26 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Festival Sastra Jakarta Barat 2025: Ruang Pulang Bahasa, Ingatan, dan Kota yang Sedang Bertumbuh

Emi Suy by Emi Suy
December 8, 2025
in Panggung
Festival Sastra Jakarta Barat 2025: Ruang Pulang Bahasa, Ingatan, dan Kota yang Sedang Bertumbuh

Festival Sastra Jakarta Barat 2025: Ruang Pulang Bahasa, Ingatan, dan Kota yang Sedang Bertumbuh

“Dengan Sastra Kita Bentuk Wajah Kota Global Penuh Pesona”

ADA kota yang dibangun dari beton, tiang-tiang baja, dan cahaya neon yang tidak pernah tidur. Kota yang bergerak dengan langkah-langkah panjang, tergesa, dan penuh ambisi. Namun ada kota lain kota yang tidak terekam di peta, tidak tercatat dalam laporan pembangunan kota yang tumbuh dari kata-kata. Kota yang dibangun dari bisikan warisan, dari cerita kecil yang diwariskan ibu kepada anaknya, dari pantun yang diulang agar tidak hilang, dari jeda yang diciptakan orang-orang yang memilih berkumpul untuk mendengarkan suara satu sama lain.

Kota seperti itulah yang dibuka pintunya pada Sabtu, 6 Desember 2025, ketika Gedung Kesenian PPSB di Rawa Buaya berubah menjadi ruang pulang bagi bahasa dan ingatan. Kota yang berdetak bukan dari deru kendaraan, melainkan dari napas warga yang membawa harapan, kegelisahan, keinginan untuk tak hilang dari sejarah.

Pagi itu, cahaya yang masuk dari sela pintu seperti mengetuk lembut panggung, seolah mempersilakan warga Rawa Buaya, Cengkareng, dan sekitarnya untuk duduk dan merasa bahwa tempat ini memang disiapkan untuk mereka. Cahaya itu seperti jari-jari halus yang menghapus debu di bahu seseorang; membuat setiap orang merasa dilihat, diterima, ditampung.

Festival Sastra Jakarta Barat yang diprakarsai KOSAKATA bukan sekadar sebuah acara, melainkan sebuah pertemuan lintas jiwa. Tidak ada pagar hierarki; tidak ada gagasan tentang siapa lebih pantas atau yang seharusnya pertama. Semua adalah tamu, semua adalah pemilik, semua adalah suara yang patut didengarkan. Seperti sebuah rumah tua yang kembali dibuka setelah bertahun-tahun, festival ini membuat siapa pun yang melangkah masuk merasakan aroma kenangan yang tak pernah selesai diucapkan.

Ketika pembacaan puisi, tarian penyandang disabilitas, hadroh, dan orkes Melayu mengisi udara, suasana segera berubah dari formal menjadi hangat. Ada sesuatu yang sangat manusiawi dalam cara suara-suara itu menyatu: suara anak kecil yang gugup, suara perempuan yang lantang, suara tubuh yang menari meski dunia tidak selalu ramah padanya. Kadang terdengar getaran kecil dalam suara seseorang yang tidak biasa berada di panggung; getaran yang justru membuat kita sadar bahwa sastra sesungguhnya lahir bukan dari kemahiran, tetapi dari keberanian.

Pagi itu sastra tidak berdiri sebagai tontonan; ia hadir sebagai tubuh kolektif yang bernapas bersama warga. Beberapa orang mungkin baru pertama kali berdiri di panggung, namun keberanian mereka seperti menyimpan kunci kecil untuk membuka pintu kota yang lain kota yang tumbuh dari bahasa yang mereka rawat dengan sederhana, dengan jujur, dengan ketulusan yang tidak bisa dipalsukan.

Siang hari, kompetisi Lomba Baca Puisi Kelompok (LBPK) berlangsung dengan ritme yang unik. Para peserta datang dengan langkah tidak selalu serasi, kadang terlalu cepat, kadang terlalu lambat, tetapi justru ketidaksempurnaan itulah yang membuat panggung terasa nyata. Dari bangku juri Octavianus Masheka, Anto Ristargie, dan saya sendiri terlihat bagaimana setiap peserta membawa dunia kecilnya masing-masing.

Ada kelompok yang menahan gugup, ada yang saling menggenggam tangan sebelum turun, ada yang mengulang napas berkali-kali untuk memastikan suara keluar sebagaimana mestinya. Di mata kami, mereka tidak sekadar tampil, tetapi membuka sebagian dari dirinya pada publik. Sebab setiap kelompok membawa harapan, membawa luka, membawa langkah, membawa cerita keluarga yang mungkin tidak diceritakan di tempat lain. Setiap baris yang mereka ucapkan seperti pecahan cermin, memperlihatkan wajah-wajah kota yang sering luput dari perhatian. Untuk lomba di tahun mendatang, Festival Sastra yang ke-2 akan lebih banyak lagi bidang sastra yang akan dilombakan sebagai cara untuk merangkul lebih banyak suara yang memilih jalan pulang lewat kata-kata.

Sesi Kompilasi Sastra menjadi semacam jamuan panjang yang penuh aroma suara. Penyair-penyair seperti Herry Tany, Arie Toskir, Le Suyudi, Emak Ocha, Jalin Pitoeng, Boy Mihaballo, Ei Genggong Bandito, sampai para penyair LBPJK tampil seperti sungai-sungai kecil yang mengalir ke satu muara: sebuah kota yang ingin mengingat dirinya.

Mereka membawa irama masing-masing: ada yang membaca puisi dengan cara seperti sedang menyalakan lilin kecil di tengah ruangan gelap; ada yang meledak seperti genderang di upacara adat; ada pula yang seperti membuka pintu masa kecil dan mengundang kita masuk, melihat mainan rusak, melihat halaman rumah yang dulu penuh daun jambu. Setiap penyair adalah pintu menuju sebuah dunia yang berbeda, dan kita diundang untuk menyimak denyutnya, aromanya, kesunyian yang ia simpan.

Sore hari membawa tradisi Betawi kembali ke panggung modern Pantun Betawi, Sahibul Hikayat, Topeng Blantek, Puisi Berima, dan Dramatisasi Puisi. Aldo Cs, Kukuh Santosa, dan SangSena Rontje Melati bukan hanya tampil; mereka seperti memanggil roh-roh tua yang pernah menjaga kampung-kampung di Jakarta Barat sebelum kota ini berubah menjadi rimba beton.

Tradisi itu bukan benda mati yang dipajang; ia seperti tubuh tua yang mengulurkan tangan kepada generasi baru mengajari cara menertawakan hidup, cara menahan marah, cara menemukan kearifan dalam hal-hal yang nyaris kita lupakan. Dan ketika pantun ditabuh, ketika bahasa lama itu dilempar ke udara, kota seakan menemukan kembali denyut lama yang pernah hilang di antara klakson dan debu jalanan.

Lalu malam turun perlahan, membawa udara yang lebih lembut. Lampu panggung menghangat, seolah tahu bahwa malam akan menyimpan momen paling intim. Musikalisasi Puisi Anthurium Musikal Kristoforus II mengubah teks menjadi gelombang suara yang tidak hanya didengar, tetapi juga dirasakan di dada.

Suara-suara yang disusun menjadi harmoni itu berjalan perlahan ke telinga kita seperti hujan kecil yang turun di kebun kosong. Sanggar Raisya dengan Tarian Nusantara membuat panggung berubah menjadi permadani ingatan, menampilkan tubuh sebagai bahasa yang tidak pernah bohong bahasa yang lahir dari gerak, dari tarikan napas, dari sejarah tubuh yang tidak pernah berhenti berjalan.

Di titik ini, festival berada di ambang puncaknya. Dan tepat sebelum malam jatuh terlalu dalam, panggung menghadirkan duet yang tidak mudah dilupakan: Imam Ma’arif dan Bambang Oeban, dua penyair kembar yang seperti dua sisi cermin satu memantulkan sinar, satu memantulkan bayang. Duet mereka bukan hanya pembacaan puisi; ia adalah peristiwa.

Imam mulai dengan suara yang seperti mengaduk riwayat, tenang namun menyimpan bara. Bambang menyahut dengan ritme yang lebih cepat, seperti angin yang menolak diam. Ketika keduanya membaca puisi secara bergantian, lalu bersamaan, penonton merasakan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan logika panggung: seolah dua sungai bertemu dan menciptakan arus baru yang menyeret semua yang duduk di kursi-kursi itu.

Ada momen ketika suara mereka bertubrukan bukan bertengkar, tapi seperti dua doa yang naik bersamaan ke langit. Penonton hening, tetapi hening yang penuh, hening yang menampung getaran. Duet maut itu menandai malam dengan garis tebal, menyisakan kilau yang masih tinggal bahkan setelah mereka turun panggung.

Setelah itu, panggung bergerak lagi: dongeng dan puisi oleh Exan Zen, syiar syair oleh Shirootul Mustaqiim, teater tradisi-inovasi oleh Sanggar Pusaka Budaya. Seperti spiral, panggung memutar berbagai bentuk bahasa: ada yang bernyanyi, ada yang menari, ada yang bercerita, ada yang hanya berbisik. Dan spiral itu seperti tidak pernah selesai, karena setiap bentuk bahasa membawa ingatan lain, luka lain, keindahan lain yang mungkin tidak pernah sempat kita ucapkan di hari-hari biasa.

Ketika Jose Rizal Manua tampil, penyair sekaligus maestro itu membawa aura yang membuat waktu seolah melerai. Suaranya matang, ritmenya terlatih puluhan tahun, tetapi tetap menyisakan ruang bagi kita untuk masuk dan merasa menjadi bagian dari sejarah kecil malam itu. Ada getaran yang hanya dimiliki oleh penyair tua yang sudah lama berbicara dengan sunyi.

Ketua panitia, Anto Ristargie, menutup malam dengan laporan yang tidak hanya administratif, tetapi penuh rasa: festival ini lahir dari gotong royong warga, dari tenaga para relawan, dari kerja diam komunitas yang tidak pernah meminta panggung, tetapi selalu menghadirkan cahaya. Laporan itu seperti penutup yang membuka, seperti pintu yang ditutup perlahan tetapi menyisakan celah bagi cahaya untuk tetap tinggal.

Pukul 21.30 festival ditutup. Namun sesungguhnya tidak ada yang benar-benar selesai. Sastra tidak mengenal penutup seperti acara resmi. Ia menyelinap, ia pindah tempat, ia ikut pulang bersama penonton yang berjalan di lorong gelap Rawa Buaya, menyisakan gema kecil yang tidak langsung padam. Gema itu menempel di bahu seseorang, atau berbisik di telinga orang lain, atau tinggal sebagai getaran samar di dada seseorang yang tidak tahu bagaimana menjaganya tetapi tahu bahwa ia harus disimpan.

Dari festival ini, kota belajar bahwa dirinya bukan sekadar kumpulan gedung tinggi. Kota adalah organisme yang memerlukan ingatan. Kota memerlukan jeda. Kota memerlukan bahasa. Kota memerlukan warga yang berani bercerita meski ceritanya retak, meski nadanya samar, meski katanya tersendat. Sebab kota yang tumbuh tanpa sastra adalah kota yang mudah kehilangan arah. Kota yang tidak mendengar warganya akan menjadi kota yang berbicara sendiri dan tidak ada yang lebih sunyi daripada kota yang hanya mendengar gema dirinya sendiri.

Sastra adalah cara kota menatap dirinya sendiri. Dan hari itu, di panggung sederhana bernama Gedung Kesenian PPSB, Jakarta Barat menatap dirinya dengan jujur melihat luka, melihat tawa, melihat cahaya, melihat harapan. Dan di antara semua itu, ia menemukan pesonanya yang paling manusiawi: pesona sebagai rumah pulang, pesona sebagai ruang belajar, pesona sebagai tempat di mana kota akhirnya ingat bahwa ia juga manusia. [T]

Rawa Buaya, 7 Desember 2025

Tags: festivalfestival sastra jakarta baratsastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ibuku Sedang Sakit

Next Post

Davka, Lintasan Pertama, dan Segitiga yang Saling Menguatkan

Emi Suy

Emi Suy

Lahir di Magetan, Jawa Timur, dengan nama Emi Suyanti. Emi penyair perempuan Indonesia yang ikut mendirikan Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) dan saat ini aktif menjadi pengurus, serta menjabat sebagai sekretaris redaksi merangkap redaktur Sastramedia, sebuah jurnal sastra daring. Sampai saat ini Emi sudah menerbitkan lima buku kumpulan puisi tunggal, yaitu Tirakat Padam Api (2011), serta trilogi Sunyi yang terdiri dari Alarm Sunyi (2017), Ayat Sunyi (2018), Api Sunyi (2020) serta Ibu Menanak Nasi Hingga Matang Usia Kami (2022), buku kumpulan esai sastra Interval (2023), serta satu buku kumpulan puisi duet bersama Riri Satria berjudul Algoritma Kesunyian (2023). Penulis Naskah Opera (Libretto) I’m Not For Sale tentang perjuangan tokoh perempuan Ny. Auw Tjoei Lan menantang kematian menyelamatkan kehidupan, oleh pianis dan komponis Ananda Sukarlan. Puisi Emi Suy dimuat di lebih dari 200 buku kumpulan puisi bersama, serta di berbagai media online, seperti Basabasi.co, Sastramedia.com, juga dimuat di media nasional, antara lain Malutpost, Lampung Post, Banjarmasin Post, Suara Merdeka, Media Indonesia, serta Kompas. Puisinya pernah dimuat di majalah internasional dalam bahasa Inggris; majalah Porch Litmag.

Related Posts

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
0
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

Read moreDetails

Ketika Musik, Lukisan, dan Kesadaran Bertemu dalam Nyanyian Dharma

by Pranita Dewi
April 20, 2026
0
Ketika Musik, Lukisan, dan Kesadaran Bertemu dalam Nyanyian Dharma

Pertunjukan Nyanyian Dharma digelar di Ruang Taksu, Gedung Dharma Negara Alaya (DNA), Denpasar, Minggu (19/4) malam, menampilkan kolaborasi musik dengan...

Read moreDetails

‘Wellnes Conference’ di Bali Spirit Festival: Preventif Ciri ‘Wellness Tourism’, Kuratif Tujuan ‘Medical Tourism’

by I Nyoman Darma Putra
April 19, 2026
0
‘Wellnes Conference’ di Bali Spirit Festival: Preventif Ciri ‘Wellness Tourism’, Kuratif Tujuan ‘Medical Tourism’

Perbedaan antara wellness tourism dengan medical tourism menjadi salah satu pertanyaan dalam dalam Wellness Conference (Wellness Talk Show), Kamis, 16 April 2026, di Pelataran Hotel, Ubud....

Read moreDetails

Eksplorasi Material dan Gerak, Serangkai Inovasi Komunitas Wayang Ental di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Komang Puja Savitri
April 14, 2026
0
Eksplorasi Material dan Gerak, Serangkai Inovasi Komunitas Wayang Ental di Festival Wayang Bali Utara 2026

SEJAK awal, ada rasa penasaran yang menggantung di antara penonton yang duduk lesehan di wantilan Museum Soenda Ketjil. Wayang, dalam...

Read moreDetails

Membaca Buleleng dalam Museum Soenda Ketjil —Catatan Kecil dari Festival Wayang Bali Utara 2026

by Son Lomri
April 12, 2026
0
Membaca Buleleng dalam Museum Soenda Ketjil —Catatan Kecil dari Festival Wayang Bali Utara 2026

MALAM itu, Kamis, 9 April 2026, ada pertunjukan wayang kulit serangkaian Festival Wayang Bali Utara (FWB) di Wantilan Pelabuhan Tua...

Read moreDetails

Museum Soenda Ketjil: Kebanggaan Budaya atau Sekadar Ketakutan Akan Kehilangan?

by I Nengah Juliawan
April 11, 2026
0
Museum Soenda Ketjil: Kebanggaan Budaya atau Sekadar Ketakutan Akan Kehilangan?

MUSEUM Soenda Ketjil di Singaraja tidak hanya menjadi ruang sunyi yang menyimpan masa lalu, melainkan juga ruang publik yang terus...

Read moreDetails

Tradisi yang Mulai Bernegosiasi dengan Zaman —Dari Pentas Wayang Bungkulan di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Komang Puja Savitri
April 11, 2026
0
Tradisi yang Mulai Bernegosiasi dengan Zaman —Dari Pentas Wayang Bungkulan di Festival Wayang Bali Utara 2026

WAYANG sebagai produk masa lalu yang kini diratapi, ditangisi oleh orang-orang karena hampir hilang di tengah hiburan dunia digital. Pertunjukan...

Read moreDetails

Ubud Artisan Market dalam Kehangatan Paskah, Rayakan Kreativitas, Komunitas, dan Akhir Pekan di Ubud

by tatkala
April 5, 2026
0
Ubud Artisan Market dalam Kehangatan Paskah, Rayakan Kreativitas, Komunitas, dan Akhir Pekan di Ubud

Yayasan Mudra Swari Saraswati dengan bangga kembali menghadirkan Ubud Artisan Market (UAM), curated market yang merayakan kreativitas, komunitas, dan kerajinan...

Read moreDetails

Api yang Tak Pernah Kenyang: Ketika ‘Lobha’ Menjelma dalam Ogoh-Ogoh STT Eka Budhi, Banjar Danginjalan, Guwang, Sukawati 2026

by Dede Putra Wiguna
March 24, 2026
0
Api yang Tak Pernah Kenyang: Ketika ‘Lobha’ Menjelma dalam Ogoh-Ogoh STT Eka Budhi, Banjar Danginjalan, Guwang, Sukawati 2026

DI Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, kreativitas anak muda kembali menemukan bentuknya dalam karya ogoh-ogoh untuk menyambut Nyepi Caka...

Read moreDetails

Les Ngembak Festival 2026: Merawat Jejak dari Bukit ke Laut

by Nyoman Nadiana
March 23, 2026
0
Les Ngembak Festival 2026: Merawat Jejak dari Bukit ke Laut

PANGGUNG itu kecil saja. Tapi cukup untuk menampung ekspresi masyarakat Desa Les, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng. Di atas panggung kecil...

Read moreDetails
Next Post
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Davka, Lintasan Pertama, dan Segitiga yang Saling Menguatkan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Aksi Kemanusiaan pada HUT ke-9 AMSI Bali
Berita

Aksi Kemanusiaan pada HUT ke-9 AMSI Bali

Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Bali merayakan hari ulang tahun (HUT) ke-9 dengan menggelar serangkaian kegiatan sosial yang menyentuh langsung...

by tatkala
April 25, 2026
Serangga dalam Piring Makan Kita
Kuliner

Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

by Jaswanto
April 25, 2026
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan
Cerpen

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

by Depri Ajopan
April 25, 2026
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani
Puisi

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahkuDemi janji-janji...

by Silvia Maharani Ikhsan
April 25, 2026
Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu
Esai

Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

KEKERASAN seksual di Indonesia telah menjadi luka yang tak kunjung usai, bahkan kini merebak di kampus - kampus ternama selain...

by Putu Ayu Sunia Dewi
April 25, 2026
Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’
Ulas Musik

Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

DALAM tradisi hermeneutika, teks tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari horison sejarah, budaya, dan kesadaran penuturnya. Apa yang...

by Ahmad Sihabudin
April 25, 2026
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co