6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kopi Maut | Cerpen Heski Dewabrata

Heski Dewabrata by Heski Dewabrata
January 10, 2026
in Cerpen
Kopi Maut | Cerpen Heski Dewabrata

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

PAGI itu merupakan momen di mana aku mencicipi kopi yang membuatku tenang di kota yang cukup padat ini. Musik instrumen yang mengiringi percakapanku dengan sang peracik kopi di depan bar, dan suara air panas yang dituang secara perlahan dari teko leher angsa menuju bubuk kopi yang berada di atas dripper itu menambah ketenangan dalam pikiranku terhadap hiruk-pikuk modernisasi yang merongrong terus-menerus. Sang peracik menuangkan kopi hasil seduhan manual itu ke gelas dan memberikan segelas kopi hangat itu ke hadapanku.

“Pejamkan matamu ketika meminum ini,” kata lelaki tua itu. Umurnya mungkin 50an. Namun, fisiknya terlihat sehat dan wajahnya terlihat tidak mempunyai beban yang dipikul di pundaknya.

Kopi yang disajikannya memiliki warna ekstraksi yang baik. Aroma yang terhirup memiliki aroma floral dan spektrum buah-buahan kuning. Aku meminumnya sambil memejamkan mata sesuai dengan instruksi lelaki tua itu.

Saat aku seruput, dadaku terasa hangat. Rasa dari kopi ini sungguh berbeda. Entah mengapa, aku tidak dapat mendeskripsikan rasa dari kopi ini karena kenikmatannya.

Aku menyeruput untuk kedua kalinya. Di seruputan kedua ini, ada bayangan aneh yang masuk di kepalaku. Bayangan Lorong rumah sakit, suara monitor jantung yang melambat, dan aroma steril seketika menyusup ke kepalaku.

Aku menurunkan cangkir. Tangan kananku gemetar dan nafasku terengah-engah.

“Ada rasa yang mengganggu?” tanya lelaki tua itu.

“Aku tidak dapat menjelaskannya,” kataku. “Ada ingatan samar yang masuk ke pikiranku, t-tapi itu bukan ingatanku.”

Lelaki tua itu tersenyum tipis seakan telah mengetahui rasa dari kopinya.

Sejak hari itu, aku kembali. Berkali-kali. Sebagai penikmat kopi, aku pernah mencicipi berbagai jenis kopi. Dari berbagai daerah, dan dengan segala jenis proses pasca-panen. Namun kopi ini bukan sekadar diminum. Ia menyusup masuk dan menghuni isi kepalaku.

Aku bertanya pada lelaki tua itu, “Apa yang membuat kopi ini mempunyai rasa yang berbeda?”

“Tidak ada. Semua diproses seperti kopi pada umumnya,” jawabnya dengan senyum yang tipis.

“Apa proses pasca-panennya? Apa varietas kopi ini?” Aku sedikit mencecar.

“Prosesnya natural. Varietasnya Sigararutang seperti kopi yang biasa kau temui di pasar.”

“Tidak mungkin. Pasti proses pasca-panennya menggunakan metode eksperimental,” jawabku dengan keraguan.

“Sama sekali tidak,” jawabnya dengan pasti. “Tanah yang tepat membuat kopi ini tumbuh dengan baik. Dan tentunya hal tersebut memberi sensasi baru ketika meminum kopi ini.”

Aku sama sekali tidak puas dengan jawaban lelaki tua itu. Menurutku jawabannya terlalu diplomatis.

Suatu malam ketika kedai lelaki tua itu sudah tutup, aku melihat lelaki tua itu mengobrol dengan pria misterius. Aku mengawasi mereka dari jauh. Ketika pria misterius itu selesai mengobrol dengan lelaki tua itu, aku melihatnya memasuki mobil pick-up. Aku bergegas menuju motorku dan mencoba mengikutinya dari kejauhan.

Mobilnya melaju keluar kota, melewati jalan tanah yang jarang dilalui kendaraan, hingga sinyal ponselku menghilang. Dari kejauhan aku melihat ia berhenti di hamparan ladang yang sunyi sekali. Namun, ladang tersebut ditanami tanaman kopi dengan sangat subur. Terlalu subur untuk tempat yang sangat sepi.

Setelah menunggu cukup lama agar pria itu pulang terlebih dahulu dari ladang, aku turun. Ketika masuk ke ladang tersebut, aku melihat tanah yang hitam, lembap, dan hangat. Terlihat tanaman kopi yang tumbuh rapat, daunnya tebal dan sehat. Ladang itu hanya diterangi oleh satu lampu.

Rasa penasaranku terhadap kopi lelaki tua itu membuatku mengobservasi tanamannya. Aku mencoba untuk mengecek tanahnya, dan anehnya ada bau menyengat yang mengganggu. Aku menggalinya dengan tangan. Tidak dalam. Aku berhenti menggali saat jariku menyentuh sesuatu yang keras.

Tulang.

Aku mundur perlahan, badanku gemetaran, dan napasku tersengal. Aku melihat sekeliling dan menyadari bahwa tanah di ladang itu sedikit bergelombang seperti banyak tubuh yang kembali ke tanah.

Aku mengambil sampel tanah dan satu cherry kopi. Besoknya aku membawa sampel itu ke laboratorium milik kolegaku. Hasil riset yang ku-lakukan membuat badanku lemas dan kepala berputar,

Aku menemukan kandungan protein yang mirip dengan protein di tubuh manusia. Dan yang membuatku semakin tercengang adalah kandungan senyawa organik yang biasanya hanya ditemukan dalam jaringan otak manusia.

Aku menyadari bahwa kopi ini tidak tumbuh di atas kematian. Kopi ini tumbuh dari kematian.

Malam harinya, aku berjalan menuju kedai saat lelaki tua itu sedang membereskan kedai. Ia sama sekali tidak terkejut dengan kedatanganku.

“Kau sudah mengetahuinya?” tanyanya dengan nada lembut.

Ia lalu mengajakku ke ruang belakang. Di sana terlihat foto-foto lama terpasang di dinding, Terlihat foto-foto ladang yang baru saja kudatangi kemarin. Terlihat satu foto hitam-putih seorang lelaki yang wajahnya mirip lelaki tua itu, tetapi versi lebih muda dan lebih segar.

“Siapa itu?” tanyaku dengan ekspresi penasaran.

“Yang bersamamu saat ini,” katanya.

Ia menjelaskan dengan nada lembut seperti seorang guru yang dengan sabar mengajari muridnya. Tentang mikroorganisme yang direkayasa secara genetik untuk menyerap sisa ingatan seluler dari tubuh manusia yang membusuk. Tentang akar kopi yang juga direkayasa untuk menjadi medium penyimpanan biologis. Dan tentang rasa sebagai bentuk memori paling purba.

“Manusia tidak ingin dilupakan,” katanya. “Dan ini adalah upayaku untuk menyimpan memori-memori manusia.”

“Ini pembunuhan.” kataku.

Ia menggelengkan kepala. “Mereka datang dengan sendirinya. Mereka ingin menjadi rasa.”

Aku tertawa. “Lalu kau?”

Ia menatap secangkir kopi di tangannya. “Sudah sejak lama aku selesai diminum.”

Badanku gemetaran dan membuatku mundur selangkah. Saat melihat wajahnya, seketika wajahnya berubah menjadi berlubang seperti tanah yang mengalami erosi.

“Ladang itu butuh orang baru,” katanya dengan suara lirih “Dan sekarang aku sudah terlalu lama berada di luar tanah.”

Badanku membeku. Aku ingin lari. Tapi kakiku berat seperti terbelenggu. Aroma kopi yang pekat memenuhi ruangan. Kepalaku berdengung dan terasa seperti berputar-putar.

“Apa kau merasakannya?” lanjut lelaki tua itu. “Ada rasa yang memanggil-manggilmu.”

Kesadaranku terpecah-pecah seperti potongan puzzle. Aku melihat wajah ibu. Mencium aromanya. Lalu mendengar pesan terakhirnya sebelum menghembuskan nafas terakhir. Air mata jatuh dari mata kiriku tanpa sadar.

“Ko… kopi itu?” tanyaku dengan gemetaran. “Apakah berasal d… da… darinya?”

Lelaki tua itu mengangguk. “Ia memberimu rasa yang lembut, yang membuatmu selalu mencarinya.”

Tidak lama setelah itu, kesadaranku menghilang.

Aku terbangun di ladang dengan tubuh terikat. Tubuhku terkubur tidak dalam. Tanah hangat memeluk seluruh tubuhku. Akar-akar menyentuh kulitku, menyusup masuk ke lapisan endodermis. Dan perlahan menyusup ke dalam pembuluh darahku.

Aku menjerit kesakitan. Tapi suaraku diredam oleh tanah.

Lelaki tua sialan itu terlihat berdiri di tepi lubang dan memperhatikanku dengan ekspresi datar.

“Jangan takut” katanya dengan nada lembut, namun tidak menenangkan. “Rasa takut akan mengacaukan rasanya.”

Aku merasakan sesuatu tumbuh di dadaku. Aku merasakan “proses” baru yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Ingatanku terurai secara perlahan. Satu per satu ingatanku diserap oleh akar.

Sehari berlalu. Tubuhku melemah. Kesadaranku terjaga, tapi mulai terikat pada tanah. Aku mulai bermimpi tentang orang-orang yang datang, mencicipi kopi, dan membawa pulang sedikit rasa dariku untuk di simpan di lidah mereka.

Pagi selanjutnya, aku tidak lagi merasakan kakiku. Lalu secara perlahan seluruh bagian tubuhku tidak dapat kurasakan. Semua terurai perlahan, dan yang tersisa hanyalah rasa.

Di atasku, tanaman kopi berbunga.

Dan di kejauhan, lelaki tua itu sedang menuangkan air panas, menunggu tetesan pertama dari kopi yang tumbuh dengan sangat baik.

Aku harap mereka semua meminumnya sambil memejamkan mata. [T]

Penulis: Heski Dewabrata
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menonton Persatu Tuban Hancur Lebur di Kandang Sendiri

Next Post

Dari Kebun ke Mimbar Guru Besar: Prof. I Wayan Suanda dan Ilmu yang Tetap Membumi

Heski Dewabrata

Heski Dewabrata

a sometimes writer

Related Posts

Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

by Muhammad Khairu Rahman
March 1, 2026
0
Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

DI sebuah kota yang tumbuh setengah hati—antara ambisi menjadi metropolitan dan kebiasaan menjadi desa besar—tinggallah seorang pejabat tua bernama samaran...

Read moreDetails

Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 28, 2026
0
Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

WARTAWAN itu menghela napas dalam-dalam. Ia merasa gundah. Rumah yang ia tempati belasan tahun terakhir hanyalah kamar sempit. Bersama istri...

Read moreDetails

Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
February 27, 2026
0
Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

“Sudah matang, Bu?”  teriaknya. Itu pertanyaan pukul 05.30 pagi. Aku tahu persis jamnya karena sejak pindah ke kompleks perumahan ini,...

Read moreDetails

Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
February 22, 2026
0
Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

SESEORANG sedang menyalakan dupa ketika lantainya terasa bergerak sedikit ke kiri lalu ke kanan. Kayu-kayu usuk rumah ikut berderit. Mata...

Read moreDetails

Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
February 21, 2026
0
Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di Universitas Bumi Langit, tempat matahari sering kalah terang dari ego para dosennya, terletak sebuah fakultas yang namanya saja sudah...

Read moreDetails

Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
February 20, 2026
0
Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

SETIAP pagi, sebelum matahari benar-benar mengusir sisa gelap dari halaman rumah, Ayah sudah duduk di meja makan dengan buku catatan...

Read moreDetails

Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

by Safir Ahyanuddin
February 15, 2026
0
Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

AKU pertama kali menggali kubur itu ketika usiaku sembilan tahun. Pagi itu tanah masih menyimpan dingin dari hujan semalam. Kakiku...

Read moreDetails

Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 14, 2026
0
Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

DUL percaya satu hal, bahwa seks adalah tanda kehidupan. Selama masih bisa, berarti ia belum selesai. Itulah sebabnya, pukul 04.10...

Read moreDetails

Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
February 13, 2026
0
Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

Kakek tua itu duduk melamun seusai menyabit rumput. Menyandarkan tubuh ringkihnya di batang pohon asem nan rimbun. Keranjangnya sudah penuh...

Read moreDetails

Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

by Galuh F Putra
February 8, 2026
0
Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

SITA menyandarkan pipinya pada telapak tangan, membiarkan jari-jarinya bergerak lembut menyentuh kulit wajahnya yang masih hangat dari sentuhan sore hari....

Read moreDetails
Next Post
Dari Kebun ke Mimbar Guru Besar: Prof. I Wayan Suanda dan Ilmu yang Tetap Membumi

Dari Kebun ke Mimbar Guru Besar: Prof. I Wayan Suanda dan Ilmu yang Tetap Membumi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co