28 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

 Natal untuk Hati yang Gelap

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
December 24, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

ADA satu lelucon, yang tidak lucu, yang belakangan ini sempat beredar di tongkrongan bapak-bapak RT.  Mereka bilang, Indonesia itu bukan kekurangan sumber daya alam, tapi kekurangan pemimpin yang punya perasaan.  Kalimat itu lalu diikuti semacam tawa yang tidak benar-benar geli, karena tanpa dipikirpun, isinya terlalu benar.

Di tengah guncangan isu tambang, bencana yang memakan korban, komentar pejabat yang terasa seperti dark jokes, sampai kasus korupsi yang rutin datang seperti paket belanja online para istri tercinta, masyarakat kecil kembali harus menghela napas panjang. Lagi-lagi karena mereka yang menanggung akibat paling berat. Lagi-lagi mereka juga yang harus tabah dalam segala ketidakadilan yang bukan mereka buat.

Makanya, ketika masuk bulan Desember dan umat Kristiani berbicara tentang Natal yang identik dengan pohon terang, bisa jadi akan ada komentar sarkastis yang muncul dari masyarakat, bahwa yang paling butuh Natal bukan rakyat, tapi oknum pejabat. Biar hatinya diterangi karena sudah lama gelap turun temurun. Kalimat itu, lucu tidak lucu, sepertinya adalah bentuk kritik sosial paling masuk akal sepanjang tahun ini.

Natal, Kisah Rakyat Kecil yang Dilangkahi Kekuasaan

Kalau kita kembali ke narasi asli Natal, saat itu adegannya sama sekali tidak glamor. Jadi bukan di ruang VIP gedung mewah, bukan pula ruangan ber-AC dengan jamuan makan ala menteri. Saat itu yang kita temukan justru sepasang rakyat kecil yang kelelahan, di kota yang terlalu penuh, dengan ruang publik yang tidak ramah. Situasi itu malah diperparah dengan adanya acara kelahiran daurat di kandang domba akibat tak ada tempat layak.  Saksi-saksi pertamanya adalah para gembala domba, pekerja kelas paling bawah sebagai wakil rakyat jelata. Mungkin itu pula kenapa kelas bawah disebut kelas kambing.

Natal adalah kisah, di mana dalam iman Kristiani, Tuhan menyatakan yang kecil dan tak dianggap justru menjadi yang paling dekat dengan Tuhan. Jika dipindah ke konteks Indonesia hari ini, posisi Maria, Yusuf, dan para gembala itu akan ditempati oleh keluarga korban banjir bandang, masyarakat yang lahannya tergeser tambang, orang kecil yang kehilangan pekerjaan karena kebijakan yang tak pernah didiskusikan, warga yang rumahnya roboh karena proyek gagal, juga nelayan yang makin jauh melaut demi ikan yang makin sedikit.

Sementara para penguasa, maaf kata nih, kok lebih mirip  Herodes yang merasa terganggu, defensif, dan sibuk mengamankan kekuasaan daripada memastikan keadilan. Itulah mengapa Natal selalu terasa relevan, karena Natal senantiasa menggulirkan narasi bahwa harapan selalu hidup dalam kelas yang selama ini dipinggirkan negara.

Rakyat Membutuhkan Harapan,  Penguasa Tidak Memberikannya

Harapan, dalam dunia politik kita seperti komoditas langka.  Saat harga sembako naik, yang disuruh sabar rakyat. Kerusakan ekologis akibat tambang, yang disuruh mengerti demi pembangunan, juga rakyat. Kebijakan ngawur pejabat yang bikin celaka, yang disuruh tabah lagi-lagi rakyat. 

Rakyat Indonesia adalah makhluk yang diberkahi tingkat kesabaran level nabi, entah karena pilihan atau keterpaksaan, tidak diketahui pasti karena belum ada penelitiannya.  Ketika mereka kehilangan pekerjaan, dirugikan oleh kebijakan, jadi korban bencana, enah bagaimana suara mereka seolah tenggelam, tertindih suara mikrofon pejabat yang sibuk mencari alasan.  Dan di sinilah Natal menawarkan sesuatu yang para penguasa tampaknya tidak sanggup berikan yaitu harapan dalam keterbatasan. 

Natal akan selalu mengingatkan bahwa harapan tidak selalu datang dari istana, tetapi dari ruang-ruang kecil tempat manusia saling menopang.  Bahwa kegelapan tidak pernah berhasil mematikan terang, meski sering mencoba. Relate dengan gotong royong rakyat Indonesi yang dengan tulus mengosongkan nama pribadi  sebagai Hamba Allah untuk membantu saudara sebangsa yang kena bencana, atau influencer yang tetap diam karena menyumbang sebagian hartanya tapi dihujat DPR. 

Rakyat butuh semangat Natal untuk bertahan hidup.  Sementara di gedung-gedung ber-AC, banyak para oknum pejabat duduk berembug sambil memastikan uang rakyat berpindah tangan dengan anggun.

Ada yang Lebih Butuh Semangat Natal

Kalau rakyat merayakan Natal untuk tetap waras, maka pejabat khususnya yang oknum, perlu Natal untuk kembali belajar menjadi manusia lagi. Mari kita list gejala “kegelapan hati” itu. Sebut saja, menanggapi bencana dengan komentar yang tidak sensitif, menyalahkan rakyat atas kesalahan kebijakan,  korupsi yang dianggap sebagai risiko jabatan, keputusan yang mengorbankan lingkungan dan masyarakat, hilangnya rasa malu ketika melakukan kesalahan, hilangnya empati terhadap penderitaan publik, dan berbagai macam lagi.   Dalam bahasa Hannah Arendt, ini disebut banalitas kejahatan bukan karena pejabat berniat jahat, tetapi karena mereka tidak lagi mampu membedakan mana yang manusiawi dan mana yang tidak.

Dalam bahasa  Jepang, mungkin ini disebut kokoro ga warui,  hati yang jahat, jadinya gelap.  Dan hati yang gelap tidak bisa melihat penderitaan orang lain, bahkan ketika penderitaan itu tepat di depan mata.  Gak tau juga ya, gimana perasaan para oknum itu saat melihat wajah-wajah rakyat kita. Dalam filsafat moral, Emmanuel Levinas mengingatkan bahwa wajah orang lain adalah panggilan etis.

Ketika melihat rakyat, seorang pejabat seharusnya melihat kewajiban, bukan peluang. Tetapi di negeri yang suka melembagakan kelicikan, sering kali wajah rakyat disulap menjadi spreadsheet yang langsung tergambarkan kolom anggaran, kolom bantuan, kolom potongan “siluman”. Maka terang Natal diperlukan bukan hanya untuk bersyukur, tetapi untuk membongkar gelap yang sudah terlalu nyaman bersemayam di kursi-kursi kekuasaan.

Ini bukan sekadar kritik religius. Ini kritik etis, sosial, dan politik yang valid. Jika Natal adalah simbol terang yang datang untuk manusia, maka oknum pejabat adalah manusia yang paling membutuhkan terang itu. Jika Natal mau menjadi perayaan yang jujur, maka pejabat harus berani bercermin di bawah terang ini. Ini bagian yang lebih filosofis sekaligus lebih sarkastis.

Sokrates menekankan pentingnya examined life, hidup yang diperiksa, direfleksi, dan ditanya: “Apa yang sedang saya lakukan? Untuk siapa saya bekerja?” Banyak pejabat hari ini tampaknya menjalani kebalikannya, yaitu unexamined life with excellent justification. Hidup tidak pernah diperiksa, tapi selalu punya pembelaan sepanjang 17 halaman, isinya, “ah, ini hanya miskomunikasi”, “jelas ada pihak yang ingin mencoreng”, “saya tidak menikmati sepeser pun”, bla bla bla. Bosan.

Pesan Natal

Pada akhirnya, logika Natal menawarkan kontras yang tajam. Yang kecil dimuliakan, yang lemah diperhatikan, yang berkuasa diajak bertobat. Ajaran yang sangat sederhana, namun dalam konteks sosial-politik kita justru terdengar radikal.  Sebenarnya ironis, ketika pesan damai 2.000 tahun lalu justru lebih progresif daripada beberapa kebijakan negara di  abad modern ini.

Itulah kenapa Natal tetap relevan bagi Indonesia karena ia menyampaikan bahasa yang dipahami  rakyat untuk bisa bertahan hidup dalam sistem mulai lupa harga manusia. Walter Benjamin bicara tentang “iluminasi singkat”, sebuah momen terang yang membuat manusia bisa melihat kembali arah moralnya. Ironisnya, mungkin di Indonesia, Natal menjadi salah satu dari sedikit iluminasi yang tersisa, setidaknya bagi rakyat.

Maka, setiap tahun ketika kita menyalakan lilin Natal, sebenarnya kita sedang melakukan aksi simbolik untuk mengingatkan negara bahwa yang kecil itu penting, yang lemah itu layak diperhatikan, dan yang berkuasa tidak boleh kebal terhadap terang.  Lilin itu kecil, tapi pasti jujur., tidak seperti beberapa pernyataan pers yang beredar.

Jadi, selamat Natal, untuk rakyat Indonesia yang merayakannya. Semoga masih kuat bertahan. Dan untuk para oknum pejabat, semoga terang itu menemukan Anda sebelum Kegelapan Versi Lembaga Hukum menemukan Anda duluan. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: Hari NatalIndonesiakatolikKristenKristianiNatal
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tri Ratna dan Kebutuhan akan Living Master di Zaman Awakening Digital

Next Post

Bali, Destinasi Wisata Dunia Harus Mewaspadai Krisis Lingkungan

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

by Chusmeru
October 28, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

Read moreDetails

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

by Angga Wijaya
October 27, 2026
0
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

Read moreDetails

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
0
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

Read moreDetails

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Bali, Destinasi Wisata Dunia Harus Mewaspadai Krisis Lingkungan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

by Chusmeru
October 28, 2026
Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen
Tualang

Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen

MENDENGAR kata Ferrari atau Lamborghini, bayangan kita mungkin langsung tertuju pada mobil mewah berharga selangit dengan fitur-fitur canggih. Namun, Ferrari...

by Kadek Sri Widiastuti
October 28, 2026
Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji
Liputan Khusus

Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji

“DI DESA PANJI, kami tidak menjual pemandangan, kami menjual cara hidup.” Kalimat itu ditulis Jro Mangku Made Ariawan, Perbekel Desa...

by Jaswanto
October 28, 2026
Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara
Opini

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara

SENIN pagi, 26 Oktober 2026, saya mengikuti sebuah diskusi di Markas Besar UNESCO, Paris, yang bertajuk Artists at Risk: Voices...

by I.G.A.K. Satrya Wibawa
October 27, 2026
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri
Esai

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

by Angga Wijaya
October 27, 2026
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung
Esai

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
Membaca  Ulang “Ubud is Winter”
Ulas Rupa

Membaca  Ulang “Ubud is Winter”

SORE menjelang senja di Gajah Mas Gallery, Pengosekan, Ubud-Gianyar, matahari kian sorong ke batas laut. Cahaya jingga yang kerap memantul...

by I Wayan Westa
October 27, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

HUJAN mengguyur Ubud ketika malam penutupan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) hendak dimulai. Namun, hujan perlahan mereda seiring berlangsungnya...

by Dede Putra Wiguna
October 27, 2026
Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co