SETIAP orang memiliki hobi atau kegemaran masing-masing. Hobi itu bisa yang biasa-biasa saja hingga yang aneh. Ada yang hobi memancing, sehingga kadang lupa waktu dan pekerjaan. Sungai dan pantai menjadi tempat yang lebih penting ketimbang rumah dan kantor. Orang yang hobi memancing dapat setiap saat meninggalkan rumah atau pekerjaannya di kantor bila hasrat memancingnya tiba.
Hal yang sama terjadi pada orang yang punya hobi naik gunung. Dia tidak pernah akan puas mendaki satu atau dua gunung. Bahkan konon mendaki gunung mirip dengan candu. Jika tak mendaki dalam waktu tertentu orang akan merasa ketagihan. Mereka yang punya hobi mendaki gunung juga tak segan meninggalkan rumah dan pekerjaannya asal dapat berada di puncak gunung.
Ada pula yang mempunyai hobi mengutak-atik kendaraan pribadinya. Orang seperti ini tak mengenal waktu. Pagi, siang, maupun malam akan digunakan untuk memodifikasi mobil, hingga lupa makan. Bahkan orang yang memiliki hobi ini dapat mengabaikan anak-anak dan istrinya demi kepuasan mengubah bentuk dan tampilan kendaraan.
Selain hobi dalam kegiatan, ada juga kegemaran mengoleksi atau mengumpulkan berbagai bentuk barang. Koleksinya pun bisa berupa barang yang biasa sampai barang-barang aneh dan langka. Koleksi perangko dan mata uang kuno banyak dilakukan orang. Mereka yang hobi koleksi benda ini rela berburu ke berbagai tempat bila benda itu memang bernilai kuno.
Koleksi batu akik sempat ramai digemari orang. Sama seperti koleksi tanaman hias yang sempat membuat heboh. Orang tak peduli berapa pun harga akik atau tanaman hias itu. Jika memang sudah menyukainya, orang akan rela membeli dengan harga tinggi. Meski kini hobi koleksi akik dan tanaman hias tak seramai dulu, namun masih saja ada orang yang rela berburu ke mana pun.
Bukan hanya koleksi barang yang wajar-wajar saja. Tidak sedikit pula orang yang mengoleksi benda aneh dan tak lazim. Ada orang yang mengoleksi sabun mandi, sikat gigi dan tisu toilet hotel. Ada pula yang mengoleksi korek kuping, kantong kertas untuk muntah di pesawat, rambut selebritis, koleksi tali pocong, dan barang-barang aneh lainnya.
Koleksi pada barang-barang tak lazim itu pada umumnya sekadar memenuhi kepuasan psikologis orang yang mengoleksinya. Pengorbanan terhadap waktu dan materi sudah pasti dikeluarkan. Namun kepuasan memiliki barang itu menjadi lebih berharga dibandingkan waktu, tenaga, dan biaya untuk mendapatkannya.
Selain kepuasan psikologis, orang juga mengoleksi suatu benda karena alasan budaya. Orang yang mengoleksi lukisan berharga bukan hanya untuk kesenangan, tetapi juga apresiasi terhadap nilai seni dan budaya. Begitu pun orang yang mengoleksi benda pusaka seperti keris, pada umumnya beralasan untuk merawat dan melestarikan warisan budaya leluhur.
***
Edi Sudarmono, dosen paruh baya, anak pertama dari keluarga besar Wongsodirejo. Ia mengoleksi warisan dari ayahnya beberapa benda pusaka berupa keris. Sesungguhnya Edi Sudarmono bukan kolektor keris seperti kebanyakan orang. Konon keris itu diperoleh ayah Edi dari kakeknya yang juga diwariskan dari buyutnya. Menurut cerita ayah Edi, keris itu sudah berusia lebih dari 500 tahun. Edi mewarisi lima buah keris yang memiliki luk atau lekukan berbeda. Ada yang luk 7, 9, 11, 13, dan ada pula yang berbentuk lurus.
Semua keris yang kini dimiliki Edi Sudarmono dibuat oleh empu terkenal di masa lalu, saat zaman Kerajaan Mataram Kuno. Bukan hanya bernilai budaya, keris-keris Edi juga dianggap sakral, karena memiliki kekuatan gaib. Setiap keris memiliki pamor yang berbeda dan kekuatan gaib masing-masing. Ada keris yang mampu menambah aura kewibawaan pemiliknya, ada juga yang cocok jika untuk berbisnis. Dipercaya keris-keris itu ada makhluk gaib yang “mendiami”.
Sebagai orang Jawa yang mewarisi tradisi dari ayah dan kakeknya, Edi Sudarmono merawat keris itu dengan baik. Setiap keris punya “makanan” yang berbeda-beda. Ada yang diberi makan bunga mawar, cempaka, melati, dan ada juga yang makan pinang dan sirih. Edi selalu memberikan sesaji makanan keris itu setiap malam Jumat Kliwon. Semua dilakukan Edi dengan ikhlas dan penuh rasa senang merawat pusaka peninggalan kaket buyutnya.
Tidak demikian dengan Nuraeni, istri Edi Sudarmono. Ia tidak begitu peduli dengan benda pusaka yang dimiliki suaminya itu. Nuraeni tidak tertarik dengan keris-keris Edi, apalagi diwarnai dengan cerita hal-hal klenik. Nuraeni cenderung hidup lebih modern, tidak menyukai tradisi. Karenanya Nuraeni bersikap cuek saja ketika Edi pada malam Jumat Kliwon melakukan ritual perawatan keris.
Nuraeni selain tak peduli dengan keris-keris Edi, juga tak mau tahu dengan kondisi suaminya yang bekerja sebagai dosen biasa. Nuraeni memiliki kebiasaan dan gaya hidup yang boros. Padahal gaji Edi sebagai dosen termasuk kecil, hanya cukup untuk biaya hidup keluarga dengan dua orang anak yang duduk di bangku SMP dan SMA. Bahkan kadang pernah kekurangan uang untuk membeli kebutuhan kedua anaknya yang telah tumbuh remaja.
Gaya hidup Nuraeni sebagai istri dosen kadang berlebihan. Selain pakaian dan perhiasan yang maunya bermerek, Nuraeni juga memiliki teman-teman bergaul yang punya pola hidup pamer. Nuraeni hidup dalam lingkaran sosialita kelas bawah, kumpul-kumpul hanya untuk makan atau bepergian ke tempat wisata.
Edi Sudarmono sudah pasti pusing tujuh keliling. Ia muak dengan gaya hidup istrinya. Namun ia tidak ingin dianggap sebagai suami yang tak sayang istri hanya karena melarang kegemaran Nuraeni. Apalagi selama ini Nuraeni juga tak pernah melarang Edi merawat benda-benda pusakanya. Akibat gaya hidup istrinya itu, Edi sering kehabisan uang di tengah bulan. Gajian masih lama, tetapi keuangan telah kandas.
Pernah terlintas di benak Edi untuk menjual keris-kerisnya. Ia pernah melihat di situs jual beli barang antik online. Untuk sebuah keris bisa terjual dengan harga yang sangat tinggi, puluhan hingga ratusan juta rupiah. Padahal ia memiliki lima buah keris. Jika dijual satu atau dua keris saja ia akan mendapatkan uang yang banyak.
Akan tetapi Edi Sudarmono teringat pesan almarhum kakeknya tentang seputar benda pusaka keris. Menurut kakeknya, ada 3 Ojo atau “3 Jangan” berkaitan dengan keris, yaitu Ojo Pamrih, Ojo Dol Tinuku, Ojo Wegah. Artinya, untuk dapat memiliki keris orang jangan pamrih atau punya keinginan besar untuk memiliki, jangan jual beli keris, dan jangan menolak jika ada orang yang memberi keris. Jika melanggar ketiga hal itu orang akan menhadapi masalah dalam hidupnya.
Edi Sudarmono dilematis. Di satu sisi ia tidak berani melanggar pesan almarhum kakeknya, karena bisa kualat. Namun di lain sisi, gaya hidup Nuraeni membuat kondisi ekonominya menjadi tidak karuan. Ada saja tuntutan dan permintaan istrinya untuk membeli sesuatu yang sebenarnya bukan kebutuhan mendesak keluarga. Nuraeni tak mau tahu dari mana Edi harus mendapatkan uang untuk memenuhi permintaannya.
***
Keputusan nekat dibuat Edi Sudarmono. Ia menawarkan salah satu kerisnya di situs jual beli online. Tak tanggung-tanggung, Edi menawarkan keris luk 9 miliknya seharga 100 juta rupiah. Harga yang menurut Edi cukup pantas, karena nilai sejarah dan budaya keris itu.
Tak disangka, keris Edi mendapat calon pembeli bernama Wedo Saputro. Sesuai kesepakatan, Wedo Saputro mendatangi rumah Edi Sudarmono malam hari. Ia membuka keris itu, memperhatikan luk keris dengan seksama. Aura mistis dirasakan mereka saat keris itu dikeluarkan dari wadahnya. Bau wangi kayu cendana menambah suasana menjadi mencekam.
“Jangan 100 ya Pak,” kata Wedo Saputro menawar keris Edi Sudarmono.
“Berapa, Pak?” tanya Edi.
“Bagaimana kalau 75 saja,” jawab Wedo.
Edi berpikir sejenak. Ia tak mengira keris warisan leluhurnya ditawar 75 juta rupiah. Jumlah yang sangat banyak bagi seorang dosen yang gajinya jauh di bawah harga kerisnya. Edi membayangkan jika lima kerisnya dijual dengan harga yang sama, ratusan juta rupiah akan ia dapatkan.
“Baiklah,” Edi Sudarmono memutuskan menerima tawaran Wedo Saputro.
Transaksi pun segera dilakukan. Wedo Saputro mentransfer uang malam itu juga. Suasana magis dirasakan Edi Sudarmono ketika uang 75 juta rupiah masuk ke rekeningnya. Edi Sudarmono merinding. Bulu kuduknya berdiri. Keris itu kini di tangan pemilik baru, Wedo Saputro. Pesan kakek Edi kembali terngiang. Mestinya ia tidak boleh menjual keris itu. Tapi apa boleh buat, demi kebutuhan istrinya.
Belum genap seminggu Edi menjual kerisnya, kejadian misterius ia alami di tengah malam. Edi mimpi dikejar-kejar keris itu. Edi sangat ketakutan. Keris itu menusuk punggung dan perutnya. Tersengal-sengal dan meringis ia menahan sakit. Saat keris itu akan menikam lehernya, Edi berteriak keras. Ia terbangun.
“Ada apa, Pak?” tanya Nuraeni kaget mendengar teriakan Edi.
“Aku mimpi buruk, dikejar-kejar keris…,” jawab Edi terbata-bata.
Nuraeni merasa iba kepada suaminya. Ia ambil segelas air putih, diberikannya kepada Edi Sudarmono. Pelan-pelan Edi meminumnya. Tenggorokannya terasa segar, namun napas Edi masih tersengal. Suasana mencekam terjadi di kamar tidurnya. Mimpi itu terasa begitu nyata. Edi mulai cemas. Ia menduga mimpi itu datang karena telah menjual kerisnya.
Edi Sudarmono bukan hanya bermimpi buruk. Kehidupannya juga mulai berubah miris sejak transaksi jual beli kerisnya dengan Wedo Saputro. Belum sampai satu bulan uang hasil penjualan kerisnya telah habis. Mirisnya, uang itu tidak jelas dipergunakan untuk apa saja.
Semenjak menjual keris warisan kakek buyutnya, rizki Edi seolah terputus. Honor menguji dan kegiatan lain di kampus berkurang seiring kebijakan efisiensi anggaran dari pemerintah. Proposal usulan penelitian yang diajukan juga ditolak pendanaannya. Padahal tahun lalu Edi mengajukan proposal penelitian dan pengabdian masyarakat, semua disetujui untuk didanai. Edi kehilangan banyak sumber pendapatan di kampus.
Rumah tangga Edi Sudarmono berada dalam suasana miris. Hampir setiap hari terjadi pertengkaran dengan Nuraeni, istrinya. Sumber pertengkaran kadang datang dari hal yang sepele. Saat Edi lupa mematikan keran air di kamar mandi, Nuraeni marah-marah dan mengungkit gaji Edi yang kecil. Tentu saja Edi tersinggung. Meski gajinya kecil, ia bangga menjadi dosen yang telah menghasilkan banyak sarjana.
Perilaku Edi Sudarmono di kampus juga mulai berubah. Ia sering bertengkar dengan sesama dosen. Sikapnya kian emosional. Hanya karena canda teman dosen, Edi bisa marah-marah. Padahal biasanya ia dikenal sebagai dosen yang ramah dan periang. Suatu waktu Edi ke kampus menggunakan sepeda motor, karena mobilnya dipakai istrinya.
“Kok pakai sepeda motor, Pak Edi. Mobilnya dijual juga?” tanya Sugeng Wahyono bercanda.
Bukannya dijawab yang sesungguhnya, Edi justru menanggapi candaan Sugeng Wahyono dengan emosional.
“Mau tahu saja, Pak Wahyono!!! Kalau saya jalan kaki apa juga masalah???!!!” jawab Edi dengan raut muka serius dan dengan nada tinggi.
Perubahan perilaku Edi Sudarmono yang emosional membuat teman-teman dosen sangat berhati-hati bila ingin bercakap. Mereka menghindari untuk bercanda dengan Edi, karena takut tersinggung. Hubungan dosen-dosen dengan Edi menjadi kaku tak seperti dulu.
Ruang kerja Edi di kampus menjadi beraura mistis. Beberapa dosen pernah melihat asap tebal keluar dari ruangan Edi, padahal tidak terlihat api atau benda yang terbakar. Pernah pula tercium bau wangi kayu cendana yang menusuk hidung di ruang kerja Edi. Suasana di ruang dosen menjadi menyeramkan.
Eka Setianto, salah satu dosen senior di kampus membaca gelagat tidak wajar pada diri Edi Sudarmono. Ia mengamati, sejak terjadi transaksi jual beli keris kehidupan Edi berubah miris. Eka Setianto mencoba berbicara dengan Edi secara pelan dan hati-hati.
“Sepertinya Pak Edi perlu melakukan transaksi ulang jual beli keris,” saran Eka Setianto.
“Maksud Pak Eka apa?” tanya Edi tak tahu maksud Eka Setianto.
“Maaf, Pak Edi. Sebetulnya kita tidak boleh jual beli benda pusaka keris. Kecuali dilakukan sesuai adat dan tradisi. Saya lihat Pak Edi banyak mengalami perubahan miris setelah menjual keris pusaka itu,” jelas Eka Setianto.
Edi Sudarmono terdiam. Ia tidak membantah penjelasan Eka Setianto. Tidak juga marah atau emosional. Mungkin karena Eka Setianto merupakan dosen senior. Atau mungkin juga karena saran Eka Setianto dianggap benar. Sebelum menjual keris itu Edi pun ragu. Ia masih ingat pesan kakeknya tentang 3 Ojo berkaitan dengan keris.
“Apa yang harus saya lakukan, Pak Eka?” tanya Edi.
“Perlu ritual untuk mengulang jual beli keris itu,” jawab Eka Setianto.
Edi Sudarmono disarankan untuk melakukan ritual lamaran atau pinangan untuk memiliki benda pusaka secara adat Kejawen. Harus ada seserahan atau mahar yang diberikan Wedo Saputro sebagai calon pemilik keris yang baru kepada Edi sang pemilik keris. Kepemilikan keris oleh orang baru seperti layaknya sebuah lamaran pernikahan secara gaib kepada benda pusaka.
Dengan ditemani dan disaksikan Eka Setianto, pada hari Senin Pon Wedo Saputro kembali mendatangi rumah Edi Sudarmono sambil membawa keris yang sudah dibeli. Eka Setianto memilih hari Senin Pon yang berdasarkan perhitungan Primbon Jawa merupakan hari baik untuk lamaran pengantin. Eka Setianto membawa bunga cempaka atau kanthil sebagai simbol nginthil atau mengikuti. Harapannya, keris itu dengan senang hati akan mengikuti Wedo Saputro sebagai pemilik baru.
Wedo Saputro membawa kain brokat dan jarik Sidomukti sebagai barang bawaan seserahan. Suasana mistis dan mencekam terjadi saat Eka Setianto memandu akad jual beli benda pusaka secara Kejawen. Layaknya sebuah transaksi magis, udara di sekitar rumah Edi Sudarmono terasa dingin. Harum bunga cempaka menambah suasana mistis pada ritual penyerahan keris.
Edi Sudarmono sedikit gemetar dan gugup menyerahkan keris kepada Wedo Saputro. Malam bertambah dingin. Secara perlahan Wedo Saputro menerima keris pusaka peninggalan kakek dan buyut Edi Sudarmono.
“Saya terima keris pusaka luk 9 dari Bapak Edi Sudarmono untuk menjadi milik saya,” ucap Wedo Saputro layaknya sebuah prosesi akad nikah.
Edi Sudarmono lega. Wedo Saputro merasa senang. Keris pusaka itu kini telah berpindah tangan. Edi berharap tidak ada lagi kejadian miris di hidupnya. Dalam hati ia berjanji tidak akan menjual lagi keris pusaka warisan leluhurnya. Meski ia harus berpikir dan bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan istrinya. [T]
- Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata
Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole
KLIK untuk baca cerita selengkapnya:

![Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2025/01/chusmeru.-cover-cerita-misteri-750x375.jpg)


























