2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Arus Budaya di Selat Lombok: Jejak Akulturasi Bali dan Sasak

Arief Rahzen by Arief Rahzen
November 3, 2025
in Esai
Arus Budaya di Selat Lombok: Jejak Akulturasi Bali dan Sasak

Lautan Bali-Lombok

PETA konvensional mengajarkan kita, bahwa daratan adalah panggung kehidupan, sementara lautan hanyalah bidang biru yang kosong. Lautan jadi batas. Bagi bangsa kepulauan, cara pandang ini kekeliruan fundamental. Sejarah nusantara tidak ditulis di atas tanah semata. Sejarah nusantara juga tergores di atas gelombang. Lautan bukanlah pemisah, melainkan halaman. Selat bukanlah penyekat, melainkan koridor yang sibuk. Gema “Jalesveva Jayamahe” dan visi “Poros Maritim Dunia” sejatinya bukanlah inovasi, melainkan sebuah restorasi identitas bahari yang nyaris terlupa.

Panggung yang tepat untuk menyaksikan drama maritim ini, yakni perairan antara Bali dan Lombok. Selat Lombok bukanlah garis ujung geografis bagi Bali atau gerbang awal bagi Lombok. Selat ini ialah sebuah panggung dinamis. Sebuah “arsip cair” tempat narasi bersama kedua pulau ditulis, ditentang, dan dirundingkan ulang selama berabad-abad. Ini medium yang sama, yang mengalirkan irama gamelan dan migrasi penduduk.

Nilai strategis Selat Lombok bersifat trans-historis. Geografinya adalah konstanta. Jauh sebelum era kapal tanker, selat ini sudah jadi urat nadi. Pelabuhan Ampenan di pesisir timur selat pernah menjadi jembatan niaga penting, tempat beras Lombok yang subur diekspor ke berbagai penjuru. Arus yang sama yang membawa para pedagang Muslim ke tanah Lombok.

Arus itu melayani siapa saja yang menguasai teknologi navigasi. Pada abad ke-17, Kerajaan Karangasem di Bali timur memanfaatkan koridor ini. Armada perang mereka menyeberang, mengubah peta politik dan demografi kedua pulau secara permanen. Laut yang membawa kemakmuran kini membawa pertarungan. Geografi Selat Lombok menjadi panggung di mana sejarah dimainkan: perdagangan, penyebaran agama, dan persaingan.

Interaksi Bali dan Lombok lahir dari sebuah paradoks fundamental: lahir dari target kemakmuran, kemudian pertarungan, namun dipertahankan melalui akulturasi. Kehadiran Karangasem bukanlah kedatangan tunggal, melainkan proses migrasi sistematis. Para pangeran, pendeta, prajurit, dan pengikut turut menetap. Dari rahim inilah benih-benih masyarakat hibrida yang unik mulai tumbuh.

Bukti fisik paling kuat dari perpaduan ini berdiri di Lingsar, Lombok Barat. Pura Lingsar bukanlah sekadar tempat ibadah. I Wayan Sumertha dalam Pura Lingsar dalam Pendekatan Teologi Hindu (2023) menjelaskan inilah monumen hidup, sebuah manifestasi arsitektural dari dialog filosofis yang telah berlangsung ratusan tahun.

Kompleks ini adalah metafora spasial dari hubungan kedua komunitas: “terpisah namun bersama”. Di bagian utara, Pura Gaduh menjadi tempat suci bagi umat Hindu Bali. Di bagian selatan, Kemaliq menjadi area keramat bagi pendukung Wetu Telu Sasak. Keduanya terpisah secara fungsional, namun dihubungkan oleh gerbang agung (Kori Agung) dan berbagi halaman luar (bencingah) yang sama.

Koeksistensi ini dimungkinkan secara teologis oleh Wetu Telu. Inilah sebuah penghayatan Islam yang sangat dipengaruhi tradisi lokal pra-Islam dan ajaran tasawuf. Filosofi intinya yang holistik dan komunal, yang menghargai tradisi leluhur, menciptakan “ruang izin” teologis. Ini memungkinkan komunitas Wetu Telu berpartisipasi dalam ritual bersama di ruang yang sama dengan umat Hindu.

Puncaknya di tradisi tahunan Perang Topat. Setelah upacara pujawali, ribuan warga Hindu dan Sasak saling melempar ketupat dalam suka cita. Ini drama sosial yang melepaskan ketegangan, melambangkan rasa syukur, dan menegaskan kembali ikatan komunal. Di Lingsar, batu-batu ditata menjadi arsitektur perdamaian, dan ketupat dilempar sebagai simbol persatuan.

Jika Lingsar jadi jiwa akulturasi, seni pertunjukan ialah tubuhnya. Kesenian menjadi laboratorium hibriditas (Susilo Edi Purwanto dan I Wayang Sutama, Akulturasi Genealogis Budaya Bali dan Sasak di Pulau Lombok, 2021).Tari Gandrung adalah contoh utama. Tarian ini menyeberang selat dari Jawa melalui Bali. Gandrung tiba di Lombok dengan membawa pakem (prinsip dasar) koreografi Bali. Namun, masyarakat Sasak mengadaptasinya. Gandrung di Lombok berevolusi dari tarian ritual kesuburan menjadi tarian pergaulan sosial yang hidup. Tari ini telah “didomestikasi”, diberi makna baru yang sesuai dengan pandangan dunia lokal.

Gema yang sama terdengar dalam musik. Ansambel Gendang Beleq Sasak secara eksplisit menggunakan instrumen yang jamak dalam gamelan Bali: gong, kempul, saron, dan reong (Erwin Prasetya, Kesenian Gendang Beleq, 2023). Namun, lagi-lagi, ini bukan peniruan. Masyarakat Sasak menempatkan sepasang gendang berukuran raksasa (beleq) sebagai pemimpin ansambel. Fokusnya bergeser dari jalinan melodi rumit Bali ke ritme yang menghentak dan bertenaga, mencerminkan fungsi historisnya sebagai musik penyemangat prajurit. Ini cerminan estetika lokal: semaiq (kesederhanaan) dan paut (kepantasan).

Arus Baru, Takdir yang Sama

Kini, laut terus menghubungkan Bali dan Lombok. Namun, arusnya telah bergeser. Kini, laut menghantarkan gelombang wisatawan global. Hubungan kontemporer ini jadi negosiasi yang kompleks antara warisan ketidakseimbangan kuasa di masa lalu dan takdir ekonomi bersama di masa kini.

Warisan persaingan terkadang masih menyisakan potensi ketegangan. Namun, kesadaran akan sejarah bersama juga mendorong upaya rekonsiliasi. Pertunjukan seni kolaboratif, di mana musisi Sasak dan Bali bermain bersama, menjadi medium kuat untuk mengubah modal budaya menjadi modal sosial. Dalam harmoni nada, perbedaan etnis melebur.

Secara historis, ekonomi dan pariwisata Lombok berkait dengan Bali. Krisis pariwisata di Bali, terasa di Lombok. Namun, keterkaitan ini juga membawa berkah. Tenaga kerja dan produk dari Lombok hadir di Bali. Sebaliknya, pengusaha dari Bali hadir di Lombok. Saling terkait. Keduanya terus bernegosiasi dengan identitas mereka dalam lanskap yang terus berubah ini.

Perjalanan melintasi Selat Lombok ialah perjalanan melintasi waktu. Selat ini terbukti agen sejarah yang aktif. Lautan memori. Di dalam arusnya tersimpan ingatan akan kapal-kapal, doa bersama dalam dua keyakinan, dan tawa suka cita Perang Topat. Setiap gelombang yang memecah di pantai kedua pulau adalah bisikan dari masa lalu yang kompleks, terjalin dari benang konflik dan harmoni.

Pada saat yang sama, lautan ini memegang harapan. Arus baru pariwisata dan dialog budaya terus membentuk identitas kedua pulau yang selamanya terikat oleh air. Kisah Bali dan Lombok adalah pengingat abadi: di negeri kepulauan, laut bukanlah batas. Inilah warisan, tantangan, dan, pada akhirnya, takdir bersama. [T]

Penulis: Arief Rahzen
Editor: Adnyana Ole

Tags: akulturasi budayabaliLombokSasak
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Mereka Membuka Akal dan Hati — Kata Pengantar Buku ‘Kuda Putih di Bali’

Next Post

Alienasi dan Luka Perempuan dalam Warna-Warna Sekunder —Catatan Pameran Tunggal Seni Rupa Digital, “Without Blue”, oleh Whyper

Arief Rahzen

Arief Rahzen

Pekerja budaya yang senang berpetualang. Ia juga peminat kajian seni budaya dan perubahan masyarakat di era digital. Sesekali menulis esai, belajar bercerita, dan kurasi aktivitas budaya.. Saat ini bolakbalik di Gianyar, Mataram, dan Jakarta.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Alienasi dan Luka Perempuan dalam Warna-Warna Sekunder —Catatan Pameran Tunggal Seni Rupa Digital, “Without Blue”, oleh Whyper

Alienasi dan Luka Perempuan dalam Warna-Warna Sekunder —Catatan Pameran Tunggal Seni Rupa Digital, “Without Blue”, oleh Whyper

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co