2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Arus Budaya di Selat Lombok: Jejak Akulturasi Bali dan Sasak

Arief Rahzen by Arief Rahzen
November 3, 2025
in Esai
Arus Budaya di Selat Lombok: Jejak Akulturasi Bali dan Sasak

Lautan Bali-Lombok

PETA konvensional mengajarkan kita, bahwa daratan adalah panggung kehidupan, sementara lautan hanyalah bidang biru yang kosong. Lautan jadi batas. Bagi bangsa kepulauan, cara pandang ini kekeliruan fundamental. Sejarah nusantara tidak ditulis di atas tanah semata. Sejarah nusantara juga tergores di atas gelombang. Lautan bukanlah pemisah, melainkan halaman. Selat bukanlah penyekat, melainkan koridor yang sibuk. Gema “Jalesveva Jayamahe” dan visi “Poros Maritim Dunia” sejatinya bukanlah inovasi, melainkan sebuah restorasi identitas bahari yang nyaris terlupa.

Panggung yang tepat untuk menyaksikan drama maritim ini, yakni perairan antara Bali dan Lombok. Selat Lombok bukanlah garis ujung geografis bagi Bali atau gerbang awal bagi Lombok. Selat ini ialah sebuah panggung dinamis. Sebuah “arsip cair” tempat narasi bersama kedua pulau ditulis, ditentang, dan dirundingkan ulang selama berabad-abad. Ini medium yang sama, yang mengalirkan irama gamelan dan migrasi penduduk.

Nilai strategis Selat Lombok bersifat trans-historis. Geografinya adalah konstanta. Jauh sebelum era kapal tanker, selat ini sudah jadi urat nadi. Pelabuhan Ampenan di pesisir timur selat pernah menjadi jembatan niaga penting, tempat beras Lombok yang subur diekspor ke berbagai penjuru. Arus yang sama yang membawa para pedagang Muslim ke tanah Lombok.

Arus itu melayani siapa saja yang menguasai teknologi navigasi. Pada abad ke-17, Kerajaan Karangasem di Bali timur memanfaatkan koridor ini. Armada perang mereka menyeberang, mengubah peta politik dan demografi kedua pulau secara permanen. Laut yang membawa kemakmuran kini membawa pertarungan. Geografi Selat Lombok menjadi panggung di mana sejarah dimainkan: perdagangan, penyebaran agama, dan persaingan.

Interaksi Bali dan Lombok lahir dari sebuah paradoks fundamental: lahir dari target kemakmuran, kemudian pertarungan, namun dipertahankan melalui akulturasi. Kehadiran Karangasem bukanlah kedatangan tunggal, melainkan proses migrasi sistematis. Para pangeran, pendeta, prajurit, dan pengikut turut menetap. Dari rahim inilah benih-benih masyarakat hibrida yang unik mulai tumbuh.

Bukti fisik paling kuat dari perpaduan ini berdiri di Lingsar, Lombok Barat. Pura Lingsar bukanlah sekadar tempat ibadah. I Wayan Sumertha dalam Pura Lingsar dalam Pendekatan Teologi Hindu (2023) menjelaskan inilah monumen hidup, sebuah manifestasi arsitektural dari dialog filosofis yang telah berlangsung ratusan tahun.

Kompleks ini adalah metafora spasial dari hubungan kedua komunitas: “terpisah namun bersama”. Di bagian utara, Pura Gaduh menjadi tempat suci bagi umat Hindu Bali. Di bagian selatan, Kemaliq menjadi area keramat bagi pendukung Wetu Telu Sasak. Keduanya terpisah secara fungsional, namun dihubungkan oleh gerbang agung (Kori Agung) dan berbagi halaman luar (bencingah) yang sama.

Koeksistensi ini dimungkinkan secara teologis oleh Wetu Telu. Inilah sebuah penghayatan Islam yang sangat dipengaruhi tradisi lokal pra-Islam dan ajaran tasawuf. Filosofi intinya yang holistik dan komunal, yang menghargai tradisi leluhur, menciptakan “ruang izin” teologis. Ini memungkinkan komunitas Wetu Telu berpartisipasi dalam ritual bersama di ruang yang sama dengan umat Hindu.

Puncaknya di tradisi tahunan Perang Topat. Setelah upacara pujawali, ribuan warga Hindu dan Sasak saling melempar ketupat dalam suka cita. Ini drama sosial yang melepaskan ketegangan, melambangkan rasa syukur, dan menegaskan kembali ikatan komunal. Di Lingsar, batu-batu ditata menjadi arsitektur perdamaian, dan ketupat dilempar sebagai simbol persatuan.

Jika Lingsar jadi jiwa akulturasi, seni pertunjukan ialah tubuhnya. Kesenian menjadi laboratorium hibriditas (Susilo Edi Purwanto dan I Wayang Sutama, Akulturasi Genealogis Budaya Bali dan Sasak di Pulau Lombok, 2021).Tari Gandrung adalah contoh utama. Tarian ini menyeberang selat dari Jawa melalui Bali. Gandrung tiba di Lombok dengan membawa pakem (prinsip dasar) koreografi Bali. Namun, masyarakat Sasak mengadaptasinya. Gandrung di Lombok berevolusi dari tarian ritual kesuburan menjadi tarian pergaulan sosial yang hidup. Tari ini telah “didomestikasi”, diberi makna baru yang sesuai dengan pandangan dunia lokal.

Gema yang sama terdengar dalam musik. Ansambel Gendang Beleq Sasak secara eksplisit menggunakan instrumen yang jamak dalam gamelan Bali: gong, kempul, saron, dan reong (Erwin Prasetya, Kesenian Gendang Beleq, 2023). Namun, lagi-lagi, ini bukan peniruan. Masyarakat Sasak menempatkan sepasang gendang berukuran raksasa (beleq) sebagai pemimpin ansambel. Fokusnya bergeser dari jalinan melodi rumit Bali ke ritme yang menghentak dan bertenaga, mencerminkan fungsi historisnya sebagai musik penyemangat prajurit. Ini cerminan estetika lokal: semaiq (kesederhanaan) dan paut (kepantasan).

Arus Baru, Takdir yang Sama

Kini, laut terus menghubungkan Bali dan Lombok. Namun, arusnya telah bergeser. Kini, laut menghantarkan gelombang wisatawan global. Hubungan kontemporer ini jadi negosiasi yang kompleks antara warisan ketidakseimbangan kuasa di masa lalu dan takdir ekonomi bersama di masa kini.

Warisan persaingan terkadang masih menyisakan potensi ketegangan. Namun, kesadaran akan sejarah bersama juga mendorong upaya rekonsiliasi. Pertunjukan seni kolaboratif, di mana musisi Sasak dan Bali bermain bersama, menjadi medium kuat untuk mengubah modal budaya menjadi modal sosial. Dalam harmoni nada, perbedaan etnis melebur.

Secara historis, ekonomi dan pariwisata Lombok berkait dengan Bali. Krisis pariwisata di Bali, terasa di Lombok. Namun, keterkaitan ini juga membawa berkah. Tenaga kerja dan produk dari Lombok hadir di Bali. Sebaliknya, pengusaha dari Bali hadir di Lombok. Saling terkait. Keduanya terus bernegosiasi dengan identitas mereka dalam lanskap yang terus berubah ini.

Perjalanan melintasi Selat Lombok ialah perjalanan melintasi waktu. Selat ini terbukti agen sejarah yang aktif. Lautan memori. Di dalam arusnya tersimpan ingatan akan kapal-kapal, doa bersama dalam dua keyakinan, dan tawa suka cita Perang Topat. Setiap gelombang yang memecah di pantai kedua pulau adalah bisikan dari masa lalu yang kompleks, terjalin dari benang konflik dan harmoni.

Pada saat yang sama, lautan ini memegang harapan. Arus baru pariwisata dan dialog budaya terus membentuk identitas kedua pulau yang selamanya terikat oleh air. Kisah Bali dan Lombok adalah pengingat abadi: di negeri kepulauan, laut bukanlah batas. Inilah warisan, tantangan, dan, pada akhirnya, takdir bersama. [T]

Penulis: Arief Rahzen
Editor: Adnyana Ole

Tags: akulturasi budayabaliLombokSasak
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Mereka Membuka Akal dan Hati — Kata Pengantar Buku ‘Kuda Putih di Bali’

Next Post

Alienasi dan Luka Perempuan dalam Warna-Warna Sekunder —Catatan Pameran Tunggal Seni Rupa Digital, “Without Blue”, oleh Whyper

Arief Rahzen

Arief Rahzen

Pekerja budaya yang senang berpetualang. Ia juga peminat kajian seni budaya dan perubahan masyarakat di era digital. Sesekali menulis esai, belajar bercerita, dan kurasi aktivitas budaya.. Saat ini bolakbalik di Gianyar, Mataram, dan Jakarta.

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Alienasi dan Luka Perempuan dalam Warna-Warna Sekunder —Catatan Pameran Tunggal Seni Rupa Digital, “Without Blue”, oleh Whyper

Alienasi dan Luka Perempuan dalam Warna-Warna Sekunder —Catatan Pameran Tunggal Seni Rupa Digital, “Without Blue”, oleh Whyper

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co