7 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

 Natal untuk Hati yang Gelap

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
December 24, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

ADA satu lelucon, yang tidak lucu, yang belakangan ini sempat beredar di tongkrongan bapak-bapak RT.  Mereka bilang, Indonesia itu bukan kekurangan sumber daya alam, tapi kekurangan pemimpin yang punya perasaan.  Kalimat itu lalu diikuti semacam tawa yang tidak benar-benar geli, karena tanpa dipikirpun, isinya terlalu benar.

Di tengah guncangan isu tambang, bencana yang memakan korban, komentar pejabat yang terasa seperti dark jokes, sampai kasus korupsi yang rutin datang seperti paket belanja online para istri tercinta, masyarakat kecil kembali harus menghela napas panjang. Lagi-lagi karena mereka yang menanggung akibat paling berat. Lagi-lagi mereka juga yang harus tabah dalam segala ketidakadilan yang bukan mereka buat.

Makanya, ketika masuk bulan Desember dan umat Kristiani berbicara tentang Natal yang identik dengan pohon terang, bisa jadi akan ada komentar sarkastis yang muncul dari masyarakat, bahwa yang paling butuh Natal bukan rakyat, tapi oknum pejabat. Biar hatinya diterangi karena sudah lama gelap turun temurun. Kalimat itu, lucu tidak lucu, sepertinya adalah bentuk kritik sosial paling masuk akal sepanjang tahun ini.

Natal, Kisah Rakyat Kecil yang Dilangkahi Kekuasaan

Kalau kita kembali ke narasi asli Natal, saat itu adegannya sama sekali tidak glamor. Jadi bukan di ruang VIP gedung mewah, bukan pula ruangan ber-AC dengan jamuan makan ala menteri. Saat itu yang kita temukan justru sepasang rakyat kecil yang kelelahan, di kota yang terlalu penuh, dengan ruang publik yang tidak ramah. Situasi itu malah diperparah dengan adanya acara kelahiran daurat di kandang domba akibat tak ada tempat layak.  Saksi-saksi pertamanya adalah para gembala domba, pekerja kelas paling bawah sebagai wakil rakyat jelata. Mungkin itu pula kenapa kelas bawah disebut kelas kambing.

Natal adalah kisah, di mana dalam iman Kristiani, Tuhan menyatakan yang kecil dan tak dianggap justru menjadi yang paling dekat dengan Tuhan. Jika dipindah ke konteks Indonesia hari ini, posisi Maria, Yusuf, dan para gembala itu akan ditempati oleh keluarga korban banjir bandang, masyarakat yang lahannya tergeser tambang, orang kecil yang kehilangan pekerjaan karena kebijakan yang tak pernah didiskusikan, warga yang rumahnya roboh karena proyek gagal, juga nelayan yang makin jauh melaut demi ikan yang makin sedikit.

Sementara para penguasa, maaf kata nih, kok lebih mirip  Herodes yang merasa terganggu, defensif, dan sibuk mengamankan kekuasaan daripada memastikan keadilan. Itulah mengapa Natal selalu terasa relevan, karena Natal senantiasa menggulirkan narasi bahwa harapan selalu hidup dalam kelas yang selama ini dipinggirkan negara.

Rakyat Membutuhkan Harapan,  Penguasa Tidak Memberikannya

Harapan, dalam dunia politik kita seperti komoditas langka.  Saat harga sembako naik, yang disuruh sabar rakyat. Kerusakan ekologis akibat tambang, yang disuruh mengerti demi pembangunan, juga rakyat. Kebijakan ngawur pejabat yang bikin celaka, yang disuruh tabah lagi-lagi rakyat. 

Rakyat Indonesia adalah makhluk yang diberkahi tingkat kesabaran level nabi, entah karena pilihan atau keterpaksaan, tidak diketahui pasti karena belum ada penelitiannya.  Ketika mereka kehilangan pekerjaan, dirugikan oleh kebijakan, jadi korban bencana, enah bagaimana suara mereka seolah tenggelam, tertindih suara mikrofon pejabat yang sibuk mencari alasan.  Dan di sinilah Natal menawarkan sesuatu yang para penguasa tampaknya tidak sanggup berikan yaitu harapan dalam keterbatasan. 

Natal akan selalu mengingatkan bahwa harapan tidak selalu datang dari istana, tetapi dari ruang-ruang kecil tempat manusia saling menopang.  Bahwa kegelapan tidak pernah berhasil mematikan terang, meski sering mencoba. Relate dengan gotong royong rakyat Indonesi yang dengan tulus mengosongkan nama pribadi  sebagai Hamba Allah untuk membantu saudara sebangsa yang kena bencana, atau influencer yang tetap diam karena menyumbang sebagian hartanya tapi dihujat DPR. 

Rakyat butuh semangat Natal untuk bertahan hidup.  Sementara di gedung-gedung ber-AC, banyak para oknum pejabat duduk berembug sambil memastikan uang rakyat berpindah tangan dengan anggun.

Ada yang Lebih Butuh Semangat Natal

Kalau rakyat merayakan Natal untuk tetap waras, maka pejabat khususnya yang oknum, perlu Natal untuk kembali belajar menjadi manusia lagi. Mari kita list gejala “kegelapan hati” itu. Sebut saja, menanggapi bencana dengan komentar yang tidak sensitif, menyalahkan rakyat atas kesalahan kebijakan,  korupsi yang dianggap sebagai risiko jabatan, keputusan yang mengorbankan lingkungan dan masyarakat, hilangnya rasa malu ketika melakukan kesalahan, hilangnya empati terhadap penderitaan publik, dan berbagai macam lagi.   Dalam bahasa Hannah Arendt, ini disebut banalitas kejahatan bukan karena pejabat berniat jahat, tetapi karena mereka tidak lagi mampu membedakan mana yang manusiawi dan mana yang tidak.

Dalam bahasa  Jepang, mungkin ini disebut kokoro ga warui,  hati yang jahat, jadinya gelap.  Dan hati yang gelap tidak bisa melihat penderitaan orang lain, bahkan ketika penderitaan itu tepat di depan mata.  Gak tau juga ya, gimana perasaan para oknum itu saat melihat wajah-wajah rakyat kita. Dalam filsafat moral, Emmanuel Levinas mengingatkan bahwa wajah orang lain adalah panggilan etis.

Ketika melihat rakyat, seorang pejabat seharusnya melihat kewajiban, bukan peluang. Tetapi di negeri yang suka melembagakan kelicikan, sering kali wajah rakyat disulap menjadi spreadsheet yang langsung tergambarkan kolom anggaran, kolom bantuan, kolom potongan “siluman”. Maka terang Natal diperlukan bukan hanya untuk bersyukur, tetapi untuk membongkar gelap yang sudah terlalu nyaman bersemayam di kursi-kursi kekuasaan.

Ini bukan sekadar kritik religius. Ini kritik etis, sosial, dan politik yang valid. Jika Natal adalah simbol terang yang datang untuk manusia, maka oknum pejabat adalah manusia yang paling membutuhkan terang itu. Jika Natal mau menjadi perayaan yang jujur, maka pejabat harus berani bercermin di bawah terang ini. Ini bagian yang lebih filosofis sekaligus lebih sarkastis.

Sokrates menekankan pentingnya examined life, hidup yang diperiksa, direfleksi, dan ditanya: “Apa yang sedang saya lakukan? Untuk siapa saya bekerja?” Banyak pejabat hari ini tampaknya menjalani kebalikannya, yaitu unexamined life with excellent justification. Hidup tidak pernah diperiksa, tapi selalu punya pembelaan sepanjang 17 halaman, isinya, “ah, ini hanya miskomunikasi”, “jelas ada pihak yang ingin mencoreng”, “saya tidak menikmati sepeser pun”, bla bla bla. Bosan.

Pesan Natal

Pada akhirnya, logika Natal menawarkan kontras yang tajam. Yang kecil dimuliakan, yang lemah diperhatikan, yang berkuasa diajak bertobat. Ajaran yang sangat sederhana, namun dalam konteks sosial-politik kita justru terdengar radikal.  Sebenarnya ironis, ketika pesan damai 2.000 tahun lalu justru lebih progresif daripada beberapa kebijakan negara di  abad modern ini.

Itulah kenapa Natal tetap relevan bagi Indonesia karena ia menyampaikan bahasa yang dipahami  rakyat untuk bisa bertahan hidup dalam sistem mulai lupa harga manusia. Walter Benjamin bicara tentang “iluminasi singkat”, sebuah momen terang yang membuat manusia bisa melihat kembali arah moralnya. Ironisnya, mungkin di Indonesia, Natal menjadi salah satu dari sedikit iluminasi yang tersisa, setidaknya bagi rakyat.

Maka, setiap tahun ketika kita menyalakan lilin Natal, sebenarnya kita sedang melakukan aksi simbolik untuk mengingatkan negara bahwa yang kecil itu penting, yang lemah itu layak diperhatikan, dan yang berkuasa tidak boleh kebal terhadap terang.  Lilin itu kecil, tapi pasti jujur., tidak seperti beberapa pernyataan pers yang beredar.

Jadi, selamat Natal, untuk rakyat Indonesia yang merayakannya. Semoga masih kuat bertahan. Dan untuk para oknum pejabat, semoga terang itu menemukan Anda sebelum Kegelapan Versi Lembaga Hukum menemukan Anda duluan. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: Hari NatalIndonesiakatolikKristenKristianiNatal
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tri Ratna dan Kebutuhan akan Living Master di Zaman Awakening Digital

Next Post

Bali, Destinasi Wisata Dunia Harus Mewaspadai Krisis Lingkungan

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
0
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

Read moreDetails

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Bali, Destinasi Wisata Dunia Harus Mewaspadai Krisis Lingkungan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi
Esai

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co