4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Belajar dari Einstein dan Grossmann

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
November 9, 2025
in Esai
Belajar dari Einstein dan Grossmann

Ilustrasi tatkala.co | Canva

DALAM sejarah sains modern, kita sering mendengar nama Albert Einstein dielu-elukan sebagai simbol jenius. Namun, di balik teori relativitas umum yang mengubah wajah fisika selamanya, ada nama lain yang jarang disebut: Marcel Grossmann — sahabat sekaligus penopang sunyi yang membantu Einstein memahami matematika rumit di balik teori itu. Grossmann bukan hanya mencatat kuliah untuk Einstein saat mereka kuliah di Politeknik Zurich, tetapi juga kelak menyelamatkan proyek besar relativitas umum ketika Einstein hampir menyerah karena kesulitan matematis.

Grossmann-lah yang memperkenalkan Einstein pada geometri Riemann — kunci untuk memahami ruang-waktu yang melengkung, fondasi teori relativitas umum. Einstein menulis penuh rasa syukur tentang sahabatnya itu: “Dia memang cukup siap untuk berkolaborasi dalam masalah dengan saya.” Grossmann tidak menuntut ketenaran; ia hanya ingin sains dan kemanusiaan melangkah maju.

Kisah ini bukan hanya sejarah ilmu pengetahuan, melainkan pelajaran hidup yang amat relevan untuk Indonesia hari ini — bangsa yang diwarisi budaya gotong royong dan kebijaksanaan kolektif, tetapi justru sering terpecah oleh ego sektoral, politik kepentingan, dan sikap anti-perbedaan.

Dari Rivalitas ke Kolaborasi

Einstein dan Grossmann memiliki kemampuan berbeda: satu brilian dalam intuisi fisika, yang lain tajam dalam logika matematika. Alih-alih saling merasa unggul, mereka saling melengkapi. Einstein mengakui keterbatasannya dan bersedia belajar dari sahabatnya. Grossmann tidak merasa tersaingi oleh ketenaran Einstein; ia justru bangga menjadi bagian dari penemuan besar yang mengubah sejarah.

Dalam konteks Indonesia, semangat semacam ini masih jarang kita jumpai. Dunia akademik, politik, hingga kehidupan sosial kita sering diwarnai oleh keinginan untuk “menang sendiri.” Persaingan dianggap satu-satunya jalan untuk sukses. Bahkan di lingkungan ilmiah dan kehidupan beragama baik dalam internal agama, apalagi antar agama, tidak sedikit yang lebih senang menjadi pusat perhatian daripada berkolaborasi demi tujuan bersama.

Padahal, sebagaimana Einstein dan Grossmann membuktikan, perbedaan kemampuan bukan ancaman, melainkan potensi kekuatan kolektif. Bangsa Indonesia sejak lama mengenal konsep gotong royong — filosofi bahwa pekerjaan berat akan terasa ringan bila dikerjakan bersama. Namun, nilai luhur ini perlahan digantikan oleh mentalitas kompetisi yang membutakan hati.

Menghormati Perbedaan Pandangan

Einstein tidak menutup diri terhadap kritik. Ia sering berdebat sengit dengan para ilmuwan sezamannya — termasuk Niels Bohr dan Heisenberg — namun perdebatan mereka justru memperkaya ilmu pengetahuan. Mereka tidak mengharamkan perbedaan, tetapi menjadikannya jalan menuju kebenaran yang lebih luas.

Bandingkan dengan realitas kita hari ini. Di Indonesia, perbedaan pandangan sering disamakan dengan permusuhan. Agama, ideologi, dan bahkan selera politik dijadikan alasan untuk saling meniadakan. Media sosial memperuncingnya: orang lebih senang mencari pembenaran daripada kebenaran. Padahal, sejarah membuktikan bahwa semua kemajuan lahir dari keberanian berpikir beda.

Dalam kearifan Nusantara, sebenarnya kita punya dasar kuat untuk menghormati keberagaman. Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharm Mangrwa bukan sekadar semboyan, melainkan kesadaran spiritual bahwa di balik semua perbedaan terkandung satu kebenaran yang sama yang bermuara pada satu tujuan: kesejahteraan bersama. Seperti Einstein dan Grossmann, kita bisa berbeda pandangan, namun tetap berjalan beriringan menuju kemajuan.

Kearifan Gotong Royong sebagai Ilmu Relativitas Sosial

Einstein membuktikan bahwa ruang dan waktu tidak absolut, melainkan relatif terhadap gerak dan pengamatnya. Begitu pula dalam kehidupan sosial: kebenaran tidak mutlak, tetapi bergantung pada perspektif. Inilah mengapa dialog dan kerja sama menjadi penting.

Gotong royong — yang oleh para leluhur kita dipraktikkan dalam bentuk subak di Bali, mapalus di Sulawesi, sambatan di Jawa, atau manunggal di Sumatra — sesungguhnya adalah bentuk paling canggih dari “relativitas sosial.” Kita diajarkan bahwa keseimbangan tidak lahir dari keseragaman, tetapi dari harmoni perbedaan.

Namun kini, budaya itu mulai pudar. Kita lebih mudah bersaing ketimbang bekerja sama, lebih suka berdebat ketimbang mendengarkan. Bahkan dalam hal kehidupan beragama, banyak yang mengklaim “jalannya paling benar” tanpa memahami bahwa setiap jalan mengarah pada tujuan yang sama.

Pahlawan Tanpa Jubah di Sekitar Kita

Kisah Grossmann mengingatkan bahwa tidak semua pahlawan dikenal dunia. Beberapa orang cukup menjalankan perannya dalam diam — menyalakan cahaya bagi orang lain tanpa menuntut pujian. Dalam tradisi spiritual Timur, tindakan semacam ini disebut niskama karma: bekerja tanpa pamrih.

Bangsa ini butuh lebih banyak Grossmann — guru, peneliti, petani, seniman, dan pelayan publik yang bekerja tulus meski tak mendapat sorotan. Mereka adalah jantung peradaban yang membuat Indonesia tetap hidup.

Sayangnya, masyarakat modern sering menilai keberhasilan dari sorotan media, bukan dari kontribusi nyata. Kita lupa bahwa sejarah tidak selalu ditulis oleh yang terkenal, tetapi oleh mereka yang berdedikasi.

Dari Einstein ke Indonesia: Saatnya Kolaborasi, Bukan Kompetisi

Einstein pernah menulis kepada Grossmann, “Aku pikir kita bisa mengatasi semua kesulitan dengan bantuanmu.” Sebuah kalimat sederhana, namun sarat makna tentang kerendahan hati ilmuwan besar kepada sahabatnya.

Kita pun sebagai bangsa perlu belajar mengucapkan kalimat serupa: “Kita bisa mengatasi semua kesulitan — bersama.” Entah dalam menghadapi krisis ekonomi, lingkungan, atau polarisasi sosial, tidak ada jalan keluar tanpa kolaborasi.

Indonesia memiliki potensi luar biasa — sumber daya alam yang melimpah, keanekaragaman budaya, serta spiritualitas yang mendalam. Namun, semua itu tidak akan berarti bila kita saling meniadakan. Einstein tanpa Grossmann hanyalah ilmuwan dengan mimpi yang tak selesai; Indonesia tanpa semangat gotong royong hanyalah bangsa dengan potensi yang tak terwujud.

Menutup dengan Renungan

“Tidak semua pahlawan memakai jubah,” tulis sebuah catatan tentang Grossmann. “Beberapa hanya membuat catatan yang sangat bagus. Dan terkadang, catatan-catatan itu mengubah alam semesta.”

Kita pun bisa belajar dari kalimat ini. Barangkali Indonesia tidak butuh lebih banyak “jubah” simbolik, tetapi lebih banyak jiwa yang mau bekerja diam-diam demi tujuan besar: membangun negeri dengan hati.

Einstein dan Grossmann mengajarkan bahwa kerja sama dua pikiran bisa mengubah fisika dunia. Bayangkan jika 270 juta hati di Indonesia berani saling percaya, saling menghargai perbedaan, dan bekerja bersama. Maka bukan hanya teori relativitas yang kita hasilkan, melainkan realitas kebangsaan yang penuh cinta, gotong royong, dan kesadaran bahwa kita semua adalah satu, sebagai sebuah bangsa, Bangsa Indonesia, sebagai satu keluarga besar Dunia, selaras dengan nilai Vasudhaiva Kutumbakam. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: Albert EinsteinMarcel Grossmatematikatokoh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Nekeng Twas’: Bali, Wali dan Jual Beli

Next Post

Aksosma 2025: Ketika Mahasiswa PNB ‘Turun Aksi’ Lewat Pemberdayaan Digital

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
Aksosma 2025: Ketika Mahasiswa PNB ‘Turun Aksi’ Lewat Pemberdayaan Digital

Aksosma 2025: Ketika Mahasiswa PNB ‘Turun Aksi’ Lewat Pemberdayaan Digital

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co