23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bukan Saja Tentang Bertahan, Namun Kembali ke Dalam Ajaran Spiritual untuk Mengatasi Penderitaan Diri

Putu Ayu Sunia Dewi by Putu Ayu Sunia Dewi
October 22, 2025
in Esai
Dewata Kusayang, Dewataku Malang: Bali yang Digempur Kapitalisme

Putu Ayu Sunia Dewi

DALAM dunia yang selalu berubah dan penuh dengan tuntutan, mudah sekali bagi kita untuk tersesat dalam identitas semu. Kita mengira bahwa kita hanyalah peran yang kita mainkan, sebagai seorang karyawan, orang tua, atau pasangan yang selalu saja berada diantara suka dan duka, terkadang kita harus berpura-pura agar memberi suka bagi orang lain namun duka bagi kita jika kita gagal dalam memenuhi ekspektasi orang lain.

Di dunia yang fana sampai sang khalik memanggil  untuk kembali, kita memang melekat pada tubuh yang rentan akan penderitaan yang mendalam yang diberikan oleh diri sendiri maupun orang lain yang justru menjebak kita dalam hidup yang seperti roller-coaster.

Mudah bagi orang lain untuk berkata cobalah untuk bertahan, mengerti, memaafkan, dan berbagai nasehat bijak lainnya sampai ada yang berkata “hidup tidak semudah bacot motivator”, memang benar adanya karena persoalan  penyembuhan, melepaskan, dan memaafkan adalah proses yang tidak terjadi begitu saja dalam semalam.

Kadang-kadang penyembuhan, melepaskan, dan memaafkan butuh berbulan-bulan, kadang bertahun-tahun, dan dalam kasus ekstrem, beberapa orang bahkan tidak pernah benar-benar menemukan kedamaian sampai berujung pada upaya-upaya ekstrim yang membahayakan hidupnya.

 Dengan berbagai tragedi bunuh diri dan masalah kesehatan mental, baik yang terjadi Bali maupun seantero Negeri, sudah tentu menjadi pertanda ada yang tidak beres dalam masyarakat kita yang katanya menuju emas itu yang justru semakin dilanda oleh berbagai Krisis multidimensional salah satunya adalah krisis spiritual.

 Meskipun fakta objektif menyatakan dan memperlihatkan masyarakat kita masih percaya dengan agama namun memahami agama hanya sebatas ritual harian, seremonial, dan  identitas bahkan kadangkala tergiring  keranah politik elektoral dan perebutan follower  yang penuh muslihat,   sudah tentu menjadikan agama itu sendiri  jauh dari fungsinya sebagai penyedia solusi bagi manusia yang kehilangan makna ditengah arus modernitas  yang semakin terasing dengan sang khalik.

Akibat keterasingan dengan ajaran agama ini kita bukan saja gagal menjadi pribadi yang mendekati baik dan benar,  namun sampai menyadari adanya hukum sebab akibat yang ada didalam semua agama  yang jika di dalam ajaran dharma, baik Hindu maupun Budha dikenal sebagai karma yang terbagi kedalam karma baik dan karma buruk yang akan  memunculkan efek berbeda terhadap diri kita sendiri, orang lain, dan alam semesta.  

Ketidaksadaran kita terhadap karma yang bakal berbuah baik dan buruk itu bukan semata-mata karena ketidaktahuan yang seharusnya  merupakan tanggung jawab kita untuk mencari tahu apalagi bagi yang sudah mengenal konsepsi itu. Namun lebih dikarenakan faktor  kesengajaan, yang akhirnya menciptakan situasi atau keadaan dunia seperti sekarang.

Padahal dengan menyadari konsepsi dan praktik karma,  kita dapat menghilangkan segala bentuk penderitaan atau kesedihan dalam kehidupan saat ini, mengubah masa depan kita serta dunia, agar menjadi lebih baik dan positif, merasakan hasil positif dari upaya spiritual kita, dan memahami semua tentang “mengapa”, “bagaimana”, “apa”, dan “kapan” yang mengelilingi kehidupan kita.

Spiritualitas yang diabaikan namun dibutuhkan

Spiritualis, diksi yang oleh sebagian orang dikatakan dekat dengan logika mistik sebenarnya adalah esensi dari agama itu sendiri, persoalan berbagai Praktik spiritual yang jauh dari akal sehat bahkan berujung kriminalitas sudah tentu bukan praktik spiritual itu sendiri.  karena prinsip utama dari praktik spiritual adalah menyadari ajaran agama yang kita anut  dengan penuh makna termasuk berani merangkul, mengakui, dan mencari jalan bagi keseimbangan antara yang spirit (ruh) dan fisik yang ringkih.

Jika kita ingin diri kita bertransformasi kearah yang lebih baik, sudah tentu harus melibatkan yang spiritual karena keduanya akan membentuk perjalanan batin yang mendalam, yang tidak hanya mengubah cara kita memandang dunia, tetapi juga cara kita memahami diri sendiri. Perjalanan yang kemudian melibatkan pelepasan keyakinan yang membatasi, penyembuhan luka masa lalu, dan kebangkitan menuju kebenaran yang lebih dalam. Seiring kita berevolusi secara spiritual, transformasi menjadi jalan sekaligus hasil, membimbing kita menuju kejelasan, tujuan, dan kedamaian batin yang lebih besar.

Namun bagaimana langkah sederhana untuk kembali ke yang spiritual, dalam perspektif Hindu , untuk kembali ke yang spiritual maka kita perlu mengingat di balik semua gelombang kehidupan yang naik-turun, suka dan duka, untung dan rugi sebenarnya mengalir sebuah arus yang lebih dalam, yaitu Sang Diri Sejati (Atman).

Secara spiritual , diri kita  ini bersifat abadi, tak berubah, dan utuh, bagaikan samudera yang tetap ada di bawah permukaan ombak yang gelisah. Kesedihan yang kita rasakan mungkin seperti ombak yang dahsyat, tetapi kesedihan yang seperti ombak itu  tidak dapat mengubah atau mencemari kedalaman samudera diri kita yang sesungguhnya. Untuk mengenal Atma dan membuka pengetahuan spiritual, ajaran Hindu menganjurkan empat jalan utama diantaranya jnana yoga (pengetahuan melalui introspeksi diiringi dengan studi terhadap kitab suci untuk membedakan ilusi dari realitas Atma), bhakti yoga (cinta dan penyerahan diri kepada Tuhan melalui doa dan nyanyian seperti dalam Bhagavad Gita), karma yoga (tindakan tanpa pamrih untuk membersihkan pikiran), serta raja yoga (meditasi dan pengendalian nafsu untuk mencapai kesadaran batin).

Untuk melakukan empat jalan utama itu ,menurut Jiddu Khrisnamurti, mulailah dengan keyakinan pada diri sendiri, berani untuk meras kepuasan batin, dan lakukan pengorbanan ego, sambil menyelaraskan pikiran serta tindaka  dalam setiap pekerjaan. tidak peduli pekerjaan apa pun, asal akarnya Atma, hasilnya adalah kedamaian. Dengan praktek tekun ini, kita tidak hanya mengurangi beban masa lalu dan penderitaan saat ini, tapi juga mengubah masa depan menjadi lebih positif, sebagaimana yang  Gita ajarkan bahwa Atma tak pernah lahir atau mati, melainkan abadi.

Langkah berikutnya adalah melawan segala delusi dan ilusi, dalam ajaran Shiva Agama, delusi atau ilusi muncul karena kita tidak paham dengan unsur-unsur dasar (tattva) seperti kalā dan yang lainnya. Unsur-unsur ini membentuk tubuh kita dan sering menyebabkan penderitaan serta ikatan jiwa yang kuat. Kita sering salah mengira unsur-unsur itu sebagai “diri sejati” kita, padahal sebenarnya itu hanya bagian dari dunia material yang membatasi kita. Ikatan ini mulai kuat sejak dari kalā ke bawah, dan untuk merasakan spiritualitas yang lebih tinggi, kita harus melewati batas kalā ini seperti melompati pagar yang menghalangi.Kalā sendiri adalah unsur dasar yang disebut sebagai “kekuatan aksi terbatas”.

Bayangkan seperti pagar di pikiran kita yang membuat kita merasa kemampuan bertindak, berpikir, atau bergerak di dunia ini sangat sempit—seolah kita hanya “potongan kecil” dari sesuatu yang besar, bukan bagian dari yang tak terbatas seperti Shiva. Kalā ini adalah titik awal di mana ilusi mulai mengikat jiwa kita ke dunia nyata yang penuh batasan, menyebabkan penderitaan karena kita lupa esensi ilahi kita. Untuk naik ke kesadaran yang lebih luas, seperti menyadari Brahman yang ada di mana-mana, kita perlu melampaui kalā melalui latihan spiritual seperti meditasi.

Tapi hati-hati, bahkan orang yang sudah sadar bisa tergelincir kembali jika tidak hati-hati.Dari sudut pandang filsafat Hindu, terutama Shaiva Siddhanta, konsep ini mengajarkan bahwa ilusi (māyā) datang dari ketidaktahuan (avidyā) terhadap 36 unsur dasar realitas. Kalā sebagai unsur ke-36 adalah batas antara dunia material yang penuh ikatan dan kesadaran murni yang justru membuat kita melihat dunia sebagai nyata padahal itu ilusi yang menutupi kebenaran.

Yang termasuk unsur 36 itu  mencakup lima unsur murni (śuddha tattva) seperti Śiva (kesadaran mutlak), Śakti (energi ilahi), Sadāśiva (kehendak ilahi), Īśvara (pengetahuan ilahi), dan Śuddhavidyā (kebijaksanaan murni); diikuti tujuh unsur campuran (śuddha-aśuddha) termasuk Māyā (ilusi), Puruṣa (jiwa), Prakṛti (alam material), serta lima selubung pembatas (kañcuka) seperti Kalā (keterbatasan aksi), Vidyā (pengetahuan terbatas), Rāga (keinginan), Kāla (waktu), dan Niyati (nasib); lalu 24 unsur tidak murni (aśuddha tattva) yang mirip dengan filsafat Sāṃkhya, yaitu Buddhi (intelek), Ahaṅkāra (ego), Manas (pikiran), lima jñānendriya (indera pengetahuan seperti pendengaran, sentuhan, penglihatan, pengecap, penciuman), lima karmendriya (organ aksi dari  bicara, tangan, kaki, ekskresi, reproduksi), lima tanmātra (elemen halus: suara, sentuhan, bentuk, rasa, bau), dan lima mahābhūta (elemen kasar: eter, udara, api, air, tanah) yang kesemua ini membentuk lapisan realitas dari yang ilahi hingga fisik, membantu kita memahami bagaimana jiwa terikat dan cara melepaskannya melalui kesadaran bertahap.

Perjalanan spiritual adalah naik kembali melalui unsur-unsur ini menuju penyatuan dengan Shiva, melepaskan ego dan batasan palsu untuk mencapai pembebasan (moksha). Praktik sehari-hari seperti refleksi diri dan pengabdian (bhakti) membantu kita menjaga keseimbangan, agar tidak jatuh kembali ke pola pikir terbatas. Oleh karena itu dalam Hindu, kita diajarkan tentang  Svadharma yang  menekankan bahwa setiap orang memiliki kontribusi unik untuk ditawarkan kepada dunia,  yang tujuannya untuk menemukan pemenuhan pribadi dan melayani harmoni kosmis yang lebih besar.

Mengatasi godaan bunuh diri dan problematika kesehatan mental dari perspektif Hindu

Di dalam Ajaran spiritual Hindu mengajak kita melihat penderitaan, termasuk godaan bunuh diri, sebagai ilusi sementara dari dunia yang rapuh. Jiwa kita, Atma, adalah percikan Brahman yang abadi dan penuh sukacita, bebas dari siklus lahir-mati. Ketika lupa akan ini, pikiran menjadi musuh yang membesar-besarkan kegagalan dan rasa tak berharga, menjadikan hidup seperti penjara. Bunuh diri dan melakukan hal negatif untuk mengatasi masalah mental  hanyalah pelarian palsu karena pembebasan sejati dari masalah mental  datang dari mengenali Atma

.Oleh karena itu diperlukan penerapan dari  empat pilar dengan cara tenggelam dalam kebahagiaan jiwa melalui meditasi sederhana untuk melunakkan hati depresi; kembangkan pandangan batin dan keyakinan kesatuan dengan sang khalik, yang  didukung keterhubungan dengan komunitas yang membawa energy positif ;  sadari segala sesuatu adalah Brahman, sehingga pilu hanyalah guru sementara yang membangun penerimaandan terapkan dalam rutinitas harian dengan kejujuran diri, doa damai, cinta pada sesama, dan tolak pikiran destruktif.

Dalam Bhagavad Gita, melalui dialog Krishna-Arjuna,  sebenarnya menawarkan hikmah lembut untuk bangkit dari keputusasaan Pertama, pahami keabadian jiwa (Gita 2.20): jiwa tak lahir-mati, masalah hanyalah angin lalu ; lakukan tugas tanpa terikat hasil (Gita 2.47): fokus  pada usaha, serahkan sisanya pada Tuhan, meringankan beban kegagalan; ajak teman berbagi cerita santai untuk saling bantu . rangkul diri sendiri (Gita 6.5) karena jiwa adalah sahabat, lawan pikiran negatif dengan catatan syukur harian, dan dengarkan empati saat menolong orang lain. Dan selanjutnya serahkan segalanya pada Tuhan (Gita 18.66). [T]

Penulis: Putu Ayu Sunia Dewi
Editor: Adnyana Ole

Tags: agamaSpiritual
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bintang Handayani, Pemuda Pelopor dari Kintamani yang Menyulap Kulit Kopi Jadi Brownies

Next Post

Lima Media Buka Rahasia Bisnisnya di IDC AMSI 2025

Putu Ayu Sunia Dewi

Putu Ayu Sunia Dewi

Mahasiswa S2 di dua perguruan tinggi yaitu Politeknik Negeri Bali mengambil konsentrasi bisnis digital dan Inti International College Malaysia mengambil jurusan informasi teknologi. Saat ini terlibat aktif di Perhimpunan Pelajar Indonesia sebagai ketua departemen sumber daya manusia PPI TV . Penulis dapat dihubungi di putuayusuniadewi@gmail.com

Related Posts

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails

‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

by Pande Susan
June 18, 2026
0
‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

SAAT matahari mulai menuju satu garis lurus di atas kepala, derau ritmis mengisi ruang di bawah atap Bale Daja rumahku...

Read moreDetails
Next Post
Lima Media Buka Rahasia Bisnisnya di IDC AMSI 2025

Lima Media Buka Rahasia Bisnisnya di IDC AMSI 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar
Tualang

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

by Made Wirya
June 21, 2026
Lubang | Cerpen Asmaran Dani
Cerpen

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

by Asmaran Dani
June 21, 2026
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi
Puisi

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

by Mahesa Putra
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co