25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Belajar dari Einstein dan Grossmann

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
November 9, 2025
in Esai
Belajar dari Einstein dan Grossmann

Ilustrasi tatkala.co | Canva

DALAM sejarah sains modern, kita sering mendengar nama Albert Einstein dielu-elukan sebagai simbol jenius. Namun, di balik teori relativitas umum yang mengubah wajah fisika selamanya, ada nama lain yang jarang disebut: Marcel Grossmann — sahabat sekaligus penopang sunyi yang membantu Einstein memahami matematika rumit di balik teori itu. Grossmann bukan hanya mencatat kuliah untuk Einstein saat mereka kuliah di Politeknik Zurich, tetapi juga kelak menyelamatkan proyek besar relativitas umum ketika Einstein hampir menyerah karena kesulitan matematis.

Grossmann-lah yang memperkenalkan Einstein pada geometri Riemann — kunci untuk memahami ruang-waktu yang melengkung, fondasi teori relativitas umum. Einstein menulis penuh rasa syukur tentang sahabatnya itu: “Dia memang cukup siap untuk berkolaborasi dalam masalah dengan saya.” Grossmann tidak menuntut ketenaran; ia hanya ingin sains dan kemanusiaan melangkah maju.

Kisah ini bukan hanya sejarah ilmu pengetahuan, melainkan pelajaran hidup yang amat relevan untuk Indonesia hari ini — bangsa yang diwarisi budaya gotong royong dan kebijaksanaan kolektif, tetapi justru sering terpecah oleh ego sektoral, politik kepentingan, dan sikap anti-perbedaan.

Dari Rivalitas ke Kolaborasi

Einstein dan Grossmann memiliki kemampuan berbeda: satu brilian dalam intuisi fisika, yang lain tajam dalam logika matematika. Alih-alih saling merasa unggul, mereka saling melengkapi. Einstein mengakui keterbatasannya dan bersedia belajar dari sahabatnya. Grossmann tidak merasa tersaingi oleh ketenaran Einstein; ia justru bangga menjadi bagian dari penemuan besar yang mengubah sejarah.

Dalam konteks Indonesia, semangat semacam ini masih jarang kita jumpai. Dunia akademik, politik, hingga kehidupan sosial kita sering diwarnai oleh keinginan untuk “menang sendiri.” Persaingan dianggap satu-satunya jalan untuk sukses. Bahkan di lingkungan ilmiah dan kehidupan beragama baik dalam internal agama, apalagi antar agama, tidak sedikit yang lebih senang menjadi pusat perhatian daripada berkolaborasi demi tujuan bersama.

Padahal, sebagaimana Einstein dan Grossmann membuktikan, perbedaan kemampuan bukan ancaman, melainkan potensi kekuatan kolektif. Bangsa Indonesia sejak lama mengenal konsep gotong royong — filosofi bahwa pekerjaan berat akan terasa ringan bila dikerjakan bersama. Namun, nilai luhur ini perlahan digantikan oleh mentalitas kompetisi yang membutakan hati.

Menghormati Perbedaan Pandangan

Einstein tidak menutup diri terhadap kritik. Ia sering berdebat sengit dengan para ilmuwan sezamannya — termasuk Niels Bohr dan Heisenberg — namun perdebatan mereka justru memperkaya ilmu pengetahuan. Mereka tidak mengharamkan perbedaan, tetapi menjadikannya jalan menuju kebenaran yang lebih luas.

Bandingkan dengan realitas kita hari ini. Di Indonesia, perbedaan pandangan sering disamakan dengan permusuhan. Agama, ideologi, dan bahkan selera politik dijadikan alasan untuk saling meniadakan. Media sosial memperuncingnya: orang lebih senang mencari pembenaran daripada kebenaran. Padahal, sejarah membuktikan bahwa semua kemajuan lahir dari keberanian berpikir beda.

Dalam kearifan Nusantara, sebenarnya kita punya dasar kuat untuk menghormati keberagaman. Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharm Mangrwa bukan sekadar semboyan, melainkan kesadaran spiritual bahwa di balik semua perbedaan terkandung satu kebenaran yang sama yang bermuara pada satu tujuan: kesejahteraan bersama. Seperti Einstein dan Grossmann, kita bisa berbeda pandangan, namun tetap berjalan beriringan menuju kemajuan.

Kearifan Gotong Royong sebagai Ilmu Relativitas Sosial

Einstein membuktikan bahwa ruang dan waktu tidak absolut, melainkan relatif terhadap gerak dan pengamatnya. Begitu pula dalam kehidupan sosial: kebenaran tidak mutlak, tetapi bergantung pada perspektif. Inilah mengapa dialog dan kerja sama menjadi penting.

Gotong royong — yang oleh para leluhur kita dipraktikkan dalam bentuk subak di Bali, mapalus di Sulawesi, sambatan di Jawa, atau manunggal di Sumatra — sesungguhnya adalah bentuk paling canggih dari “relativitas sosial.” Kita diajarkan bahwa keseimbangan tidak lahir dari keseragaman, tetapi dari harmoni perbedaan.

Namun kini, budaya itu mulai pudar. Kita lebih mudah bersaing ketimbang bekerja sama, lebih suka berdebat ketimbang mendengarkan. Bahkan dalam hal kehidupan beragama, banyak yang mengklaim “jalannya paling benar” tanpa memahami bahwa setiap jalan mengarah pada tujuan yang sama.

Pahlawan Tanpa Jubah di Sekitar Kita

Kisah Grossmann mengingatkan bahwa tidak semua pahlawan dikenal dunia. Beberapa orang cukup menjalankan perannya dalam diam — menyalakan cahaya bagi orang lain tanpa menuntut pujian. Dalam tradisi spiritual Timur, tindakan semacam ini disebut niskama karma: bekerja tanpa pamrih.

Bangsa ini butuh lebih banyak Grossmann — guru, peneliti, petani, seniman, dan pelayan publik yang bekerja tulus meski tak mendapat sorotan. Mereka adalah jantung peradaban yang membuat Indonesia tetap hidup.

Sayangnya, masyarakat modern sering menilai keberhasilan dari sorotan media, bukan dari kontribusi nyata. Kita lupa bahwa sejarah tidak selalu ditulis oleh yang terkenal, tetapi oleh mereka yang berdedikasi.

Dari Einstein ke Indonesia: Saatnya Kolaborasi, Bukan Kompetisi

Einstein pernah menulis kepada Grossmann, “Aku pikir kita bisa mengatasi semua kesulitan dengan bantuanmu.” Sebuah kalimat sederhana, namun sarat makna tentang kerendahan hati ilmuwan besar kepada sahabatnya.

Kita pun sebagai bangsa perlu belajar mengucapkan kalimat serupa: “Kita bisa mengatasi semua kesulitan — bersama.” Entah dalam menghadapi krisis ekonomi, lingkungan, atau polarisasi sosial, tidak ada jalan keluar tanpa kolaborasi.

Indonesia memiliki potensi luar biasa — sumber daya alam yang melimpah, keanekaragaman budaya, serta spiritualitas yang mendalam. Namun, semua itu tidak akan berarti bila kita saling meniadakan. Einstein tanpa Grossmann hanyalah ilmuwan dengan mimpi yang tak selesai; Indonesia tanpa semangat gotong royong hanyalah bangsa dengan potensi yang tak terwujud.

Menutup dengan Renungan

“Tidak semua pahlawan memakai jubah,” tulis sebuah catatan tentang Grossmann. “Beberapa hanya membuat catatan yang sangat bagus. Dan terkadang, catatan-catatan itu mengubah alam semesta.”

Kita pun bisa belajar dari kalimat ini. Barangkali Indonesia tidak butuh lebih banyak “jubah” simbolik, tetapi lebih banyak jiwa yang mau bekerja diam-diam demi tujuan besar: membangun negeri dengan hati.

Einstein dan Grossmann mengajarkan bahwa kerja sama dua pikiran bisa mengubah fisika dunia. Bayangkan jika 270 juta hati di Indonesia berani saling percaya, saling menghargai perbedaan, dan bekerja bersama. Maka bukan hanya teori relativitas yang kita hasilkan, melainkan realitas kebangsaan yang penuh cinta, gotong royong, dan kesadaran bahwa kita semua adalah satu, sebagai sebuah bangsa, Bangsa Indonesia, sebagai satu keluarga besar Dunia, selaras dengan nilai Vasudhaiva Kutumbakam. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: Albert EinsteinMarcel Grossmatematikatokoh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Nekeng Twas’: Bali, Wali dan Jual Beli

Next Post

Aksosma 2025: Ketika Mahasiswa PNB ‘Turun Aksi’ Lewat Pemberdayaan Digital

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Aksosma 2025: Ketika Mahasiswa PNB ‘Turun Aksi’ Lewat Pemberdayaan Digital

Aksosma 2025: Ketika Mahasiswa PNB ‘Turun Aksi’ Lewat Pemberdayaan Digital

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co