BULELENG sudah kalah sejak awal. Ungkapan itu barangkali tepat diujarkan ketika melihat hasil-hasil juara lomba pada ajang Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali ke-32 tahun 2025 yang diselenggarakan di Taman Budaya Bali, Denpasar, 24–29 Oktober 2025.
Ada sejumlah hal yang membuat Buleleng bisa dikatakan merasa kalah sejak awal dalam ajang itu. Antara lain, jarak tempuh peserta yang cukup jauh dari Buleleng ke Denpasar dan juri yang didoninasi dari Bali selatan. Hal serupa mungkin dirasakan juga oleh peserta dari Karangasem dan Jembrana.
Untuk itulah, ajang Utsawa Dharma Gita perlu dievaluasi. Bukan karena takut kalah, tapi agar perlombaan-perlombaan di dalamnya terasa adil dan seimbang, sekaligus bisa meningkatkan harkat, martabat dan integritas dari lomba-lomba itu.
Evaluasi dan usulan-usulan untuk pelaksanaan UDG disampaikan Kepala Bidang Adat dan Tradisi Dinas Kebudayaan Buleleng Gede Angga Prasaja mewakili aspirasi peserta dan pembina di Buleleng.

Ada tiga hal yang ia evaluasi dan usulkan dalam pelaksaan UDG tahun 2025.
Pertama, mengenai tempat UDG. Selama ini ajang UDG dipusatkan di Denpasar, sehingga ada kesan ketidakadilan bagi peserta-peserta dari kabupaten yang jauh, seperti Buleleng, Karangasem dan Jembrana.
“Peserta dari Buleleng menempuh jarak yang jauh untuk ke Denpasar, sehingga sebelum bertanding, peserta sudah capek dan kelelahan,” kata Angga.
Karena kelelahan dan harus istirahat, kata Angga, peserta tak bisa melakukan latihan dan persiapan secara maksimal. “Latihan pun mereka tidak bisa nyaman,” katanya.
Untuk itu, Angga mengusulkan tempat pelaksanaan UDG itu dipindah-pindah, dan bukan hanya terpusat di Denpasar. Misalnya, tahun depan bisa dilaksanakan di Buleleng, Gianyar, atau Jembrana, atau kabupaten lain. “Itu seperti pelaksanaan Porprov,” ujar Angga.

Pelaksanaan UDG yang dipindah setiap tahunnya, menurut Angga, setidaknya memberikan rasa keadilan bagi para peserta. Jika pelaksanaannya di Jembrana, misalnya, peserta dari kabupaten lain bisa merasakan juga perjalanan dan menginap di Jembrana. Begitu juga jika dilaksanakan di Buleleng atau Karangasem.
Meski menginap di Denpasar, namun secara mental anak-anak dari kabupaten yang jauh sudah merasa tidak nyaman akibat kelelahan dan penyesuaian suasana. Apalagi jadwal UDG tahun 2025 ini cukup padat.
Angga mencontohkan, saat pembukaan UDG, anak-anak harus bangun jam 3 pagi, berhias, dan mempersiapkan diri mengikuti parade. Jam 7 pagi sudah harus di Taman Budaya untuk mengikuti gladi. Jam 9 pembukaan dimulai, selesai jam 12, lalu jam 13.30 sudah harus mulai lomba sampai sore. “Anak-anak dari Buleleng ini capek sekali, sehingga tak konsentrasi saat lomba,” katanya.
Saat acara pembukaan tanggal 24 Oktober itu, peserta dari Buleleng tiba di Denpasar sore kemarinnya. Lelah dalam perjalanan, dan hanya dapat istirahat sebentar saja pada malam hari, dan besoknya harus bangun jam 3 pagi. “Tak sempat mempersiapkan diri dengan baik,” kata Angga.
Untuk itu, Angga mengusulkan agar jadwal UDG tahun-tahun berikutnya diatur sedemikian rupa agar peserta bisa cukup istirahat dan mempersiapkan diri. “Sebaiknya acara pembukaan dilaksanakan tersendiri, lalu besoknya baru mulai lomba,” katanya.
Hal lain, kata Angga, saat acara pembukaan, peserta Buleleng memang tampak sedikit. Dengan alasan jarak cukup jauh, anak-anak yang ikut acara pembukaan adalah anak-anak yang ikut lomba pada hari itu. “Jadinya peserta Buleleng saat acara pembukaan tampak sedikit,” kata Angga.
Kedua, Angga mengusulkan juri-juri lomba diambil dari perwakilan setiap kabupaten di Bali, bukan juri-juri yang sebagian besar berasal dari Bali selatan. Usulan ini bukan karena peserta dan pembina dari Buleleng tidak percaya dengan juri-juri yang melakukan penilaian selama ini. “Saya sempat berdiskusi dengan peserta dan pembina, dan menemukan sejumlah alasan kenapa juri sebaiknya berasal dari daerah yang beragam,” ujar Angga yang juga dikenal sebagai musisi musik modern ini.
Alasan utama, karena pada bidang seni suara seperti geguritan dan kekawin, Bali memiliki pakem, gaya dan ragam yang berbeda-beda. Misalnya gaya Buleleng dalam geguritan atau kekawin, di bagian-bagian tertentu, tidak sama dengan pakem atau gaya dari kabupaten lain.
Sehingga, dengan hanya berpatokan pada penilaian juri dari daerah tertentu saja, maka ukuran yang dipakai menilai dikhawatirkan hanya ukuran dari daerah tertentu saja. “Jika begitu, Buleleng atau kabupaten lain, karena gayanya berbeda, bisa kalah sejak awal,” ujar Angga.
Ketiga, Angga mengusulkan, jika memang harus dilaksanakan di Denpasar, kenapa ajang ADG itu tidak digabungkan saja dengan Pesta Kesenian Bali (PKB). Pertimbangannya, jika dilaksanakan di PKB, peserta tentu akan lebih bersemangat karena penontonnya dipastikan akan ramai.
“Saat UDG tahun 2025 penonton lomba sangat sedikit. Apalagi, sejumlah lomba diadakan di kalangan yang pada siang hari sangat panas. Kasian peserta, sudah tak ada penonton, kepanasan lagi,” kata Angga.

Angga mengatakan, usualn dan evaluasi ini disampaikan bukan karena Buleleng takut kalah dalam ajang-ajang seperti ini. “Usulan dan evaluasi ini disampaikan murni agar ajang UDG ini bisa lebih baik, dan terus lebih baik,” kata Angga.
Seperti diketahui, dalam ajang UDG ini Kabupaten Badung keluar sebagai umum. Sementara Kabupaten Buleleng berhasil mendaparkan 13 juara meski sebagai besar berupa juara harapan.
Kabupaten Buleleng mengikuti seluruh kategori dengan total 28 peserta, yang mewakili 16 jenis lomba. Keikutsertaan ini merupakan hasil kolaborasi antara Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng, Widya Sabha Kabupaten dan Kecamatan, serta Kementerian Agama Kabupaten Buleleng.
Penghargaan-penghargaan itu adalah: juara tiga lomba menghafal sloka anak putri, juara hapan 3 untuk utsawa kidung, juara harapan 1 dharmawiwada, juara harapan 2 lomba kekawin dewasa putri, juara harapan 2 lomba membaca sloka remaja putra, dan juara harapan satu lomba palawakya dewasa putra.
Selain itu, juara 3 lomba dharmawacana Bahasa Inggris remaja putra, juara harapan 2 lomba menghafal sloka dewasa putri, juara harapan 3 lomba geguritan anak putri, juara 3 lomba kekawin dewasa putra, juara harapan 3 lomba geguritan anak putra, juara harapan 2 lomba dharmawacana bahasa Bali putri, dan juara 3 lomba dharmawacana Bahasa Bali dewasa putra. [T]
Reporter/Penulis: Adnyana Ole
Editor: Jaswanto



























