ADA sebuah komentar dari netizen―yang saya lupa entah di mana―tentang drama Korea (drakor) berjudul “Taxi Driver”. Komentar itu begini, “Seandainya di Indonesia ada tokoh-tokoh seperti dalam serial Taxi Driver yang siap mengadili para penjahat yang tak tersentuh oleh hukum.” Duh, setelah membaca komentar itu, saya jadi ngeri membayangkannya. Ya, saya menonton drama itu dari seri 1 sampai 3, dan tema yang diambil mirip-mirip dengan film India kisaran tahun ‘70-an hingga pertengahan ‘90-an―yang dijejali dengan film bergenre Angry Young Man.
Dari beberapa komentar serupa di media sosial mengenai drama ini, tampaknya ada satu kebohongan yang diam-diam disepakati penonton Taxi Driver sejak episode pertama bahwa keadilan bisa diselesaikan oleh orang yang tepat, dengan kekerasan yang terukur, dan niat yang bersih. Serial ini meminta kita memercayai itu—dan kita mengangguk, karena kita sudah sangat kelelahan. Lelah menunggu pengadilan. Lelah membaca berita korupsi yang tak pernah benar-benar tamat. Lelah melihat pelaku kejahatan struktural tersenyum di depan kamera, lalu pulang ke rumah mewahnya.
Maka muncullah sosok Kim Do-gi (diperankan Lee Je-hoon) dengan wajah dingin dan tubuh yang disiplin. Mantan pasukan khusus, korban sistem, dan kini algojo berlisensi moral versi drama Korea. Ia bukan pembunuh sembarangan. Ia “beretika”. Ia hanya memukul orang-orang jahat—orang-orang yang, kebetulan, juga tak tersentuh hukum. Di sinilah Taxi Driver mulai terasa bukan sebagai kritik, melainkan sebagai obat bius. Serial ini tidak bertanya apakah kekerasan itu sah atau dibenarkan. Ia langsung mengeksekusinya.
Secara produksi, semuanya rapi. Sutradara Park Joon-woo, Kang Bo-seung, dan timnya paham betul cara menjual kemarahan publik: potongan cepat, musik tegang, twist moral di akhir episode. Para aktor pendukung—Kim Eui-sung sebagai otak operasi, Pyo Ye-jin sebagai teknisi digital yang bisa membobol apa pun—hadir seperti kementerian bayangan. Rainbow Taxi, lembaga yang menangui mereka, bagaikan negara mini. Versi efisien dari negara yang di dunia nyata terlalu lamban, terlalu bertele-tele, terlalu penuh kompromi. Dan justru di situ letak masalahnya. Karena Taxi Driver tidak sedang menawarkan kritik terhadap sistem hukum. Ia sedang menawarkan pengganti.
Setiap kali jaksa gagal, Kim Do-gi berhasil. Setiap kali polisi ragu, Rainbow Taxi bergerak. Setiap kali hukum terlihat tumpul, kepalan tangan berbicara fasih. Ini bukan sekadar narasi hiburan; ini propaganda emosional yang berbahaya. Ia menanamkan gagasan sederhana: “hukum itu tidak penting, yang penting adalah hasil.” Dan hasil hanya bisa dicapai oleh mereka yang cukup marah, cukup kuat, dan cukup yakin bahwa mereka benar.
Sekarang, mari kita bawa fantasi ini ke Indonesia—tanpa filter, tanpa musik latar.
Bayangkan Kim Do-gi lahir di republik ini. Bukan di Seoul yang rapi dan penuh CCTV, tapi di negeri di mana kamera pengawas sering mati ketika kekuasaan lewat. Ia menyamar sebagai sopir taksi online, mungkin. Atau pengemudi travel antarkota. Ia menghukum pejabat yang menggerogoti dana bansos. Ia menyeret politisi yang menandatangani izin tambang ilegal. Ia mempermalukan mafia sawit yang membakar hutan dan menyebutnya “kesalahan teknis”.
Tentu saja penonton bakal bersorak. Kolom komentar akan penuh doa dan emoji api-api. Bakal banyak potongan adegan viral di TikTok dengan caption: “Kalau hukum tumpul, biar rakyat yang tajam.” Tetapi, lalu apa? Siapa yang menentukan siapa “orang jahat” dan “tidak jahat” di Indonesia?
Di drama, jawabannya mudah. Tapi di Indonesia, jawabannya selalu berlapis: partai, keluarga, investor, aparat, sponsor kampanye, relasi lama. Setiap kejahatan struktural punya puluhan pelindung. Setiap dosa besar punya arsip yang bisa ditukar. Dalam kondisi seperti itu, vigilante bukan pahlawan—ia hanya pion baru dalam permainan lama. Di sinilah Taxi Driver menutup mata dari satu hal penting bahwa kekuasaan tidak pernah kosong. Jika negara absen, yang masuk bukan lagi keadilan, tapi kekuatan lain—yang lebih jahat dari sesuatu yang paling jahat di dunia.
Serial ini terlalu percaya pada mitos individu suci. Kim Do-gi hampir tak pernah salah sasaran. Hampir tak pernah keliru membaca data. Hampir tak pernah menghukum orang yang ternyata tidak bersalah. Ini fantasi yang nyaman—seperti percaya bahwa algojo selalu lebih bermoral daripada hakim. Padahal, sejarah menunjukkan sebaliknya. Semakin seseorang yakin bahwa ia “berpihak pada korban”, semakin mudah ia membenarkan kekejaman.
Di Indonesia, logika ini sudah sering dipraktikkan—tanpa kostum drama Korea. Kita punya sejarah panjang main hakim sendiri: orang dipukuli massa, dibakar hidup-hidup, diseret karena tuduhan yang belakangan keliru. Bedanya, Taxi Driver memberi itu pencahayaan sinematik dan musik yang bagus. Kekerasan jadi terlihat elegan. Dan di sinilah harusnya penonton tahu bahwa Taxi Driver bukan cermin penderitaan rakyat. Ia hanya hiburan bagi mereka yang sudah menyerah pada proses.
Serial ini laku bukan karena ia radikal dan heroik, tapi karena ia kompatibel dengan keputusasaan kelas menengah. Ia memungkinkan kita marah tanpa harus terlibat. Kita bisa mengutuk korupsi sambil rebahan. Kita bisa membenci mafia tambang tanpa harus membaca laporan lingkungan. Kita bisa merasa “berpihak” tanpa risiko.
Di Indonesia, tontonan semacam ini berbahaya justru karena ia terasa relevan. Kita hidup di negeri di mana koruptor sering mendapat remisi, sementara pencuri kecil dipenjara bertahun-tahun. Maka vigilante tampak menggoda. Tapi godaan itu adalah jalan pintas menuju otoritarianisme emosional. Karena setelah kita menerima bahwa hukum bisa dilewati demi “keadilan”, kita membuka pintu untuk pertanyaan yang lebih mengerikan: keadilan versi siapa? Sialnya, Taxi Driver tidak pernah menjawab itu. Ia terlalu sibuk memastikan penonton puas.
Musim demi musim, musuh Kim Do-gi makin besar, makin kaya, makin licik. Tapi solusi tetap sama: penyamaran, jebakan, pukulan. Tidak ada upaya membayangkan perubahan struktural. Tidak ada dunia setelah balas dendam. Tidak ada masyarakat yang benar-benar sembuh. Korban merasa lega, ya. Tapi sistem tetap utuh. Besok akan ada korban baru. Ini bukan kritik sosial. Ini siklus hiburan.
Jika Indonesia benar-benar memiliki Kim Do-gi, ia mungkin tidak akan bertahan lama. Bukan karena ia kalah berkelahi, tapi karena ia akan segera dipeluk, dipakai, lalu dibuang oleh kekuasaan yang lebih besar. Atau lebih buruk: ia dijadikan simbol. Maskot. Alat legitimasi. “Lihat,” kata penguasa, “rakyat sudah puas. Masalah selesai.” Padahal tidak ada yang selesai.
Taxi Driver menghibur kita dengan ide bahwa kekerasan bisa bersih. Tetapi, di Indonesia, kekerasan selalu kotor. Ia berbau kepentingan. Ia bercampur dengan uang, dendam pribadi, dan propaganda. Tidak ada Rainbow Taxi di sini. Yang ada adalah truk-truk tambang, mobil dinas, dan sirene yang hanya menyala untuk yang berkuasa.
Maka menonton Taxi Driver di negeri ini seharusnya tidak membuat kita bertepuk tangan, tapi justru gelisah. Karena jika kita benar-benar menginginkan tokoh seperti Kim Do-gi hadir di dunia nyata, itu berarti kita sudah terlalu lama putus asa pada hukum. Dan putus asa adalah bahan bakar paling murah bagi segala bentuk kekuasaan yang paling kejam.[T]
Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole



























