14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bukan Saja Tentang Bertahan, Namun Kembali ke Dalam Ajaran Spiritual untuk Mengatasi Penderitaan Diri

Putu Ayu Sunia Dewi by Putu Ayu Sunia Dewi
October 22, 2025
in Esai
Dewata Kusayang, Dewataku Malang: Bali yang Digempur Kapitalisme

Putu Ayu Sunia Dewi

DALAM dunia yang selalu berubah dan penuh dengan tuntutan, mudah sekali bagi kita untuk tersesat dalam identitas semu. Kita mengira bahwa kita hanyalah peran yang kita mainkan, sebagai seorang karyawan, orang tua, atau pasangan yang selalu saja berada diantara suka dan duka, terkadang kita harus berpura-pura agar memberi suka bagi orang lain namun duka bagi kita jika kita gagal dalam memenuhi ekspektasi orang lain.

Di dunia yang fana sampai sang khalik memanggil  untuk kembali, kita memang melekat pada tubuh yang rentan akan penderitaan yang mendalam yang diberikan oleh diri sendiri maupun orang lain yang justru menjebak kita dalam hidup yang seperti roller-coaster.

Mudah bagi orang lain untuk berkata cobalah untuk bertahan, mengerti, memaafkan, dan berbagai nasehat bijak lainnya sampai ada yang berkata “hidup tidak semudah bacot motivator”, memang benar adanya karena persoalan  penyembuhan, melepaskan, dan memaafkan adalah proses yang tidak terjadi begitu saja dalam semalam.

Kadang-kadang penyembuhan, melepaskan, dan memaafkan butuh berbulan-bulan, kadang bertahun-tahun, dan dalam kasus ekstrem, beberapa orang bahkan tidak pernah benar-benar menemukan kedamaian sampai berujung pada upaya-upaya ekstrim yang membahayakan hidupnya.

 Dengan berbagai tragedi bunuh diri dan masalah kesehatan mental, baik yang terjadi Bali maupun seantero Negeri, sudah tentu menjadi pertanda ada yang tidak beres dalam masyarakat kita yang katanya menuju emas itu yang justru semakin dilanda oleh berbagai Krisis multidimensional salah satunya adalah krisis spiritual.

 Meskipun fakta objektif menyatakan dan memperlihatkan masyarakat kita masih percaya dengan agama namun memahami agama hanya sebatas ritual harian, seremonial, dan  identitas bahkan kadangkala tergiring  keranah politik elektoral dan perebutan follower  yang penuh muslihat,   sudah tentu menjadikan agama itu sendiri  jauh dari fungsinya sebagai penyedia solusi bagi manusia yang kehilangan makna ditengah arus modernitas  yang semakin terasing dengan sang khalik.

Akibat keterasingan dengan ajaran agama ini kita bukan saja gagal menjadi pribadi yang mendekati baik dan benar,  namun sampai menyadari adanya hukum sebab akibat yang ada didalam semua agama  yang jika di dalam ajaran dharma, baik Hindu maupun Budha dikenal sebagai karma yang terbagi kedalam karma baik dan karma buruk yang akan  memunculkan efek berbeda terhadap diri kita sendiri, orang lain, dan alam semesta.  

Ketidaksadaran kita terhadap karma yang bakal berbuah baik dan buruk itu bukan semata-mata karena ketidaktahuan yang seharusnya  merupakan tanggung jawab kita untuk mencari tahu apalagi bagi yang sudah mengenal konsepsi itu. Namun lebih dikarenakan faktor  kesengajaan, yang akhirnya menciptakan situasi atau keadaan dunia seperti sekarang.

Padahal dengan menyadari konsepsi dan praktik karma,  kita dapat menghilangkan segala bentuk penderitaan atau kesedihan dalam kehidupan saat ini, mengubah masa depan kita serta dunia, agar menjadi lebih baik dan positif, merasakan hasil positif dari upaya spiritual kita, dan memahami semua tentang “mengapa”, “bagaimana”, “apa”, dan “kapan” yang mengelilingi kehidupan kita.

Spiritualitas yang diabaikan namun dibutuhkan

Spiritualis, diksi yang oleh sebagian orang dikatakan dekat dengan logika mistik sebenarnya adalah esensi dari agama itu sendiri, persoalan berbagai Praktik spiritual yang jauh dari akal sehat bahkan berujung kriminalitas sudah tentu bukan praktik spiritual itu sendiri.  karena prinsip utama dari praktik spiritual adalah menyadari ajaran agama yang kita anut  dengan penuh makna termasuk berani merangkul, mengakui, dan mencari jalan bagi keseimbangan antara yang spirit (ruh) dan fisik yang ringkih.

Jika kita ingin diri kita bertransformasi kearah yang lebih baik, sudah tentu harus melibatkan yang spiritual karena keduanya akan membentuk perjalanan batin yang mendalam, yang tidak hanya mengubah cara kita memandang dunia, tetapi juga cara kita memahami diri sendiri. Perjalanan yang kemudian melibatkan pelepasan keyakinan yang membatasi, penyembuhan luka masa lalu, dan kebangkitan menuju kebenaran yang lebih dalam. Seiring kita berevolusi secara spiritual, transformasi menjadi jalan sekaligus hasil, membimbing kita menuju kejelasan, tujuan, dan kedamaian batin yang lebih besar.

Namun bagaimana langkah sederhana untuk kembali ke yang spiritual, dalam perspektif Hindu , untuk kembali ke yang spiritual maka kita perlu mengingat di balik semua gelombang kehidupan yang naik-turun, suka dan duka, untung dan rugi sebenarnya mengalir sebuah arus yang lebih dalam, yaitu Sang Diri Sejati (Atman).

Secara spiritual , diri kita  ini bersifat abadi, tak berubah, dan utuh, bagaikan samudera yang tetap ada di bawah permukaan ombak yang gelisah. Kesedihan yang kita rasakan mungkin seperti ombak yang dahsyat, tetapi kesedihan yang seperti ombak itu  tidak dapat mengubah atau mencemari kedalaman samudera diri kita yang sesungguhnya. Untuk mengenal Atma dan membuka pengetahuan spiritual, ajaran Hindu menganjurkan empat jalan utama diantaranya jnana yoga (pengetahuan melalui introspeksi diiringi dengan studi terhadap kitab suci untuk membedakan ilusi dari realitas Atma), bhakti yoga (cinta dan penyerahan diri kepada Tuhan melalui doa dan nyanyian seperti dalam Bhagavad Gita), karma yoga (tindakan tanpa pamrih untuk membersihkan pikiran), serta raja yoga (meditasi dan pengendalian nafsu untuk mencapai kesadaran batin).

Untuk melakukan empat jalan utama itu ,menurut Jiddu Khrisnamurti, mulailah dengan keyakinan pada diri sendiri, berani untuk meras kepuasan batin, dan lakukan pengorbanan ego, sambil menyelaraskan pikiran serta tindaka  dalam setiap pekerjaan. tidak peduli pekerjaan apa pun, asal akarnya Atma, hasilnya adalah kedamaian. Dengan praktek tekun ini, kita tidak hanya mengurangi beban masa lalu dan penderitaan saat ini, tapi juga mengubah masa depan menjadi lebih positif, sebagaimana yang  Gita ajarkan bahwa Atma tak pernah lahir atau mati, melainkan abadi.

Langkah berikutnya adalah melawan segala delusi dan ilusi, dalam ajaran Shiva Agama, delusi atau ilusi muncul karena kita tidak paham dengan unsur-unsur dasar (tattva) seperti kalā dan yang lainnya. Unsur-unsur ini membentuk tubuh kita dan sering menyebabkan penderitaan serta ikatan jiwa yang kuat. Kita sering salah mengira unsur-unsur itu sebagai “diri sejati” kita, padahal sebenarnya itu hanya bagian dari dunia material yang membatasi kita. Ikatan ini mulai kuat sejak dari kalā ke bawah, dan untuk merasakan spiritualitas yang lebih tinggi, kita harus melewati batas kalā ini seperti melompati pagar yang menghalangi.Kalā sendiri adalah unsur dasar yang disebut sebagai “kekuatan aksi terbatas”.

Bayangkan seperti pagar di pikiran kita yang membuat kita merasa kemampuan bertindak, berpikir, atau bergerak di dunia ini sangat sempit—seolah kita hanya “potongan kecil” dari sesuatu yang besar, bukan bagian dari yang tak terbatas seperti Shiva. Kalā ini adalah titik awal di mana ilusi mulai mengikat jiwa kita ke dunia nyata yang penuh batasan, menyebabkan penderitaan karena kita lupa esensi ilahi kita. Untuk naik ke kesadaran yang lebih luas, seperti menyadari Brahman yang ada di mana-mana, kita perlu melampaui kalā melalui latihan spiritual seperti meditasi.

Tapi hati-hati, bahkan orang yang sudah sadar bisa tergelincir kembali jika tidak hati-hati.Dari sudut pandang filsafat Hindu, terutama Shaiva Siddhanta, konsep ini mengajarkan bahwa ilusi (māyā) datang dari ketidaktahuan (avidyā) terhadap 36 unsur dasar realitas. Kalā sebagai unsur ke-36 adalah batas antara dunia material yang penuh ikatan dan kesadaran murni yang justru membuat kita melihat dunia sebagai nyata padahal itu ilusi yang menutupi kebenaran.

Yang termasuk unsur 36 itu  mencakup lima unsur murni (śuddha tattva) seperti Śiva (kesadaran mutlak), Śakti (energi ilahi), Sadāśiva (kehendak ilahi), Īśvara (pengetahuan ilahi), dan Śuddhavidyā (kebijaksanaan murni); diikuti tujuh unsur campuran (śuddha-aśuddha) termasuk Māyā (ilusi), Puruṣa (jiwa), Prakṛti (alam material), serta lima selubung pembatas (kañcuka) seperti Kalā (keterbatasan aksi), Vidyā (pengetahuan terbatas), Rāga (keinginan), Kāla (waktu), dan Niyati (nasib); lalu 24 unsur tidak murni (aśuddha tattva) yang mirip dengan filsafat Sāṃkhya, yaitu Buddhi (intelek), Ahaṅkāra (ego), Manas (pikiran), lima jñānendriya (indera pengetahuan seperti pendengaran, sentuhan, penglihatan, pengecap, penciuman), lima karmendriya (organ aksi dari  bicara, tangan, kaki, ekskresi, reproduksi), lima tanmātra (elemen halus: suara, sentuhan, bentuk, rasa, bau), dan lima mahābhūta (elemen kasar: eter, udara, api, air, tanah) yang kesemua ini membentuk lapisan realitas dari yang ilahi hingga fisik, membantu kita memahami bagaimana jiwa terikat dan cara melepaskannya melalui kesadaran bertahap.

Perjalanan spiritual adalah naik kembali melalui unsur-unsur ini menuju penyatuan dengan Shiva, melepaskan ego dan batasan palsu untuk mencapai pembebasan (moksha). Praktik sehari-hari seperti refleksi diri dan pengabdian (bhakti) membantu kita menjaga keseimbangan, agar tidak jatuh kembali ke pola pikir terbatas. Oleh karena itu dalam Hindu, kita diajarkan tentang  Svadharma yang  menekankan bahwa setiap orang memiliki kontribusi unik untuk ditawarkan kepada dunia,  yang tujuannya untuk menemukan pemenuhan pribadi dan melayani harmoni kosmis yang lebih besar.

Mengatasi godaan bunuh diri dan problematika kesehatan mental dari perspektif Hindu

Di dalam Ajaran spiritual Hindu mengajak kita melihat penderitaan, termasuk godaan bunuh diri, sebagai ilusi sementara dari dunia yang rapuh. Jiwa kita, Atma, adalah percikan Brahman yang abadi dan penuh sukacita, bebas dari siklus lahir-mati. Ketika lupa akan ini, pikiran menjadi musuh yang membesar-besarkan kegagalan dan rasa tak berharga, menjadikan hidup seperti penjara. Bunuh diri dan melakukan hal negatif untuk mengatasi masalah mental  hanyalah pelarian palsu karena pembebasan sejati dari masalah mental  datang dari mengenali Atma

.Oleh karena itu diperlukan penerapan dari  empat pilar dengan cara tenggelam dalam kebahagiaan jiwa melalui meditasi sederhana untuk melunakkan hati depresi; kembangkan pandangan batin dan keyakinan kesatuan dengan sang khalik, yang  didukung keterhubungan dengan komunitas yang membawa energy positif ;  sadari segala sesuatu adalah Brahman, sehingga pilu hanyalah guru sementara yang membangun penerimaandan terapkan dalam rutinitas harian dengan kejujuran diri, doa damai, cinta pada sesama, dan tolak pikiran destruktif.

Dalam Bhagavad Gita, melalui dialog Krishna-Arjuna,  sebenarnya menawarkan hikmah lembut untuk bangkit dari keputusasaan Pertama, pahami keabadian jiwa (Gita 2.20): jiwa tak lahir-mati, masalah hanyalah angin lalu ; lakukan tugas tanpa terikat hasil (Gita 2.47): fokus  pada usaha, serahkan sisanya pada Tuhan, meringankan beban kegagalan; ajak teman berbagi cerita santai untuk saling bantu . rangkul diri sendiri (Gita 6.5) karena jiwa adalah sahabat, lawan pikiran negatif dengan catatan syukur harian, dan dengarkan empati saat menolong orang lain. Dan selanjutnya serahkan segalanya pada Tuhan (Gita 18.66). [T]

Penulis: Putu Ayu Sunia Dewi
Editor: Adnyana Ole

Tags: agamaSpiritual
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bintang Handayani, Pemuda Pelopor dari Kintamani yang Menyulap Kulit Kopi Jadi Brownies

Next Post

Lima Media Buka Rahasia Bisnisnya di IDC AMSI 2025

Putu Ayu Sunia Dewi

Putu Ayu Sunia Dewi

Mahasiswa S2 di dua perguruan tinggi yaitu Politeknik Negeri Bali mengambil konsentrasi bisnis digital dan Inti International College Malaysia mengambil jurusan informasi teknologi. Saat ini terlibat aktif di Perhimpunan Pelajar Indonesia sebagai ketua departemen sumber daya manusia PPI TV . Penulis dapat dihubungi di putuayusuniadewi@gmail.com

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Lima Media Buka Rahasia Bisnisnya di IDC AMSI 2025

Lima Media Buka Rahasia Bisnisnya di IDC AMSI 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co