5 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Festival Sastra Jakarta Barat 2025: Ruang Pulang Bahasa, Ingatan, dan Kota yang Sedang Bertumbuh

Emi Suy by Emi Suy
December 8, 2025
in Panggung
Festival Sastra Jakarta Barat 2025: Ruang Pulang Bahasa, Ingatan, dan Kota yang Sedang Bertumbuh

Festival Sastra Jakarta Barat 2025: Ruang Pulang Bahasa, Ingatan, dan Kota yang Sedang Bertumbuh

“Dengan Sastra Kita Bentuk Wajah Kota Global Penuh Pesona”

ADA kota yang dibangun dari beton, tiang-tiang baja, dan cahaya neon yang tidak pernah tidur. Kota yang bergerak dengan langkah-langkah panjang, tergesa, dan penuh ambisi. Namun ada kota lain kota yang tidak terekam di peta, tidak tercatat dalam laporan pembangunan kota yang tumbuh dari kata-kata. Kota yang dibangun dari bisikan warisan, dari cerita kecil yang diwariskan ibu kepada anaknya, dari pantun yang diulang agar tidak hilang, dari jeda yang diciptakan orang-orang yang memilih berkumpul untuk mendengarkan suara satu sama lain.

Kota seperti itulah yang dibuka pintunya pada Sabtu, 6 Desember 2025, ketika Gedung Kesenian PPSB di Rawa Buaya berubah menjadi ruang pulang bagi bahasa dan ingatan. Kota yang berdetak bukan dari deru kendaraan, melainkan dari napas warga yang membawa harapan, kegelisahan, keinginan untuk tak hilang dari sejarah.

Pagi itu, cahaya yang masuk dari sela pintu seperti mengetuk lembut panggung, seolah mempersilakan warga Rawa Buaya, Cengkareng, dan sekitarnya untuk duduk dan merasa bahwa tempat ini memang disiapkan untuk mereka. Cahaya itu seperti jari-jari halus yang menghapus debu di bahu seseorang; membuat setiap orang merasa dilihat, diterima, ditampung.

Festival Sastra Jakarta Barat yang diprakarsai KOSAKATA bukan sekadar sebuah acara, melainkan sebuah pertemuan lintas jiwa. Tidak ada pagar hierarki; tidak ada gagasan tentang siapa lebih pantas atau yang seharusnya pertama. Semua adalah tamu, semua adalah pemilik, semua adalah suara yang patut didengarkan. Seperti sebuah rumah tua yang kembali dibuka setelah bertahun-tahun, festival ini membuat siapa pun yang melangkah masuk merasakan aroma kenangan yang tak pernah selesai diucapkan.

Ketika pembacaan puisi, tarian penyandang disabilitas, hadroh, dan orkes Melayu mengisi udara, suasana segera berubah dari formal menjadi hangat. Ada sesuatu yang sangat manusiawi dalam cara suara-suara itu menyatu: suara anak kecil yang gugup, suara perempuan yang lantang, suara tubuh yang menari meski dunia tidak selalu ramah padanya. Kadang terdengar getaran kecil dalam suara seseorang yang tidak biasa berada di panggung; getaran yang justru membuat kita sadar bahwa sastra sesungguhnya lahir bukan dari kemahiran, tetapi dari keberanian.

Pagi itu sastra tidak berdiri sebagai tontonan; ia hadir sebagai tubuh kolektif yang bernapas bersama warga. Beberapa orang mungkin baru pertama kali berdiri di panggung, namun keberanian mereka seperti menyimpan kunci kecil untuk membuka pintu kota yang lain kota yang tumbuh dari bahasa yang mereka rawat dengan sederhana, dengan jujur, dengan ketulusan yang tidak bisa dipalsukan.

Siang hari, kompetisi Lomba Baca Puisi Kelompok (LBPK) berlangsung dengan ritme yang unik. Para peserta datang dengan langkah tidak selalu serasi, kadang terlalu cepat, kadang terlalu lambat, tetapi justru ketidaksempurnaan itulah yang membuat panggung terasa nyata. Dari bangku juri Octavianus Masheka, Anto Ristargie, dan saya sendiri terlihat bagaimana setiap peserta membawa dunia kecilnya masing-masing.

Ada kelompok yang menahan gugup, ada yang saling menggenggam tangan sebelum turun, ada yang mengulang napas berkali-kali untuk memastikan suara keluar sebagaimana mestinya. Di mata kami, mereka tidak sekadar tampil, tetapi membuka sebagian dari dirinya pada publik. Sebab setiap kelompok membawa harapan, membawa luka, membawa langkah, membawa cerita keluarga yang mungkin tidak diceritakan di tempat lain. Setiap baris yang mereka ucapkan seperti pecahan cermin, memperlihatkan wajah-wajah kota yang sering luput dari perhatian. Untuk lomba di tahun mendatang, Festival Sastra yang ke-2 akan lebih banyak lagi bidang sastra yang akan dilombakan sebagai cara untuk merangkul lebih banyak suara yang memilih jalan pulang lewat kata-kata.

Sesi Kompilasi Sastra menjadi semacam jamuan panjang yang penuh aroma suara. Penyair-penyair seperti Herry Tany, Arie Toskir, Le Suyudi, Emak Ocha, Jalin Pitoeng, Boy Mihaballo, Ei Genggong Bandito, sampai para penyair LBPJK tampil seperti sungai-sungai kecil yang mengalir ke satu muara: sebuah kota yang ingin mengingat dirinya.

Mereka membawa irama masing-masing: ada yang membaca puisi dengan cara seperti sedang menyalakan lilin kecil di tengah ruangan gelap; ada yang meledak seperti genderang di upacara adat; ada pula yang seperti membuka pintu masa kecil dan mengundang kita masuk, melihat mainan rusak, melihat halaman rumah yang dulu penuh daun jambu. Setiap penyair adalah pintu menuju sebuah dunia yang berbeda, dan kita diundang untuk menyimak denyutnya, aromanya, kesunyian yang ia simpan.

Sore hari membawa tradisi Betawi kembali ke panggung modern Pantun Betawi, Sahibul Hikayat, Topeng Blantek, Puisi Berima, dan Dramatisasi Puisi. Aldo Cs, Kukuh Santosa, dan SangSena Rontje Melati bukan hanya tampil; mereka seperti memanggil roh-roh tua yang pernah menjaga kampung-kampung di Jakarta Barat sebelum kota ini berubah menjadi rimba beton.

Tradisi itu bukan benda mati yang dipajang; ia seperti tubuh tua yang mengulurkan tangan kepada generasi baru mengajari cara menertawakan hidup, cara menahan marah, cara menemukan kearifan dalam hal-hal yang nyaris kita lupakan. Dan ketika pantun ditabuh, ketika bahasa lama itu dilempar ke udara, kota seakan menemukan kembali denyut lama yang pernah hilang di antara klakson dan debu jalanan.

Lalu malam turun perlahan, membawa udara yang lebih lembut. Lampu panggung menghangat, seolah tahu bahwa malam akan menyimpan momen paling intim. Musikalisasi Puisi Anthurium Musikal Kristoforus II mengubah teks menjadi gelombang suara yang tidak hanya didengar, tetapi juga dirasakan di dada.

Suara-suara yang disusun menjadi harmoni itu berjalan perlahan ke telinga kita seperti hujan kecil yang turun di kebun kosong. Sanggar Raisya dengan Tarian Nusantara membuat panggung berubah menjadi permadani ingatan, menampilkan tubuh sebagai bahasa yang tidak pernah bohong bahasa yang lahir dari gerak, dari tarikan napas, dari sejarah tubuh yang tidak pernah berhenti berjalan.

Di titik ini, festival berada di ambang puncaknya. Dan tepat sebelum malam jatuh terlalu dalam, panggung menghadirkan duet yang tidak mudah dilupakan: Imam Ma’arif dan Bambang Oeban, dua penyair kembar yang seperti dua sisi cermin satu memantulkan sinar, satu memantulkan bayang. Duet mereka bukan hanya pembacaan puisi; ia adalah peristiwa.

Imam mulai dengan suara yang seperti mengaduk riwayat, tenang namun menyimpan bara. Bambang menyahut dengan ritme yang lebih cepat, seperti angin yang menolak diam. Ketika keduanya membaca puisi secara bergantian, lalu bersamaan, penonton merasakan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan logika panggung: seolah dua sungai bertemu dan menciptakan arus baru yang menyeret semua yang duduk di kursi-kursi itu.

Ada momen ketika suara mereka bertubrukan bukan bertengkar, tapi seperti dua doa yang naik bersamaan ke langit. Penonton hening, tetapi hening yang penuh, hening yang menampung getaran. Duet maut itu menandai malam dengan garis tebal, menyisakan kilau yang masih tinggal bahkan setelah mereka turun panggung.

Setelah itu, panggung bergerak lagi: dongeng dan puisi oleh Exan Zen, syiar syair oleh Shirootul Mustaqiim, teater tradisi-inovasi oleh Sanggar Pusaka Budaya. Seperti spiral, panggung memutar berbagai bentuk bahasa: ada yang bernyanyi, ada yang menari, ada yang bercerita, ada yang hanya berbisik. Dan spiral itu seperti tidak pernah selesai, karena setiap bentuk bahasa membawa ingatan lain, luka lain, keindahan lain yang mungkin tidak pernah sempat kita ucapkan di hari-hari biasa.

Ketika Jose Rizal Manua tampil, penyair sekaligus maestro itu membawa aura yang membuat waktu seolah melerai. Suaranya matang, ritmenya terlatih puluhan tahun, tetapi tetap menyisakan ruang bagi kita untuk masuk dan merasa menjadi bagian dari sejarah kecil malam itu. Ada getaran yang hanya dimiliki oleh penyair tua yang sudah lama berbicara dengan sunyi.

Ketua panitia, Anto Ristargie, menutup malam dengan laporan yang tidak hanya administratif, tetapi penuh rasa: festival ini lahir dari gotong royong warga, dari tenaga para relawan, dari kerja diam komunitas yang tidak pernah meminta panggung, tetapi selalu menghadirkan cahaya. Laporan itu seperti penutup yang membuka, seperti pintu yang ditutup perlahan tetapi menyisakan celah bagi cahaya untuk tetap tinggal.

Pukul 21.30 festival ditutup. Namun sesungguhnya tidak ada yang benar-benar selesai. Sastra tidak mengenal penutup seperti acara resmi. Ia menyelinap, ia pindah tempat, ia ikut pulang bersama penonton yang berjalan di lorong gelap Rawa Buaya, menyisakan gema kecil yang tidak langsung padam. Gema itu menempel di bahu seseorang, atau berbisik di telinga orang lain, atau tinggal sebagai getaran samar di dada seseorang yang tidak tahu bagaimana menjaganya tetapi tahu bahwa ia harus disimpan.

Dari festival ini, kota belajar bahwa dirinya bukan sekadar kumpulan gedung tinggi. Kota adalah organisme yang memerlukan ingatan. Kota memerlukan jeda. Kota memerlukan bahasa. Kota memerlukan warga yang berani bercerita meski ceritanya retak, meski nadanya samar, meski katanya tersendat. Sebab kota yang tumbuh tanpa sastra adalah kota yang mudah kehilangan arah. Kota yang tidak mendengar warganya akan menjadi kota yang berbicara sendiri dan tidak ada yang lebih sunyi daripada kota yang hanya mendengar gema dirinya sendiri.

Sastra adalah cara kota menatap dirinya sendiri. Dan hari itu, di panggung sederhana bernama Gedung Kesenian PPSB, Jakarta Barat menatap dirinya dengan jujur melihat luka, melihat tawa, melihat cahaya, melihat harapan. Dan di antara semua itu, ia menemukan pesonanya yang paling manusiawi: pesona sebagai rumah pulang, pesona sebagai ruang belajar, pesona sebagai tempat di mana kota akhirnya ingat bahwa ia juga manusia. [T]

Rawa Buaya, 7 Desember 2025

Tags: festivalfestival sastra jakarta baratsastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ibuku Sedang Sakit

Next Post

Davka, Lintasan Pertama, dan Segitiga yang Saling Menguatkan

Emi Suy

Emi Suy

Lahir di Magetan, Jawa Timur, dengan nama Emi Suyanti. Emi penyair perempuan Indonesia yang ikut mendirikan Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) dan saat ini aktif menjadi pengurus, serta menjabat sebagai sekretaris redaksi merangkap redaktur Sastramedia, sebuah jurnal sastra daring. Sampai saat ini Emi sudah menerbitkan lima buku kumpulan puisi tunggal, yaitu Tirakat Padam Api (2011), serta trilogi Sunyi yang terdiri dari Alarm Sunyi (2017), Ayat Sunyi (2018), Api Sunyi (2020) serta Ibu Menanak Nasi Hingga Matang Usia Kami (2022), buku kumpulan esai sastra Interval (2023), serta satu buku kumpulan puisi duet bersama Riri Satria berjudul Algoritma Kesunyian (2023). Penulis Naskah Opera (Libretto) I’m Not For Sale tentang perjuangan tokoh perempuan Ny. Auw Tjoei Lan menantang kematian menyelamatkan kehidupan, oleh pianis dan komponis Ananda Sukarlan. Puisi Emi Suy dimuat di lebih dari 200 buku kumpulan puisi bersama, serta di berbagai media online, seperti Basabasi.co, Sastramedia.com, juga dimuat di media nasional, antara lain Malutpost, Lampung Post, Banjarmasin Post, Suara Merdeka, Media Indonesia, serta Kompas. Puisinya pernah dimuat di majalah internasional dalam bahasa Inggris; majalah Porch Litmag.

Related Posts

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
0
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

Read moreDetails

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
0
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

Read moreDetails

Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
0
Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

 “Perempuan punya hak atas tubuhnya sendiri!” Kalimat itu meluncur tegas dari Sasti Gotama saat membahas novel Korpus Uterus di Singaraja...

Read moreDetails

Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 31, 2026
0
Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

 “Rumah itu sebenarnya apa?” Pertanyaan itu terus mengemuka sepanjang diskusi buku Rumah karya J.S. Khairen pada hari ketiga Singaraja Literary...

Read moreDetails

13 Tahun Bersetia Dengan Jazz  ——Cerita Menjelang Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

by Wahyu Mahaputra
July 30, 2026
0
13 Tahun Bersetia Dengan Jazz  ——Cerita Menjelang Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

Di tengah menjamurnya festival musik yang kian mengaburkan batas antar-genre demi menjangkau pasar yang lebih luas, Sthala Ubud Village Jazz...

Read moreDetails

“Yang Hilang Yang Terus Berjuang”, Pertunjukan 30 Tahun Kudatuli di Singaraja

by Yahya Umar
July 28, 2026
0
“Yang Hilang Yang Terus Berjuang”, Pertunjukan 30 Tahun Kudatuli di Singaraja

jika rakyat pergiketika penguasa pidatokita harus hati-hatibarangkali mereka putus asa kalau rakyat sembunyidan berbisik-bisikketika membicarakan masalahnya sendiripenguasa harus waspada dan...

Read moreDetails

‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
0
‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

RUANGAN Gedung Ksirarnawa mendadak sunyi. Lampu panggung meredup, hanya menyisakan seberkas cahaya yang jatuh pada seorang lelaki yang duduk di...

Read moreDetails

“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
0
“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026

KETIKA Bagus Diarsa tampak sibuk menatap layar telepon genggamnya, di sampingnya berdiri sosok berwajah penuh riasan, berbusana merah menyala. Dialah...

Read moreDetails

Siap-siap ke Lovina Festival 2026

by Komang Puja Savitri
July 24, 2026
0
Siap-siap ke Lovina Festival 2026

"Hari ini kesiapan sudah seratus persen," ucap Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra membuka jumpa pers di Spice Dive Beach Club,...

Read moreDetails

Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026

by Nyoman Budarsana
July 23, 2026
0
Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026

PERTIKAIAN dan peperangan kerap melahirkan penderitaan, kebencian, dendam, serta luka yang membekas dalam jiwa. Namun, di balik kehancuran itu selalu...

Read moreDetails
Next Post
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Davka, Lintasan Pertama, dan Segitiga yang Saling Menguatkan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur
Ulas Musik

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi
Esai

Pertemuan Rutin, Agenda Lama: Pilkada Lewat DPRD, Lagi

PERTEMUAN itu seharusnya selesai sebagai berita protokoler. Pada Senin, 3 Agustus 2026, jajaran pimpinan MPR datang ke Istana Kepresidenan. Mereka...

by Luthfi Hasanal Bolqiah
August 5, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

BENEFICIAL OWNERSHIP (BO) ——Ketika Perseroan Menjadi Topeng Kepemilikan

"Di atas kertas, pemegang saham dapat berganti. Namun kendali sesungguhnya sering kali tetap berada di tangan orang yang tidak pernah...

by I Made Pria Dharsana
August 5, 2026
Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin
Khas

Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin

TAK bisa dipungkiri, "Under the Spell of the Batur Volcano" adalah sebuah buku penting tentang Batur. Dalam buku itu Batur...

by Wahyu Mahaputra
August 5, 2026
Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  
Khas

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

SAYA bersyukur  menjadi Panyarikan Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Kuta Selatan merangkap sebagai Kepala Sekolah yang membina  remaja SMA. Posisi...

by I Nyoman Tingkat
August 4, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

by Sugi Lanus
August 4, 2026
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita
Ulas Pentas

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia
Khas

Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia

TIM Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, yang diketuai oleh Ashlikhatul Fuaddah, pada Sabtu, 25 Juli 2026 menyelenggarakan kegiatan...

by Ashlikhatul Fuaddah
August 4, 2026
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co