4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Nekeng Twas’: Bali, Wali dan Jual Beli

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
November 8, 2025
in Esai
Menghayati Sakit

IGA Darma Putra

APAPUN itu, semuanya harus dilakukan dengan kesadaran penuh. Dari lubuk hati yang paling dalam (nekeng twas). Mengolah tanah, memimpin ritual, berpolitik, menulis, belajar, sampai jadi penjahat sekali pun, semuanya kudu dilakukan dengan sadar. Karena kesadaran adalah akar dari taksu. “Taksu hanya terpancar apabila seseorang menyerahkan diri dan mengabdikan diri dengan sadar dan sepenuh hati kepada apapun yang dilakoni. Sehingga pada gilirannya, laku itulah yang akan memberikan vitalitas hidup kepadanya.” Indah bukan?

Tentu saja indah, karena kalimat-kalimat tadi disarikan dari sastra-sastra kuno Bali dan rajin-rajin mendengarkan Dharma Wacana. Meski disebut sastra kuno Bali, nyatanya bahasanya adalah bahasa Jawa. Bahasa Jawa Kuno lebih tepatnya, atau lebih dikenal sebagai bahasa Kawi. Dalang, penari topeng, dan pendharmawacana, banyak yang paham bahasa ini. Selain mereka, para Bhuta-Kala juga paham. Buktinya, ada mantra khusus Bhuta-Kala, yang ditulis dalam bahasa Jawa Kuno. Contohnya: ndah ta kita bhuta petak, putih warnanta, purwa desanta, iki tadah sajinira (Wah, kamu Bhuta Putih, kamu berwarna putih, tempatmu di timur, nikmati sajianku ini),dan seterusnya. Inilah bukti bahwa bahasa Kawi adalah bahasa lintas alam.

Mungkin ada benarnya, karena kebanyakan dari para tauladan yang cakap berbahasa Kawi, lebih pintar bicara lintas alam, alih-alih bicara dengan sesama. Lebih gampang menjelaskan apa itu kutukan Bhatara-Bhatari dari pada menerangkan apa itu kebodohan dan kemiskinan. Kebodohan dan kemiskinan menurut buku-buku agama, adalah dampak dari perilaku di kehidupan terdahulu. Kata buku, orang-orang miskin dan bodoh adalah bukti bahwa mereka di kehidupan terdahulu suka berbuat jahat, masuk neraka, lalu lahir lagi ke dunia. Bahkan mereka punya sebutan spesial, namanya naraka cyuta. Maksudnya adalah kelahiran dari neraka. Kebodohan dan kemiskinan dari sudut pandang itu tidak dianggap sebagai kesalahan managerial pemimpin wilayah maupun pemimpin umat. Kebodohan dan kemiskinan dianggap kutukan, dan bukan tanggung jawab negara maupun agama. Tanggung jawab negara dan agama, adalah memastikan upacara agama berjalan dengan lancar.

Sastra-Tantra vs Investor-Kontraktor

Sekilas, tidak ada hubungannya antara sastra dengan investor. Tapi jangan salah, keduanya dihubungan oleh kebudayaan. Sastra adalah sumbernya, investor adalah penikmatnya. Lalu apa hubungan antara Tantra dan Kontraktor? Tentu tanah. Bali adalah tanah Tantra, dan di tanah itulah kontraktor menarik garis lurus pengkaplingan. Kita memang sering kesulitan menarik hubungan antara konsep-konsep yang terlihat hitam-putih. Seperti menarik hubungan antara kesucian dengan ketidaksucian, baik-buruk, agama dengan kejahatan. Cara pandang yang diwarisi orang Bali mestinya tidak begitu, karena tidak pernah ada dualitas seperti itu. Semuanya satu, tergantung dari sudut pandang. Karena itu, maka bolehlah apabila kita memandang bahwa di dalam ketidaksucian ada kesucian, di dalam kebaikan ada keburukan, dan di dalam agama pasti ada kejahatan. Maka hati-hati apabila melihat orang yang terlihat terlalu suci, terlalu baik, dan terlalu beragama. Seperti burung Baka yang menipu ikan-ikan.

Jika kita iseng mencari-cari jawaban di dalam sastra-sastra kuno dari Bali, manakah yang paling penting: kecerdasan atau moral? Maka sastra-sastra itu akan memberikan seribu jawaban untuk satu pertanyaan. Kenapa bisa banyak? Karena tradisi menjawab pertanyaan segampang itu sudah berumur lebih dari empat ratus tahun di pulau Syurga yang pelan-pelan dikapling para raksasa. Jadi kita semua tidak perlu heran.

Pada suatu hari, saya pernah bermimpi aneh. Di dalam mimpi itu, ada suara-suara yang berujar seperti ini: Apabila kami (orang Bali) tidak bisa menjawab dengan teori atau konsep-konsep, kami akan menjawabnya dengan upacara. Kenapa upacara? Karena upacara, ritual, dan yadnya menurut kami adalah terjemahan paling pas untuk nama pulau ini. Jadi masuk akallah, apabila seluruh pertanyaan tentang apapun, bisa dijawab dengan upacara. Makin besar upacaranya akan makin bagus. Sebisa mungkin kami ingin menyenangkan hati dewa-dewa yang tinggal di atas langit senja pulau Nirwana.

Menurut sastra tantra a la Bali, pulau ini dilindungi oleh dewa-dewa itu. Kami tidak bisa membayangkan, bagaimana jadinya apabila dewa-dewa tidak melindungi kami. Pasti sudah lama pulau kecil ini hancur lebur. Kenapa bisa begitu?

Menurut orang-orang tua kami —  yang punya banyak tanah dan dengan senang hati akan kami jual kepada anda yang berminat – ada sembilan jenis dewa sebagai penyangga di seluruh penjuru arah. Karena ada sembilan, maka kami fasih menyebutnya Dewata Nawa (sembilan dewa), plus Sangga karena merekalah yang menyangga. Para dewa ini tidak kelihatan tempat tinggalnya, karena mereka tinggal di alam Niskala. Niskala artinya tidak ada di dalam ikatan ruang-waktu! Itu sebabnya mata anda, termasuk mata saya, tidak bisa melihat beliau-beliau. Kepada merekalah salah satu upacara kami tujukan (kami punya banyak stok jenis-jenis upacara). Sehingga tanah, air, gunung, bukit, sungai, danau, selokan yang ada di pulau ini pasti aman terkendali karena semuanya telah dilindungi oleh para dewa. Anda yang mau berinvestasi, tidak usah takut pulau ini akan hancur, karena pasti tidak mungkin.

Jika anda adalah pemodal yang ingin membangun hotel, restauran, villa, tempat ngopi estetik, dan lain sebagainya, jangan lupa baca dulu Asta Bumi dan Asta Kosala Kosali. Sekali lagi, menurut orang tua kami yang membangun peradaban Subak yang super terkenal itu, kedua lontar tadi penting dipahami dan dijalankan isinya agar kita semua terhindar dari bencana. Asta Bumi berarti delapan jenis ruang. Sedangkan Asta Kosala Kosali berarti delapan jenis ukuran menurut ruas-ruas tubuh. Menurut kami, tidak ada bedanya antara tanah dengan tubuh. Karena sejak kecil kami diajari tentang Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit. Artinya bila anda meratakan tanah, atau bahkan bukit-bukit, sama artinya anda meratakan tubuh kami. Kami bisa marah kalau itu terjadi, kecuali anda adalah penguasa atau pengusaha.

Tetapi anda tidak usah takut dikutuk oleh para Dewa kalau ingin membangun apapun, para dewa sangatlah bijaksana. Mereka bisa diajak kompromi. Menurut sastra-sastra yang kami warisi, bila kita ingin membangun sesuatu di tanah-tanah yang ada dewa maupun dewinya, kita bisa menggeser dewa-dewi itu terlebih dahulu. Buatkan upacara ngingsirang bhatari sri! Apabila ada sawah yang ingin anda alih fungsikan. Kita juga bisa melakukan upacara Bhumi Suddha, seperti yang tercatat pada lontar Calon Arang, apabila ada kuburan yang ingin anda alih fungsikan. Upacara ini pernah dilakukan oleh Mpu Bharadah. Dewa-dewi tidak akan marah kepada kami, karena tanah-tanah itu akan berubah menjadi tempat yang lebih layak bagi kami mencari rejeki. Kami bisa pakai sepatu, jas, dasi, seperti Meneer-meneer dan Mevrow-mevrow dari zaman kolonial, tidak seperti bapak-ibu kami yang kemana-mana bertelanjang kaki.

Jangan lupa, kalau restauran, hotel, villa, resort, yang anda bangun sudah selesai, jadikan kami pelayan. Selain karena bisa menambah lapangan pekerjaan, kami akan sangat senang melayani siapa pun. Karena melayani adalah dharma menurut kami. Di dalam sastra suci, yang tidak pernah kami baca, disebutkan bahwa sewanam paramo dharmah. Artinya, melayani adalah dharma yang paling utama. Kami tidak akan melawan bila ada turis, tamu-tamu, yang menghina kami. Kami percaya, bahwa perbuatan buruk akan dibalas setimpal. Meskipun kami kadang-kadang beringas, itu hanya berlaku bila masalahnya dengan saudara sendiri.

Jadi bagi anda yang punya modal, silahkan beli tanah kami. Hasil dari menjual tanah itu, bisa kami pakai untuk memperbesar upacara. Dewa-dewa di atas pasti akan senang. Selain itu, kami juga bisa membuatkan Pura yang lebih megah lagi. Kami bisa mengalahkan kemegahan yang diajarkan oleh Mpu Kuturan. Palinggih-palinggih bisa kami buat lebih besar dan lebih tinggi agar lebih mudah mencapai langit, tempat tinggal para dewa. Saking tingginya palinggih-palinggih itu, kami harus naik pakai mesin agar lebih aman.

Cara ini adalah langkah pencegahan, agar tidak ada turis yang naik dan duduk di tempat duduk para dewa. Meskipun turis-turis itu sudah seperti dewa di mata kami. Mereka adalah penjelmaan dewa Sri Sadana, dewanya rejeki. Kalau tidak ada turis, kami tidak tahu lagi harus cari uang dengan cara apa. Kira-kira begitu isi mimpi saya pada suatu malam. Entah siapa dia. Mungkin suara-suara itu datang, karena belakangan saya mulai belajar hal-hal tentang Bali dengan lebih serius, dari lapisan badan kasarnya (sthula sarira) sampai dengan jiwanya (antah karana sarira).

Bali sekarang, sudah punya cap sebagai tanah Tantra. Tentu karena upacara-upacaranya konon bersifat tantris. Caru, makan lawar, alkohol, tarian, gambelan dan sebagainya adalah ciri-ciri itu. Bahkan ada juga yang mempraktikkan ajaran itu dengan cara melakukan pemujaan di kuburan. Ngereh, istilahnya dalam bahasa Bali.

Para pelaku Tantra ini disebut atau menyebut dirinya sebagai Tantrika. Konon, menurut banyak orang, cap itu ada benarnya bahkan sangat benar dan cocok. Sudah sesuai dengan nafas agama dan tradisi Bali, yang katanya berbeda dengan India (Saya tidak mengerti, apa maksud kata India di dalam konteks ini). Tantrika yang sudah getol dengan ajaran Tantra sampai ke akar-akarnya, biasanya memuja betul ibu gumi. Katanya, gumi-lah yang melindungi dan memelihara kita. Ia ibu kita sendiri, meski kadang-kadang menyeramkan seperti topeng rangda. Dengan kata lain, para Tantrika inilah yang memuja bumi.

Mereka tahu dan paham betul, bahwa di dalam bumi terdapat elemen-elemen atau unsur-unsur utama. Unsur-unsur itu adalah panca maha bhuta yang terdiri dari tanah, air, api, udara dan ruang. Atau dalam bahasa yang lebih arkaik, disebut sebagai pertiwi, apah, teja, bayu dan akasa. Kelimanya adalah unsur-unsur materi yang memungkinkan seluruh makhluk bisa hidup. Dan kepada kelimanya pula, nanti seluruh makhluk akan kembali karena mati. Saya sungguh penasaran di dalam lubuk hati, apa jawaban mereka bila ditanya, mana yang lebih penting antara Langit yang seperti Ayah atau Bumi yang seperti Ibu? [T]

Penulis: IGA Darma Putra
Editor: Adnyana Ole

Tags: baliinvestorsastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mata Air dan Air Mata, Sarana ‘Melukat’ untuk ‘Kebersihan’ Diri

Next Post

Belajar dari Einstein dan Grossmann

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
Belajar dari Einstein dan Grossmann

Belajar dari Einstein dan Grossmann

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co