31 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Festival Sastra Jakarta Barat 2025: Ruang Pulang Bahasa, Ingatan, dan Kota yang Sedang Bertumbuh

Emi Suy by Emi Suy
December 8, 2025
in Panggung
Festival Sastra Jakarta Barat 2025: Ruang Pulang Bahasa, Ingatan, dan Kota yang Sedang Bertumbuh

Festival Sastra Jakarta Barat 2025: Ruang Pulang Bahasa, Ingatan, dan Kota yang Sedang Bertumbuh

“Dengan Sastra Kita Bentuk Wajah Kota Global Penuh Pesona”

ADA kota yang dibangun dari beton, tiang-tiang baja, dan cahaya neon yang tidak pernah tidur. Kota yang bergerak dengan langkah-langkah panjang, tergesa, dan penuh ambisi. Namun ada kota lain kota yang tidak terekam di peta, tidak tercatat dalam laporan pembangunan kota yang tumbuh dari kata-kata. Kota yang dibangun dari bisikan warisan, dari cerita kecil yang diwariskan ibu kepada anaknya, dari pantun yang diulang agar tidak hilang, dari jeda yang diciptakan orang-orang yang memilih berkumpul untuk mendengarkan suara satu sama lain.

Kota seperti itulah yang dibuka pintunya pada Sabtu, 6 Desember 2025, ketika Gedung Kesenian PPSB di Rawa Buaya berubah menjadi ruang pulang bagi bahasa dan ingatan. Kota yang berdetak bukan dari deru kendaraan, melainkan dari napas warga yang membawa harapan, kegelisahan, keinginan untuk tak hilang dari sejarah.

Pagi itu, cahaya yang masuk dari sela pintu seperti mengetuk lembut panggung, seolah mempersilakan warga Rawa Buaya, Cengkareng, dan sekitarnya untuk duduk dan merasa bahwa tempat ini memang disiapkan untuk mereka. Cahaya itu seperti jari-jari halus yang menghapus debu di bahu seseorang; membuat setiap orang merasa dilihat, diterima, ditampung.

Festival Sastra Jakarta Barat yang diprakarsai KOSAKATA bukan sekadar sebuah acara, melainkan sebuah pertemuan lintas jiwa. Tidak ada pagar hierarki; tidak ada gagasan tentang siapa lebih pantas atau yang seharusnya pertama. Semua adalah tamu, semua adalah pemilik, semua adalah suara yang patut didengarkan. Seperti sebuah rumah tua yang kembali dibuka setelah bertahun-tahun, festival ini membuat siapa pun yang melangkah masuk merasakan aroma kenangan yang tak pernah selesai diucapkan.

Ketika pembacaan puisi, tarian penyandang disabilitas, hadroh, dan orkes Melayu mengisi udara, suasana segera berubah dari formal menjadi hangat. Ada sesuatu yang sangat manusiawi dalam cara suara-suara itu menyatu: suara anak kecil yang gugup, suara perempuan yang lantang, suara tubuh yang menari meski dunia tidak selalu ramah padanya. Kadang terdengar getaran kecil dalam suara seseorang yang tidak biasa berada di panggung; getaran yang justru membuat kita sadar bahwa sastra sesungguhnya lahir bukan dari kemahiran, tetapi dari keberanian.

Pagi itu sastra tidak berdiri sebagai tontonan; ia hadir sebagai tubuh kolektif yang bernapas bersama warga. Beberapa orang mungkin baru pertama kali berdiri di panggung, namun keberanian mereka seperti menyimpan kunci kecil untuk membuka pintu kota yang lain kota yang tumbuh dari bahasa yang mereka rawat dengan sederhana, dengan jujur, dengan ketulusan yang tidak bisa dipalsukan.

Siang hari, kompetisi Lomba Baca Puisi Kelompok (LBPK) berlangsung dengan ritme yang unik. Para peserta datang dengan langkah tidak selalu serasi, kadang terlalu cepat, kadang terlalu lambat, tetapi justru ketidaksempurnaan itulah yang membuat panggung terasa nyata. Dari bangku juri Octavianus Masheka, Anto Ristargie, dan saya sendiri terlihat bagaimana setiap peserta membawa dunia kecilnya masing-masing.

Ada kelompok yang menahan gugup, ada yang saling menggenggam tangan sebelum turun, ada yang mengulang napas berkali-kali untuk memastikan suara keluar sebagaimana mestinya. Di mata kami, mereka tidak sekadar tampil, tetapi membuka sebagian dari dirinya pada publik. Sebab setiap kelompok membawa harapan, membawa luka, membawa langkah, membawa cerita keluarga yang mungkin tidak diceritakan di tempat lain. Setiap baris yang mereka ucapkan seperti pecahan cermin, memperlihatkan wajah-wajah kota yang sering luput dari perhatian. Untuk lomba di tahun mendatang, Festival Sastra yang ke-2 akan lebih banyak lagi bidang sastra yang akan dilombakan sebagai cara untuk merangkul lebih banyak suara yang memilih jalan pulang lewat kata-kata.

Sesi Kompilasi Sastra menjadi semacam jamuan panjang yang penuh aroma suara. Penyair-penyair seperti Herry Tany, Arie Toskir, Le Suyudi, Emak Ocha, Jalin Pitoeng, Boy Mihaballo, Ei Genggong Bandito, sampai para penyair LBPJK tampil seperti sungai-sungai kecil yang mengalir ke satu muara: sebuah kota yang ingin mengingat dirinya.

Mereka membawa irama masing-masing: ada yang membaca puisi dengan cara seperti sedang menyalakan lilin kecil di tengah ruangan gelap; ada yang meledak seperti genderang di upacara adat; ada pula yang seperti membuka pintu masa kecil dan mengundang kita masuk, melihat mainan rusak, melihat halaman rumah yang dulu penuh daun jambu. Setiap penyair adalah pintu menuju sebuah dunia yang berbeda, dan kita diundang untuk menyimak denyutnya, aromanya, kesunyian yang ia simpan.

Sore hari membawa tradisi Betawi kembali ke panggung modern Pantun Betawi, Sahibul Hikayat, Topeng Blantek, Puisi Berima, dan Dramatisasi Puisi. Aldo Cs, Kukuh Santosa, dan SangSena Rontje Melati bukan hanya tampil; mereka seperti memanggil roh-roh tua yang pernah menjaga kampung-kampung di Jakarta Barat sebelum kota ini berubah menjadi rimba beton.

Tradisi itu bukan benda mati yang dipajang; ia seperti tubuh tua yang mengulurkan tangan kepada generasi baru mengajari cara menertawakan hidup, cara menahan marah, cara menemukan kearifan dalam hal-hal yang nyaris kita lupakan. Dan ketika pantun ditabuh, ketika bahasa lama itu dilempar ke udara, kota seakan menemukan kembali denyut lama yang pernah hilang di antara klakson dan debu jalanan.

Lalu malam turun perlahan, membawa udara yang lebih lembut. Lampu panggung menghangat, seolah tahu bahwa malam akan menyimpan momen paling intim. Musikalisasi Puisi Anthurium Musikal Kristoforus II mengubah teks menjadi gelombang suara yang tidak hanya didengar, tetapi juga dirasakan di dada.

Suara-suara yang disusun menjadi harmoni itu berjalan perlahan ke telinga kita seperti hujan kecil yang turun di kebun kosong. Sanggar Raisya dengan Tarian Nusantara membuat panggung berubah menjadi permadani ingatan, menampilkan tubuh sebagai bahasa yang tidak pernah bohong bahasa yang lahir dari gerak, dari tarikan napas, dari sejarah tubuh yang tidak pernah berhenti berjalan.

Di titik ini, festival berada di ambang puncaknya. Dan tepat sebelum malam jatuh terlalu dalam, panggung menghadirkan duet yang tidak mudah dilupakan: Imam Ma’arif dan Bambang Oeban, dua penyair kembar yang seperti dua sisi cermin satu memantulkan sinar, satu memantulkan bayang. Duet mereka bukan hanya pembacaan puisi; ia adalah peristiwa.

Imam mulai dengan suara yang seperti mengaduk riwayat, tenang namun menyimpan bara. Bambang menyahut dengan ritme yang lebih cepat, seperti angin yang menolak diam. Ketika keduanya membaca puisi secara bergantian, lalu bersamaan, penonton merasakan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan logika panggung: seolah dua sungai bertemu dan menciptakan arus baru yang menyeret semua yang duduk di kursi-kursi itu.

Ada momen ketika suara mereka bertubrukan bukan bertengkar, tapi seperti dua doa yang naik bersamaan ke langit. Penonton hening, tetapi hening yang penuh, hening yang menampung getaran. Duet maut itu menandai malam dengan garis tebal, menyisakan kilau yang masih tinggal bahkan setelah mereka turun panggung.

Setelah itu, panggung bergerak lagi: dongeng dan puisi oleh Exan Zen, syiar syair oleh Shirootul Mustaqiim, teater tradisi-inovasi oleh Sanggar Pusaka Budaya. Seperti spiral, panggung memutar berbagai bentuk bahasa: ada yang bernyanyi, ada yang menari, ada yang bercerita, ada yang hanya berbisik. Dan spiral itu seperti tidak pernah selesai, karena setiap bentuk bahasa membawa ingatan lain, luka lain, keindahan lain yang mungkin tidak pernah sempat kita ucapkan di hari-hari biasa.

Ketika Jose Rizal Manua tampil, penyair sekaligus maestro itu membawa aura yang membuat waktu seolah melerai. Suaranya matang, ritmenya terlatih puluhan tahun, tetapi tetap menyisakan ruang bagi kita untuk masuk dan merasa menjadi bagian dari sejarah kecil malam itu. Ada getaran yang hanya dimiliki oleh penyair tua yang sudah lama berbicara dengan sunyi.

Ketua panitia, Anto Ristargie, menutup malam dengan laporan yang tidak hanya administratif, tetapi penuh rasa: festival ini lahir dari gotong royong warga, dari tenaga para relawan, dari kerja diam komunitas yang tidak pernah meminta panggung, tetapi selalu menghadirkan cahaya. Laporan itu seperti penutup yang membuka, seperti pintu yang ditutup perlahan tetapi menyisakan celah bagi cahaya untuk tetap tinggal.

Pukul 21.30 festival ditutup. Namun sesungguhnya tidak ada yang benar-benar selesai. Sastra tidak mengenal penutup seperti acara resmi. Ia menyelinap, ia pindah tempat, ia ikut pulang bersama penonton yang berjalan di lorong gelap Rawa Buaya, menyisakan gema kecil yang tidak langsung padam. Gema itu menempel di bahu seseorang, atau berbisik di telinga orang lain, atau tinggal sebagai getaran samar di dada seseorang yang tidak tahu bagaimana menjaganya tetapi tahu bahwa ia harus disimpan.

Dari festival ini, kota belajar bahwa dirinya bukan sekadar kumpulan gedung tinggi. Kota adalah organisme yang memerlukan ingatan. Kota memerlukan jeda. Kota memerlukan bahasa. Kota memerlukan warga yang berani bercerita meski ceritanya retak, meski nadanya samar, meski katanya tersendat. Sebab kota yang tumbuh tanpa sastra adalah kota yang mudah kehilangan arah. Kota yang tidak mendengar warganya akan menjadi kota yang berbicara sendiri dan tidak ada yang lebih sunyi daripada kota yang hanya mendengar gema dirinya sendiri.

Sastra adalah cara kota menatap dirinya sendiri. Dan hari itu, di panggung sederhana bernama Gedung Kesenian PPSB, Jakarta Barat menatap dirinya dengan jujur melihat luka, melihat tawa, melihat cahaya, melihat harapan. Dan di antara semua itu, ia menemukan pesonanya yang paling manusiawi: pesona sebagai rumah pulang, pesona sebagai ruang belajar, pesona sebagai tempat di mana kota akhirnya ingat bahwa ia juga manusia. [T]

Rawa Buaya, 7 Desember 2025

Tags: festivalfestival sastra jakarta baratsastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ibuku Sedang Sakit

Next Post

Davka, Lintasan Pertama, dan Segitiga yang Saling Menguatkan

Emi Suy

Emi Suy

Lahir di Magetan, Jawa Timur, dengan nama Emi Suyanti. Emi penyair perempuan Indonesia yang ikut mendirikan Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) dan saat ini aktif menjadi pengurus, serta menjabat sebagai sekretaris redaksi merangkap redaktur Sastramedia, sebuah jurnal sastra daring. Sampai saat ini Emi sudah menerbitkan lima buku kumpulan puisi tunggal, yaitu Tirakat Padam Api (2011), serta trilogi Sunyi yang terdiri dari Alarm Sunyi (2017), Ayat Sunyi (2018), Api Sunyi (2020) serta Ibu Menanak Nasi Hingga Matang Usia Kami (2022), buku kumpulan esai sastra Interval (2023), serta satu buku kumpulan puisi duet bersama Riri Satria berjudul Algoritma Kesunyian (2023). Penulis Naskah Opera (Libretto) I’m Not For Sale tentang perjuangan tokoh perempuan Ny. Auw Tjoei Lan menantang kematian menyelamatkan kehidupan, oleh pianis dan komponis Ananda Sukarlan. Puisi Emi Suy dimuat di lebih dari 200 buku kumpulan puisi bersama, serta di berbagai media online, seperti Basabasi.co, Sastramedia.com, juga dimuat di media nasional, antara lain Malutpost, Lampung Post, Banjarmasin Post, Suara Merdeka, Media Indonesia, serta Kompas. Puisinya pernah dimuat di majalah internasional dalam bahasa Inggris; majalah Porch Litmag.

Related Posts

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
0
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

Read moreDetails

Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
0
Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan...

Read moreDetails

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
0
Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

Read moreDetails

Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
0
Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

SELAMA ini Henry Manampiring dikenal sebagai penulis nonfiksi, terutama melalui Filosofi Teras yang mengupas filsafat Stoikisme. Namun, lewat kumpulan cerpen...

Read moreDetails

Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

by tatkala
October 28, 2026
0
Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

GUNAWAN Wicaksono membawakan tokoh Purusada dengan riasan tebal, didominasi garis merah dan hitam yang mempertegas wajahnya. Matanya melotot, suaranya menggelegar...

Read moreDetails

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

by Dede Putra Wiguna
October 27, 2026
0
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

HUJAN mengguyur Ubud ketika malam penutupan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) hendak dimulai. Namun, hujan perlahan mereda seiring berlangsungnya...

Read moreDetails

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
0
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

Read moreDetails

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
0
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

Read moreDetails

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
0
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

Read moreDetails

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
0
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

Read moreDetails
Next Post
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Davka, Lintasan Pertama, dan Segitiga yang Saling Menguatkan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Saraswati dan Kenaikan Kelas
Esai

Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital
Esai

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

by tatkala
October 31, 2026
Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda
Kuliner

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda

PAGI-PAGI, Jalan Surapati di Singaraja memiliki kehidupan yang berbeda. Di antara bangunan-bangunan tua yang menyimpan ingatan masa kolonial, ada sebuah...

by I Wayan Artika
October 31, 2026
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung
Panggung

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?
Esai

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan
Esai

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026
Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari
Budaya

Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari

AKHIR pekan ini, Taman Pecangakan di jantung Kota Negara, Jembrana, punya agenda yang berbeda dari biasanya. Selama dua hari, Sabtu–Minggu,...

by tatkala
October 30, 2026
Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek
Khas

Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek

SETIDAKNYA 7,05 juta wisatawan mancanegara melintasi pintu gerbang Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai setiap tahunnya. Bali telah lama...

by Wahyu Mahaputra
October 30, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Di Ruang Tunggu Kehidupan

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Elegi Rumah Pusaka Bernama Papua

SIDANG pembaca yang budiman, saya mengajak anda semua main ke sebuah rumah yang sangat luas. Rumah ini sangat asri, halamannya...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 30, 2026
Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak
Khas

Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak

WAJAH-wajah polos penuh semangat memenuhi Jimbaran Hub, Kuta Selatan, Badung, Bali, pada Kamis pagi, 29 Oktober 2026. Sisa air hujan...

by Nyoman Budarsana
October 30, 2026
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu
Esai

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

by Agung Sudarsa
October 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co