15 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Belajar dari Einstein dan Grossmann

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
November 9, 2025
in Esai
Belajar dari Einstein dan Grossmann

Ilustrasi tatkala.co | Canva

DALAM sejarah sains modern, kita sering mendengar nama Albert Einstein dielu-elukan sebagai simbol jenius. Namun, di balik teori relativitas umum yang mengubah wajah fisika selamanya, ada nama lain yang jarang disebut: Marcel Grossmann — sahabat sekaligus penopang sunyi yang membantu Einstein memahami matematika rumit di balik teori itu. Grossmann bukan hanya mencatat kuliah untuk Einstein saat mereka kuliah di Politeknik Zurich, tetapi juga kelak menyelamatkan proyek besar relativitas umum ketika Einstein hampir menyerah karena kesulitan matematis.

Grossmann-lah yang memperkenalkan Einstein pada geometri Riemann — kunci untuk memahami ruang-waktu yang melengkung, fondasi teori relativitas umum. Einstein menulis penuh rasa syukur tentang sahabatnya itu: “Dia memang cukup siap untuk berkolaborasi dalam masalah dengan saya.” Grossmann tidak menuntut ketenaran; ia hanya ingin sains dan kemanusiaan melangkah maju.

Kisah ini bukan hanya sejarah ilmu pengetahuan, melainkan pelajaran hidup yang amat relevan untuk Indonesia hari ini — bangsa yang diwarisi budaya gotong royong dan kebijaksanaan kolektif, tetapi justru sering terpecah oleh ego sektoral, politik kepentingan, dan sikap anti-perbedaan.

Dari Rivalitas ke Kolaborasi

Einstein dan Grossmann memiliki kemampuan berbeda: satu brilian dalam intuisi fisika, yang lain tajam dalam logika matematika. Alih-alih saling merasa unggul, mereka saling melengkapi. Einstein mengakui keterbatasannya dan bersedia belajar dari sahabatnya. Grossmann tidak merasa tersaingi oleh ketenaran Einstein; ia justru bangga menjadi bagian dari penemuan besar yang mengubah sejarah.

Dalam konteks Indonesia, semangat semacam ini masih jarang kita jumpai. Dunia akademik, politik, hingga kehidupan sosial kita sering diwarnai oleh keinginan untuk “menang sendiri.” Persaingan dianggap satu-satunya jalan untuk sukses. Bahkan di lingkungan ilmiah dan kehidupan beragama baik dalam internal agama, apalagi antar agama, tidak sedikit yang lebih senang menjadi pusat perhatian daripada berkolaborasi demi tujuan bersama.

Padahal, sebagaimana Einstein dan Grossmann membuktikan, perbedaan kemampuan bukan ancaman, melainkan potensi kekuatan kolektif. Bangsa Indonesia sejak lama mengenal konsep gotong royong — filosofi bahwa pekerjaan berat akan terasa ringan bila dikerjakan bersama. Namun, nilai luhur ini perlahan digantikan oleh mentalitas kompetisi yang membutakan hati.

Menghormati Perbedaan Pandangan

Einstein tidak menutup diri terhadap kritik. Ia sering berdebat sengit dengan para ilmuwan sezamannya — termasuk Niels Bohr dan Heisenberg — namun perdebatan mereka justru memperkaya ilmu pengetahuan. Mereka tidak mengharamkan perbedaan, tetapi menjadikannya jalan menuju kebenaran yang lebih luas.

Bandingkan dengan realitas kita hari ini. Di Indonesia, perbedaan pandangan sering disamakan dengan permusuhan. Agama, ideologi, dan bahkan selera politik dijadikan alasan untuk saling meniadakan. Media sosial memperuncingnya: orang lebih senang mencari pembenaran daripada kebenaran. Padahal, sejarah membuktikan bahwa semua kemajuan lahir dari keberanian berpikir beda.

Dalam kearifan Nusantara, sebenarnya kita punya dasar kuat untuk menghormati keberagaman. Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharm Mangrwa bukan sekadar semboyan, melainkan kesadaran spiritual bahwa di balik semua perbedaan terkandung satu kebenaran yang sama yang bermuara pada satu tujuan: kesejahteraan bersama. Seperti Einstein dan Grossmann, kita bisa berbeda pandangan, namun tetap berjalan beriringan menuju kemajuan.

Kearifan Gotong Royong sebagai Ilmu Relativitas Sosial

Einstein membuktikan bahwa ruang dan waktu tidak absolut, melainkan relatif terhadap gerak dan pengamatnya. Begitu pula dalam kehidupan sosial: kebenaran tidak mutlak, tetapi bergantung pada perspektif. Inilah mengapa dialog dan kerja sama menjadi penting.

Gotong royong — yang oleh para leluhur kita dipraktikkan dalam bentuk subak di Bali, mapalus di Sulawesi, sambatan di Jawa, atau manunggal di Sumatra — sesungguhnya adalah bentuk paling canggih dari “relativitas sosial.” Kita diajarkan bahwa keseimbangan tidak lahir dari keseragaman, tetapi dari harmoni perbedaan.

Namun kini, budaya itu mulai pudar. Kita lebih mudah bersaing ketimbang bekerja sama, lebih suka berdebat ketimbang mendengarkan. Bahkan dalam hal kehidupan beragama, banyak yang mengklaim “jalannya paling benar” tanpa memahami bahwa setiap jalan mengarah pada tujuan yang sama.

Pahlawan Tanpa Jubah di Sekitar Kita

Kisah Grossmann mengingatkan bahwa tidak semua pahlawan dikenal dunia. Beberapa orang cukup menjalankan perannya dalam diam — menyalakan cahaya bagi orang lain tanpa menuntut pujian. Dalam tradisi spiritual Timur, tindakan semacam ini disebut niskama karma: bekerja tanpa pamrih.

Bangsa ini butuh lebih banyak Grossmann — guru, peneliti, petani, seniman, dan pelayan publik yang bekerja tulus meski tak mendapat sorotan. Mereka adalah jantung peradaban yang membuat Indonesia tetap hidup.

Sayangnya, masyarakat modern sering menilai keberhasilan dari sorotan media, bukan dari kontribusi nyata. Kita lupa bahwa sejarah tidak selalu ditulis oleh yang terkenal, tetapi oleh mereka yang berdedikasi.

Dari Einstein ke Indonesia: Saatnya Kolaborasi, Bukan Kompetisi

Einstein pernah menulis kepada Grossmann, “Aku pikir kita bisa mengatasi semua kesulitan dengan bantuanmu.” Sebuah kalimat sederhana, namun sarat makna tentang kerendahan hati ilmuwan besar kepada sahabatnya.

Kita pun sebagai bangsa perlu belajar mengucapkan kalimat serupa: “Kita bisa mengatasi semua kesulitan — bersama.” Entah dalam menghadapi krisis ekonomi, lingkungan, atau polarisasi sosial, tidak ada jalan keluar tanpa kolaborasi.

Indonesia memiliki potensi luar biasa — sumber daya alam yang melimpah, keanekaragaman budaya, serta spiritualitas yang mendalam. Namun, semua itu tidak akan berarti bila kita saling meniadakan. Einstein tanpa Grossmann hanyalah ilmuwan dengan mimpi yang tak selesai; Indonesia tanpa semangat gotong royong hanyalah bangsa dengan potensi yang tak terwujud.

Menutup dengan Renungan

“Tidak semua pahlawan memakai jubah,” tulis sebuah catatan tentang Grossmann. “Beberapa hanya membuat catatan yang sangat bagus. Dan terkadang, catatan-catatan itu mengubah alam semesta.”

Kita pun bisa belajar dari kalimat ini. Barangkali Indonesia tidak butuh lebih banyak “jubah” simbolik, tetapi lebih banyak jiwa yang mau bekerja diam-diam demi tujuan besar: membangun negeri dengan hati.

Einstein dan Grossmann mengajarkan bahwa kerja sama dua pikiran bisa mengubah fisika dunia. Bayangkan jika 270 juta hati di Indonesia berani saling percaya, saling menghargai perbedaan, dan bekerja bersama. Maka bukan hanya teori relativitas yang kita hasilkan, melainkan realitas kebangsaan yang penuh cinta, gotong royong, dan kesadaran bahwa kita semua adalah satu, sebagai sebuah bangsa, Bangsa Indonesia, sebagai satu keluarga besar Dunia, selaras dengan nilai Vasudhaiva Kutumbakam. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: Albert EinsteinMarcel Grossmatematikatokoh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Nekeng Twas’: Bali, Wali dan Jual Beli

Next Post

Aksosma 2025: Ketika Mahasiswa PNB ‘Turun Aksi’ Lewat Pemberdayaan Digital

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Membaca Made Budhiana dari Sebuah Puisi

by Angga Wijaya
July 15, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

SAYA tidak mengenal Made Budhiana pertama kali melalui sebuah pameran lukisan. Bukan pula dari buku sejarah seni rupa Bali. Saya...

Read moreDetails

Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

by Lailatus Sholihah
July 15, 2026
0
Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

Pagi itu, gerbang-gerbang sekolah kembali dipenuhi wajah-wajah penuh harap. Ada anak yang dengan antusias mengenakan seragam baru, ada yang menggenggam...

Read moreDetails

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails
Next Post
Aksosma 2025: Ketika Mahasiswa PNB ‘Turun Aksi’ Lewat Pemberdayaan Digital

Aksosma 2025: Ketika Mahasiswa PNB ‘Turun Aksi’ Lewat Pemberdayaan Digital

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)
Khas

Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)

Tema: Menelusuri Jejak Awal Kepariwisataan Budaya Bali dalam Perspektif Sejarah dan Kebudayaan Focus Group Discussion (FGD) Kajian 100 Tahun Pariwisata...

by Nyoman Mariyana
July 15, 2026
Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi
Ulas Rupa

Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

TIDAK semua pengetahuan lahir dari buku. Jauh sebelum manusia mengenal aksara, alam telah lebih dahulu menjadi ruang belajar. Pohon mengajarkan...

by Angga Wijaya
July 15, 2026
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka
Esai

Membaca Made Budhiana dari Sebuah Puisi

SAYA tidak mengenal Made Budhiana pertama kali melalui sebuah pameran lukisan. Bukan pula dari buku sejarah seni rupa Bali. Saya...

by Angga Wijaya
July 15, 2026
Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif
Esai

Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

Pagi itu, gerbang-gerbang sekolah kembali dipenuhi wajah-wajah penuh harap. Ada anak yang dengan antusias mengenakan seragam baru, ada yang menggenggam...

by Lailatus Sholihah
July 15, 2026
Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali
Panggung

Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali

KISAH CEO yang menyamar lazimnya identik dengan drama Korea yang dipenuhi ketegangan, romansa, dan konflik keluarga. Namun, cerita yang akrab...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026

Gemuruh tiupan saksofon, dentuman drum, dan lengking gitar listrik memenuhi Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Senin (13/7/2026) malam. Melalui pertunjukan...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026
Khas

Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026

LOMBA Tari Modern dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 menghadirkan beragam karya yang mencerminkan perkembangan seni...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café
Budaya

Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café

Di tengah riuh kafe yang biasanya dipenuhi aroma kopi dan percakapan santai, sebuah ruang diskusi tentang seni akan dibuka di...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co