Pagi ini saya ingin kembali mendengarkan musik yang bukan sekadar lagu, melainkan sebuah perjalanan batin: Neverland karya Marillion.
Neverland, salah satu lagu epik terbaik Marillion, bahkan sering dianggap sebagai puncak pencapaian musikal mereka oleh para penggemar rock progresif Inggris. Dirilis tahun 2004, lagu ini sarat emosi kehilangan, pencarian, keterasingan, dan kerinduan. Semua dirangkai dalam metafora “Neverland”.
Judulnya diambil dari pulau fantasi dalam kisah Peter Pan, tempat keajaiban, petualangan, dan anak-anak yang menolak menjadi dewasa. Neverland melambangkan kerinduan akan masa kanak-kanak yang abadi, tempat pelarian dari realitas yang keras.
Permainan piano pembuka lagu ini seperti muncul dari ruang jauh, kemudian berkembang menjadi gelombang suara atmosferik, diwarnai dengung string, jerit gitar Steve Rothery, dan vokal ekspresif Steve Hogarth, menyeret ke dalam arus progresif yang lembut sekaligus menghanyutkan.
Sebagai bagian dari gerakan neo-prog, Marillion melanjutkan tradisi besar Genesis, Yes, dan Pink Floyd, namun dengan pendekatan yang lebih hangat dan emosional. Bersama Pendragon, Arena, dan The Flower Kings, mereka tetap setia pada semangat progresif, yakni mencintai kedalaman, menolak kesederhanaan, dan terus bereksperimen dengan ide musikal yang puitis.
Secara tematik, Neverland adalah ungkapan kerinduan pada sesuatu yang nyaris tak terjangkau: masa lalu, cinta, jati diri, atau mimpi yang memudar. Komposisinya relatif ringan namun ekspresif, didorong oleh permainan gitar yang emosional, vokal puitis Hogarth, bass yang hidup, serta perpaduan drum dan keyboard yang memicu imajinasi:
you provide the soul / the spark that drives me on /
makes me something more than flesh and bone
Bagian akhir lagu menjadi klimaks spiritual dengan efek delay panjang menciptakan kesan ruang tak bertepi, seperti gema yang tak pernah berujung. Suara itu melayang, mengambang di langit sunyi Neverland, menghadirkan sensasi melampaui waktu, seolah perjalanan batin kita belum berakhir.
Menariknya, teknik delay serupa juga pernah digunakan secara puitis oleh Achmad Albar dalam lagu Dunia Huru-Hara, menunjukkan bahwa gema bisa menjadi bahasa emosional yang universal dalam musik.
Dan dengarkan Neverland di saat sunyi, dan biarkan lagu ini membawa Anda ke tempat di mana mimpi dan kehilangan menyatu. [T]
Penulis: Sukaya Sukawati
Editor: Adnyana Ole
- BACA JUGA:



























