23 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

 Natal untuk Hati yang Gelap

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
December 24, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

ADA satu lelucon, yang tidak lucu, yang belakangan ini sempat beredar di tongkrongan bapak-bapak RT.  Mereka bilang, Indonesia itu bukan kekurangan sumber daya alam, tapi kekurangan pemimpin yang punya perasaan.  Kalimat itu lalu diikuti semacam tawa yang tidak benar-benar geli, karena tanpa dipikirpun, isinya terlalu benar.

Di tengah guncangan isu tambang, bencana yang memakan korban, komentar pejabat yang terasa seperti dark jokes, sampai kasus korupsi yang rutin datang seperti paket belanja online para istri tercinta, masyarakat kecil kembali harus menghela napas panjang. Lagi-lagi karena mereka yang menanggung akibat paling berat. Lagi-lagi mereka juga yang harus tabah dalam segala ketidakadilan yang bukan mereka buat.

Makanya, ketika masuk bulan Desember dan umat Kristiani berbicara tentang Natal yang identik dengan pohon terang, bisa jadi akan ada komentar sarkastis yang muncul dari masyarakat, bahwa yang paling butuh Natal bukan rakyat, tapi oknum pejabat. Biar hatinya diterangi karena sudah lama gelap turun temurun. Kalimat itu, lucu tidak lucu, sepertinya adalah bentuk kritik sosial paling masuk akal sepanjang tahun ini.

Natal, Kisah Rakyat Kecil yang Dilangkahi Kekuasaan

Kalau kita kembali ke narasi asli Natal, saat itu adegannya sama sekali tidak glamor. Jadi bukan di ruang VIP gedung mewah, bukan pula ruangan ber-AC dengan jamuan makan ala menteri. Saat itu yang kita temukan justru sepasang rakyat kecil yang kelelahan, di kota yang terlalu penuh, dengan ruang publik yang tidak ramah. Situasi itu malah diperparah dengan adanya acara kelahiran daurat di kandang domba akibat tak ada tempat layak.  Saksi-saksi pertamanya adalah para gembala domba, pekerja kelas paling bawah sebagai wakil rakyat jelata. Mungkin itu pula kenapa kelas bawah disebut kelas kambing.

Natal adalah kisah, di mana dalam iman Kristiani, Tuhan menyatakan yang kecil dan tak dianggap justru menjadi yang paling dekat dengan Tuhan. Jika dipindah ke konteks Indonesia hari ini, posisi Maria, Yusuf, dan para gembala itu akan ditempati oleh keluarga korban banjir bandang, masyarakat yang lahannya tergeser tambang, orang kecil yang kehilangan pekerjaan karena kebijakan yang tak pernah didiskusikan, warga yang rumahnya roboh karena proyek gagal, juga nelayan yang makin jauh melaut demi ikan yang makin sedikit.

Sementara para penguasa, maaf kata nih, kok lebih mirip  Herodes yang merasa terganggu, defensif, dan sibuk mengamankan kekuasaan daripada memastikan keadilan. Itulah mengapa Natal selalu terasa relevan, karena Natal senantiasa menggulirkan narasi bahwa harapan selalu hidup dalam kelas yang selama ini dipinggirkan negara.

Rakyat Membutuhkan Harapan,  Penguasa Tidak Memberikannya

Harapan, dalam dunia politik kita seperti komoditas langka.  Saat harga sembako naik, yang disuruh sabar rakyat. Kerusakan ekologis akibat tambang, yang disuruh mengerti demi pembangunan, juga rakyat. Kebijakan ngawur pejabat yang bikin celaka, yang disuruh tabah lagi-lagi rakyat. 

Rakyat Indonesia adalah makhluk yang diberkahi tingkat kesabaran level nabi, entah karena pilihan atau keterpaksaan, tidak diketahui pasti karena belum ada penelitiannya.  Ketika mereka kehilangan pekerjaan, dirugikan oleh kebijakan, jadi korban bencana, enah bagaimana suara mereka seolah tenggelam, tertindih suara mikrofon pejabat yang sibuk mencari alasan.  Dan di sinilah Natal menawarkan sesuatu yang para penguasa tampaknya tidak sanggup berikan yaitu harapan dalam keterbatasan. 

Natal akan selalu mengingatkan bahwa harapan tidak selalu datang dari istana, tetapi dari ruang-ruang kecil tempat manusia saling menopang.  Bahwa kegelapan tidak pernah berhasil mematikan terang, meski sering mencoba. Relate dengan gotong royong rakyat Indonesi yang dengan tulus mengosongkan nama pribadi  sebagai Hamba Allah untuk membantu saudara sebangsa yang kena bencana, atau influencer yang tetap diam karena menyumbang sebagian hartanya tapi dihujat DPR. 

Rakyat butuh semangat Natal untuk bertahan hidup.  Sementara di gedung-gedung ber-AC, banyak para oknum pejabat duduk berembug sambil memastikan uang rakyat berpindah tangan dengan anggun.

Ada yang Lebih Butuh Semangat Natal

Kalau rakyat merayakan Natal untuk tetap waras, maka pejabat khususnya yang oknum, perlu Natal untuk kembali belajar menjadi manusia lagi. Mari kita list gejala “kegelapan hati” itu. Sebut saja, menanggapi bencana dengan komentar yang tidak sensitif, menyalahkan rakyat atas kesalahan kebijakan,  korupsi yang dianggap sebagai risiko jabatan, keputusan yang mengorbankan lingkungan dan masyarakat, hilangnya rasa malu ketika melakukan kesalahan, hilangnya empati terhadap penderitaan publik, dan berbagai macam lagi.   Dalam bahasa Hannah Arendt, ini disebut banalitas kejahatan bukan karena pejabat berniat jahat, tetapi karena mereka tidak lagi mampu membedakan mana yang manusiawi dan mana yang tidak.

Dalam bahasa  Jepang, mungkin ini disebut kokoro ga warui,  hati yang jahat, jadinya gelap.  Dan hati yang gelap tidak bisa melihat penderitaan orang lain, bahkan ketika penderitaan itu tepat di depan mata.  Gak tau juga ya, gimana perasaan para oknum itu saat melihat wajah-wajah rakyat kita. Dalam filsafat moral, Emmanuel Levinas mengingatkan bahwa wajah orang lain adalah panggilan etis.

Ketika melihat rakyat, seorang pejabat seharusnya melihat kewajiban, bukan peluang. Tetapi di negeri yang suka melembagakan kelicikan, sering kali wajah rakyat disulap menjadi spreadsheet yang langsung tergambarkan kolom anggaran, kolom bantuan, kolom potongan “siluman”. Maka terang Natal diperlukan bukan hanya untuk bersyukur, tetapi untuk membongkar gelap yang sudah terlalu nyaman bersemayam di kursi-kursi kekuasaan.

Ini bukan sekadar kritik religius. Ini kritik etis, sosial, dan politik yang valid. Jika Natal adalah simbol terang yang datang untuk manusia, maka oknum pejabat adalah manusia yang paling membutuhkan terang itu. Jika Natal mau menjadi perayaan yang jujur, maka pejabat harus berani bercermin di bawah terang ini. Ini bagian yang lebih filosofis sekaligus lebih sarkastis.

Sokrates menekankan pentingnya examined life, hidup yang diperiksa, direfleksi, dan ditanya: “Apa yang sedang saya lakukan? Untuk siapa saya bekerja?” Banyak pejabat hari ini tampaknya menjalani kebalikannya, yaitu unexamined life with excellent justification. Hidup tidak pernah diperiksa, tapi selalu punya pembelaan sepanjang 17 halaman, isinya, “ah, ini hanya miskomunikasi”, “jelas ada pihak yang ingin mencoreng”, “saya tidak menikmati sepeser pun”, bla bla bla. Bosan.

Pesan Natal

Pada akhirnya, logika Natal menawarkan kontras yang tajam. Yang kecil dimuliakan, yang lemah diperhatikan, yang berkuasa diajak bertobat. Ajaran yang sangat sederhana, namun dalam konteks sosial-politik kita justru terdengar radikal.  Sebenarnya ironis, ketika pesan damai 2.000 tahun lalu justru lebih progresif daripada beberapa kebijakan negara di  abad modern ini.

Itulah kenapa Natal tetap relevan bagi Indonesia karena ia menyampaikan bahasa yang dipahami  rakyat untuk bisa bertahan hidup dalam sistem mulai lupa harga manusia. Walter Benjamin bicara tentang “iluminasi singkat”, sebuah momen terang yang membuat manusia bisa melihat kembali arah moralnya. Ironisnya, mungkin di Indonesia, Natal menjadi salah satu dari sedikit iluminasi yang tersisa, setidaknya bagi rakyat.

Maka, setiap tahun ketika kita menyalakan lilin Natal, sebenarnya kita sedang melakukan aksi simbolik untuk mengingatkan negara bahwa yang kecil itu penting, yang lemah itu layak diperhatikan, dan yang berkuasa tidak boleh kebal terhadap terang.  Lilin itu kecil, tapi pasti jujur., tidak seperti beberapa pernyataan pers yang beredar.

Jadi, selamat Natal, untuk rakyat Indonesia yang merayakannya. Semoga masih kuat bertahan. Dan untuk para oknum pejabat, semoga terang itu menemukan Anda sebelum Kegelapan Versi Lembaga Hukum menemukan Anda duluan. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: Hari NatalIndonesiakatolikKristenKristianiNatal
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tri Ratna dan Kebutuhan akan Living Master di Zaman Awakening Digital

Next Post

Bali, Destinasi Wisata Dunia Harus Mewaspadai Krisis Lingkungan

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Bali, Destinasi Wisata Dunia Harus Mewaspadai Krisis Lingkungan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co