ADA sebuah foto yang akhir-akhir ini beredar di media nasional, dan sejak pertama kali saya melihatnya, ia menetap begitu saja di kepala saya—bukan sebagai gambar bencana, tetapi sebagai semacam catatan kaki dari alam yang sedang muak. Foto itu memperlihatkan seekor gajah yang rebah setelah banjir besar di Sumatra. Kepalanya lenyap di bawah timbunan kayu, sementara pantatnya berdiri paling tinggi, seperti penanda arah yang dipasang tanpa kesepakatan siapa pun.
Saya tidak berada di lokasi kejadian. Saya melihatnya dari layar ponsel, dari jarak yang biasanya membuat sesuatu terasa aman. Tetapi tidak ada yang aman dari foto itu; ia terlalu jujur untuk ditinggalkan begitu saja.
Dan yang paling mengganggu bukanlah tubuh besar yang sudah berhenti hidup itu, melainkan cara ia berhenti. Pantatnya menghadap langit, tenang, persis seperti seseorang yang sedang menunjukkan hal paling sederhana: beginilah jadinya jika yang dibelakangi terlalu lama akhirnya membelakangi balik.
Perasaan yang muncul bukan sekadar sedih atau sekadar marah—dua-duanya hadir, saling mengisi. Sedih karena seekor gajah yang semestinya menjadi penjaga hutan kini mati dalam posisi paling absurd. Marah karena kita tahu kematian itu bukan peristiwa alamiah, melainkan hasil dari penjelasan-penjelasan yang terlalu sering disederhanakan demi kenyamanan.
Salah satu penjelasan itu datang dari presiden sendiri: “Ke depannya kita juga harus tambah tanam kelapa sawit. Nggak usah takut membahayakan, deforestation. Namanya kelapa sawit ya pohon, ya kan? Bener nggak? Kelapa sawit itu pohon, ada daunnya kan?”
Kalimat itu terdengar seperti seseorang yang sedang mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa api tidak berbahaya karena warnanya mirip matahari. Jika definisi hutan bisa direduksi menjadi “yang penting ada daunnya,” maka kita tidak lagi hidup di negara yang memahami ekologi, tetapi di negara yang menganggap logika sebagai barang tidak penting, asalkan kalimatnya terdengar ringan.
Sementara presiden berusaha menenangkan publik dengan retorika “pohon berdaun,” seekor gajah memberikan penjelasan yang lebih gamblang melalui posisinya yang membeku: hutan bukan daun, dan bencana bukan sekadar musim. Hutan adalah lapisan-lapisan kehidupan yang saling menopang, sementara bencana adalah akumulasi pilihan-pilihan yang sudah lama tidak mau melihat tanah sebagai sesuatu yang hidup.
Yang membuat ironi ini menyakitkan adalah betapa alam selalu memakai bahasa yang lebih sederhana daripada manusia. Ia tidak menyampaikan keberatan dalam konferensi pers, tidak mengunggah infografik, tidak menyalahkan siapa pun secara langsung. Ia hanya menunjukkan seekor gajah mati dengan pantat menghadap langit—dan itu sudah cukup sebagai penjelasan. Di tengah semua retorika tentang definisi pohon, definisi pembangunan, definisi kemajuan, foto itu bekerja seperti koreksi: tidak dengan argumen, tetapi dengan fakta yang tidak bisa ditawar.
Kayu-kayu yang menindih kepala gajah itu bukan sekadar puing banjir; mereka adalah arsip kebijakan yang memutuskan bahwa hutan bisa dipangkas tanpa konsekuensi. Sungai yang meluap bukan kejutan; ia hanya kembali ke jalurnya yang lama setelah kita mencabut apa pun yang selama ini menahannya. Dan gajah itu bukan korban tunggal; ia hanyalah makhluk yang kebetulan lebih besar sehingga kematiannya tidak bisa disembunyikan di balik angka statistik.
Melihat foto itu, saya tidak merasa putus asa. Justru ada rasa jelas yang muncul—rasa sedih yang tidak sentimental, rasa marah yang tidak meledak. Rasa yang muncul ketika seseorang akhirnya memahami bahwa yang rusak bukan hanya hutan, tetapi juga bahasa kita. Kita telah menurunkan makna menjadi sekadar kalimat yang nyaman: sawit disebut pohon, bencana disebut musim, kehilangan disebut angka, dan pembangunan disebut solusi.
Alam tidak ikut bermain dalam permainan itu. Ia tidak berdebat tentang daun. Ia tidak peduli pada optimisme palsu. Ia hanya mengembalikan sesuatu dalam bentuk yang paling sulit dibantah: seekor gajah yang mati dengan pantat menatap dunia, sebagai koreksi paling elegan untuk logika yang telah kita miringkan terlalu lama. Foto itu seperti mengatakan, dengan cara yang dingin namun tepat: “Jika kalian terus menganggap sawit adalah hutan, maka beginilah jadinya hutan menjawab.”
Dan entah mengapa, ironi itu terasa jauh lebih benar daripada banyak pernyataan resmi. [T]
Penulis: Pranita Dewi
Editor: Adnyana Ole


























