13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kopi Maut | Cerpen Heski Dewabrata

Heski Dewabrata by Heski Dewabrata
January 10, 2026
in Cerpen
Kopi Maut | Cerpen Heski Dewabrata

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

PAGI itu merupakan momen di mana aku mencicipi kopi yang membuatku tenang di kota yang cukup padat ini. Musik instrumen yang mengiringi percakapanku dengan sang peracik kopi di depan bar, dan suara air panas yang dituang secara perlahan dari teko leher angsa menuju bubuk kopi yang berada di atas dripper itu menambah ketenangan dalam pikiranku terhadap hiruk-pikuk modernisasi yang merongrong terus-menerus. Sang peracik menuangkan kopi hasil seduhan manual itu ke gelas dan memberikan segelas kopi hangat itu ke hadapanku.

“Pejamkan matamu ketika meminum ini,” kata lelaki tua itu. Umurnya mungkin 50an. Namun, fisiknya terlihat sehat dan wajahnya terlihat tidak mempunyai beban yang dipikul di pundaknya.

Kopi yang disajikannya memiliki warna ekstraksi yang baik. Aroma yang terhirup memiliki aroma floral dan spektrum buah-buahan kuning. Aku meminumnya sambil memejamkan mata sesuai dengan instruksi lelaki tua itu.

Saat aku seruput, dadaku terasa hangat. Rasa dari kopi ini sungguh berbeda. Entah mengapa, aku tidak dapat mendeskripsikan rasa dari kopi ini karena kenikmatannya.

Aku menyeruput untuk kedua kalinya. Di seruputan kedua ini, ada bayangan aneh yang masuk di kepalaku. Bayangan Lorong rumah sakit, suara monitor jantung yang melambat, dan aroma steril seketika menyusup ke kepalaku.

Aku menurunkan cangkir. Tangan kananku gemetar dan nafasku terengah-engah.

“Ada rasa yang mengganggu?” tanya lelaki tua itu.

“Aku tidak dapat menjelaskannya,” kataku. “Ada ingatan samar yang masuk ke pikiranku, t-tapi itu bukan ingatanku.”

Lelaki tua itu tersenyum tipis seakan telah mengetahui rasa dari kopinya.

Sejak hari itu, aku kembali. Berkali-kali. Sebagai penikmat kopi, aku pernah mencicipi berbagai jenis kopi. Dari berbagai daerah, dan dengan segala jenis proses pasca-panen. Namun kopi ini bukan sekadar diminum. Ia menyusup masuk dan menghuni isi kepalaku.

Aku bertanya pada lelaki tua itu, “Apa yang membuat kopi ini mempunyai rasa yang berbeda?”

“Tidak ada. Semua diproses seperti kopi pada umumnya,” jawabnya dengan senyum yang tipis.

“Apa proses pasca-panennya? Apa varietas kopi ini?” Aku sedikit mencecar.

“Prosesnya natural. Varietasnya Sigararutang seperti kopi yang biasa kau temui di pasar.”

“Tidak mungkin. Pasti proses pasca-panennya menggunakan metode eksperimental,” jawabku dengan keraguan.

“Sama sekali tidak,” jawabnya dengan pasti. “Tanah yang tepat membuat kopi ini tumbuh dengan baik. Dan tentunya hal tersebut memberi sensasi baru ketika meminum kopi ini.”

Aku sama sekali tidak puas dengan jawaban lelaki tua itu. Menurutku jawabannya terlalu diplomatis.

Suatu malam ketika kedai lelaki tua itu sudah tutup, aku melihat lelaki tua itu mengobrol dengan pria misterius. Aku mengawasi mereka dari jauh. Ketika pria misterius itu selesai mengobrol dengan lelaki tua itu, aku melihatnya memasuki mobil pick-up. Aku bergegas menuju motorku dan mencoba mengikutinya dari kejauhan.

Mobilnya melaju keluar kota, melewati jalan tanah yang jarang dilalui kendaraan, hingga sinyal ponselku menghilang. Dari kejauhan aku melihat ia berhenti di hamparan ladang yang sunyi sekali. Namun, ladang tersebut ditanami tanaman kopi dengan sangat subur. Terlalu subur untuk tempat yang sangat sepi.

Setelah menunggu cukup lama agar pria itu pulang terlebih dahulu dari ladang, aku turun. Ketika masuk ke ladang tersebut, aku melihat tanah yang hitam, lembap, dan hangat. Terlihat tanaman kopi yang tumbuh rapat, daunnya tebal dan sehat. Ladang itu hanya diterangi oleh satu lampu.

Rasa penasaranku terhadap kopi lelaki tua itu membuatku mengobservasi tanamannya. Aku mencoba untuk mengecek tanahnya, dan anehnya ada bau menyengat yang mengganggu. Aku menggalinya dengan tangan. Tidak dalam. Aku berhenti menggali saat jariku menyentuh sesuatu yang keras.

Tulang.

Aku mundur perlahan, badanku gemetaran, dan napasku tersengal. Aku melihat sekeliling dan menyadari bahwa tanah di ladang itu sedikit bergelombang seperti banyak tubuh yang kembali ke tanah.

Aku mengambil sampel tanah dan satu cherry kopi. Besoknya aku membawa sampel itu ke laboratorium milik kolegaku. Hasil riset yang ku-lakukan membuat badanku lemas dan kepala berputar,

Aku menemukan kandungan protein yang mirip dengan protein di tubuh manusia. Dan yang membuatku semakin tercengang adalah kandungan senyawa organik yang biasanya hanya ditemukan dalam jaringan otak manusia.

Aku menyadari bahwa kopi ini tidak tumbuh di atas kematian. Kopi ini tumbuh dari kematian.

Malam harinya, aku berjalan menuju kedai saat lelaki tua itu sedang membereskan kedai. Ia sama sekali tidak terkejut dengan kedatanganku.

“Kau sudah mengetahuinya?” tanyanya dengan nada lembut.

Ia lalu mengajakku ke ruang belakang. Di sana terlihat foto-foto lama terpasang di dinding, Terlihat foto-foto ladang yang baru saja kudatangi kemarin. Terlihat satu foto hitam-putih seorang lelaki yang wajahnya mirip lelaki tua itu, tetapi versi lebih muda dan lebih segar.

“Siapa itu?” tanyaku dengan ekspresi penasaran.

“Yang bersamamu saat ini,” katanya.

Ia menjelaskan dengan nada lembut seperti seorang guru yang dengan sabar mengajari muridnya. Tentang mikroorganisme yang direkayasa secara genetik untuk menyerap sisa ingatan seluler dari tubuh manusia yang membusuk. Tentang akar kopi yang juga direkayasa untuk menjadi medium penyimpanan biologis. Dan tentang rasa sebagai bentuk memori paling purba.

“Manusia tidak ingin dilupakan,” katanya. “Dan ini adalah upayaku untuk menyimpan memori-memori manusia.”

“Ini pembunuhan.” kataku.

Ia menggelengkan kepala. “Mereka datang dengan sendirinya. Mereka ingin menjadi rasa.”

Aku tertawa. “Lalu kau?”

Ia menatap secangkir kopi di tangannya. “Sudah sejak lama aku selesai diminum.”

Badanku gemetaran dan membuatku mundur selangkah. Saat melihat wajahnya, seketika wajahnya berubah menjadi berlubang seperti tanah yang mengalami erosi.

“Ladang itu butuh orang baru,” katanya dengan suara lirih “Dan sekarang aku sudah terlalu lama berada di luar tanah.”

Badanku membeku. Aku ingin lari. Tapi kakiku berat seperti terbelenggu. Aroma kopi yang pekat memenuhi ruangan. Kepalaku berdengung dan terasa seperti berputar-putar.

“Apa kau merasakannya?” lanjut lelaki tua itu. “Ada rasa yang memanggil-manggilmu.”

Kesadaranku terpecah-pecah seperti potongan puzzle. Aku melihat wajah ibu. Mencium aromanya. Lalu mendengar pesan terakhirnya sebelum menghembuskan nafas terakhir. Air mata jatuh dari mata kiriku tanpa sadar.

“Ko… kopi itu?” tanyaku dengan gemetaran. “Apakah berasal d… da… darinya?”

Lelaki tua itu mengangguk. “Ia memberimu rasa yang lembut, yang membuatmu selalu mencarinya.”

Tidak lama setelah itu, kesadaranku menghilang.

Aku terbangun di ladang dengan tubuh terikat. Tubuhku terkubur tidak dalam. Tanah hangat memeluk seluruh tubuhku. Akar-akar menyentuh kulitku, menyusup masuk ke lapisan endodermis. Dan perlahan menyusup ke dalam pembuluh darahku.

Aku menjerit kesakitan. Tapi suaraku diredam oleh tanah.

Lelaki tua sialan itu terlihat berdiri di tepi lubang dan memperhatikanku dengan ekspresi datar.

“Jangan takut” katanya dengan nada lembut, namun tidak menenangkan. “Rasa takut akan mengacaukan rasanya.”

Aku merasakan sesuatu tumbuh di dadaku. Aku merasakan “proses” baru yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Ingatanku terurai secara perlahan. Satu per satu ingatanku diserap oleh akar.

Sehari berlalu. Tubuhku melemah. Kesadaranku terjaga, tapi mulai terikat pada tanah. Aku mulai bermimpi tentang orang-orang yang datang, mencicipi kopi, dan membawa pulang sedikit rasa dariku untuk di simpan di lidah mereka.

Pagi selanjutnya, aku tidak lagi merasakan kakiku. Lalu secara perlahan seluruh bagian tubuhku tidak dapat kurasakan. Semua terurai perlahan, dan yang tersisa hanyalah rasa.

Di atasku, tanaman kopi berbunga.

Dan di kejauhan, lelaki tua itu sedang menuangkan air panas, menunggu tetesan pertama dari kopi yang tumbuh dengan sangat baik.

Aku harap mereka semua meminumnya sambil memejamkan mata. [T]

Penulis: Heski Dewabrata
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menonton Persatu Tuban Hancur Lebur di Kandang Sendiri

Next Post

Dari Kebun ke Mimbar Guru Besar: Prof. I Wayan Suanda dan Ilmu yang Tetap Membumi

Heski Dewabrata

Heski Dewabrata

a sometimes writer

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
Dari Kebun ke Mimbar Guru Besar: Prof. I Wayan Suanda dan Ilmu yang Tetap Membumi

Dari Kebun ke Mimbar Guru Besar: Prof. I Wayan Suanda dan Ilmu yang Tetap Membumi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co