25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gonjang-Ganjing, Hutan Gundul, Banjir Bandang Menutup 2025

Chusmeru by Chusmeru
December 30, 2025
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

MENUTUP tahun 2025, duka melanda bangsa Indonesia. Beragam bencana terjadi di berbagai daerah. Puncaknya, banjir dan tanah longsor di Pulau Sumatra. Ada yang menyebut ini musibah. Ada pula yang menganggap bencana hidrometeorologi ini akibat ulah manusia yang merusak lingkungan.

 Dunia ilmu pengetahuan mungkin mampu menjelaskan. Sisi religiusitas juga punya alasan. Namun ruang tradisional juga punya cerita tentang ini semua. Dalam dunia pewayangan, khususnya di Jawa; semua bencana adalah gonjang-ganjing semesta. Bisa berupa gempa bumi, tanah longsor, banjir bandang, tsunami, gunung meletus, dan hutan gundul. Gonjang-ganjing juga dapat berupa kekacauan sosial, ekonomi, dan politik, seperti kriminalitas, korupsi, kelaparan, pengangguran, maupun konflik politik.

Mungkin ahistoris, tidak rasional, dan terdengar kuno. Tetapi dunia pewayangan sering banyak memberikan perspektif sesuai zaman. Mengandung nilai yang dipercaya dan dipedomani sebagai rujukan perilaku dari waktu ke waktu. Bahkan dunia pewayangan dapat memberikan prediksi lewat tanda-tanda alam dan munculnya tokoh-tokoh di balik gejolak semesta.

Adalah suluk (nyanyian) seorang dalang yang menggambarkan bakal terjadinya gonjang-ganjing atau ontran-ontran dalam kehidupan manusia dan semesta. Suluk dalang bisa beragam; yang paling sering diingat penonton wayang adalah yang berbunyi:“Bumi gonjang ganjing langit kelap-kelip, katon lir kincanging alis risang maweh gandrung, sabarang kadulu wukir moyag-mayig, saking tyas baliwur lumaris anggandrung, Dhuh Sang Ri Sumitra, tanlyan  paran reh kabeh sining wana, nangsaya maringsun”.

Arti suluk tersebut adalah: “Bumi bergerak-gerak (gempa), langit gelap kilat menyambar-nyambar, tampak seperti gerak alis orang yang sedang kasmaran, semua yang terlihat seperti gunung yang bergoyang-goyang , dari hati yang kacau ia pun berjalan memikat, Dhuh Sang Adi Sumitra,  tiada yang lain, mengapa semua isi hutan,  menganiaya pada diriku”

Menyimak suluk tersebut, gambaran semesta itu tampaknya berlaku sepanjang zaman. Selalu kontekstual untuk kekinian. Gonjang-ganjing bumi Indonesia nyaris terjadi setiap tahun. Bencana demi bencana silih berganti. Ada yang memang karena faktor alam, namun tidak jarang pula bencana yang datang karena ulah manusia.

Gonjang-ganjing bukan semata banjir bandang dan hutan yang gundul. Dalam ruang sosial, ekonomi, dan politik juga muncul berbagai kasus yang menimbulkan gonjang-ganjing. Korupsi ratusan triliun rupiah, pajak yang mencekik rakyat, dan harga sembako yang terus melonjak naik juga dapat menyebabkan gonjang-ganjing. Belum lagi persoalan ijazah mantan presiden yang tak kunjung tuntas menyebabkan gonjang-ganjing politik.

Pertanda Gonjang-Ganjing

Banyak faktor yang dapat menjadi pertanda gonjang-ganjing. Ramalan akan terjadinya gonjang-ganjing atau ontran-ontran juga sudah disampaikan Sri Aji Joyoboyo atau Prabu Jayabaya jauh sebelum Indonesia merdeka. Beliau dikenal sebagai Raja Kediri yang berkuasa sekitar tahun 1135 hingga 1159. Prabu Jayabaya banyak membuat ramalan tentang kehidupan masyarakat Nusantara.

Ramalan Prabu Jayabaya lebih banyak menyoroti kehidupan sosial, ekonomi, dan politik saat itu. Pertanda gonjang-ganjing dapat dilihat dari pembagian maupun perebutan kekuasaan. Sejarah berbagai negara senantiasa diwarnai dengan kegaduhan politik yang bersumber dari perebutan kekuasaan. Pemilu yang digadang-gadang sebagai jalan keluar untuk memilih pemimpin secara demokratis pun acapkali menimbulkan keributan. Pihak yang kalah tidak mau mengakui kekalahannya, pihak yang menang merasa jumawa atas kemenangannya.

Pembagian kekuasaan juga dapat memicu gonjang ganjing atau ontran-ontran. Hal ini terjadi ketika penguasa memilih orang-orang yang dekat dengan dirinya untuk duduk dalam pemerintahan. Sementara orang yang tak sepaham akan dijauhkan dari kekuasaan. Modal kejujuran semata tidak cukup bagi orang untuk mendapat jatah kekuasaan. Hal itu pernah dikatakan oleh Jayabaya dengan ungkapan “sing ciluka mulya, sing jujur kojur”. Artinya yang salah mulia, yang jujur hancur (Chusmeru,2024).

Perebutan sumber daya alam dapat pula memicu keonaran. Indonesia merupakan negara yang memiliki sumber daya alam yang begitu melimpah. Jika dikelola dengan baik, dan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran seluruh rakyat tentu akan membuat Indonesia sebagai negara yang gemah ripah loh jinawi.

Namun bila sumber daya alam itu hanya dikelola oleh penguasa dan dimanfaatkan oleh orang-orang yang dekat dengan kekuasaan, maka gonjang-ganjing akan terjadi. Dan fenomena itu kini mendekati datangnya tanda-tanda kegaduhan. Hutan gundul dan banjir bandang yang melanda berbagai daerah diduga lantaran pengelolaan sumber daya alam yang serakah dan tak berpihak kepada kemakmuran rakyat.

Sumber daya alam di darat, laut, dan udara diperebutkan. Tanah milik rakyat diserobot untuk kepentingan bisnis. Kasus tambang ilegal juga mewarnai persoalan sumber daya alam di Indonesia. Ada tambang ilegal yang memang dilakukan oleh masyarakat lantaran ingin merasakan nikmat ekonomis dari kekayaan alam tanpa harus ada izin. Namun ada pula tambang ilegal yang dilakukan oleh pengusaha yang dibekingi oleh oknum penguasa.

Pertanda gonjang-ganjing juga dapat terlihat dari munculnya orang-orang yang haus pada harta dan kekayaan. Orang tidak cukup mendapatkan kekuasaan belaka. Namun kekuasaan itu akan digunakan untuk menumpuk harta dan kekayaan. Jangan heran jika penjara saat ini banyak dihuni oleh para pejabat dan elit politik. Kegaduhan pun terjadi. Bukan hanya di dunia nyata; gonjang-ganjing juga terjadi di dunia maya lewat media sosial tentang perilaku korup oknum penguasa.

Tokoh yang Rakus dan Merusak Alam

Tokoh dalam pewayangan ibarat artis peran, ada yang protagonis, ada pula yang antagonis. Begitu pun dalam kehidupan nyata, sangat mudah ditemui orang-orang dengan perangai baik dan bijak, ada pula yang rakus dan bengis. Dalam pewayangan banyak dikenal tokoh yang yang rakus dan merusak alam.

Tokoh rakus dan merusak alam sering dikaitkan dengan sosok antagonis pewayangan yang ada di Kurawa. Tokoh yang melambangkan keburukan sifat dan perilaku misalnya tergambar pada  Duryudana, Dursasana, Rahwana, Sengkuni, Buta Cakil, dan raksasa lainnya yang ada di Kurawa. Mereka semua berkontribusi terhadap terjadinya gonjang-ganjing di muka bumi.

Duryudana dan Dursasana sering digambarkan memiliki sifat serakah, kejam, dan tidak bermoral. Kekuasaan yang mereka miliki bukan untuk melindungi dan menyejahterakan rakyatnya. Tindakan mereka didorong oleh nafsu kekuasaan dan kerakusan yang dapat disamakan dengan eksploitasi sumber daya alam secara membabi buta di dunia nyata.

Rahwana secara eksplisit mungkin tidak digambarkan sebagai perusak alam dan lingkungan sebagaimana Buta Cakil dan para raksasa. Namun kasus penculikan terhadap Sinta dalam epos Ramayana telah mengakibatkan gonjang-ganjing, peperangan, dan kerusakan terhadap lingkungan. Kasus Rahwana dan Sinta menggambarkan betapa sifat nafsu dan angkara murka dapat menimbulkan kekacauan.

Tokoh pewayangan yang sering dikaitkan dengan gonjang-ganjing, ontran-ontran, dan kekacauan adalah Sengkuni. Tokoh antagonis dari Kurawa ini dikenal sebagai provokator ulung yang licik. Nyaris di setiap konflik antara Kurawa dan Pendawa adalah hasil hasutan Sengkuni. Selain licik, Sengkuni juga dikenal sebagai penjilat pada kekuasaan. Hal ini membuat penguasa sulit membedakan antara pujian, jebakan, dan hasutan yang dilontarkan Sengkuni.

Sebetulnya Kurawa banyak memiliki penasihat yang mencegah terjadinya gonjang-ganjing, seperti Togog salah satunya. Togog digambarkan sebagai sosok yang berparas jelek dan bermulut lebar. Namun Togog kerap mendapat stigma penasihat Kurawa yang gagal. Padahal sesungguhnya para elite Kurawa yang berperilaku buruk itu memang tidak pernah mau mengikuti nasihat Togog. Selain itu, nasihat Togog yang baik untuk Kurawa sering kalah pengaruh dengan hasutan Sengkuni yang lebih dipercaya.

Beda dengan punakawan Semar di pihak Pendawa yang nasihatnya selalu didengar para raja. Karena elite Pendawa memang memiliki itikad baik untuk selalu melindungi dan menyejahterakan rakyatnya, sehingga mereka bersedia mendengar nasihat Semar sebagai representasi suara rakyat kecil.

Gonjang-ganjing dan kerusakan alam bukan hanya datang dari tokoh antagonis Kurawa. Tokoh Pendawa seperti Prabu Kresna, Yudistira, dan Arjuna juga sempat melakukan tindakan yang menyebabkan gonjang-ganjing. Ketika mereka marah atas ulah elite Kurawa, mereka melakukan tiwikrama, bertransformasi menjadi raksasa yang mengamuk dan menimbulkan kerusakan. Simboliknya, ketika orang baik tersakiti, ketika rakyat yang tak berdaya teraniaya, mereka dapat bertransformasi menjadi satu kekuatan yang dapat menghancurkan kekuasaan.

Dunia dan kehidupan ini memang bukan pentas pewayangan. Namun banyak orang dan perilakunya yang menyerupai tokoh dalam wayang. Semua berharap tahun 2026 gonjang-ganjing, hutan gundul, dan banjir bandang tak lagi terjadi. Sambil berharap “Sang Dalang” kehidupan menyajikan lakon teduh bagi semesta. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: bencana alamlingkunganrefleksitahun baru
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pisang, Adat dan Budaya Bali

Next Post

Tahun Baru dan Malam Panjang Ketakutan Anabul

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Tahun Baru dan Malam Panjang Ketakutan Anabul

Tahun Baru dan Malam Panjang Ketakutan Anabul

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co