2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bukan Saja Tentang Bertahan, Namun Kembali ke Dalam Ajaran Spiritual untuk Mengatasi Penderitaan Diri

Putu Ayu Sunia Dewi by Putu Ayu Sunia Dewi
October 22, 2025
in Esai
Dewata Kusayang, Dewataku Malang: Bali yang Digempur Kapitalisme

Putu Ayu Sunia Dewi

DALAM dunia yang selalu berubah dan penuh dengan tuntutan, mudah sekali bagi kita untuk tersesat dalam identitas semu. Kita mengira bahwa kita hanyalah peran yang kita mainkan, sebagai seorang karyawan, orang tua, atau pasangan yang selalu saja berada diantara suka dan duka, terkadang kita harus berpura-pura agar memberi suka bagi orang lain namun duka bagi kita jika kita gagal dalam memenuhi ekspektasi orang lain.

Di dunia yang fana sampai sang khalik memanggil  untuk kembali, kita memang melekat pada tubuh yang rentan akan penderitaan yang mendalam yang diberikan oleh diri sendiri maupun orang lain yang justru menjebak kita dalam hidup yang seperti roller-coaster.

Mudah bagi orang lain untuk berkata cobalah untuk bertahan, mengerti, memaafkan, dan berbagai nasehat bijak lainnya sampai ada yang berkata “hidup tidak semudah bacot motivator”, memang benar adanya karena persoalan  penyembuhan, melepaskan, dan memaafkan adalah proses yang tidak terjadi begitu saja dalam semalam.

Kadang-kadang penyembuhan, melepaskan, dan memaafkan butuh berbulan-bulan, kadang bertahun-tahun, dan dalam kasus ekstrem, beberapa orang bahkan tidak pernah benar-benar menemukan kedamaian sampai berujung pada upaya-upaya ekstrim yang membahayakan hidupnya.

 Dengan berbagai tragedi bunuh diri dan masalah kesehatan mental, baik yang terjadi Bali maupun seantero Negeri, sudah tentu menjadi pertanda ada yang tidak beres dalam masyarakat kita yang katanya menuju emas itu yang justru semakin dilanda oleh berbagai Krisis multidimensional salah satunya adalah krisis spiritual.

 Meskipun fakta objektif menyatakan dan memperlihatkan masyarakat kita masih percaya dengan agama namun memahami agama hanya sebatas ritual harian, seremonial, dan  identitas bahkan kadangkala tergiring  keranah politik elektoral dan perebutan follower  yang penuh muslihat,   sudah tentu menjadikan agama itu sendiri  jauh dari fungsinya sebagai penyedia solusi bagi manusia yang kehilangan makna ditengah arus modernitas  yang semakin terasing dengan sang khalik.

Akibat keterasingan dengan ajaran agama ini kita bukan saja gagal menjadi pribadi yang mendekati baik dan benar,  namun sampai menyadari adanya hukum sebab akibat yang ada didalam semua agama  yang jika di dalam ajaran dharma, baik Hindu maupun Budha dikenal sebagai karma yang terbagi kedalam karma baik dan karma buruk yang akan  memunculkan efek berbeda terhadap diri kita sendiri, orang lain, dan alam semesta.  

Ketidaksadaran kita terhadap karma yang bakal berbuah baik dan buruk itu bukan semata-mata karena ketidaktahuan yang seharusnya  merupakan tanggung jawab kita untuk mencari tahu apalagi bagi yang sudah mengenal konsepsi itu. Namun lebih dikarenakan faktor  kesengajaan, yang akhirnya menciptakan situasi atau keadaan dunia seperti sekarang.

Padahal dengan menyadari konsepsi dan praktik karma,  kita dapat menghilangkan segala bentuk penderitaan atau kesedihan dalam kehidupan saat ini, mengubah masa depan kita serta dunia, agar menjadi lebih baik dan positif, merasakan hasil positif dari upaya spiritual kita, dan memahami semua tentang “mengapa”, “bagaimana”, “apa”, dan “kapan” yang mengelilingi kehidupan kita.

Spiritualitas yang diabaikan namun dibutuhkan

Spiritualis, diksi yang oleh sebagian orang dikatakan dekat dengan logika mistik sebenarnya adalah esensi dari agama itu sendiri, persoalan berbagai Praktik spiritual yang jauh dari akal sehat bahkan berujung kriminalitas sudah tentu bukan praktik spiritual itu sendiri.  karena prinsip utama dari praktik spiritual adalah menyadari ajaran agama yang kita anut  dengan penuh makna termasuk berani merangkul, mengakui, dan mencari jalan bagi keseimbangan antara yang spirit (ruh) dan fisik yang ringkih.

Jika kita ingin diri kita bertransformasi kearah yang lebih baik, sudah tentu harus melibatkan yang spiritual karena keduanya akan membentuk perjalanan batin yang mendalam, yang tidak hanya mengubah cara kita memandang dunia, tetapi juga cara kita memahami diri sendiri. Perjalanan yang kemudian melibatkan pelepasan keyakinan yang membatasi, penyembuhan luka masa lalu, dan kebangkitan menuju kebenaran yang lebih dalam. Seiring kita berevolusi secara spiritual, transformasi menjadi jalan sekaligus hasil, membimbing kita menuju kejelasan, tujuan, dan kedamaian batin yang lebih besar.

Namun bagaimana langkah sederhana untuk kembali ke yang spiritual, dalam perspektif Hindu , untuk kembali ke yang spiritual maka kita perlu mengingat di balik semua gelombang kehidupan yang naik-turun, suka dan duka, untung dan rugi sebenarnya mengalir sebuah arus yang lebih dalam, yaitu Sang Diri Sejati (Atman).

Secara spiritual , diri kita  ini bersifat abadi, tak berubah, dan utuh, bagaikan samudera yang tetap ada di bawah permukaan ombak yang gelisah. Kesedihan yang kita rasakan mungkin seperti ombak yang dahsyat, tetapi kesedihan yang seperti ombak itu  tidak dapat mengubah atau mencemari kedalaman samudera diri kita yang sesungguhnya. Untuk mengenal Atma dan membuka pengetahuan spiritual, ajaran Hindu menganjurkan empat jalan utama diantaranya jnana yoga (pengetahuan melalui introspeksi diiringi dengan studi terhadap kitab suci untuk membedakan ilusi dari realitas Atma), bhakti yoga (cinta dan penyerahan diri kepada Tuhan melalui doa dan nyanyian seperti dalam Bhagavad Gita), karma yoga (tindakan tanpa pamrih untuk membersihkan pikiran), serta raja yoga (meditasi dan pengendalian nafsu untuk mencapai kesadaran batin).

Untuk melakukan empat jalan utama itu ,menurut Jiddu Khrisnamurti, mulailah dengan keyakinan pada diri sendiri, berani untuk meras kepuasan batin, dan lakukan pengorbanan ego, sambil menyelaraskan pikiran serta tindaka  dalam setiap pekerjaan. tidak peduli pekerjaan apa pun, asal akarnya Atma, hasilnya adalah kedamaian. Dengan praktek tekun ini, kita tidak hanya mengurangi beban masa lalu dan penderitaan saat ini, tapi juga mengubah masa depan menjadi lebih positif, sebagaimana yang  Gita ajarkan bahwa Atma tak pernah lahir atau mati, melainkan abadi.

Langkah berikutnya adalah melawan segala delusi dan ilusi, dalam ajaran Shiva Agama, delusi atau ilusi muncul karena kita tidak paham dengan unsur-unsur dasar (tattva) seperti kalā dan yang lainnya. Unsur-unsur ini membentuk tubuh kita dan sering menyebabkan penderitaan serta ikatan jiwa yang kuat. Kita sering salah mengira unsur-unsur itu sebagai “diri sejati” kita, padahal sebenarnya itu hanya bagian dari dunia material yang membatasi kita. Ikatan ini mulai kuat sejak dari kalā ke bawah, dan untuk merasakan spiritualitas yang lebih tinggi, kita harus melewati batas kalā ini seperti melompati pagar yang menghalangi.Kalā sendiri adalah unsur dasar yang disebut sebagai “kekuatan aksi terbatas”.

Bayangkan seperti pagar di pikiran kita yang membuat kita merasa kemampuan bertindak, berpikir, atau bergerak di dunia ini sangat sempit—seolah kita hanya “potongan kecil” dari sesuatu yang besar, bukan bagian dari yang tak terbatas seperti Shiva. Kalā ini adalah titik awal di mana ilusi mulai mengikat jiwa kita ke dunia nyata yang penuh batasan, menyebabkan penderitaan karena kita lupa esensi ilahi kita. Untuk naik ke kesadaran yang lebih luas, seperti menyadari Brahman yang ada di mana-mana, kita perlu melampaui kalā melalui latihan spiritual seperti meditasi.

Tapi hati-hati, bahkan orang yang sudah sadar bisa tergelincir kembali jika tidak hati-hati.Dari sudut pandang filsafat Hindu, terutama Shaiva Siddhanta, konsep ini mengajarkan bahwa ilusi (māyā) datang dari ketidaktahuan (avidyā) terhadap 36 unsur dasar realitas. Kalā sebagai unsur ke-36 adalah batas antara dunia material yang penuh ikatan dan kesadaran murni yang justru membuat kita melihat dunia sebagai nyata padahal itu ilusi yang menutupi kebenaran.

Yang termasuk unsur 36 itu  mencakup lima unsur murni (śuddha tattva) seperti Śiva (kesadaran mutlak), Śakti (energi ilahi), Sadāśiva (kehendak ilahi), Īśvara (pengetahuan ilahi), dan Śuddhavidyā (kebijaksanaan murni); diikuti tujuh unsur campuran (śuddha-aśuddha) termasuk Māyā (ilusi), Puruṣa (jiwa), Prakṛti (alam material), serta lima selubung pembatas (kañcuka) seperti Kalā (keterbatasan aksi), Vidyā (pengetahuan terbatas), Rāga (keinginan), Kāla (waktu), dan Niyati (nasib); lalu 24 unsur tidak murni (aśuddha tattva) yang mirip dengan filsafat Sāṃkhya, yaitu Buddhi (intelek), Ahaṅkāra (ego), Manas (pikiran), lima jñānendriya (indera pengetahuan seperti pendengaran, sentuhan, penglihatan, pengecap, penciuman), lima karmendriya (organ aksi dari  bicara, tangan, kaki, ekskresi, reproduksi), lima tanmātra (elemen halus: suara, sentuhan, bentuk, rasa, bau), dan lima mahābhūta (elemen kasar: eter, udara, api, air, tanah) yang kesemua ini membentuk lapisan realitas dari yang ilahi hingga fisik, membantu kita memahami bagaimana jiwa terikat dan cara melepaskannya melalui kesadaran bertahap.

Perjalanan spiritual adalah naik kembali melalui unsur-unsur ini menuju penyatuan dengan Shiva, melepaskan ego dan batasan palsu untuk mencapai pembebasan (moksha). Praktik sehari-hari seperti refleksi diri dan pengabdian (bhakti) membantu kita menjaga keseimbangan, agar tidak jatuh kembali ke pola pikir terbatas. Oleh karena itu dalam Hindu, kita diajarkan tentang  Svadharma yang  menekankan bahwa setiap orang memiliki kontribusi unik untuk ditawarkan kepada dunia,  yang tujuannya untuk menemukan pemenuhan pribadi dan melayani harmoni kosmis yang lebih besar.

Mengatasi godaan bunuh diri dan problematika kesehatan mental dari perspektif Hindu

Di dalam Ajaran spiritual Hindu mengajak kita melihat penderitaan, termasuk godaan bunuh diri, sebagai ilusi sementara dari dunia yang rapuh. Jiwa kita, Atma, adalah percikan Brahman yang abadi dan penuh sukacita, bebas dari siklus lahir-mati. Ketika lupa akan ini, pikiran menjadi musuh yang membesar-besarkan kegagalan dan rasa tak berharga, menjadikan hidup seperti penjara. Bunuh diri dan melakukan hal negatif untuk mengatasi masalah mental  hanyalah pelarian palsu karena pembebasan sejati dari masalah mental  datang dari mengenali Atma

.Oleh karena itu diperlukan penerapan dari  empat pilar dengan cara tenggelam dalam kebahagiaan jiwa melalui meditasi sederhana untuk melunakkan hati depresi; kembangkan pandangan batin dan keyakinan kesatuan dengan sang khalik, yang  didukung keterhubungan dengan komunitas yang membawa energy positif ;  sadari segala sesuatu adalah Brahman, sehingga pilu hanyalah guru sementara yang membangun penerimaandan terapkan dalam rutinitas harian dengan kejujuran diri, doa damai, cinta pada sesama, dan tolak pikiran destruktif.

Dalam Bhagavad Gita, melalui dialog Krishna-Arjuna,  sebenarnya menawarkan hikmah lembut untuk bangkit dari keputusasaan Pertama, pahami keabadian jiwa (Gita 2.20): jiwa tak lahir-mati, masalah hanyalah angin lalu ; lakukan tugas tanpa terikat hasil (Gita 2.47): fokus  pada usaha, serahkan sisanya pada Tuhan, meringankan beban kegagalan; ajak teman berbagi cerita santai untuk saling bantu . rangkul diri sendiri (Gita 6.5) karena jiwa adalah sahabat, lawan pikiran negatif dengan catatan syukur harian, dan dengarkan empati saat menolong orang lain. Dan selanjutnya serahkan segalanya pada Tuhan (Gita 18.66). [T]

Penulis: Putu Ayu Sunia Dewi
Editor: Adnyana Ole

Tags: agamaSpiritual
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bintang Handayani, Pemuda Pelopor dari Kintamani yang Menyulap Kulit Kopi Jadi Brownies

Next Post

Lima Media Buka Rahasia Bisnisnya di IDC AMSI 2025

Putu Ayu Sunia Dewi

Putu Ayu Sunia Dewi

Mahasiswa S2 di dua perguruan tinggi yaitu Politeknik Negeri Bali mengambil konsentrasi bisnis digital dan Inti International College Malaysia mengambil jurusan informasi teknologi. Saat ini terlibat aktif di Perhimpunan Pelajar Indonesia sebagai ketua departemen sumber daya manusia PPI TV . Penulis dapat dihubungi di putuayusuniadewi@gmail.com

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Lima Media Buka Rahasia Bisnisnya di IDC AMSI 2025

Lima Media Buka Rahasia Bisnisnya di IDC AMSI 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co