23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pengalaman Autentik vs Artifisial dalam Berwisata

Chusmeru by Chusmeru
November 23, 2025
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

BERWISATA buat sebagian orang itu murah. Yang mahal adalah pengalaman dalam berwisata. Oleh karenanya, orang tidak segan untuk mengeluarkan biaya banyak untuk menikmati perjalanan wisata sepanjang mendapatkan pengalaman yang menyenangkan.

Bukan berarti untuk mendapatkan pengalaman itu wisatawan harus mengeluarkan banyak biaya. Dengan anggaran yang terbatas pun wisatawan dapat memetik pengalaman autentik. Pilihan destinasi kini beragam. Wisatawan tinggal memilih objek wisata yang sesuai dengan preferensinya. Ada wisatawan yang lebih menyukai pengalaman autentik, ada pula yang cenderung suka pada pengalaman artifisial dalam berwisata.

Karakteristik berwisata secara autentik adalah pengenalan budaya lokal pada destinasi wisata. Nilai-nilai tradisi dan budaya masyarakat lokal merupakan sesuatu yang mahal bagi wisatawan. Mengenal budaya lokal berarti pula berinteraksi dengan penduduk lokal. Dan itu pengalaman tak ternilai harganya bagi wisatawan yang menyukai autentitas.

Pengalaman autentik biasanya juga akan didapat wisatawan pada destinasi yang memiliki nilai sejarah. Imajinasi wisatawan terbangun tentang masa-masa kejayaan destinasi di masa lalu. Komunikasi antarbudaya pun tercipta pada wisata yang autentik, lantaran terjadi sharing pengalaman antara penduduk lokal dengan wisatawan, baik terkait objek wisata, pakaian, makanan, maupun seni budaya.

Sebaliknya pengalaman artifisial berwisata diperoleh pada destinasi wisata yang memang dirancang secara khusus untuk pariwisata, namun tidak mencerminkan nilai dan budaya masyarakat lokal. Pengalaman wisatawan dikendalikan oleh karakteristik destinasinya, sehingga tidak terjadi interaksi langsung antara wisatawan dengan penduduk lokal.

Berbeda dengan destinasi yang autentik, pariwisata artifisial memang dikembangkan dengan orientasi profit dan komersial, sehingga mengabaikan nilai-nilai budaya dan kelestarian lingkungan. Andai pun ada pengalaman budaya yang diperoleh wisatawan, pengalaman itu hanya dibuat-buat dan jauh dari nilai budaya sesungguhnya yang hidup di masayarakat lokal.

Ragam Destinasi

Tidak sulit bagi wisatawan untuk menemukan destinasi autentik di dunia maupun di Indonesia. Begitu banyak daerah di Indonesia yang mampu memberikan pengalamaan nyata kepada wisatawan. Ragam destinasi autentik terbentang dari Aceh hingga Papua.

Bali memiliki banyak destinasi autentik maupun artifisial. Ubud, Penglipuran,Tenganan, dan Trunyan merupakan objek wisata autentik di Bali. Wisatawan dapat  melihat dan mendapatkan pengalaman autentik di destinasi tersebut. Bali juga memiliki segudang objek wisata artifisil, seperti Waterbom, Bali Safari Park, dan Bali Bird Park.

Selain itu, Yogyakarta, Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, dan Papua juga memiliki destinasi wisata autentik. Di Yogyakarta wisatawan dapat melihat Keraton yang bersejarah dan desa-desa yang masih menjunjung tinggi budaya Jawa. Bila ingin mendapatkan objek wisata artifisial, wisatawan dapat jalan-jalan di Malioboro sambil berbelanja  atau mengunjungi Yogya Bay dan Borobudur Fantasy Land.

Danau Toba merupakan destinasi autentik andalan Sumatera Utara. Selain menyaksikan keindahan danau, wisatawan juga dapat mengunjungi desa-desa Batak di sekitar Danau Toba. Meski demikian, Sumatera Utara juga banyak memiliki daya tarik wisata artifisial berupa pusat perbelanjaan di kota Medan.

Sama halnya di Sulawesi Selatan dan Papua. Dua daerah ini merupakan destinasi wisata autentik. Wisatawan dapat mengunjungi desa-desa Toraja dan menikmati kehidupan sehari-hari masyarakat Papua.

Jakarta menjadi destinasi wisata yang penuh dengan objek dan daya tarik artifisial. Pantai dan taman rekreasi begitu banyak di Jakarta. Jakarta menawarkan ragam wisata artifisial yang dapat dinikmati wisatawan dari pagi hingga malam hari.

Plus Minus

Baik destinasi autentik maupun artifisial memiliki keunggulan dan kelemahan. Plus minus kedua ragam destinasi itu bisa berkaitan dengan aksesibiltas, infrastruktur, sarana-prasarana, atraksi wisata, biaya, maupun proses interaksi dalam berwisata.

Wisata autentik memang dapat mendukung perekonomian lokal serta mempromosikan produk-produk lokal. Namun destinasi wisata autentik biasanya memiliki keterbatasan informasi. Selain itu juga memiliki keterbatasan aksesibiltas, karena terletak di pelosok daerah.

Berwisata secara autentik memerlukan biaya tinggi dibanding yang artifisial. Apalagi bila objek wisata itu berada di luar pulau. Risiko terjadinya miskomunikasi dalam berwisata secara autentik juga besar, mengingat adanya kendala berbahasa bagi wisatawan dari daerah yang berbeda. Untuk itu, berwisata secara autentik perlu pendampingan pemandu wisata lokal.

Destinasi wisata artifisial pada umumnya lebih mudah dijangkau. Berwisata secara artfisial lebih murah dan simpel, karena sejak awal wisatawan sudah dapat merencakan aktivitas apa saja yang akan dilakukan. Sedangkan pada destinasi autentik wisatawan sulit memprediksi pengalaman berwisata yang akan diperolehnya.

Destinasi wisata artifisial banyak diminati karena aksesibilitas dan infrastrukturnya yang lengkap, meski berbiaya lebih mahal. Plus minusnya juga banyak. Wisata artifisial kadang menggunakan merek lokal untuk sesuatu yang tidak autentik, seperti kuliner maupun atraksi budaya. Untuk menambah daya tarik wisatawan, destinasi artifisial kadang menambahkan atraksi budaya yang simulatif, yang tidak mencerminkan budaya aslinya.

Orientasi destinasi wisata artifisial memang pada profit. Oleh karenanya selera wisatawan benar-benar menjadi perhatian. Wisatawan dimanjakan dengan berbagai wahana permainan, akomodasi yang nyaman, restoran yang menyajikan berbagai menu, dan bermacam strategi pengembangan yang membuat wisatawan betah berlama-lama di destinasi wisata.

Tidak ada yang keliru dalam pengembangan destinasi autentik maupun artifisial. Karena preferensi kunjungan wisatawan memang tidak sama. Tantangannya terletak pada sejauhmana  kepuasan dan pengalaman wisatawan dapat terpenuhi oleh kedua destinasi itu. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: Pariwisatawisata
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menikmati Perjalanan Suara Penuh Warna dan Karakter JBL Luxury di DeBeat Sunset Road

Next Post

‘Bright Eyes’: Antara Matahari Senja dan Datangnya Kematian

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
‘Bright Eyes’: Antara Matahari Senja dan Datangnya Kematian

'Bright Eyes': Antara Matahari Senja dan Datangnya Kematian

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co