6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Arus Budaya di Selat Lombok: Jejak Akulturasi Bali dan Sasak

Arief Rahzen by Arief Rahzen
November 3, 2025
in Esai
Arus Budaya di Selat Lombok: Jejak Akulturasi Bali dan Sasak

Lautan Bali-Lombok

PETA konvensional mengajarkan kita, bahwa daratan adalah panggung kehidupan, sementara lautan hanyalah bidang biru yang kosong. Lautan jadi batas. Bagi bangsa kepulauan, cara pandang ini kekeliruan fundamental. Sejarah nusantara tidak ditulis di atas tanah semata. Sejarah nusantara juga tergores di atas gelombang. Lautan bukanlah pemisah, melainkan halaman. Selat bukanlah penyekat, melainkan koridor yang sibuk. Gema “Jalesveva Jayamahe” dan visi “Poros Maritim Dunia” sejatinya bukanlah inovasi, melainkan sebuah restorasi identitas bahari yang nyaris terlupa.

Panggung yang tepat untuk menyaksikan drama maritim ini, yakni perairan antara Bali dan Lombok. Selat Lombok bukanlah garis ujung geografis bagi Bali atau gerbang awal bagi Lombok. Selat ini ialah sebuah panggung dinamis. Sebuah “arsip cair” tempat narasi bersama kedua pulau ditulis, ditentang, dan dirundingkan ulang selama berabad-abad. Ini medium yang sama, yang mengalirkan irama gamelan dan migrasi penduduk.

Nilai strategis Selat Lombok bersifat trans-historis. Geografinya adalah konstanta. Jauh sebelum era kapal tanker, selat ini sudah jadi urat nadi. Pelabuhan Ampenan di pesisir timur selat pernah menjadi jembatan niaga penting, tempat beras Lombok yang subur diekspor ke berbagai penjuru. Arus yang sama yang membawa para pedagang Muslim ke tanah Lombok.

Arus itu melayani siapa saja yang menguasai teknologi navigasi. Pada abad ke-17, Kerajaan Karangasem di Bali timur memanfaatkan koridor ini. Armada perang mereka menyeberang, mengubah peta politik dan demografi kedua pulau secara permanen. Laut yang membawa kemakmuran kini membawa pertarungan. Geografi Selat Lombok menjadi panggung di mana sejarah dimainkan: perdagangan, penyebaran agama, dan persaingan.

Interaksi Bali dan Lombok lahir dari sebuah paradoks fundamental: lahir dari target kemakmuran, kemudian pertarungan, namun dipertahankan melalui akulturasi. Kehadiran Karangasem bukanlah kedatangan tunggal, melainkan proses migrasi sistematis. Para pangeran, pendeta, prajurit, dan pengikut turut menetap. Dari rahim inilah benih-benih masyarakat hibrida yang unik mulai tumbuh.

Bukti fisik paling kuat dari perpaduan ini berdiri di Lingsar, Lombok Barat. Pura Lingsar bukanlah sekadar tempat ibadah. I Wayan Sumertha dalam Pura Lingsar dalam Pendekatan Teologi Hindu (2023) menjelaskan inilah monumen hidup, sebuah manifestasi arsitektural dari dialog filosofis yang telah berlangsung ratusan tahun.

Kompleks ini adalah metafora spasial dari hubungan kedua komunitas: “terpisah namun bersama”. Di bagian utara, Pura Gaduh menjadi tempat suci bagi umat Hindu Bali. Di bagian selatan, Kemaliq menjadi area keramat bagi pendukung Wetu Telu Sasak. Keduanya terpisah secara fungsional, namun dihubungkan oleh gerbang agung (Kori Agung) dan berbagi halaman luar (bencingah) yang sama.

Koeksistensi ini dimungkinkan secara teologis oleh Wetu Telu. Inilah sebuah penghayatan Islam yang sangat dipengaruhi tradisi lokal pra-Islam dan ajaran tasawuf. Filosofi intinya yang holistik dan komunal, yang menghargai tradisi leluhur, menciptakan “ruang izin” teologis. Ini memungkinkan komunitas Wetu Telu berpartisipasi dalam ritual bersama di ruang yang sama dengan umat Hindu.

Puncaknya di tradisi tahunan Perang Topat. Setelah upacara pujawali, ribuan warga Hindu dan Sasak saling melempar ketupat dalam suka cita. Ini drama sosial yang melepaskan ketegangan, melambangkan rasa syukur, dan menegaskan kembali ikatan komunal. Di Lingsar, batu-batu ditata menjadi arsitektur perdamaian, dan ketupat dilempar sebagai simbol persatuan.

Jika Lingsar jadi jiwa akulturasi, seni pertunjukan ialah tubuhnya. Kesenian menjadi laboratorium hibriditas (Susilo Edi Purwanto dan I Wayang Sutama, Akulturasi Genealogis Budaya Bali dan Sasak di Pulau Lombok, 2021).Tari Gandrung adalah contoh utama. Tarian ini menyeberang selat dari Jawa melalui Bali. Gandrung tiba di Lombok dengan membawa pakem (prinsip dasar) koreografi Bali. Namun, masyarakat Sasak mengadaptasinya. Gandrung di Lombok berevolusi dari tarian ritual kesuburan menjadi tarian pergaulan sosial yang hidup. Tari ini telah “didomestikasi”, diberi makna baru yang sesuai dengan pandangan dunia lokal.

Gema yang sama terdengar dalam musik. Ansambel Gendang Beleq Sasak secara eksplisit menggunakan instrumen yang jamak dalam gamelan Bali: gong, kempul, saron, dan reong (Erwin Prasetya, Kesenian Gendang Beleq, 2023). Namun, lagi-lagi, ini bukan peniruan. Masyarakat Sasak menempatkan sepasang gendang berukuran raksasa (beleq) sebagai pemimpin ansambel. Fokusnya bergeser dari jalinan melodi rumit Bali ke ritme yang menghentak dan bertenaga, mencerminkan fungsi historisnya sebagai musik penyemangat prajurit. Ini cerminan estetika lokal: semaiq (kesederhanaan) dan paut (kepantasan).

Arus Baru, Takdir yang Sama

Kini, laut terus menghubungkan Bali dan Lombok. Namun, arusnya telah bergeser. Kini, laut menghantarkan gelombang wisatawan global. Hubungan kontemporer ini jadi negosiasi yang kompleks antara warisan ketidakseimbangan kuasa di masa lalu dan takdir ekonomi bersama di masa kini.

Warisan persaingan terkadang masih menyisakan potensi ketegangan. Namun, kesadaran akan sejarah bersama juga mendorong upaya rekonsiliasi. Pertunjukan seni kolaboratif, di mana musisi Sasak dan Bali bermain bersama, menjadi medium kuat untuk mengubah modal budaya menjadi modal sosial. Dalam harmoni nada, perbedaan etnis melebur.

Secara historis, ekonomi dan pariwisata Lombok berkait dengan Bali. Krisis pariwisata di Bali, terasa di Lombok. Namun, keterkaitan ini juga membawa berkah. Tenaga kerja dan produk dari Lombok hadir di Bali. Sebaliknya, pengusaha dari Bali hadir di Lombok. Saling terkait. Keduanya terus bernegosiasi dengan identitas mereka dalam lanskap yang terus berubah ini.

Perjalanan melintasi Selat Lombok ialah perjalanan melintasi waktu. Selat ini terbukti agen sejarah yang aktif. Lautan memori. Di dalam arusnya tersimpan ingatan akan kapal-kapal, doa bersama dalam dua keyakinan, dan tawa suka cita Perang Topat. Setiap gelombang yang memecah di pantai kedua pulau adalah bisikan dari masa lalu yang kompleks, terjalin dari benang konflik dan harmoni.

Pada saat yang sama, lautan ini memegang harapan. Arus baru pariwisata dan dialog budaya terus membentuk identitas kedua pulau yang selamanya terikat oleh air. Kisah Bali dan Lombok adalah pengingat abadi: di negeri kepulauan, laut bukanlah batas. Inilah warisan, tantangan, dan, pada akhirnya, takdir bersama. [T]

Penulis: Arief Rahzen
Editor: Adnyana Ole

Tags: akulturasi budayabaliLombokSasak
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Mereka Membuka Akal dan Hati — Kata Pengantar Buku ‘Kuda Putih di Bali’

Next Post

Alienasi dan Luka Perempuan dalam Warna-Warna Sekunder —Catatan Pameran Tunggal Seni Rupa Digital, “Without Blue”, oleh Whyper

Arief Rahzen

Arief Rahzen

Pekerja budaya yang senang berpetualang. Ia juga peminat kajian seni budaya dan perubahan masyarakat di era digital. Sesekali menulis esai, belajar bercerita, dan kurasi aktivitas budaya.. Saat ini bolakbalik di Gianyar, Mataram, dan Jakarta.

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Alienasi dan Luka Perempuan dalam Warna-Warna Sekunder —Catatan Pameran Tunggal Seni Rupa Digital, “Without Blue”, oleh Whyper

Alienasi dan Luka Perempuan dalam Warna-Warna Sekunder —Catatan Pameran Tunggal Seni Rupa Digital, “Without Blue”, oleh Whyper

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co