24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Melihat Sebuah Perjalanan Secara Holistik: Dari Istana ke Pencerahan

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
October 25, 2025
in Esai
Melihat Sebuah Perjalanan Secara Holistik: Dari Istana ke Pencerahan

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

KISAH Pangeran Siddhartha Gautama yang meninggalkan istana, istri, dan anak bayinya di tengah malam adalah sebuah narasi yang telah bergema selama ribuan tahun. Ia adalah fondasi dari salah satu jalan spiritual terbesar di dunia. Namun, bayangkan jika tetangga kita, seorang ayah muda dengan karier cemerlang, tiba-tiba melakukan hal yang persis sama—meninggalkan segalanya untuk mencari “pencerahan”. Bagaimana reaksi kita? Apakah kita akan memujinya atau mengutuknya? Kontras inilah yang mengajarkan kita pelajaran mendalam tentang arti melihat sebuah perjalanan—terutama perjalanan hidup yang transformatif—secara holistik, bukan hanya melalui potongan momen yang paling dramatis.

Drama dalam Gelembung: Konteks Sang Pangeran

Untuk memahami kepergian Siddhartha, kita harus berusaha masuk ke dalam gelembung kemewahannya. Ia bukan hanya kaya; ia hidup dalam sebuah kurungan yang dirancang sempurna. Ayahnya, Raja Suddhodana, secara sistematis melindunginya dari realitas dasar kehidupan: usia tua, sakit, dan mati. Ketika akhirnya ia menyaksikan ketiga penderitaan ini dalam “Empat Pertemuannya”, dampaknya bagaikan gempa bumi yang mengguncang fondasi jiwanya. Istana yang mewah tiba-tata berubah menjadi penjara yang menyesakkan.

Momen meninggalkan Yasodhara dan Rahula yang sedang tertidur adalah puncak dari ketegangan batin ini. Ini bukan tindakan seorang yang bebas rasa. Ini adalah ledakan dari seorang yang terpenjara oleh belas kasihnya sendiri. Cintanya pada keluarga adalah nyata, tetapi ia dihantui oleh sebuah visi yang lebih besar: bahwa suatu hari, orang yang dicintainya itu juga akan mengalami penuaan, penyakit, dan kematian. Ia tidak pergi dari mereka, tetapi untuk mereka—dan untuk semua makhluk—dalam upaya menemukan obat bagi penderitaan universal. Dalam narasi agung ini, “Kepergian Agung” (Mahabhinishkramana) bukanlah pelarian, melainkan sebuah misi penyelamatan yang penuh pengorbanan.

Lensa Modern: Ketika Misi Disalahtafsirkan sebagai Pengabaian

Sekarang, pindahkan adegan ini ke dunia modern. Seorang CEO muda, hidup dalam “istana” materialisme modern, tiba-tiba meninggalkan istri dan bayi yang baru lahir setelah mengalami krisis eksistensial. Reaksi kita, hampir dapat dipastikan, akan jauh berbeda.

Melalui lensa psikologi dan etika kontemporer, kita akan melihat:

  1. Pengabaian Tanggung Jawab: Komitmen tertinggi dalam masyarakat modern seringkali adalah keluarga inti. Meninggalkan anak yang sepenuhnya bergantung adalah pelanggaran terhadap kode etik parental yang kita pegang teguh.
  2. Egoisme Terselubung: Kita akan mempertanyakan motifnya. Apakah ini benar-benar pencarian spiritual, atau sekadar bentuk lari dari tekanan dan tanggung jawab sebagai suami dan ayah? Kita akan melihatnya sebagai ketidakdewasaan, bukan keberanian.
  3. Konsekuensi Nyata: Kita akan langsung membayangkan penderitaan psikologis yang dialami istri dan anak yang ditinggalkan. Trauma “ditinggalkan” akan menjadi narasi utama, sebuah luka yang mungkin tidak pernah sembuh.

Perspektif ini sah adanya dan didasarkan pada nilai-nilai yang kita junjung tinggi hari ini: tanggung jawab, kehadiran, dan stabilitas emosional bagi anak.

Menyatukan Potongan-Potongan yang Terpecah: Seni Melihat secara Holistik

Di sinilah letak inti refleksi kita. Mengapa kita memandang dua tindakan yang secara lahiriah mirip dengan cara yang begitu bertolak belakang? Jawabannya terletak pada kegagalan kita untuk melihat perjalanan hidup secara holistik.

Kita memandang kisah Siddhartha dari akhir cerita. Kita tahu bahwa perjalanannya tidak sia-sia; ia kembali sebagai Buddha, sang “Yang Telah Sadar”, membawa Dharma yang menjadi obat bagi jutaan manusia. Pengorbanan awalnya dibenarkan oleh kesuksesan akhirnya dan dampak universal yang ditimbulkannya. Narasinya sudah lengkap: Awal yang Penuh Gejolak – Proses Pencarian yang Sulit – Akhir yang Transformasional.

Sebaliknya, kita memandang tetangga kita yang melakukan hal serupa dari awal cerita. Kita tidak tahu akhirnya. Apakah ia akan menjadi Buddha baru, atau hanya menjadi seorang yang tersesat, merusak satu keluarga dan meninggalkan jejak penderitaan? Ketidakpastian ini membuat kita menghakimi berdasarkan momen “kepergian”-nya saja, tanpa melihat keseluruhan perjalanan yang belum terbentuk.

Holisme mengajarkan kita untuk tidak terpaku pada satu babak drama. Sebuah perjalanan harus dinilai dari:

  • Konteksnya: Tekanan psikologis ekstrem yang dialami Siddhartha dalam “penjara emas”-nya sangat berbeda dengan krisis kehidupan modern, sekalipun terlihat mirip.
  • Motivasinya: Apakah didorong oleh belas kasih universal yang tulus atau oleh keinginan untuk melarikan diri? (Meskipun, membedakan keduanya adalah hal yang sangat sulit).
  • Akhirnya: Apa hasil dari perjalanan itu? Apakah menghasilkan kebijaksanaan dan kebaikan bagi banyak orang, atau justru kehancuran?

Refleksi untuk Perjalanan Kita Masing-Masing

Pada akhirnya, pelajaran terbesar bukan tentang apakah kita boleh meniru Siddhartha. Dalam dunia modern, hampir mustahil tindakannya dapat dibenarkan secara literal. Pelajarannya adalah tentang bagaimana kita menilai perjalanan hidup—baik milik orang lain maupun milik kita sendiri.

Kita sering kali terburu-buru menghakimi satu tindakan dramatis seseorang tanpa memahami keseluruhan konteks, pergumulan batin, dan tujuan akhir dari perjalanannya. Kita memotong sebuah frame dari film yang panjang dan menyimpulkan seluruh ceritanya.

Mungkin, warisan terbesar dari kisah kepergian Siddhartha adalah undangan untuk melihat lebih dalam: untuk berempati pada pergulatan batin yang kompleks, untuk memahami bahwa sebuah perjalanan spiritual atau transformasi personal seringkali dimulai dengan sebuah lompatan yang—dari luar—terlihat gila atau egois. Dengan melihat secara holistik, kita tidak hanya menjadi lebih bijak dalam menilai kisah orang lain, tetapi juga lebih sabar dan memahami dalam menjalani babak-babak gelap dan tidak pasti dalam perjalanan transformasi kita sendiri. Karena pada hakikatnya, setiap jiwa sedang dalam perjalanan meninggalkan “istana” kenyamanan lamanya untuk menemukan kebenaran yang lebih dalam.[T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: BudharefleksiSpiritual
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mental Lembek Para Pelaku Perundungan

Next Post

Filla Rilis “3”: Lagu Penyesalan dan Cinta yang Tertinggal dari Unit Rock Tunanetra asal Bali

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
0
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

Read moreDetails

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails
Next Post
Filla Rilis “3”: Lagu Penyesalan dan Cinta yang Tertinggal dari Unit Rock Tunanetra asal Bali

Filla Rilis “3”: Lagu Penyesalan dan Cinta yang Tertinggal dari Unit Rock Tunanetra asal Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co