5 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

 Natal untuk Hati yang Gelap

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
December 24, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

ADA satu lelucon, yang tidak lucu, yang belakangan ini sempat beredar di tongkrongan bapak-bapak RT.  Mereka bilang, Indonesia itu bukan kekurangan sumber daya alam, tapi kekurangan pemimpin yang punya perasaan.  Kalimat itu lalu diikuti semacam tawa yang tidak benar-benar geli, karena tanpa dipikirpun, isinya terlalu benar.

Di tengah guncangan isu tambang, bencana yang memakan korban, komentar pejabat yang terasa seperti dark jokes, sampai kasus korupsi yang rutin datang seperti paket belanja online para istri tercinta, masyarakat kecil kembali harus menghela napas panjang. Lagi-lagi karena mereka yang menanggung akibat paling berat. Lagi-lagi mereka juga yang harus tabah dalam segala ketidakadilan yang bukan mereka buat.

Makanya, ketika masuk bulan Desember dan umat Kristiani berbicara tentang Natal yang identik dengan pohon terang, bisa jadi akan ada komentar sarkastis yang muncul dari masyarakat, bahwa yang paling butuh Natal bukan rakyat, tapi oknum pejabat. Biar hatinya diterangi karena sudah lama gelap turun temurun. Kalimat itu, lucu tidak lucu, sepertinya adalah bentuk kritik sosial paling masuk akal sepanjang tahun ini.

Natal, Kisah Rakyat Kecil yang Dilangkahi Kekuasaan

Kalau kita kembali ke narasi asli Natal, saat itu adegannya sama sekali tidak glamor. Jadi bukan di ruang VIP gedung mewah, bukan pula ruangan ber-AC dengan jamuan makan ala menteri. Saat itu yang kita temukan justru sepasang rakyat kecil yang kelelahan, di kota yang terlalu penuh, dengan ruang publik yang tidak ramah. Situasi itu malah diperparah dengan adanya acara kelahiran daurat di kandang domba akibat tak ada tempat layak.  Saksi-saksi pertamanya adalah para gembala domba, pekerja kelas paling bawah sebagai wakil rakyat jelata. Mungkin itu pula kenapa kelas bawah disebut kelas kambing.

Natal adalah kisah, di mana dalam iman Kristiani, Tuhan menyatakan yang kecil dan tak dianggap justru menjadi yang paling dekat dengan Tuhan. Jika dipindah ke konteks Indonesia hari ini, posisi Maria, Yusuf, dan para gembala itu akan ditempati oleh keluarga korban banjir bandang, masyarakat yang lahannya tergeser tambang, orang kecil yang kehilangan pekerjaan karena kebijakan yang tak pernah didiskusikan, warga yang rumahnya roboh karena proyek gagal, juga nelayan yang makin jauh melaut demi ikan yang makin sedikit.

Sementara para penguasa, maaf kata nih, kok lebih mirip  Herodes yang merasa terganggu, defensif, dan sibuk mengamankan kekuasaan daripada memastikan keadilan. Itulah mengapa Natal selalu terasa relevan, karena Natal senantiasa menggulirkan narasi bahwa harapan selalu hidup dalam kelas yang selama ini dipinggirkan negara.

Rakyat Membutuhkan Harapan,  Penguasa Tidak Memberikannya

Harapan, dalam dunia politik kita seperti komoditas langka.  Saat harga sembako naik, yang disuruh sabar rakyat. Kerusakan ekologis akibat tambang, yang disuruh mengerti demi pembangunan, juga rakyat. Kebijakan ngawur pejabat yang bikin celaka, yang disuruh tabah lagi-lagi rakyat. 

Rakyat Indonesia adalah makhluk yang diberkahi tingkat kesabaran level nabi, entah karena pilihan atau keterpaksaan, tidak diketahui pasti karena belum ada penelitiannya.  Ketika mereka kehilangan pekerjaan, dirugikan oleh kebijakan, jadi korban bencana, enah bagaimana suara mereka seolah tenggelam, tertindih suara mikrofon pejabat yang sibuk mencari alasan.  Dan di sinilah Natal menawarkan sesuatu yang para penguasa tampaknya tidak sanggup berikan yaitu harapan dalam keterbatasan. 

Natal akan selalu mengingatkan bahwa harapan tidak selalu datang dari istana, tetapi dari ruang-ruang kecil tempat manusia saling menopang.  Bahwa kegelapan tidak pernah berhasil mematikan terang, meski sering mencoba. Relate dengan gotong royong rakyat Indonesi yang dengan tulus mengosongkan nama pribadi  sebagai Hamba Allah untuk membantu saudara sebangsa yang kena bencana, atau influencer yang tetap diam karena menyumbang sebagian hartanya tapi dihujat DPR. 

Rakyat butuh semangat Natal untuk bertahan hidup.  Sementara di gedung-gedung ber-AC, banyak para oknum pejabat duduk berembug sambil memastikan uang rakyat berpindah tangan dengan anggun.

Ada yang Lebih Butuh Semangat Natal

Kalau rakyat merayakan Natal untuk tetap waras, maka pejabat khususnya yang oknum, perlu Natal untuk kembali belajar menjadi manusia lagi. Mari kita list gejala “kegelapan hati” itu. Sebut saja, menanggapi bencana dengan komentar yang tidak sensitif, menyalahkan rakyat atas kesalahan kebijakan,  korupsi yang dianggap sebagai risiko jabatan, keputusan yang mengorbankan lingkungan dan masyarakat, hilangnya rasa malu ketika melakukan kesalahan, hilangnya empati terhadap penderitaan publik, dan berbagai macam lagi.   Dalam bahasa Hannah Arendt, ini disebut banalitas kejahatan bukan karena pejabat berniat jahat, tetapi karena mereka tidak lagi mampu membedakan mana yang manusiawi dan mana yang tidak.

Dalam bahasa  Jepang, mungkin ini disebut kokoro ga warui,  hati yang jahat, jadinya gelap.  Dan hati yang gelap tidak bisa melihat penderitaan orang lain, bahkan ketika penderitaan itu tepat di depan mata.  Gak tau juga ya, gimana perasaan para oknum itu saat melihat wajah-wajah rakyat kita. Dalam filsafat moral, Emmanuel Levinas mengingatkan bahwa wajah orang lain adalah panggilan etis.

Ketika melihat rakyat, seorang pejabat seharusnya melihat kewajiban, bukan peluang. Tetapi di negeri yang suka melembagakan kelicikan, sering kali wajah rakyat disulap menjadi spreadsheet yang langsung tergambarkan kolom anggaran, kolom bantuan, kolom potongan “siluman”. Maka terang Natal diperlukan bukan hanya untuk bersyukur, tetapi untuk membongkar gelap yang sudah terlalu nyaman bersemayam di kursi-kursi kekuasaan.

Ini bukan sekadar kritik religius. Ini kritik etis, sosial, dan politik yang valid. Jika Natal adalah simbol terang yang datang untuk manusia, maka oknum pejabat adalah manusia yang paling membutuhkan terang itu. Jika Natal mau menjadi perayaan yang jujur, maka pejabat harus berani bercermin di bawah terang ini. Ini bagian yang lebih filosofis sekaligus lebih sarkastis.

Sokrates menekankan pentingnya examined life, hidup yang diperiksa, direfleksi, dan ditanya: “Apa yang sedang saya lakukan? Untuk siapa saya bekerja?” Banyak pejabat hari ini tampaknya menjalani kebalikannya, yaitu unexamined life with excellent justification. Hidup tidak pernah diperiksa, tapi selalu punya pembelaan sepanjang 17 halaman, isinya, “ah, ini hanya miskomunikasi”, “jelas ada pihak yang ingin mencoreng”, “saya tidak menikmati sepeser pun”, bla bla bla. Bosan.

Pesan Natal

Pada akhirnya, logika Natal menawarkan kontras yang tajam. Yang kecil dimuliakan, yang lemah diperhatikan, yang berkuasa diajak bertobat. Ajaran yang sangat sederhana, namun dalam konteks sosial-politik kita justru terdengar radikal.  Sebenarnya ironis, ketika pesan damai 2.000 tahun lalu justru lebih progresif daripada beberapa kebijakan negara di  abad modern ini.

Itulah kenapa Natal tetap relevan bagi Indonesia karena ia menyampaikan bahasa yang dipahami  rakyat untuk bisa bertahan hidup dalam sistem mulai lupa harga manusia. Walter Benjamin bicara tentang “iluminasi singkat”, sebuah momen terang yang membuat manusia bisa melihat kembali arah moralnya. Ironisnya, mungkin di Indonesia, Natal menjadi salah satu dari sedikit iluminasi yang tersisa, setidaknya bagi rakyat.

Maka, setiap tahun ketika kita menyalakan lilin Natal, sebenarnya kita sedang melakukan aksi simbolik untuk mengingatkan negara bahwa yang kecil itu penting, yang lemah itu layak diperhatikan, dan yang berkuasa tidak boleh kebal terhadap terang.  Lilin itu kecil, tapi pasti jujur., tidak seperti beberapa pernyataan pers yang beredar.

Jadi, selamat Natal, untuk rakyat Indonesia yang merayakannya. Semoga masih kuat bertahan. Dan untuk para oknum pejabat, semoga terang itu menemukan Anda sebelum Kegelapan Versi Lembaga Hukum menemukan Anda duluan. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: Hari NatalIndonesiakatolikKristenKristianiNatal
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tri Ratna dan Kebutuhan akan Living Master di Zaman Awakening Digital

Next Post

Bali, Destinasi Wisata Dunia Harus Mewaspadai Krisis Lingkungan

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

by Sugi Lanus
August 4, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

Read moreDetails

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Bali, Destinasi Wisata Dunia Harus Mewaspadai Krisis Lingkungan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  
Khas

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

SAYA bersyukur  menjadi Panyarikan Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Kuta Selatan merangkap sebagai Kepala Sekolah yang membina  remaja SMA. Posisi...

by I Nyoman Tingkat
August 4, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

by Sugi Lanus
August 4, 2026
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita
Ulas Pentas

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia
Khas

Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia

TIM Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, yang diketuai oleh Ashlikhatul Fuaddah, pada Sabtu, 25 Juli 2026 menyelenggarakan kegiatan...

by Ashlikhatul Fuaddah
August 4, 2026
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co