25 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

 Natal untuk Hati yang Gelap

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
December 24, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

ADA satu lelucon, yang tidak lucu, yang belakangan ini sempat beredar di tongkrongan bapak-bapak RT.  Mereka bilang, Indonesia itu bukan kekurangan sumber daya alam, tapi kekurangan pemimpin yang punya perasaan.  Kalimat itu lalu diikuti semacam tawa yang tidak benar-benar geli, karena tanpa dipikirpun, isinya terlalu benar.

Di tengah guncangan isu tambang, bencana yang memakan korban, komentar pejabat yang terasa seperti dark jokes, sampai kasus korupsi yang rutin datang seperti paket belanja online para istri tercinta, masyarakat kecil kembali harus menghela napas panjang. Lagi-lagi karena mereka yang menanggung akibat paling berat. Lagi-lagi mereka juga yang harus tabah dalam segala ketidakadilan yang bukan mereka buat.

Makanya, ketika masuk bulan Desember dan umat Kristiani berbicara tentang Natal yang identik dengan pohon terang, bisa jadi akan ada komentar sarkastis yang muncul dari masyarakat, bahwa yang paling butuh Natal bukan rakyat, tapi oknum pejabat. Biar hatinya diterangi karena sudah lama gelap turun temurun. Kalimat itu, lucu tidak lucu, sepertinya adalah bentuk kritik sosial paling masuk akal sepanjang tahun ini.

Natal, Kisah Rakyat Kecil yang Dilangkahi Kekuasaan

Kalau kita kembali ke narasi asli Natal, saat itu adegannya sama sekali tidak glamor. Jadi bukan di ruang VIP gedung mewah, bukan pula ruangan ber-AC dengan jamuan makan ala menteri. Saat itu yang kita temukan justru sepasang rakyat kecil yang kelelahan, di kota yang terlalu penuh, dengan ruang publik yang tidak ramah. Situasi itu malah diperparah dengan adanya acara kelahiran daurat di kandang domba akibat tak ada tempat layak.  Saksi-saksi pertamanya adalah para gembala domba, pekerja kelas paling bawah sebagai wakil rakyat jelata. Mungkin itu pula kenapa kelas bawah disebut kelas kambing.

Natal adalah kisah, di mana dalam iman Kristiani, Tuhan menyatakan yang kecil dan tak dianggap justru menjadi yang paling dekat dengan Tuhan. Jika dipindah ke konteks Indonesia hari ini, posisi Maria, Yusuf, dan para gembala itu akan ditempati oleh keluarga korban banjir bandang, masyarakat yang lahannya tergeser tambang, orang kecil yang kehilangan pekerjaan karena kebijakan yang tak pernah didiskusikan, warga yang rumahnya roboh karena proyek gagal, juga nelayan yang makin jauh melaut demi ikan yang makin sedikit.

Sementara para penguasa, maaf kata nih, kok lebih mirip  Herodes yang merasa terganggu, defensif, dan sibuk mengamankan kekuasaan daripada memastikan keadilan. Itulah mengapa Natal selalu terasa relevan, karena Natal senantiasa menggulirkan narasi bahwa harapan selalu hidup dalam kelas yang selama ini dipinggirkan negara.

Rakyat Membutuhkan Harapan,  Penguasa Tidak Memberikannya

Harapan, dalam dunia politik kita seperti komoditas langka.  Saat harga sembako naik, yang disuruh sabar rakyat. Kerusakan ekologis akibat tambang, yang disuruh mengerti demi pembangunan, juga rakyat. Kebijakan ngawur pejabat yang bikin celaka, yang disuruh tabah lagi-lagi rakyat. 

Rakyat Indonesia adalah makhluk yang diberkahi tingkat kesabaran level nabi, entah karena pilihan atau keterpaksaan, tidak diketahui pasti karena belum ada penelitiannya.  Ketika mereka kehilangan pekerjaan, dirugikan oleh kebijakan, jadi korban bencana, enah bagaimana suara mereka seolah tenggelam, tertindih suara mikrofon pejabat yang sibuk mencari alasan.  Dan di sinilah Natal menawarkan sesuatu yang para penguasa tampaknya tidak sanggup berikan yaitu harapan dalam keterbatasan. 

Natal akan selalu mengingatkan bahwa harapan tidak selalu datang dari istana, tetapi dari ruang-ruang kecil tempat manusia saling menopang.  Bahwa kegelapan tidak pernah berhasil mematikan terang, meski sering mencoba. Relate dengan gotong royong rakyat Indonesi yang dengan tulus mengosongkan nama pribadi  sebagai Hamba Allah untuk membantu saudara sebangsa yang kena bencana, atau influencer yang tetap diam karena menyumbang sebagian hartanya tapi dihujat DPR. 

Rakyat butuh semangat Natal untuk bertahan hidup.  Sementara di gedung-gedung ber-AC, banyak para oknum pejabat duduk berembug sambil memastikan uang rakyat berpindah tangan dengan anggun.

Ada yang Lebih Butuh Semangat Natal

Kalau rakyat merayakan Natal untuk tetap waras, maka pejabat khususnya yang oknum, perlu Natal untuk kembali belajar menjadi manusia lagi. Mari kita list gejala “kegelapan hati” itu. Sebut saja, menanggapi bencana dengan komentar yang tidak sensitif, menyalahkan rakyat atas kesalahan kebijakan,  korupsi yang dianggap sebagai risiko jabatan, keputusan yang mengorbankan lingkungan dan masyarakat, hilangnya rasa malu ketika melakukan kesalahan, hilangnya empati terhadap penderitaan publik, dan berbagai macam lagi.   Dalam bahasa Hannah Arendt, ini disebut banalitas kejahatan bukan karena pejabat berniat jahat, tetapi karena mereka tidak lagi mampu membedakan mana yang manusiawi dan mana yang tidak.

Dalam bahasa  Jepang, mungkin ini disebut kokoro ga warui,  hati yang jahat, jadinya gelap.  Dan hati yang gelap tidak bisa melihat penderitaan orang lain, bahkan ketika penderitaan itu tepat di depan mata.  Gak tau juga ya, gimana perasaan para oknum itu saat melihat wajah-wajah rakyat kita. Dalam filsafat moral, Emmanuel Levinas mengingatkan bahwa wajah orang lain adalah panggilan etis.

Ketika melihat rakyat, seorang pejabat seharusnya melihat kewajiban, bukan peluang. Tetapi di negeri yang suka melembagakan kelicikan, sering kali wajah rakyat disulap menjadi spreadsheet yang langsung tergambarkan kolom anggaran, kolom bantuan, kolom potongan “siluman”. Maka terang Natal diperlukan bukan hanya untuk bersyukur, tetapi untuk membongkar gelap yang sudah terlalu nyaman bersemayam di kursi-kursi kekuasaan.

Ini bukan sekadar kritik religius. Ini kritik etis, sosial, dan politik yang valid. Jika Natal adalah simbol terang yang datang untuk manusia, maka oknum pejabat adalah manusia yang paling membutuhkan terang itu. Jika Natal mau menjadi perayaan yang jujur, maka pejabat harus berani bercermin di bawah terang ini. Ini bagian yang lebih filosofis sekaligus lebih sarkastis.

Sokrates menekankan pentingnya examined life, hidup yang diperiksa, direfleksi, dan ditanya: “Apa yang sedang saya lakukan? Untuk siapa saya bekerja?” Banyak pejabat hari ini tampaknya menjalani kebalikannya, yaitu unexamined life with excellent justification. Hidup tidak pernah diperiksa, tapi selalu punya pembelaan sepanjang 17 halaman, isinya, “ah, ini hanya miskomunikasi”, “jelas ada pihak yang ingin mencoreng”, “saya tidak menikmati sepeser pun”, bla bla bla. Bosan.

Pesan Natal

Pada akhirnya, logika Natal menawarkan kontras yang tajam. Yang kecil dimuliakan, yang lemah diperhatikan, yang berkuasa diajak bertobat. Ajaran yang sangat sederhana, namun dalam konteks sosial-politik kita justru terdengar radikal.  Sebenarnya ironis, ketika pesan damai 2.000 tahun lalu justru lebih progresif daripada beberapa kebijakan negara di  abad modern ini.

Itulah kenapa Natal tetap relevan bagi Indonesia karena ia menyampaikan bahasa yang dipahami  rakyat untuk bisa bertahan hidup dalam sistem mulai lupa harga manusia. Walter Benjamin bicara tentang “iluminasi singkat”, sebuah momen terang yang membuat manusia bisa melihat kembali arah moralnya. Ironisnya, mungkin di Indonesia, Natal menjadi salah satu dari sedikit iluminasi yang tersisa, setidaknya bagi rakyat.

Maka, setiap tahun ketika kita menyalakan lilin Natal, sebenarnya kita sedang melakukan aksi simbolik untuk mengingatkan negara bahwa yang kecil itu penting, yang lemah itu layak diperhatikan, dan yang berkuasa tidak boleh kebal terhadap terang.  Lilin itu kecil, tapi pasti jujur., tidak seperti beberapa pernyataan pers yang beredar.

Jadi, selamat Natal, untuk rakyat Indonesia yang merayakannya. Semoga masih kuat bertahan. Dan untuk para oknum pejabat, semoga terang itu menemukan Anda sebelum Kegelapan Versi Lembaga Hukum menemukan Anda duluan. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: Hari NatalIndonesiakatolikKristenKristianiNatal
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tri Ratna dan Kebutuhan akan Living Master di Zaman Awakening Digital

Next Post

Bali, Destinasi Wisata Dunia Harus Mewaspadai Krisis Lingkungan

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Karnaval dan Kemacetan Sosial

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
0
Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

Read moreDetails

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
0
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

Read moreDetails

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

by Angga Wijaya
August 24, 2026
0
Telenovela

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

Read moreDetails

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Bali, Destinasi Wisata Dunia Harus Mewaspadai Krisis Lingkungan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo
Pop

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma
Esai

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
Telenovela
Esai

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

by Angga Wijaya
August 24, 2026
Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini
Kritik Seni

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

“Everybody In Bali Seems to be an artist” Kutipan itu persis terlontar 89 tahun lalu dari Miguel Covarrubias. Seorang seniman...

by Made Chandra
August 24, 2026
Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co