JANGAN remehkan seorang perempuan muda yang setia tinggal di desa, sejak lahir hingga jadi mahasiswa. Ia bisa menciptakan sesuatu yang barangkali tak pernah dipikirkan oleh orang-orang yang hidup di kota.
Mari kenalkan, Ni Made Bintang Handayani. Ia lahir 3 September 2004 di Dusun Luahan, Desa Belantih, Kintamani, Bangli. Dan, sejak lahir hingga kini jadi mahasiswa, ia tinggal di desa tempat ia lahir. Dan, dengan begitu, ia bisa mengamati dengan leluasa ceruk-ceruk desanya sendiri.
Dan ia memang suka mengamati sesuatu, lalu memikirkannya, lalu menciptakan gagasan-gagasan baru. Ia mengamati desanya sendiri, dan ia tahu apa yang harus dipikirkan, apa yang harus dikerjakan.
Bintang, begitu ia dipanggil, memang membuat orang tuanya, I Wayan Selamat dan Ni Wayan Sukarini, bangga dan bahagia. Sejak kecil ia suka mengamati biji kopi, lalu memikirkannya dengan cermat. Syahdan, ia lantas menciptakan makanan khas yang barangkali tak dipikirkan orang; teh, brownies, kripik, dan menu pangan lain dari olahan kulit kopi.

Dari gagasan itu Bintang kemudian mendirikan unit usaha bernama KINTARA. Itu singkatan dari Kintamani Cascara. Ia sendiri manjadi owner sejak 2023. Dan atas usaha yang dirintisnya itu, ia berhasil memenangkan penghargaan Pemuda Pelopor Desa Bidang Kewirausahaan 2025 tingkat Provinsi Baqli dan nasional. Di sisi lain, menu makanan yang dibuat dengan olahan kulit kopi makin dikenal, makin laris, makin dicari-cari.
Tumbuh dan Besar di Lingkungan Petani Kopi
Bintang Handayani, kini mahasiswa aktif semester 5 jurusan PGSD Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar. Di sela-sela kesibukannya sebagai mahasiswa, ia tetap konsentrasi mengurus usahanya, sekaligus terus melakukan riset untuk menciptakan menu-menu pangan yang baru, yang sesuai dengan selera pasar.
Untuk urusan kerja keras, Bintang tak pernah menyerah. Belajar sembari menjadi wirausaha bukanlah hal yang sulit ia jalankan. Sedari kecil ia memang dikenal sebagai perempuan yang tak suka diam. Selalu kreatif, selalu bergerak.
Apalagi, sedari kecil Bintang tumbuh dan besar di lingkungan petani kopi yang sebagian besar dikenal sebagai pekerja keras. Jiwa pekerja keras dari petani-petani kopi itu menular pada dirinya.
“Di Banjar Luahan, Desa Belantih, kopi arabika memang sudah terkenal hingga kancah internasional,” kata Bintang mulai menjelaskan tentang desanya.

Di Banjar Luahan terdapat Kelompok Tani (Poktan) Dharma Kriya yang mengolah kopi dari sektor hulu ke hilir. Dari poktan inilah Bintang mengetahui bahwa kulit kopi selama ini hanya dijadikan pupuk kompos, atau kadang dibuang begitu saja tanpa diolah.
“Nah, dari proses penggilingan kopi ini terdapat limbah kulit kopi yang kadang dibuang begitu saja,” kata Bintang.
Limbah kulit kopi yang tidak diolah itu menimbulkan aroma tak enak jika dibiarkan begitu saja. Untuk itulah, Bintang terus berpikir bagaimana cara mengolah kulit kopi itu, mau dijadikan apa, bisa berguna untuk apa. Ia terus berpikir.
Bintang kemudian berusaha mencari tahu apakah kulit kopi itu bisa dimakan atau tidak. Jika bisa dimakan, apakah kulit kopi berkhasiat. Kemudian, dari sumber-sumber terpercaya ia tahu ternyata kulit kopi memang bisa dikonsumsi dan juga memiliki kandungan antioksidan yang baik bagi tubuh dan juga tinggi dengan serat.
Tak hanya itu kulit kopi ini sering disebut dengan cascara yang dalam bahasa Spanyol artinya kulit kopi kering. Dari situlah berawal proyek penting Bintang yang diberi judul “Transformasi Kulit Kopi ke Dalam Olahan Pangan Berkelanjutan Bersama Kintara Home Industri”.


Kintara Home Industri pun ia dirikan sebagai rumah produksi untuk pengolahan kulit kopi. Kintara Home Industri merupakan gabungan dari tiga organisasi, yakni Poktan Dharma Kriya sebagai sumber untuk mendapatkan kulit kopi, Kelompok Wanita Tani (KWT) Widya Pertiwi yang melakukan proses produksi olahan kopi, dan Sekaa Teruna (ST) Yowana Dharma Wacitwa yang melakukan promosi untuk produk yang dibuat.
Maka sibuklah kemudian Bintang untuk meramu berbagai menu, mencoba-coba dan mencicipi, sampai menemukan cita rasa yang enak dan layak dikonsumsi. Itu dilakukan berulang-ulang kali. Sampai akhirnya ia bisa menciptakan empat buah produk olahan kulit kopi.
Empat produk itu adalah Fudgy Brownies Cascara, Brownies Cascara Crispy, Teh Cascara, dan Kripik Cascara Suna Cekuh.


“Kripik cascara suna cekuh ini sedang booming di kalangan masyarakat karena Bintang membuat perpaduan antara cascara (kulit kopi) dengan bumbu ciri khas Bali yaitu suna cekuh) sehingga menghasilkan rasa yang memiliki ciri khas dari kripik lainnya,” ujar Bintang.
Produk-produk yag dibuat itu kini sudah memiliki NIB, PIRT dan sertifikat halal. Produk itu dipasarkan secara online, melalui media sosial, dan juga dijual secara offline.
Pemuda Pelopor Desa
Lalu, bagaimana kisahnya Bintang terpilih jadi Pemuda Pelopor Desa?
Tahun 2025, tepatnya di bulan Maret, Bintang diperkenalkan dengan salah satu pembina Pemuda Pelopor oleh temannya, I Wayan Juli. Pembina itu adalah Ni Putu Ayu Hervina Sanjayanti.
Ayu Hervina adalah dosen sekaligus Pemuda pelopor yang hingga sekarang masih aktif mendampingi calon-calon Pemuda Pelopor selanjutnya.

Ia juga dikenalkan Pemuda Pelopor Nasional yaitu Kadek Angga Wahyu Pradana. Ia merupakan juara pemuda pelopor nasional yang memberikan masukan dan berbagi pengalaman kepada Bintang tentang bagaimana itu pemuda pelopor.
Bintang juga kenal dengan I Komang Edi Juliana yang kemudian memberikan Bintang gambaran tentang bagaimana Pemuda Pelopor Bidang Pangan. Edi Juliana merupakan juara Pemuda Pelopor bidang pangan tahun 2024 tingkat Provinsi Bali yang juga berkaitan dengan Pemuda Pelopor Bidang Kewirausahaan.
“Dari sana saya disarankan untuk ikut ajang Pemuda Pelopor Desa yang di selenggarakan oleh Kemenpora dan Kemendes Republik Indonesia,” kata Bintang.
Ia kemudian mengikuti ajang Pemuda Pelopor Bidang Kewirausahaan dengan membawakan materi Tranformasi Kulit Kopi (Cascara) : Olahan Pangan Berkelanjutan Untuk UMKM Desa Belantih bersama Kintara Home Industri.
“Kemudia saya mengikuti seleksi administrasi hingga wawancara. Dan hasil akhir menunjukkan bahwa saya dinyatakan sebagai winner Pemuda Pelopor Desa tahun 2025 dengan bersaing dengan pemuda-pemuda hebat di seluruh Indonesia,” ujar Bintang.
Atas semua keberhasilan itu, Bintang sangat berterima kaksih kepada keluarga, terutama orang tuanya, I Wayan Selamat dan Ni Wayan Sukarini, yang sudah memberi ruang, rumah, dan tempat mengadu pada proses naik turunnya fase pada saat perlombaan.

Selain orang tua, Bintang juga mendapat dukungan penuh dari kakak dan adiknya. Menurut Bintang, I Wayan Gangga Bhuana sebagai seorang kakaknya terus meyakinkannya bahwa “Kamu Pasti Bisa”.
Adik Bintang juga selalu menghiburnya di kala ia hampir menyerah dengan selalu bilang, “Kakak Hebat Ayo Semangat Terus”.
“Oh ya, adik sepupu saya Luh Diah Intan Rahayu juga mendukung saya saat susah maupun senang,” ujar Bintang dengan bersemangat.
Selamat, Bintang! [T]
Reporter/Penulis: Adnyana Ole
Editor: Jaswanto



























