6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kampusku Sarang Hantu [42]: Transaksi Keris Berubah Miris

Chusmeru by Chusmeru
November 27, 2025
in Fiksi
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Ilustrasi tatkala.co

SETIAP orang memiliki hobi atau kegemaran masing-masing. Hobi itu bisa yang biasa-biasa saja hingga yang aneh. Ada yang hobi memancing, sehingga kadang lupa waktu dan pekerjaan. Sungai dan pantai menjadi tempat yang lebih penting ketimbang rumah dan kantor. Orang yang hobi memancing dapat setiap saat meninggalkan rumah atau pekerjaannya di kantor bila hasrat memancingnya tiba.

Hal yang sama terjadi pada orang yang punya hobi naik gunung. Dia tidak pernah akan puas mendaki satu atau dua gunung. Bahkan konon mendaki gunung mirip dengan candu. Jika tak mendaki dalam waktu tertentu orang akan merasa ketagihan. Mereka yang punya hobi mendaki gunung juga tak segan meninggalkan rumah dan pekerjaannya asal dapat berada di puncak gunung.

Ada pula yang mempunyai hobi mengutak-atik kendaraan pribadinya. Orang seperti ini tak mengenal waktu. Pagi, siang, maupun malam akan digunakan untuk memodifikasi mobil, hingga lupa makan. Bahkan orang yang memiliki hobi ini dapat mengabaikan anak-anak dan istrinya demi kepuasan mengubah bentuk dan tampilan kendaraan.

 Selain hobi dalam kegiatan, ada juga kegemaran mengoleksi atau mengumpulkan berbagai bentuk barang. Koleksinya pun bisa berupa barang yang biasa sampai barang-barang aneh dan langka. Koleksi perangko dan mata uang kuno banyak dilakukan orang. Mereka yang hobi koleksi benda ini rela berburu ke berbagai tempat bila benda itu memang bernilai kuno.

Koleksi batu akik sempat ramai digemari orang. Sama seperti koleksi tanaman hias yang sempat membuat heboh. Orang tak peduli berapa pun harga akik atau tanaman hias itu. Jika memang sudah menyukainya, orang akan rela membeli  dengan harga tinggi. Meski kini hobi koleksi akik dan tanaman hias tak seramai dulu, namun masih saja ada orang yang rela berburu ke mana pun.

 Bukan hanya koleksi barang yang wajar-wajar saja. Tidak sedikit pula orang yang mengoleksi benda aneh dan tak lazim. Ada orang yang mengoleksi sabun mandi, sikat gigi dan tisu toilet hotel. Ada pula yang mengoleksi korek kuping, kantong kertas untuk muntah di pesawat, rambut selebritis, koleksi tali pocong, dan barang-barang aneh lainnya.

Koleksi pada barang-barang tak lazim itu pada umumnya sekadar memenuhi kepuasan psikologis orang yang mengoleksinya. Pengorbanan terhadap waktu dan materi sudah pasti dikeluarkan. Namun kepuasan memiliki barang itu menjadi lebih berharga dibandingkan waktu, tenaga, dan biaya untuk mendapatkannya.

Selain kepuasan psikologis, orang juga mengoleksi suatu benda karena alasan budaya. Orang yang mengoleksi lukisan berharga bukan hanya untuk kesenangan, tetapi juga apresiasi terhadap nilai seni dan budaya. Begitu pun orang yang mengoleksi benda pusaka seperti keris, pada umumnya beralasan untuk merawat dan melestarikan warisan budaya leluhur.

***

Edi Sudarmono, dosen paruh baya, anak pertama dari keluarga besar Wongsodirejo. Ia mengoleksi warisan dari ayahnya beberapa benda pusaka berupa keris. Sesungguhnya Edi Sudarmono bukan kolektor keris seperti kebanyakan orang. Konon keris itu diperoleh ayah Edi dari kakeknya yang juga diwariskan dari buyutnya. Menurut cerita ayah Edi, keris itu sudah berusia lebih dari 500 tahun. Edi mewarisi lima buah keris yang memiliki luk atau lekukan berbeda. Ada yang luk 7, 9, 11, 13, dan ada pula yang berbentuk lurus.

Semua keris yang kini dimiliki Edi Sudarmono dibuat oleh empu terkenal di masa lalu, saat zaman Kerajaan Mataram Kuno. Bukan hanya bernilai budaya, keris-keris Edi juga dianggap sakral, karena memiliki kekuatan gaib. Setiap keris memiliki pamor yang berbeda dan kekuatan gaib masing-masing. Ada keris yang mampu menambah aura kewibawaan pemiliknya, ada juga yang cocok jika untuk berbisnis. Dipercaya keris-keris itu ada makhluk gaib yang “mendiami”.

Sebagai orang Jawa yang mewarisi tradisi dari ayah dan kakeknya, Edi Sudarmono merawat keris itu dengan baik. Setiap keris punya “makanan” yang berbeda-beda. Ada yang diberi makan bunga mawar, cempaka, melati, dan ada juga yang makan pinang dan sirih. Edi selalu memberikan sesaji makanan keris itu setiap malam Jumat Kliwon. Semua dilakukan Edi dengan ikhlas dan penuh rasa senang merawat pusaka peninggalan kaket buyutnya.

Tidak demikian dengan Nuraeni, istri Edi Sudarmono. Ia tidak begitu peduli dengan benda pusaka yang dimiliki suaminya itu. Nuraeni tidak tertarik dengan keris-keris Edi, apalagi diwarnai dengan cerita hal-hal klenik. Nuraeni cenderung hidup lebih modern, tidak menyukai tradisi. Karenanya Nuraeni bersikap cuek saja ketika Edi pada malam Jumat Kliwon melakukan ritual perawatan keris.

Nuraeni selain tak peduli dengan keris-keris Edi, juga tak mau tahu dengan kondisi suaminya yang bekerja sebagai dosen biasa. Nuraeni memiliki kebiasaan dan gaya hidup yang boros. Padahal gaji Edi sebagai dosen termasuk kecil, hanya cukup untuk biaya hidup keluarga dengan dua orang anak yang duduk di bangku SMP dan SMA. Bahkan kadang pernah kekurangan uang untuk membeli kebutuhan kedua anaknya yang telah tumbuh remaja.

Gaya hidup Nuraeni sebagai istri dosen kadang berlebihan. Selain pakaian dan perhiasan yang maunya bermerek, Nuraeni juga memiliki teman-teman bergaul yang punya pola hidup pamer. Nuraeni hidup dalam lingkaran sosialita kelas bawah, kumpul-kumpul hanya untuk makan atau bepergian ke tempat wisata.

Edi Sudarmono sudah pasti pusing tujuh keliling. Ia muak dengan gaya hidup istrinya. Namun ia tidak ingin dianggap sebagai suami yang tak sayang istri hanya karena melarang kegemaran Nuraeni. Apalagi selama ini Nuraeni juga tak pernah melarang Edi merawat benda-benda pusakanya. Akibat gaya hidup istrinya itu, Edi sering kehabisan uang di tengah bulan. Gajian masih lama, tetapi keuangan telah kandas.

Pernah terlintas di benak Edi untuk menjual keris-kerisnya. Ia pernah melihat di situs jual beli barang antik online. Untuk sebuah keris bisa terjual dengan harga yang sangat tinggi, puluhan hingga ratusan juta rupiah. Padahal ia memiliki lima buah keris. Jika dijual satu atau dua keris saja ia akan mendapatkan uang yang banyak.

 Akan tetapi Edi Sudarmono teringat pesan almarhum kakeknya tentang seputar benda pusaka keris. Menurut kakeknya, ada 3 Ojo atau “3 Jangan” berkaitan dengan keris, yaitu Ojo Pamrih, Ojo Dol Tinuku, Ojo Wegah. Artinya, untuk dapat memiliki keris orang jangan pamrih atau punya keinginan besar untuk memiliki, jangan jual beli keris, dan jangan menolak jika ada orang yang memberi keris. Jika melanggar ketiga hal itu orang akan menhadapi masalah dalam hidupnya.

Edi Sudarmono dilematis. Di satu sisi ia tidak berani melanggar pesan almarhum kakeknya, karena bisa kualat. Namun di lain sisi, gaya hidup Nuraeni membuat kondisi ekonominya menjadi tidak karuan. Ada saja tuntutan dan permintaan istrinya untuk membeli sesuatu yang sebenarnya bukan kebutuhan mendesak keluarga. Nuraeni tak mau tahu dari mana Edi harus mendapatkan uang untuk memenuhi permintaannya.

***

Keputusan nekat dibuat Edi Sudarmono. Ia menawarkan salah satu kerisnya di situs jual beli online. Tak tanggung-tanggung, Edi menawarkan keris luk 9 miliknya seharga 100 juta rupiah. Harga yang menurut Edi cukup pantas, karena nilai sejarah dan budaya keris itu.

Tak disangka, keris Edi mendapat calon pembeli bernama Wedo Saputro. Sesuai kesepakatan, Wedo Saputro mendatangi rumah Edi Sudarmono malam hari. Ia membuka keris itu, memperhatikan luk keris dengan seksama. Aura mistis dirasakan mereka saat keris itu dikeluarkan dari wadahnya. Bau wangi kayu cendana menambah suasana menjadi mencekam.

“Jangan 100 ya Pak,” kata Wedo Saputro menawar keris Edi Sudarmono.

“Berapa, Pak?” tanya Edi.

“Bagaimana kalau 75 saja,” jawab Wedo.

Edi berpikir sejenak. Ia tak mengira keris warisan leluhurnya ditawar 75 juta rupiah. Jumlah yang sangat banyak bagi seorang dosen yang gajinya jauh di bawah harga kerisnya. Edi membayangkan jika lima kerisnya dijual dengan harga yang sama, ratusan juta rupiah akan ia dapatkan.

“Baiklah,” Edi Sudarmono memutuskan menerima tawaran Wedo Saputro.

Transaksi pun segera dilakukan. Wedo Saputro mentransfer uang malam itu juga. Suasana magis dirasakan Edi Sudarmono ketika uang 75 juta rupiah masuk ke rekeningnya. Edi Sudarmono merinding. Bulu kuduknya berdiri. Keris itu kini di tangan pemilik baru, Wedo Saputro. Pesan kakek Edi kembali terngiang. Mestinya ia tidak boleh menjual keris itu. Tapi apa boleh buat, demi kebutuhan istrinya.

Belum genap seminggu Edi menjual kerisnya, kejadian misterius ia alami di tengah malam. Edi mimpi dikejar-kejar keris itu. Edi sangat ketakutan. Keris itu menusuk punggung dan perutnya. Tersengal-sengal dan meringis ia menahan sakit. Saat keris itu akan menikam lehernya, Edi berteriak keras. Ia terbangun.

“Ada apa, Pak?” tanya Nuraeni kaget mendengar teriakan Edi.

“Aku mimpi buruk, dikejar-kejar keris…,” jawab Edi terbata-bata.

Nuraeni merasa iba kepada suaminya. Ia ambil segelas air putih, diberikannya kepada Edi Sudarmono. Pelan-pelan Edi meminumnya. Tenggorokannya terasa segar, namun napas Edi masih tersengal. Suasana mencekam terjadi di kamar tidurnya. Mimpi itu terasa begitu nyata. Edi mulai cemas. Ia menduga mimpi itu datang karena telah menjual kerisnya.

Edi Sudarmono bukan hanya bermimpi buruk. Kehidupannya juga mulai berubah miris sejak transaksi jual beli kerisnya dengan Wedo Saputro. Belum sampai satu bulan uang hasil penjualan kerisnya telah habis. Mirisnya, uang itu tidak jelas dipergunakan untuk apa saja.

Semenjak menjual keris warisan kakek buyutnya, rizki Edi seolah terputus. Honor menguji dan kegiatan lain di kampus berkurang seiring kebijakan efisiensi anggaran dari pemerintah. Proposal usulan penelitian yang diajukan juga ditolak pendanaannya. Padahal tahun lalu Edi mengajukan proposal penelitian dan pengabdian masyarakat, semua disetujui untuk didanai. Edi kehilangan banyak sumber pendapatan di kampus.

Rumah tangga Edi Sudarmono berada dalam suasana miris. Hampir setiap hari terjadi pertengkaran dengan Nuraeni, istrinya. Sumber pertengkaran kadang datang dari hal yang sepele. Saat Edi lupa mematikan keran air di kamar mandi, Nuraeni marah-marah dan mengungkit gaji Edi yang kecil. Tentu saja Edi tersinggung. Meski gajinya kecil, ia bangga menjadi dosen yang telah menghasilkan banyak sarjana.

Perilaku Edi Sudarmono di kampus juga mulai berubah. Ia sering bertengkar dengan sesama dosen. Sikapnya kian emosional. Hanya karena canda teman dosen, Edi bisa marah-marah. Padahal biasanya ia dikenal sebagai dosen yang ramah dan periang. Suatu waktu Edi ke kampus menggunakan sepeda motor, karena mobilnya dipakai istrinya.

“Kok pakai sepeda motor, Pak Edi. Mobilnya dijual juga?” tanya Sugeng Wahyono bercanda.

Bukannya dijawab yang sesungguhnya, Edi justru menanggapi candaan Sugeng Wahyono dengan emosional.

“Mau tahu saja, Pak Wahyono!!! Kalau saya jalan kaki apa juga masalah???!!!” jawab Edi dengan raut muka serius dan dengan nada tinggi.

Perubahan perilaku Edi Sudarmono yang emosional membuat teman-teman dosen sangat berhati-hati bila ingin bercakap. Mereka menghindari untuk bercanda dengan Edi, karena takut tersinggung. Hubungan dosen-dosen dengan Edi menjadi kaku tak seperti dulu.

Ruang kerja Edi di kampus menjadi beraura mistis. Beberapa dosen pernah melihat asap tebal keluar dari ruangan Edi, padahal tidak terlihat api atau benda yang terbakar. Pernah pula tercium bau wangi kayu cendana yang menusuk hidung di ruang kerja Edi. Suasana di ruang dosen menjadi menyeramkan.

Eka Setianto, salah satu dosen senior di kampus membaca gelagat tidak wajar pada diri Edi Sudarmono. Ia mengamati, sejak terjadi transaksi jual beli keris kehidupan Edi berubah miris. Eka Setianto mencoba berbicara dengan Edi secara pelan dan hati-hati.

“Sepertinya Pak Edi perlu melakukan transaksi ulang jual beli keris,” saran Eka Setianto.

“Maksud Pak Eka apa?” tanya Edi tak tahu maksud Eka Setianto.

“Maaf, Pak Edi. Sebetulnya kita tidak boleh jual beli benda pusaka keris. Kecuali dilakukan sesuai adat dan tradisi. Saya lihat Pak Edi banyak mengalami perubahan miris setelah menjual keris pusaka itu,” jelas Eka Setianto.

Edi Sudarmono terdiam. Ia tidak membantah penjelasan Eka Setianto. Tidak juga marah atau emosional. Mungkin karena Eka Setianto merupakan dosen senior. Atau mungkin juga karena saran Eka Setianto dianggap benar. Sebelum menjual keris itu Edi pun ragu. Ia masih ingat pesan kakeknya tentang 3 Ojo berkaitan dengan keris.

“Apa yang harus saya lakukan, Pak Eka?” tanya Edi.

“Perlu ritual untuk mengulang jual beli keris itu,” jawab Eka Setianto.

Edi Sudarmono disarankan untuk melakukan ritual lamaran atau pinangan untuk memiliki benda pusaka secara adat Kejawen. Harus ada seserahan atau mahar yang diberikan Wedo Saputro sebagai calon pemilik keris yang baru kepada Edi sang pemilik keris. Kepemilikan keris oleh orang baru seperti layaknya sebuah lamaran pernikahan secara gaib kepada benda pusaka.

Dengan ditemani dan disaksikan Eka Setianto, pada hari Senin Pon Wedo Saputro kembali mendatangi rumah Edi Sudarmono sambil membawa keris yang sudah dibeli. Eka Setianto memilih hari Senin Pon yang berdasarkan perhitungan Primbon Jawa merupakan hari baik untuk lamaran pengantin. Eka Setianto membawa bunga cempaka atau kanthil sebagai simbol nginthil atau mengikuti. Harapannya, keris itu dengan senang hati akan mengikuti Wedo Saputro sebagai pemilik baru.

Wedo Saputro membawa kain brokat dan jarik Sidomukti sebagai barang bawaan seserahan. Suasana mistis dan mencekam terjadi saat Eka Setianto memandu akad jual beli benda pusaka secara Kejawen. Layaknya sebuah transaksi magis, udara di sekitar rumah Edi Sudarmono terasa dingin. Harum bunga cempaka menambah suasana mistis pada ritual penyerahan keris.

Edi Sudarmono sedikit gemetar dan gugup menyerahkan keris kepada Wedo Saputro. Malam bertambah dingin. Secara perlahan Wedo Saputro menerima keris pusaka peninggalan kakek dan buyut Edi Sudarmono.

“Saya terima keris pusaka luk 9 dari Bapak Edi Sudarmono untuk menjadi milik saya,” ucap Wedo Saputro layaknya sebuah prosesi akad nikah.

Edi Sudarmono lega. Wedo Saputro merasa senang. Keris pusaka itu kini telah berpindah tangan. Edi berharap tidak ada lagi kejadian miris di hidupnya. Dalam hati ia berjanji tidak akan menjual lagi keris pusaka warisan leluhurnya. Meski ia harus berpikir dan bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan istrinya. [T]

  • Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

KLIK untuk baca cerita selengkapnya:

Tags: Cerbung Kampusku Sarang Hantucerita misterihorormisteri
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jogja, Sarkem, dan Bakpia: Cerita Perjalanan yang Nggak Kuduga

Next Post

Simpang Siur PPPK dan PNS: Dari Layar TikTok ke Perjuangan yang Tidak Semua Orang Tahu

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

by Muhammad Khairu Rahman
March 1, 2026
0
Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

DI sebuah kota yang tumbuh setengah hati—antara ambisi menjadi metropolitan dan kebiasaan menjadi desa besar—tinggallah seorang pejabat tua bernama samaran...

Read moreDetails

Puisi-puisi Pitrus Puspito | Jarak Mencuri Kau Dariku

by Pitrus Puspito
March 1, 2026
0
Puisi-puisi Pitrus Puspito | Jarak Mencuri Kau Dariku

JARAK MENCURI KAU DARIKU Ketika cinta mulai terjelaskanjarak telah mencuri kau dariku. Sementara pagi tak menjanjikanbahwa kau akan datang,setiap detik...

Read moreDetails

Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 28, 2026
0
Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

WARTAWAN itu menghela napas dalam-dalam. Ia merasa gundah. Rumah yang ia tempati belasan tahun terakhir hanyalah kamar sempit. Bersama istri...

Read moreDetails

Puisi-puisi Aura Syfa Muliasari  |  Mampir di Nakarempe

by Aura Syfa Muliasari
February 28, 2026
0
Puisi-puisi Aura Syfa Muliasari  |  Mampir di Nakarempe

MAMPIR DI NAKAREMPE angin berlalu liarmenelisik dan menjelma lalim yang jemawamembawa perkarabersoal tentang pendapa di ujung desa tapi atap ijuknya...

Read moreDetails

Tangisan Rinai, Derita Bumi │ Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
February 27, 2026
0
Tangisan Rinai, Derita Bumi │ Dongeng Lingkungan

DI langit biru yang luas, hiduplah kawanan awan yang lembut dan setia. Pemimpin mereka bernama Rinai, awan tua berwarna kelabu...

Read moreDetails

Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
February 27, 2026
0
Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

“Sudah matang, Bu?”  teriaknya. Itu pertanyaan pukul 05.30 pagi. Aku tahu persis jamnya karena sejak pindah ke kompleks perumahan ini,...

Read moreDetails

Puisi-puisi Vito Prasetyo | Hidup Bagai Galeri Ponsel

by Vito Prasetyo
February 27, 2026
0
Puisi-puisi Vito Prasetyo | Hidup Bagai Galeri Ponsel

Hidup Bagai Galeri Ponsel Tatapanmu seperti sinar yang tersasardi antara bantal-bantal bau peluhkita bicara soal hidup sambil mengunyah gorengantapi hening...

Read moreDetails

Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
February 22, 2026
0
Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

SESEORANG sedang menyalakan dupa ketika lantainya terasa bergerak sedikit ke kiri lalu ke kanan. Kayu-kayu usuk rumah ikut berderit. Mata...

Read moreDetails

Puisi- Puisi Ida Ayu Made Dwi Antari | Resonansi Jiwa

by Ida Ayu Made Dwi Antari
February 22, 2026
0
Puisi- Puisi Ida Ayu Made Dwi Antari | Resonansi Jiwa

LENTERA DI AMBANG PINTU Penghujung tahun ini dinginTangis seperti membendung waktuMenyesakkan batin Ada seseorang pernah jadi muara harapKini pupusKecewa mendekapkuHarapan...

Read moreDetails

Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
February 21, 2026
0
Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di Universitas Bumi Langit, tempat matahari sering kalah terang dari ego para dosennya, terletak sebuah fakultas yang namanya saja sudah...

Read moreDetails
Next Post
Simpang Siur PPPK dan PNS: Dari Layar TikTok ke Perjuangan yang Tidak Semua Orang Tahu

Simpang Siur PPPK dan PNS: Dari Layar TikTok ke Perjuangan yang Tidak Semua Orang Tahu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co