17 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Festival Sastra Jakarta Barat 2025: Ruang Pulang Bahasa, Ingatan, dan Kota yang Sedang Bertumbuh

Emi Suy by Emi Suy
December 8, 2025
in Panggung
Festival Sastra Jakarta Barat 2025: Ruang Pulang Bahasa, Ingatan, dan Kota yang Sedang Bertumbuh

Festival Sastra Jakarta Barat 2025: Ruang Pulang Bahasa, Ingatan, dan Kota yang Sedang Bertumbuh

“Dengan Sastra Kita Bentuk Wajah Kota Global Penuh Pesona”

ADA kota yang dibangun dari beton, tiang-tiang baja, dan cahaya neon yang tidak pernah tidur. Kota yang bergerak dengan langkah-langkah panjang, tergesa, dan penuh ambisi. Namun ada kota lain kota yang tidak terekam di peta, tidak tercatat dalam laporan pembangunan kota yang tumbuh dari kata-kata. Kota yang dibangun dari bisikan warisan, dari cerita kecil yang diwariskan ibu kepada anaknya, dari pantun yang diulang agar tidak hilang, dari jeda yang diciptakan orang-orang yang memilih berkumpul untuk mendengarkan suara satu sama lain.

Kota seperti itulah yang dibuka pintunya pada Sabtu, 6 Desember 2025, ketika Gedung Kesenian PPSB di Rawa Buaya berubah menjadi ruang pulang bagi bahasa dan ingatan. Kota yang berdetak bukan dari deru kendaraan, melainkan dari napas warga yang membawa harapan, kegelisahan, keinginan untuk tak hilang dari sejarah.

Pagi itu, cahaya yang masuk dari sela pintu seperti mengetuk lembut panggung, seolah mempersilakan warga Rawa Buaya, Cengkareng, dan sekitarnya untuk duduk dan merasa bahwa tempat ini memang disiapkan untuk mereka. Cahaya itu seperti jari-jari halus yang menghapus debu di bahu seseorang; membuat setiap orang merasa dilihat, diterima, ditampung.

Festival Sastra Jakarta Barat yang diprakarsai KOSAKATA bukan sekadar sebuah acara, melainkan sebuah pertemuan lintas jiwa. Tidak ada pagar hierarki; tidak ada gagasan tentang siapa lebih pantas atau yang seharusnya pertama. Semua adalah tamu, semua adalah pemilik, semua adalah suara yang patut didengarkan. Seperti sebuah rumah tua yang kembali dibuka setelah bertahun-tahun, festival ini membuat siapa pun yang melangkah masuk merasakan aroma kenangan yang tak pernah selesai diucapkan.

Ketika pembacaan puisi, tarian penyandang disabilitas, hadroh, dan orkes Melayu mengisi udara, suasana segera berubah dari formal menjadi hangat. Ada sesuatu yang sangat manusiawi dalam cara suara-suara itu menyatu: suara anak kecil yang gugup, suara perempuan yang lantang, suara tubuh yang menari meski dunia tidak selalu ramah padanya. Kadang terdengar getaran kecil dalam suara seseorang yang tidak biasa berada di panggung; getaran yang justru membuat kita sadar bahwa sastra sesungguhnya lahir bukan dari kemahiran, tetapi dari keberanian.

Pagi itu sastra tidak berdiri sebagai tontonan; ia hadir sebagai tubuh kolektif yang bernapas bersama warga. Beberapa orang mungkin baru pertama kali berdiri di panggung, namun keberanian mereka seperti menyimpan kunci kecil untuk membuka pintu kota yang lain kota yang tumbuh dari bahasa yang mereka rawat dengan sederhana, dengan jujur, dengan ketulusan yang tidak bisa dipalsukan.

Siang hari, kompetisi Lomba Baca Puisi Kelompok (LBPK) berlangsung dengan ritme yang unik. Para peserta datang dengan langkah tidak selalu serasi, kadang terlalu cepat, kadang terlalu lambat, tetapi justru ketidaksempurnaan itulah yang membuat panggung terasa nyata. Dari bangku juri Octavianus Masheka, Anto Ristargie, dan saya sendiri terlihat bagaimana setiap peserta membawa dunia kecilnya masing-masing.

Ada kelompok yang menahan gugup, ada yang saling menggenggam tangan sebelum turun, ada yang mengulang napas berkali-kali untuk memastikan suara keluar sebagaimana mestinya. Di mata kami, mereka tidak sekadar tampil, tetapi membuka sebagian dari dirinya pada publik. Sebab setiap kelompok membawa harapan, membawa luka, membawa langkah, membawa cerita keluarga yang mungkin tidak diceritakan di tempat lain. Setiap baris yang mereka ucapkan seperti pecahan cermin, memperlihatkan wajah-wajah kota yang sering luput dari perhatian. Untuk lomba di tahun mendatang, Festival Sastra yang ke-2 akan lebih banyak lagi bidang sastra yang akan dilombakan sebagai cara untuk merangkul lebih banyak suara yang memilih jalan pulang lewat kata-kata.

Sesi Kompilasi Sastra menjadi semacam jamuan panjang yang penuh aroma suara. Penyair-penyair seperti Herry Tany, Arie Toskir, Le Suyudi, Emak Ocha, Jalin Pitoeng, Boy Mihaballo, Ei Genggong Bandito, sampai para penyair LBPJK tampil seperti sungai-sungai kecil yang mengalir ke satu muara: sebuah kota yang ingin mengingat dirinya.

Mereka membawa irama masing-masing: ada yang membaca puisi dengan cara seperti sedang menyalakan lilin kecil di tengah ruangan gelap; ada yang meledak seperti genderang di upacara adat; ada pula yang seperti membuka pintu masa kecil dan mengundang kita masuk, melihat mainan rusak, melihat halaman rumah yang dulu penuh daun jambu. Setiap penyair adalah pintu menuju sebuah dunia yang berbeda, dan kita diundang untuk menyimak denyutnya, aromanya, kesunyian yang ia simpan.

Sore hari membawa tradisi Betawi kembali ke panggung modern Pantun Betawi, Sahibul Hikayat, Topeng Blantek, Puisi Berima, dan Dramatisasi Puisi. Aldo Cs, Kukuh Santosa, dan SangSena Rontje Melati bukan hanya tampil; mereka seperti memanggil roh-roh tua yang pernah menjaga kampung-kampung di Jakarta Barat sebelum kota ini berubah menjadi rimba beton.

Tradisi itu bukan benda mati yang dipajang; ia seperti tubuh tua yang mengulurkan tangan kepada generasi baru mengajari cara menertawakan hidup, cara menahan marah, cara menemukan kearifan dalam hal-hal yang nyaris kita lupakan. Dan ketika pantun ditabuh, ketika bahasa lama itu dilempar ke udara, kota seakan menemukan kembali denyut lama yang pernah hilang di antara klakson dan debu jalanan.

Lalu malam turun perlahan, membawa udara yang lebih lembut. Lampu panggung menghangat, seolah tahu bahwa malam akan menyimpan momen paling intim. Musikalisasi Puisi Anthurium Musikal Kristoforus II mengubah teks menjadi gelombang suara yang tidak hanya didengar, tetapi juga dirasakan di dada.

Suara-suara yang disusun menjadi harmoni itu berjalan perlahan ke telinga kita seperti hujan kecil yang turun di kebun kosong. Sanggar Raisya dengan Tarian Nusantara membuat panggung berubah menjadi permadani ingatan, menampilkan tubuh sebagai bahasa yang tidak pernah bohong bahasa yang lahir dari gerak, dari tarikan napas, dari sejarah tubuh yang tidak pernah berhenti berjalan.

Di titik ini, festival berada di ambang puncaknya. Dan tepat sebelum malam jatuh terlalu dalam, panggung menghadirkan duet yang tidak mudah dilupakan: Imam Ma’arif dan Bambang Oeban, dua penyair kembar yang seperti dua sisi cermin satu memantulkan sinar, satu memantulkan bayang. Duet mereka bukan hanya pembacaan puisi; ia adalah peristiwa.

Imam mulai dengan suara yang seperti mengaduk riwayat, tenang namun menyimpan bara. Bambang menyahut dengan ritme yang lebih cepat, seperti angin yang menolak diam. Ketika keduanya membaca puisi secara bergantian, lalu bersamaan, penonton merasakan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan logika panggung: seolah dua sungai bertemu dan menciptakan arus baru yang menyeret semua yang duduk di kursi-kursi itu.

Ada momen ketika suara mereka bertubrukan bukan bertengkar, tapi seperti dua doa yang naik bersamaan ke langit. Penonton hening, tetapi hening yang penuh, hening yang menampung getaran. Duet maut itu menandai malam dengan garis tebal, menyisakan kilau yang masih tinggal bahkan setelah mereka turun panggung.

Setelah itu, panggung bergerak lagi: dongeng dan puisi oleh Exan Zen, syiar syair oleh Shirootul Mustaqiim, teater tradisi-inovasi oleh Sanggar Pusaka Budaya. Seperti spiral, panggung memutar berbagai bentuk bahasa: ada yang bernyanyi, ada yang menari, ada yang bercerita, ada yang hanya berbisik. Dan spiral itu seperti tidak pernah selesai, karena setiap bentuk bahasa membawa ingatan lain, luka lain, keindahan lain yang mungkin tidak pernah sempat kita ucapkan di hari-hari biasa.

Ketika Jose Rizal Manua tampil, penyair sekaligus maestro itu membawa aura yang membuat waktu seolah melerai. Suaranya matang, ritmenya terlatih puluhan tahun, tetapi tetap menyisakan ruang bagi kita untuk masuk dan merasa menjadi bagian dari sejarah kecil malam itu. Ada getaran yang hanya dimiliki oleh penyair tua yang sudah lama berbicara dengan sunyi.

Ketua panitia, Anto Ristargie, menutup malam dengan laporan yang tidak hanya administratif, tetapi penuh rasa: festival ini lahir dari gotong royong warga, dari tenaga para relawan, dari kerja diam komunitas yang tidak pernah meminta panggung, tetapi selalu menghadirkan cahaya. Laporan itu seperti penutup yang membuka, seperti pintu yang ditutup perlahan tetapi menyisakan celah bagi cahaya untuk tetap tinggal.

Pukul 21.30 festival ditutup. Namun sesungguhnya tidak ada yang benar-benar selesai. Sastra tidak mengenal penutup seperti acara resmi. Ia menyelinap, ia pindah tempat, ia ikut pulang bersama penonton yang berjalan di lorong gelap Rawa Buaya, menyisakan gema kecil yang tidak langsung padam. Gema itu menempel di bahu seseorang, atau berbisik di telinga orang lain, atau tinggal sebagai getaran samar di dada seseorang yang tidak tahu bagaimana menjaganya tetapi tahu bahwa ia harus disimpan.

Dari festival ini, kota belajar bahwa dirinya bukan sekadar kumpulan gedung tinggi. Kota adalah organisme yang memerlukan ingatan. Kota memerlukan jeda. Kota memerlukan bahasa. Kota memerlukan warga yang berani bercerita meski ceritanya retak, meski nadanya samar, meski katanya tersendat. Sebab kota yang tumbuh tanpa sastra adalah kota yang mudah kehilangan arah. Kota yang tidak mendengar warganya akan menjadi kota yang berbicara sendiri dan tidak ada yang lebih sunyi daripada kota yang hanya mendengar gema dirinya sendiri.

Sastra adalah cara kota menatap dirinya sendiri. Dan hari itu, di panggung sederhana bernama Gedung Kesenian PPSB, Jakarta Barat menatap dirinya dengan jujur melihat luka, melihat tawa, melihat cahaya, melihat harapan. Dan di antara semua itu, ia menemukan pesonanya yang paling manusiawi: pesona sebagai rumah pulang, pesona sebagai ruang belajar, pesona sebagai tempat di mana kota akhirnya ingat bahwa ia juga manusia. [T]

Rawa Buaya, 7 Desember 2025

Tags: festivalfestival sastra jakarta baratsastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ibuku Sedang Sakit

Next Post

Davka, Lintasan Pertama, dan Segitiga yang Saling Menguatkan

Emi Suy

Emi Suy

Lahir di Magetan, Jawa Timur, dengan nama Emi Suyanti. Emi penyair perempuan Indonesia yang ikut mendirikan Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) dan saat ini aktif menjadi pengurus, serta menjabat sebagai sekretaris redaksi merangkap redaktur Sastramedia, sebuah jurnal sastra daring. Sampai saat ini Emi sudah menerbitkan lima buku kumpulan puisi tunggal, yaitu Tirakat Padam Api (2011), serta trilogi Sunyi yang terdiri dari Alarm Sunyi (2017), Ayat Sunyi (2018), Api Sunyi (2020) serta Ibu Menanak Nasi Hingga Matang Usia Kami (2022), buku kumpulan esai sastra Interval (2023), serta satu buku kumpulan puisi duet bersama Riri Satria berjudul Algoritma Kesunyian (2023). Penulis Naskah Opera (Libretto) I’m Not For Sale tentang perjuangan tokoh perempuan Ny. Auw Tjoei Lan menantang kematian menyelamatkan kehidupan, oleh pianis dan komponis Ananda Sukarlan. Puisi Emi Suy dimuat di lebih dari 200 buku kumpulan puisi bersama, serta di berbagai media online, seperti Basabasi.co, Sastramedia.com, juga dimuat di media nasional, antara lain Malutpost, Lampung Post, Banjarmasin Post, Suara Merdeka, Media Indonesia, serta Kompas. Puisinya pernah dimuat di majalah internasional dalam bahasa Inggris; majalah Porch Litmag.

Related Posts

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
0
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

Read moreDetails

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
0
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

Read moreDetails

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
0
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

Read moreDetails

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
0
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

Read moreDetails

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
0
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

Read moreDetails

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

by Ingga Adelia
September 11, 2026
0
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

Read moreDetails

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
0
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

Read moreDetails

Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
September 2, 2026
0
Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

Di tengah ketegangan geopolitik global, perpecahan, dan krisis kemanusiaan yang terus membayangi dunia hari ini, ruang pertemuan budaya yang tulus...

Read moreDetails

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
0
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

Read moreDetails

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
0
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

Read moreDetails
Next Post
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Davka, Lintasan Pertama, dan Segitiga yang Saling Menguatkan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Suara dari Dalam Lemari

BEKERJA sebagai arsitek muda freelance, Dara Ayunita terbiasa tidur larut malam. Itu tak menjadi masalah, meskipun ia masih tinggal di...

by Chusmeru
September 17, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

Oleh Sugi Lanus BUKTI perkawinan pengelana India kuno dan perempuan-perempuan Bali tidak hanya tertulis dalam prasasti Bali kuno, tetapi juga...

by Sugi Lanus
September 17, 2026
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar
Khas

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan
Panggung

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
Lift Rumah Mewah Kalea untuk Hunian Premium
Gaya

Lift Rumah Mewah Kalea untuk Hunian Premium

SAAT ini, banyak pemilik rumah mewah di Indonesia memilih menggunakan lift rumah mewah Indonesia dari Kalea karena lift ini dapat...

by tatkala
September 16, 2026
Membaca Naga Agus Kama Loedin
Ulas Rupa

Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

by I Wayan Westa
September 16, 2026
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan
Ulas Rupa

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

by Angga Wijaya
September 16, 2026
Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem
Esai

Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem

SENIN, 14 September 2026, tidak ada suara petir yang menggelegar. Namun, masyarakat cukup dikejutkan oleh sebuah kabar yang sesungguhnya sudah...

by Agung Sudarsa
September 16, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026
Panggung

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
Suka-Duka di Rumah Sakit
Esai

Suka-Duka di Rumah Sakit

BEBERAPA minggu lalu, saya mengaitkan rumah sakit dengan konsep dukkha. Dalam Buddhisme, dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh...

by Angga Wijaya
September 15, 2026
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co