14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Belajar dari Einstein dan Grossmann

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
November 9, 2025
in Esai
Belajar dari Einstein dan Grossmann

Ilustrasi tatkala.co | Canva

DALAM sejarah sains modern, kita sering mendengar nama Albert Einstein dielu-elukan sebagai simbol jenius. Namun, di balik teori relativitas umum yang mengubah wajah fisika selamanya, ada nama lain yang jarang disebut: Marcel Grossmann — sahabat sekaligus penopang sunyi yang membantu Einstein memahami matematika rumit di balik teori itu. Grossmann bukan hanya mencatat kuliah untuk Einstein saat mereka kuliah di Politeknik Zurich, tetapi juga kelak menyelamatkan proyek besar relativitas umum ketika Einstein hampir menyerah karena kesulitan matematis.

Grossmann-lah yang memperkenalkan Einstein pada geometri Riemann — kunci untuk memahami ruang-waktu yang melengkung, fondasi teori relativitas umum. Einstein menulis penuh rasa syukur tentang sahabatnya itu: “Dia memang cukup siap untuk berkolaborasi dalam masalah dengan saya.” Grossmann tidak menuntut ketenaran; ia hanya ingin sains dan kemanusiaan melangkah maju.

Kisah ini bukan hanya sejarah ilmu pengetahuan, melainkan pelajaran hidup yang amat relevan untuk Indonesia hari ini — bangsa yang diwarisi budaya gotong royong dan kebijaksanaan kolektif, tetapi justru sering terpecah oleh ego sektoral, politik kepentingan, dan sikap anti-perbedaan.

Dari Rivalitas ke Kolaborasi

Einstein dan Grossmann memiliki kemampuan berbeda: satu brilian dalam intuisi fisika, yang lain tajam dalam logika matematika. Alih-alih saling merasa unggul, mereka saling melengkapi. Einstein mengakui keterbatasannya dan bersedia belajar dari sahabatnya. Grossmann tidak merasa tersaingi oleh ketenaran Einstein; ia justru bangga menjadi bagian dari penemuan besar yang mengubah sejarah.

Dalam konteks Indonesia, semangat semacam ini masih jarang kita jumpai. Dunia akademik, politik, hingga kehidupan sosial kita sering diwarnai oleh keinginan untuk “menang sendiri.” Persaingan dianggap satu-satunya jalan untuk sukses. Bahkan di lingkungan ilmiah dan kehidupan beragama baik dalam internal agama, apalagi antar agama, tidak sedikit yang lebih senang menjadi pusat perhatian daripada berkolaborasi demi tujuan bersama.

Padahal, sebagaimana Einstein dan Grossmann membuktikan, perbedaan kemampuan bukan ancaman, melainkan potensi kekuatan kolektif. Bangsa Indonesia sejak lama mengenal konsep gotong royong — filosofi bahwa pekerjaan berat akan terasa ringan bila dikerjakan bersama. Namun, nilai luhur ini perlahan digantikan oleh mentalitas kompetisi yang membutakan hati.

Menghormati Perbedaan Pandangan

Einstein tidak menutup diri terhadap kritik. Ia sering berdebat sengit dengan para ilmuwan sezamannya — termasuk Niels Bohr dan Heisenberg — namun perdebatan mereka justru memperkaya ilmu pengetahuan. Mereka tidak mengharamkan perbedaan, tetapi menjadikannya jalan menuju kebenaran yang lebih luas.

Bandingkan dengan realitas kita hari ini. Di Indonesia, perbedaan pandangan sering disamakan dengan permusuhan. Agama, ideologi, dan bahkan selera politik dijadikan alasan untuk saling meniadakan. Media sosial memperuncingnya: orang lebih senang mencari pembenaran daripada kebenaran. Padahal, sejarah membuktikan bahwa semua kemajuan lahir dari keberanian berpikir beda.

Dalam kearifan Nusantara, sebenarnya kita punya dasar kuat untuk menghormati keberagaman. Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharm Mangrwa bukan sekadar semboyan, melainkan kesadaran spiritual bahwa di balik semua perbedaan terkandung satu kebenaran yang sama yang bermuara pada satu tujuan: kesejahteraan bersama. Seperti Einstein dan Grossmann, kita bisa berbeda pandangan, namun tetap berjalan beriringan menuju kemajuan.

Kearifan Gotong Royong sebagai Ilmu Relativitas Sosial

Einstein membuktikan bahwa ruang dan waktu tidak absolut, melainkan relatif terhadap gerak dan pengamatnya. Begitu pula dalam kehidupan sosial: kebenaran tidak mutlak, tetapi bergantung pada perspektif. Inilah mengapa dialog dan kerja sama menjadi penting.

Gotong royong — yang oleh para leluhur kita dipraktikkan dalam bentuk subak di Bali, mapalus di Sulawesi, sambatan di Jawa, atau manunggal di Sumatra — sesungguhnya adalah bentuk paling canggih dari “relativitas sosial.” Kita diajarkan bahwa keseimbangan tidak lahir dari keseragaman, tetapi dari harmoni perbedaan.

Namun kini, budaya itu mulai pudar. Kita lebih mudah bersaing ketimbang bekerja sama, lebih suka berdebat ketimbang mendengarkan. Bahkan dalam hal kehidupan beragama, banyak yang mengklaim “jalannya paling benar” tanpa memahami bahwa setiap jalan mengarah pada tujuan yang sama.

Pahlawan Tanpa Jubah di Sekitar Kita

Kisah Grossmann mengingatkan bahwa tidak semua pahlawan dikenal dunia. Beberapa orang cukup menjalankan perannya dalam diam — menyalakan cahaya bagi orang lain tanpa menuntut pujian. Dalam tradisi spiritual Timur, tindakan semacam ini disebut niskama karma: bekerja tanpa pamrih.

Bangsa ini butuh lebih banyak Grossmann — guru, peneliti, petani, seniman, dan pelayan publik yang bekerja tulus meski tak mendapat sorotan. Mereka adalah jantung peradaban yang membuat Indonesia tetap hidup.

Sayangnya, masyarakat modern sering menilai keberhasilan dari sorotan media, bukan dari kontribusi nyata. Kita lupa bahwa sejarah tidak selalu ditulis oleh yang terkenal, tetapi oleh mereka yang berdedikasi.

Dari Einstein ke Indonesia: Saatnya Kolaborasi, Bukan Kompetisi

Einstein pernah menulis kepada Grossmann, “Aku pikir kita bisa mengatasi semua kesulitan dengan bantuanmu.” Sebuah kalimat sederhana, namun sarat makna tentang kerendahan hati ilmuwan besar kepada sahabatnya.

Kita pun sebagai bangsa perlu belajar mengucapkan kalimat serupa: “Kita bisa mengatasi semua kesulitan — bersama.” Entah dalam menghadapi krisis ekonomi, lingkungan, atau polarisasi sosial, tidak ada jalan keluar tanpa kolaborasi.

Indonesia memiliki potensi luar biasa — sumber daya alam yang melimpah, keanekaragaman budaya, serta spiritualitas yang mendalam. Namun, semua itu tidak akan berarti bila kita saling meniadakan. Einstein tanpa Grossmann hanyalah ilmuwan dengan mimpi yang tak selesai; Indonesia tanpa semangat gotong royong hanyalah bangsa dengan potensi yang tak terwujud.

Menutup dengan Renungan

“Tidak semua pahlawan memakai jubah,” tulis sebuah catatan tentang Grossmann. “Beberapa hanya membuat catatan yang sangat bagus. Dan terkadang, catatan-catatan itu mengubah alam semesta.”

Kita pun bisa belajar dari kalimat ini. Barangkali Indonesia tidak butuh lebih banyak “jubah” simbolik, tetapi lebih banyak jiwa yang mau bekerja diam-diam demi tujuan besar: membangun negeri dengan hati.

Einstein dan Grossmann mengajarkan bahwa kerja sama dua pikiran bisa mengubah fisika dunia. Bayangkan jika 270 juta hati di Indonesia berani saling percaya, saling menghargai perbedaan, dan bekerja bersama. Maka bukan hanya teori relativitas yang kita hasilkan, melainkan realitas kebangsaan yang penuh cinta, gotong royong, dan kesadaran bahwa kita semua adalah satu, sebagai sebuah bangsa, Bangsa Indonesia, sebagai satu keluarga besar Dunia, selaras dengan nilai Vasudhaiva Kutumbakam. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: Albert EinsteinMarcel Grossmatematikatokoh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Nekeng Twas’: Bali, Wali dan Jual Beli

Next Post

Aksosma 2025: Ketika Mahasiswa PNB ‘Turun Aksi’ Lewat Pemberdayaan Digital

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
0
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

Read moreDetails

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

Read moreDetails

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails
Next Post
Aksosma 2025: Ketika Mahasiswa PNB ‘Turun Aksi’ Lewat Pemberdayaan Digital

Aksosma 2025: Ketika Mahasiswa PNB ‘Turun Aksi’ Lewat Pemberdayaan Digital

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co