12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kopi Maut | Cerpen Heski Dewabrata

Heski Dewabrata by Heski Dewabrata
January 10, 2026
in Cerpen
Kopi Maut | Cerpen Heski Dewabrata

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

PAGI itu merupakan momen di mana aku mencicipi kopi yang membuatku tenang di kota yang cukup padat ini. Musik instrumen yang mengiringi percakapanku dengan sang peracik kopi di depan bar, dan suara air panas yang dituang secara perlahan dari teko leher angsa menuju bubuk kopi yang berada di atas dripper itu menambah ketenangan dalam pikiranku terhadap hiruk-pikuk modernisasi yang merongrong terus-menerus. Sang peracik menuangkan kopi hasil seduhan manual itu ke gelas dan memberikan segelas kopi hangat itu ke hadapanku.

“Pejamkan matamu ketika meminum ini,” kata lelaki tua itu. Umurnya mungkin 50an. Namun, fisiknya terlihat sehat dan wajahnya terlihat tidak mempunyai beban yang dipikul di pundaknya.

Kopi yang disajikannya memiliki warna ekstraksi yang baik. Aroma yang terhirup memiliki aroma floral dan spektrum buah-buahan kuning. Aku meminumnya sambil memejamkan mata sesuai dengan instruksi lelaki tua itu.

Saat aku seruput, dadaku terasa hangat. Rasa dari kopi ini sungguh berbeda. Entah mengapa, aku tidak dapat mendeskripsikan rasa dari kopi ini karena kenikmatannya.

Aku menyeruput untuk kedua kalinya. Di seruputan kedua ini, ada bayangan aneh yang masuk di kepalaku. Bayangan Lorong rumah sakit, suara monitor jantung yang melambat, dan aroma steril seketika menyusup ke kepalaku.

Aku menurunkan cangkir. Tangan kananku gemetar dan nafasku terengah-engah.

“Ada rasa yang mengganggu?” tanya lelaki tua itu.

“Aku tidak dapat menjelaskannya,” kataku. “Ada ingatan samar yang masuk ke pikiranku, t-tapi itu bukan ingatanku.”

Lelaki tua itu tersenyum tipis seakan telah mengetahui rasa dari kopinya.

Sejak hari itu, aku kembali. Berkali-kali. Sebagai penikmat kopi, aku pernah mencicipi berbagai jenis kopi. Dari berbagai daerah, dan dengan segala jenis proses pasca-panen. Namun kopi ini bukan sekadar diminum. Ia menyusup masuk dan menghuni isi kepalaku.

Aku bertanya pada lelaki tua itu, “Apa yang membuat kopi ini mempunyai rasa yang berbeda?”

“Tidak ada. Semua diproses seperti kopi pada umumnya,” jawabnya dengan senyum yang tipis.

“Apa proses pasca-panennya? Apa varietas kopi ini?” Aku sedikit mencecar.

“Prosesnya natural. Varietasnya Sigararutang seperti kopi yang biasa kau temui di pasar.”

“Tidak mungkin. Pasti proses pasca-panennya menggunakan metode eksperimental,” jawabku dengan keraguan.

“Sama sekali tidak,” jawabnya dengan pasti. “Tanah yang tepat membuat kopi ini tumbuh dengan baik. Dan tentunya hal tersebut memberi sensasi baru ketika meminum kopi ini.”

Aku sama sekali tidak puas dengan jawaban lelaki tua itu. Menurutku jawabannya terlalu diplomatis.

Suatu malam ketika kedai lelaki tua itu sudah tutup, aku melihat lelaki tua itu mengobrol dengan pria misterius. Aku mengawasi mereka dari jauh. Ketika pria misterius itu selesai mengobrol dengan lelaki tua itu, aku melihatnya memasuki mobil pick-up. Aku bergegas menuju motorku dan mencoba mengikutinya dari kejauhan.

Mobilnya melaju keluar kota, melewati jalan tanah yang jarang dilalui kendaraan, hingga sinyal ponselku menghilang. Dari kejauhan aku melihat ia berhenti di hamparan ladang yang sunyi sekali. Namun, ladang tersebut ditanami tanaman kopi dengan sangat subur. Terlalu subur untuk tempat yang sangat sepi.

Setelah menunggu cukup lama agar pria itu pulang terlebih dahulu dari ladang, aku turun. Ketika masuk ke ladang tersebut, aku melihat tanah yang hitam, lembap, dan hangat. Terlihat tanaman kopi yang tumbuh rapat, daunnya tebal dan sehat. Ladang itu hanya diterangi oleh satu lampu.

Rasa penasaranku terhadap kopi lelaki tua itu membuatku mengobservasi tanamannya. Aku mencoba untuk mengecek tanahnya, dan anehnya ada bau menyengat yang mengganggu. Aku menggalinya dengan tangan. Tidak dalam. Aku berhenti menggali saat jariku menyentuh sesuatu yang keras.

Tulang.

Aku mundur perlahan, badanku gemetaran, dan napasku tersengal. Aku melihat sekeliling dan menyadari bahwa tanah di ladang itu sedikit bergelombang seperti banyak tubuh yang kembali ke tanah.

Aku mengambil sampel tanah dan satu cherry kopi. Besoknya aku membawa sampel itu ke laboratorium milik kolegaku. Hasil riset yang ku-lakukan membuat badanku lemas dan kepala berputar,

Aku menemukan kandungan protein yang mirip dengan protein di tubuh manusia. Dan yang membuatku semakin tercengang adalah kandungan senyawa organik yang biasanya hanya ditemukan dalam jaringan otak manusia.

Aku menyadari bahwa kopi ini tidak tumbuh di atas kematian. Kopi ini tumbuh dari kematian.

Malam harinya, aku berjalan menuju kedai saat lelaki tua itu sedang membereskan kedai. Ia sama sekali tidak terkejut dengan kedatanganku.

“Kau sudah mengetahuinya?” tanyanya dengan nada lembut.

Ia lalu mengajakku ke ruang belakang. Di sana terlihat foto-foto lama terpasang di dinding, Terlihat foto-foto ladang yang baru saja kudatangi kemarin. Terlihat satu foto hitam-putih seorang lelaki yang wajahnya mirip lelaki tua itu, tetapi versi lebih muda dan lebih segar.

“Siapa itu?” tanyaku dengan ekspresi penasaran.

“Yang bersamamu saat ini,” katanya.

Ia menjelaskan dengan nada lembut seperti seorang guru yang dengan sabar mengajari muridnya. Tentang mikroorganisme yang direkayasa secara genetik untuk menyerap sisa ingatan seluler dari tubuh manusia yang membusuk. Tentang akar kopi yang juga direkayasa untuk menjadi medium penyimpanan biologis. Dan tentang rasa sebagai bentuk memori paling purba.

“Manusia tidak ingin dilupakan,” katanya. “Dan ini adalah upayaku untuk menyimpan memori-memori manusia.”

“Ini pembunuhan.” kataku.

Ia menggelengkan kepala. “Mereka datang dengan sendirinya. Mereka ingin menjadi rasa.”

Aku tertawa. “Lalu kau?”

Ia menatap secangkir kopi di tangannya. “Sudah sejak lama aku selesai diminum.”

Badanku gemetaran dan membuatku mundur selangkah. Saat melihat wajahnya, seketika wajahnya berubah menjadi berlubang seperti tanah yang mengalami erosi.

“Ladang itu butuh orang baru,” katanya dengan suara lirih “Dan sekarang aku sudah terlalu lama berada di luar tanah.”

Badanku membeku. Aku ingin lari. Tapi kakiku berat seperti terbelenggu. Aroma kopi yang pekat memenuhi ruangan. Kepalaku berdengung dan terasa seperti berputar-putar.

“Apa kau merasakannya?” lanjut lelaki tua itu. “Ada rasa yang memanggil-manggilmu.”

Kesadaranku terpecah-pecah seperti potongan puzzle. Aku melihat wajah ibu. Mencium aromanya. Lalu mendengar pesan terakhirnya sebelum menghembuskan nafas terakhir. Air mata jatuh dari mata kiriku tanpa sadar.

“Ko… kopi itu?” tanyaku dengan gemetaran. “Apakah berasal d… da… darinya?”

Lelaki tua itu mengangguk. “Ia memberimu rasa yang lembut, yang membuatmu selalu mencarinya.”

Tidak lama setelah itu, kesadaranku menghilang.

Aku terbangun di ladang dengan tubuh terikat. Tubuhku terkubur tidak dalam. Tanah hangat memeluk seluruh tubuhku. Akar-akar menyentuh kulitku, menyusup masuk ke lapisan endodermis. Dan perlahan menyusup ke dalam pembuluh darahku.

Aku menjerit kesakitan. Tapi suaraku diredam oleh tanah.

Lelaki tua sialan itu terlihat berdiri di tepi lubang dan memperhatikanku dengan ekspresi datar.

“Jangan takut” katanya dengan nada lembut, namun tidak menenangkan. “Rasa takut akan mengacaukan rasanya.”

Aku merasakan sesuatu tumbuh di dadaku. Aku merasakan “proses” baru yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Ingatanku terurai secara perlahan. Satu per satu ingatanku diserap oleh akar.

Sehari berlalu. Tubuhku melemah. Kesadaranku terjaga, tapi mulai terikat pada tanah. Aku mulai bermimpi tentang orang-orang yang datang, mencicipi kopi, dan membawa pulang sedikit rasa dariku untuk di simpan di lidah mereka.

Pagi selanjutnya, aku tidak lagi merasakan kakiku. Lalu secara perlahan seluruh bagian tubuhku tidak dapat kurasakan. Semua terurai perlahan, dan yang tersisa hanyalah rasa.

Di atasku, tanaman kopi berbunga.

Dan di kejauhan, lelaki tua itu sedang menuangkan air panas, menunggu tetesan pertama dari kopi yang tumbuh dengan sangat baik.

Aku harap mereka semua meminumnya sambil memejamkan mata. [T]

Penulis: Heski Dewabrata
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menonton Persatu Tuban Hancur Lebur di Kandang Sendiri

Next Post

Dari Kebun ke Mimbar Guru Besar: Prof. I Wayan Suanda dan Ilmu yang Tetap Membumi

Heski Dewabrata

Heski Dewabrata

a sometimes writer

Related Posts

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails
Next Post
Dari Kebun ke Mimbar Guru Besar: Prof. I Wayan Suanda dan Ilmu yang Tetap Membumi

Dari Kebun ke Mimbar Guru Besar: Prof. I Wayan Suanda dan Ilmu yang Tetap Membumi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co