SETIAP tahun, ribuan mahasiswa Politeknik Negeri Bali (PNB) turun ke masyarakat untuk menjalankan salah satu amanat Tri Dharma Perguruan Tinggi: pengabdian. Tahun ini, kegiatan itu kembali hadir dengan semangat baru lewat Aksi Sosial Mahasiswa (Aksosma) 2025, yang mengusung tema “Aksi Mahasiswa sebagai Agent of Change Berdampak bagi Perekonomian Lokal dalam Menghadapi Era Society 5.0 dengan Penggunaan Media Digital”.
Kegiatan yang menjadi agenda rutin Bidang Pengabdian Masyarakat, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) PNB ini disiapkan sejak 22 Juni 2025 dan ditutup pada 27 Oktober 2025. Selama empat bulan itu, panitia dan peserta melewati berbagai tahapan, mulai dari perekrutan, pembekalan, survei desa, pembuatan konten, hingga laporan akhir. Tahun ini, tercatat 2.363 mahasiswa terlibat, terdiri atas mahasiswa baru dan mahasiswa aktif yang belum pernah mengikuti Aksosma sebelumnya. Mereka terbagi menjadi 84 kelompok, masing-masing beranggotakan sekitar 27–30 orang.
I Putu Oka Darmawan (21), mahasiswa Program Studi Manajemen Bisnis Internasional selaku ketua panitia Aksosma 2025, mengungkapkan bahwa kegiatan ini berbeda dari Bina Desa atau Kuliah Kerja Nyata(KKN), Aksosma memiliki pendekatan lain. Para peserta tidak menetap di desa, melainkan melakukan beberapa kali kunjungan untuk membuat konten digital yang mempromosikan potensi lokal. Fokusnya bukan pada membangun infrastruktur, melainkan pemberdayaan digital, bagaimana mahasiswa membantu masyarakat memasarkan produk, wisata, atau budaya melalui media sosial.

Kegiatan dibuka secara resmi pada 12 September 2025, sebelumnya telah dilaksanakan pembekalan pada 10 September. Dua hari setelah pembukaan, peserta langsung melakukan survei untuk menentukan objek yang akan diangkat: UMKM lokal, tempat wisata, atau seni dan budaya suatu daerah. Setelah itu, mereka membuat sepuluh konten digital ─ empat di antaranya bertema wajib sesuai arahan panitia, sementara enam lainnya memberi ruang bagi mereka untuk berkreasi sesuai minat dan hasil temuan di lapangan.
Setiap konten dipublikasikan melalui berbagai platform digital, sebagai upaya memperkenalkan potensi lokal kepada masyarakat luas. Setelah konten selesai dibuat, peserta menyusun laporan kegiatan sebagai bentuk pertanggungjawaban. “Bagian ini masuk ke dua pilar Tri Dharma Perguruan Tinggi: pengabdian dan penelitian,” jelas Oka Darmawan.

Menurut Oka, seluruh kegiatan dirancang untuk menumbuhkan kepekaan sosial sekaligus kemampuan adaptasi mahasiswa di era digital. “Aksosma ini adalah wadah untuk mahasiswa berkontribusi nyata, serta belajar menerapkan apa yang dipelajari di kampus maupun pada pembekalan sebelumnya, khususnya tentang promosi, media digital, dan komunikasi publik,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa pembagian kelompok didasarkan pada domisili peserta, sehingga mahasiswa di luar Bali pun bisa ikut berpartisipasi. “Ada juga beberapa desa yang diisi oleh dua kelompok, tapi fokusnya berbeda. Ada yang mengangkat UMKM, pariwisata, atau budaya setempat. Yang jelas, targetnya bukan desa, tapi objek atau potensi lokalnya,” kata Oka.
Aksosma sendiri merupakan kegiatan tahunan yang sudah berlangsung cukup lama. Awalnya bernama Bakti Sosial Mahasiswa, sebelum akhirnya berganti nama pada tahun 2013. Selain sebagai bentuk pengabdian, kegiatan ini juga menjadi bagian dari pengenalan kehidupan kampus bagi mahasiswa baru. Bahkan, sertifikat kelulusan Aksosma menjadi syarat wajib untuk mengikuti wisuda di Politeknik Negeri Bali (PNB).

Bagi Oka sendiri, memimpin kegiatan sebesar ini menjadi pengalaman berharga. Ia merasa bersyukur karena bisa memadukan pengetahuan akademik dengan praktik di lapangan. “Saya bisa menerapkan hal-hal yang saya pelajari di kuliah. Apalagi bidang saya memang berkaitan dengan promosi dan media digital. Dari awal kami selalu berdiskusi dengan dosen-dosen dan pihak kampus untuk merancang konsep tahun ini agar lebih berdampak,” tuturnya.
Tahun 2025 juga menjadi momentum penting karena pada tahun sebelumnya kegiatan sempat tidak berjalan sepenuhnya. “Tahun 2024 hanya sampai tahap penyusunan proposal dan pelaporan. Tidak ada aksi keberlanjutannya. Jadi kami bersyukur karena tahun ini Aksosma bisa kembali dengan semangat aslinya, yakni ‘turun aksi’,” kata Oka.
Selain memberikan pengalaman baru bagi mahasiswa, Aksosma juga memperkaya wawasan budaya bagi panitia. “Dari peserta, kami banyak mendapat cerita menarik. Ada yang menemukan kesenian tradisional yang belum pernah kami ketahui sebelumnya, ada juga yang mendokumentasikan tradisi unik di daerah terpencil. Dari situ kami sadar bahwa potensi lokal di Indonesia, khususnya Bali sangat besar,” ungkapnya.
Melalui Aksosma 2025, mahasiswa PNB tidak hanya belajar tentang pengabdian, tetapi juga tentang bagaimana teknologi dapat menjadi jembatan antara kampus dan masyarakat. “Intinya, kami ingin membuktikan bahwa mahasiswa bisa menjadi agen perubahan yang berdampak, bukan hanya lewat teori, tapi lewat aksi nyata di lapangan,” tandas Oka dengan penuh keyakinan. [T]



























