai terikat pada tanah. Aku mulai bermimpi tentang orang-orang yang datang, mencicipi kopi, dan membawa pulang sedikit rasa dariku untuk di simpan di lidah mereka.

Pagi selanjutnya, aku tidak lagi merasakan kakiku. Lalu secara perlahan seluruh bagian tubuhku tidak dapat kurasakan. Semua terurai perlahan, dan yang tersisa hanyalah rasa.

Di atasku, tanaman kopi berbunga.

Dan di kejauhan, lelaki tua itu sedang menuangkan air panas, menunggu tetesan pertama dari kopi yang tumbuh dengan sangat baik.

Aku harap mereka semua meminumnya sambil memejamkan mata. [T]

Penulis: Heski Dewabrata
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menonton Persatu Tuban Hancur Lebur di Kandang Sendiri

Next Post

Dari Kebun ke Mimbar Guru Besar: Prof. I Wayan Suanda dan Ilmu yang Tetap Membumi

Heski Dewabrata

Heski Dewabrata

a sometimes writer

Related Posts

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails

Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

by Gede Aries Pidrawan
March 28, 2026
0
Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

LUH Sunari merasa tubuhnya berat. Semua yang tampak di sekelilingnya hitam. Pekat. Saat itulah sebuah bayang mendekat. Bayangan itu begitu...

Read moreDetails

Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
March 27, 2026
0
Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

AKU menatap layar laptop yang kosong. Luas, sunyi, dan membuat kepala terasa berdenyut. Kursor berkedip di pojok kiri atas dokumen,...

Read moreDetails

Umpan | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
March 22, 2026
0
Umpan | Cerpen Putri Harya

Aku tidak merasa melanggar norma. Aku juga tidak sedang melakukan dosa. Aku hanya mengusahakan takdirku dengan meniru apa yang sering...

Read moreDetails

Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
March 21, 2026
0
Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

DI kepalaku masih terngiang-ngiang oleh frasa nomina sayur bening dan lele goreng yang keluar dari mulut Darmuji. Sepertinya, itu merupakan...

Read moreDetails
Next Post
Dari Kebun ke Mimbar Guru Besar: Prof. I Wayan Suanda dan Ilmu yang Tetap Membumi

Dari Kebun ke Mimbar Guru Besar: Prof. I Wayan Suanda dan Ilmu yang Tetap Membumi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Vision for All’ Hadirkan Penglihatan Lebih Jelas, 1000 Kacamata Resep bagi Warga Jimbaran
Kesehatan

‘Vision for All’ Hadirkan Penglihatan Lebih Jelas, 1000 Kacamata Resep bagi Warga Jimbaran

SUASANA pagi pada Kamis, 30 April 2026, di Wantilan Kuari, Jimbaran, terasa berbeda. Bukan sekadar hiruk-pikuk aktivitas yang terdengar sejak...

by Nyoman Budarsana
April 30, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Problem Keadilan dalam Pembagian Harta Bersama: Dari Norma ke Uji Konstitusi

Dia luka yang tidak pernah benar-benar terlihat dalam putusan pengadilan berkaitan dengan pembagian harta gono gini dalam perpisah/pecahnya perkawinan  karena...

by I Made Pria Dharsana
April 30, 2026
Oppenheimer: Sains, Sastra, dan Filsafat
Esai

Oppenheimer: Sains, Sastra, dan Filsafat

Ilmuwan di Persimpangan Zaman Nama J. Robert Oppenheimer selalu menghadirkan paradoks: seorang ilmuwan jenius yang sekaligus menjadi simbol kegelisahan moral...

by Agung Sudarsa
April 30, 2026
Dialog Dini Hari Rilis ‘Di Jumah’: Lagu Tentang Rumah yang Tak Sederhana  
Panggung

Dialog Dini Hari Rilis ‘Di Jumah’: Lagu Tentang Rumah yang Tak Sederhana  

SEJAK dibentuk pada 2008 di Bali, Dialog Dini Hari konsisten mempertahankan pendekatan musik yang tenang dan reflektif. Kini, band indie...

by Dede Putra Wiguna
April 30, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

BALI SEDANG KRISIS KEBERANIAN? —‘Cari Aman’, ‘Koh Ngomong’ dan ‘Sing Nyak Uyut’ yang Menghancurkan Bali

— Catatan Harian Sugi Lanus, 29 April 2026 Di permukaan dan kasat mata: Bali sedang menghadapi darurat sampah. Pengerusakan hutan...

by Sugi Lanus
April 30, 2026
Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik
Tualang

Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

NAMA Kabupaten Banyumas selalu identik dengan bahasa “Ngapak” yang sering dijadikan lelucon dalam film dan komedi. Banyumas lantas seolah mendapat...

by Chusmeru
April 30, 2026
Resistensi Penutur: antara “Mempunyai” dan “Memunyai” dalam Bahasa Indonesia
Bahasa

Resistensi Penutur: antara “Mempunyai” dan “Memunyai” dalam Bahasa Indonesia

BARU-BARU ini, dalam perhelatan Seminar Nasional Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Sandibasa) IV, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia, saya mempresentasikan sebuah makalah...

by I Made Sudiana
April 29, 2026
Sambeng Agung, Perang Hama dari Canggu di Pesta Kesenian Bali 2025
Budaya

Pesta Kesenian Bali 2026 Angkat Isu-isu Sosial Aktual Lewat Panggung dan Seminar Seni

Pesona Pesta Kesenian Bali (PKB) masih memukau, dinamis dan relevan. Buktinya, pesta seni milik masyarakat Bali ini berhasil mempertahankan tradisi,...

by Nyoman Budarsana
April 29, 2026
Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles
Esai

Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles

DI tengah dunia yang begitu bising oleh standar dan penilaian, banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa daya tarik ditentukan oleh...

by T.H. Hari Sucahyo
April 29, 2026
“Sing Nyidang Ngomong”, Saat Mr. Rayen Bicara tentang Luka Rumah Tangga dari Sudut Pandang Anak
Pop

“Sing Nyidang Ngomong”, Saat Mr. Rayen Bicara tentang Luka Rumah Tangga dari Sudut Pandang Anak

PADA banyak lagu tentang perselingkuhan, yang kita dengar biasanya hanya dua suara, mereka yang terlibat, mereka yang saling menyakiti. Jarang...

by Angga Wijaya
April 29, 2026
Diseminasi dan Penayangan Perdana Film Dokumenter “Dibia – Hanuman Hitam”: Menelusuri Laku Kesenian Bali melalui Sosok Maestro
Panggung

Diseminasi dan Penayangan Perdana Film Dokumenter “Dibia – Hanuman Hitam”: Menelusuri Laku Kesenian Bali melalui Sosok Maestro

CINEPOLIS Plaza Renon menjadi titik temu antara ingatan, penghormatan, dan refleksi. Di sanalah BALIDOC menggelar diseminasi sekaligus penayangan perdana film...

by Dede Putra Wiguna
April 29, 2026
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026
Khas

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co