SEPASANG tubuh bersuka ria. Bergandengan tangan, bergerak riang di panggung rimba. Laksana cendrawasih, memadu kasih di kerimbunan hutan Papua. Nyanyiannya membelalakkan mata. Gradasi warna ditubuh indahnya, menakjubkan. Hembusan angin membelai lembut. Memancing riuh teriak jangkrik dan burung-burung untuk saling melempar sapa.
Ironis, kisah romantis itu perlahan kehilangan konteks dunia nyata. Fenomena ini hilang seiring dengan luluh lantak berhektar hutan di Papua. Di sudut lain negeri seperti Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatera, situasinya sama mengirisnya. Keragaman hayati menjadi tanah kosong. Ekosistem sirna tergusur raksasa besi. Tersisa hanya kehampaan.
Kerusakan hutan tak hanya mengancam kelangsungan hidup flora dan fauna. Kerusakan hutan adalah ancaman nyata bagi seluruh kehidupan. Termasuk kita, manusia.
Kini, bencana alam menjadi momok di penjuru negeri. Kehadirannya mengancam keselamatan hidup masyarakat.Hutan yang mestinya jadi resapan air justru dihilangkan. Berganti sawit yang daya serapnya tak sebaik hutan alami.
Ini berdampak pada keterserapan curah hujan. Air tidak tertampung dengan baik, mengalir begitu saja. Cukup untuk mengikis lapisan tanah, yang memang tak lagi tercengkeram oleh akar. Alhasil, ketika curah hujan tinggi, banjir bandang menghanyutkan segala hal yang dilaluinya. Lereng-lereng longsor, mengubur kehidupan di bawahnya.

Kisah menyayat ini mengilhami penciptaan karya musik Prana Karma di Panggung MTN Lab x Katabunyi Forum 2025 di Umbul Siblarak, Desa Sidowayah, Kecamatan Polanharjo, Klaten. MTN Lab x Katabunyi Forum 2025 menghadirkan 12 komposer, dibagi dalam tiga kelompok. Keempat komposer mengikuti serangkaian kegiatan, salah satunya adalah produksi karya.
Mereka berkesempatan berproses selama (sekitar) tiga hari. Dari penggodokan ide hingga eksekusi studio. Pada akhir kegiatan (4 Desember 2025), masing-masing kelompok menyajikan karya-karya mereka di Panggung Katabunyi 2025.
Prana Karma—salah satu kelompok—diisi oleh para komposer berlatar musik Belitung (Reno Izhar), Sunda (Teguh Permana), Barat (Bayu Raditya), dan Jawa (Eka Prihahatiningsih, alias Eka Uget-uget). Perbedaan bukan hambatan bagi mereka. Keempat komposer bersepakat untuk memakai metode demokratis.
Pertemuan awal Prana Karma dimulai dengan mengenal diri dan musikalitas masing-masing personil. Tentang pengalaman, kebiasaan, dan bahasa kekaryaan. Upaya ini mereka anggap penting. Ini yang dapat memantik proses produksi jadi lebih cair dan menyenangkan.
Seperti kata Bayu, salah seorang personil. “Pengendalian ego adalah puncak kedewasaan proses bermusik.”

Prana berasal dari bahasa Sansekerta. Artinya nafas kehidupan. Sementara karma (Sansekerta), artinya perbuatan atau tindakan. Prana Karma berarti perbuatan atau tindakan berpengaruh terhadap nafas kehidupan. Bagi diri sendiri, kelompok, dan seluruh makhluk.
Istilah ini dianggap tepat untuk menarasikan ide karya dan misi kekaryaan mereka pada Katabunyi Forum 2025. Karena itu, Prana Karma bukan hanya nama kelompok. Itu juga sebagai istilah kunci (judul) yang menggambarkan karya mereka.
Media Ungkap
Prana Karma adalah tipe musik yang bercerita. Musiknya hidup, kendati tak secara gamblang mengungkap kisah melalui lirik. Prana Karma menyiratkan narasi melalui suara-bunyi manusia (penyanyi wanita) dan instrumen.


Tarawangsa, alat musik gesek dari tanah Sunda. Sebutan lainnya adalah ngek-ngek dan rebab jangkung. Ada dua senar berbeda nada. Satu senar digesek, senar lainnya dipetik. Tubuh tarawangsa dibuat dari kayu nangka. Bentuknya ibarat raga seorang wanita. Ada kepala, badan, dan kaki. Sementara itu, karakter bunyinya laksana kidung penyanyi wanita Sunda.
Kedua, ada gendang melayu. Alat musik perkusif dari Belitung (salah satunya). Tubuhnya berbentuk silinder. Dibuat dari kayu kelapa. Lingkar besar berdiameter sekitar 16 inci. Lingkar kecil berdiameter sekitar 12 inci, dengan tinggi 8 inci.
Bagian ditabuh hanya pada lingkar besar. Membran, sumber suara-bunyi, terbuat dari kulit kambing, sapi, atau kerbau. Proses pengolahannya, kulit dikeringkan, kemudian dibentuk sedemikian rupa. Disatukan dengan tubuhnya.
Pengencang kulit terbuat dari tali alpin. Penahan kulit dari besi monel berukuran kecil melingkari bagian luar. Berbeda letak, sisipan rotan melingkar menopang kulit bagian dalam gendang. Rotan dipasang ketika gendang akan dimainkan.


Instrumen lain adalah sunai tabuong.Alat musik tiup ini sejenis seruling bambu. Berukuran kecil, dengan panjang 15 cm, diameter tabung sekira 1 cm. Berbeda dengan seruling Sunda, sunai tabuong memiliki dua bagian. Satu bagian adalah bambu utuh sebagai resonator. Bagian lain, berukuran lebih kecil, adalah penghasil suara-bunyi. Kedua bagian disatukan, dengan memasukkan penghasil bunyi ke dalam resonator.
Perbedaan lain, sunai tabuong bukan jenis seruling yang memainkan motif melodi. Karakter suara-bunyi sunai tabuong bagaikan teriakan. Ekspresi sedih akibat gagal panen. Suara-suaranya dihasilkan dengan mengatur aliran udara. Penekanan tiupan dibarengi dengan teknik buka-tutup lubang nada (bagian resonator), akan menghasilkan jenis suara-bunyi yang diinginkan.
Dua instrumen lain adalah gitar elektrik dan sequencer.Gitar elektrik adalah jenis gitar yang menggunakan spul (pickup). Spul berfungsi mengubah getaran dari senar menjadi arus elektrik.
Gitar jenis ini dikuatkan juga dengan ampli (amplifier). Fungsinya untuk memperkuat sinyal listrik dari gitar. Dengan ampli, sinyal tersebut diubah jadi suara (lewat sepiker). Selain itu, ampli juga berfungsi untuk membentuk karakter suara sesuai keinginan gitaris.

Alat lainnya, sequencer, adalah perangkat keras atau lunak. Sequencer berfungsi untuk merekam, mengedit, dan memutar ulang urutan (sequence) data atau peristiwa secara otomatis. Dalam produksi musik, sequencer umum digunakan untuk mengatur nada dan ritme.
Alur Dramatik
Rangkaian emosi pada karya Prana Karma cukup dramatik. Dari yang menyenangkan hingga menyakitkan. Menyenangkan, memotret keragaman hayati dan flora ketika masih alami. Semua gembira, terwujud dalam lagu bertema yang melekat dan ikonik.
Lagu ini terinspirasi oleh nyanyian Melayu. Tanpa syair, hanya la la la. Tempo dimainkan rancak, dengan birama ¾. Menggambarkan ketenangan dan keamanan hidup.
Emosi beralih cepat. Penggundulan hutan semakin masif, 20,3 juta hektare hutan hilang sejak 1990. Krèk… Krèk… tergambarkan oleh tarawangsa. Jutaan pohon terpotong, tak mengindahkan dampak besar di kemudian hari.

Bagian ini didominasi penyanyi wanita. Ia melantunkan nyanyian menyayat sekaligus berperan sebagai dalang (narator pada wayang kulit purwa). Narasi berbahasa Jawa (pocapan) dan teriakan-teriakan bernada tinggi silih berganti dimunculkan. Emosinya merepresentasikan bengisnya tindakan para insan tak bertanggung jawab.
Hasilnya, alam murka. Banjir datang, semua panik. Curah air yang tak tertampung menghantam segala hal yang dilalui. Merobohkan ketahanan mental, menghanyutkan harta benda dan nyawa.
Secara musikal, ini diwujudkan lewat sequencer. Jeritan gitar menyayat, teriakan ketakberdayaan penyanyi wanita, melebur dalam kekacauan musikal.
Buummmmm…. Buummm.. Buummm.. Luluh lantak tersapu air.
Musik menghentak keras memekakkan telinga.
“Serakaaaaahhh…”
“Petakaaaaa…” seru kencang penyanyi wanita.
Menyakitkan. Memang sangat menyakitkan. Insan tak bersalah menanggung beban sebesar itu.
Secara musikal, denting pelan gitar listrik, belai kasih tarawangsa dan sequencer menebalkan suasana yang terceritakan penyanyi wanita. Megatruh, tembang Jawa itu, menyulih akhir kisah. Trauma, kekecewaan, dan kesakitan yang bisa saja bukan mereka penyebabnya.


Lolongan sunai tabuong menampakkan potret kompleks korban. Uaaaaa…. uaaaaaa… Satu sisi korban harus bangkit. Tapi ada luka lain. Yang sangat dalam, masih basah, menempel erat di relung jiwa.
Hamung konjuk Gusti ingkang Maha Agung (Hanya untuk Gusti Yang Maha Agung)
kang murba lan kang ngeratoni (yang memimpin dan merajai)
Samya ngucap mring sukur (Mari mengucap syukur)
mring kang tansah welas asih (kepada yang senantiasa mengasihi)
Kalisa ashuba karma (Menyingkirlah karma buruk)
Jerit ketakberdayaan megatruh menutup karya Prana Karma. Sebuah panjatan doa untuk hari esok yang lebih baik. [T]
Penulis: Moch. Anil Syidqi
Editor: Adnyana Ole



























