4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Belajar dari Einstein dan Grossmann

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
November 9, 2025
in Esai
Belajar dari Einstein dan Grossmann

Ilustrasi tatkala.co | Canva

DALAM sejarah sains modern, kita sering mendengar nama Albert Einstein dielu-elukan sebagai simbol jenius. Namun, di balik teori relativitas umum yang mengubah wajah fisika selamanya, ada nama lain yang jarang disebut: Marcel Grossmann — sahabat sekaligus penopang sunyi yang membantu Einstein memahami matematika rumit di balik teori itu. Grossmann bukan hanya mencatat kuliah untuk Einstein saat mereka kuliah di Politeknik Zurich, tetapi juga kelak menyelamatkan proyek besar relativitas umum ketika Einstein hampir menyerah karena kesulitan matematis.

Grossmann-lah yang memperkenalkan Einstein pada geometri Riemann — kunci untuk memahami ruang-waktu yang melengkung, fondasi teori relativitas umum. Einstein menulis penuh rasa syukur tentang sahabatnya itu: “Dia memang cukup siap untuk berkolaborasi dalam masalah dengan saya.” Grossmann tidak menuntut ketenaran; ia hanya ingin sains dan kemanusiaan melangkah maju.

Kisah ini bukan hanya sejarah ilmu pengetahuan, melainkan pelajaran hidup yang amat relevan untuk Indonesia hari ini — bangsa yang diwarisi budaya gotong royong dan kebijaksanaan kolektif, tetapi justru sering terpecah oleh ego sektoral, politik kepentingan, dan sikap anti-perbedaan.

Dari Rivalitas ke Kolaborasi

Einstein dan Grossmann memiliki kemampuan berbeda: satu brilian dalam intuisi fisika, yang lain tajam dalam logika matematika. Alih-alih saling merasa unggul, mereka saling melengkapi. Einstein mengakui keterbatasannya dan bersedia belajar dari sahabatnya. Grossmann tidak merasa tersaingi oleh ketenaran Einstein; ia justru bangga menjadi bagian dari penemuan besar yang mengubah sejarah.

Dalam konteks Indonesia, semangat semacam ini masih jarang kita jumpai. Dunia akademik, politik, hingga kehidupan sosial kita sering diwarnai oleh keinginan untuk “menang sendiri.” Persaingan dianggap satu-satunya jalan untuk sukses. Bahkan di lingkungan ilmiah dan kehidupan beragama baik dalam internal agama, apalagi antar agama, tidak sedikit yang lebih senang menjadi pusat perhatian daripada berkolaborasi demi tujuan bersama.

Padahal, sebagaimana Einstein dan Grossmann membuktikan, perbedaan kemampuan bukan ancaman, melainkan potensi kekuatan kolektif. Bangsa Indonesia sejak lama mengenal konsep gotong royong — filosofi bahwa pekerjaan berat akan terasa ringan bila dikerjakan bersama. Namun, nilai luhur ini perlahan digantikan oleh mentalitas kompetisi yang membutakan hati.

Menghormati Perbedaan Pandangan

Einstein tidak menutup diri terhadap kritik. Ia sering berdebat sengit dengan para ilmuwan sezamannya — termasuk Niels Bohr dan Heisenberg — namun perdebatan mereka justru memperkaya ilmu pengetahuan. Mereka tidak mengharamkan perbedaan, tetapi menjadikannya jalan menuju kebenaran yang lebih luas.

Bandingkan dengan realitas kita hari ini. Di Indonesia, perbedaan pandangan sering disamakan dengan permusuhan. Agama, ideologi, dan bahkan selera politik dijadikan alasan untuk saling meniadakan. Media sosial memperuncingnya: orang lebih senang mencari pembenaran daripada kebenaran. Padahal, sejarah membuktikan bahwa semua kemajuan lahir dari keberanian berpikir beda.

Dalam kearifan Nusantara, sebenarnya kita punya dasar kuat untuk menghormati keberagaman. Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharm Mangrwa bukan sekadar semboyan, melainkan kesadaran spiritual bahwa di balik semua perbedaan terkandung satu kebenaran yang sama yang bermuara pada satu tujuan: kesejahteraan bersama. Seperti Einstein dan Grossmann, kita bisa berbeda pandangan, namun tetap berjalan beriringan menuju kemajuan.

Kearifan Gotong Royong sebagai Ilmu Relativitas Sosial

Einstein membuktikan bahwa ruang dan waktu tidak absolut, melainkan relatif terhadap gerak dan pengamatnya. Begitu pula dalam kehidupan sosial: kebenaran tidak mutlak, tetapi bergantung pada perspektif. Inilah mengapa dialog dan kerja sama menjadi penting.

Gotong royong — yang oleh para leluhur kita dipraktikkan dalam bentuk subak di Bali, mapalus di Sulawesi, sambatan di Jawa, atau manunggal di Sumatra — sesungguhnya adalah bentuk paling canggih dari “relativitas sosial.” Kita diajarkan bahwa keseimbangan tidak lahir dari keseragaman, tetapi dari harmoni perbedaan.

Namun kini, budaya itu mulai pudar. Kita lebih mudah bersaing ketimbang bekerja sama, lebih suka berdebat ketimbang mendengarkan. Bahkan dalam hal kehidupan beragama, banyak yang mengklaim “jalannya paling benar” tanpa memahami bahwa setiap jalan mengarah pada tujuan yang sama.

Pahlawan Tanpa Jubah di Sekitar Kita

Kisah Grossmann mengingatkan bahwa tidak semua pahlawan dikenal dunia. Beberapa orang cukup menjalankan perannya dalam diam — menyalakan cahaya bagi orang lain tanpa menuntut pujian. Dalam tradisi spiritual Timur, tindakan semacam ini disebut niskama karma: bekerja tanpa pamrih.

Bangsa ini butuh lebih banyak Grossmann — guru, peneliti, petani, seniman, dan pelayan publik yang bekerja tulus meski tak mendapat sorotan. Mereka adalah jantung peradaban yang membuat Indonesia tetap hidup.

Sayangnya, masyarakat modern sering menilai keberhasilan dari sorotan media, bukan dari kontribusi nyata. Kita lupa bahwa sejarah tidak selalu ditulis oleh yang terkenal, tetapi oleh mereka yang berdedikasi.

Dari Einstein ke Indonesia: Saatnya Kolaborasi, Bukan Kompetisi

Einstein pernah menulis kepada Grossmann, “Aku pikir kita bisa mengatasi semua kesulitan dengan bantuanmu.” Sebuah kalimat sederhana, namun sarat makna tentang kerendahan hati ilmuwan besar kepada sahabatnya.

Kita pun sebagai bangsa perlu belajar mengucapkan kalimat serupa: “Kita bisa mengatasi semua kesulitan — bersama.” Entah dalam menghadapi krisis ekonomi, lingkungan, atau polarisasi sosial, tidak ada jalan keluar tanpa kolaborasi.

Indonesia memiliki potensi luar biasa — sumber daya alam yang melimpah, keanekaragaman budaya, serta spiritualitas yang mendalam. Namun, semua itu tidak akan berarti bila kita saling meniadakan. Einstein tanpa Grossmann hanyalah ilmuwan dengan mimpi yang tak selesai; Indonesia tanpa semangat gotong royong hanyalah bangsa dengan potensi yang tak terwujud.

Menutup dengan Renungan

“Tidak semua pahlawan memakai jubah,” tulis sebuah catatan tentang Grossmann. “Beberapa hanya membuat catatan yang sangat bagus. Dan terkadang, catatan-catatan itu mengubah alam semesta.”

Kita pun bisa belajar dari kalimat ini. Barangkali Indonesia tidak butuh lebih banyak “jubah” simbolik, tetapi lebih banyak jiwa yang mau bekerja diam-diam demi tujuan besar: membangun negeri dengan hati.

Einstein dan Grossmann mengajarkan bahwa kerja sama dua pikiran bisa mengubah fisika dunia. Bayangkan jika 270 juta hati di Indonesia berani saling percaya, saling menghargai perbedaan, dan bekerja bersama. Maka bukan hanya teori relativitas yang kita hasilkan, melainkan realitas kebangsaan yang penuh cinta, gotong royong, dan kesadaran bahwa kita semua adalah satu, sebagai sebuah bangsa, Bangsa Indonesia, sebagai satu keluarga besar Dunia, selaras dengan nilai Vasudhaiva Kutumbakam. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: Albert EinsteinMarcel Grossmatematikatokoh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Nekeng Twas’: Bali, Wali dan Jual Beli

Next Post

Aksosma 2025: Ketika Mahasiswa PNB ‘Turun Aksi’ Lewat Pemberdayaan Digital

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails
Next Post
Aksosma 2025: Ketika Mahasiswa PNB ‘Turun Aksi’ Lewat Pemberdayaan Digital

Aksosma 2025: Ketika Mahasiswa PNB ‘Turun Aksi’ Lewat Pemberdayaan Digital

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co