23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Flourishing Indonesia 2025: Sebuah Cermin Diri

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
October 20, 2025
in Esai
Flourishing Indonesia 2025: Sebuah Cermin Diri

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

Sebuah Kejutan dari Harvard

Ketika hasil Global Flourishing Study (GFS) dirilis oleh Harvard University pada 2025, dunia dikejutkan oleh satu temuan: Indonesia menempati posisi tertinggi di antara 22 negara yang disurvei dalam hal flourishing, atau kesejahteraan menyeluruh, sebagaimana diunggah fb Good News from Indonesia.

Laporan ini bukan sekadar survei kebahagiaan biasa. Dilaksanakan oleh Human Flourishing Program, Harvard University, bekerja sama dengan Baylor University dan Gallup Inc., studi ini melibatkan lebih dari 200.000 responden dari enam benua. Data dikumpulkan antara 2023 dan 2024, dengan publikasi resmi pada awal 2025.

Negara peserta meliputi: Indonesia, India, China, Hong Kong, Jepang, Filipina, Vietnam, Australia, Inggris, Jerman, Spanyol, Prancis, Afrika Selatan, Nigeria, Mesir, Amerika Serikat, Kanada, Brasil, Kolombia, Meksiko, Israel, Arab Saudi, dan Selandia Baru.

Indonesia berada di urutan pertama — diikuti oleh Filipina, Vietnam, Nigeria, India, Kolombia, Brasil, Mesir, Meksiko, dan Selandia Baru — menandakan bahwa flourishing bukan monopoli negara kaya, melainkan hasil keseimbangan antara makna hidup, hubungan sosial, dan kebajikan pribadi.

Apa yang Diukur: Lebih dari Sekadar Bahagia

GFS tidak menilai kebahagiaan dangkal atau pendapatan per kapita. Ia mengukur enam dimensi kehidupan:

  1. Kebahagiaan dan kepuasan hidup,
  2. Kesehatan fisik dan mental,
  3. Makna dan tujuan hidup,
  4. Karakter dan kebajikan,
  5. Hubungan sosial yang erat, dan
  6. Stabilitas material dan finansial.

Dari enam aspek tersebut, lima pertama dihitung dalam Flourishing Index (FI), sedangkan jika aspek material ditambahkan menjadi Secure Flourishing Index (SFI).

Indonesia unggul di lima domain non-material: hubungan sosial, makna hidup, karakter, dan spiritualitas — jauh melampaui negara-negara dengan ekonomi lebih maju seperti Amerika Serikat, Inggris, Jepang, atau Jerman.

Sementara itu, negara-negara berpendapatan tinggi justru menunjukkan paradoks: finansial kuat, tetapi mengalami krisis makna dan keterhubungan sosial. Sebuah ironi dunia modern yang semakin individualistik.

Refleksi atas Cermin Sosial

Apakah hasil ini bukti keberhasilan pemerintah? Ataukah sekadar cermin dari daya tahan sosial-budaya bangsa?

Periode survei (2023–2024) menunjukkan bahwa hasil ini adalah refleksi masa akhir pemerintahan Presiden Joko Widodo, bukan dampak langsung pemerintahan baru yang dipimpin Prabowo Subianto (dilantik Oktober 2024).

Namun demikian, data ini tidak bisa dilepaskan dari stabilitas ekonomi dan sosial selama satu dekade terakhir. Infrastruktur yang meluas, penurunan kemiskinan ekstrem, dan perluasan digitalisasi pelayanan publik berperan dalam membangun rasa sejahtera yang lebih merata.

Meski begitu, flourishing tidak hanya lahir dari kebijakan. Nilai-nilai seperti gotong-royong, rasa syukur, dan spiritualitas keseharian juga memainkan peran besar. Harvard Gazette bahkan menulis bahwa “Indonesia’s strong sense of belonging and religious meaning largely contributes to its top ranking.”

Artinya, kebahagiaan kita bersumber dari keterhubungan sosial dan spiritualitas, bukan sekadar dari angka ekonomi.

Antara Kebanggaan dan Kehati-hatian

Mudah sekali menjadikan hasil ini sebagai bahan kebanggaan nasional. Namun jika dibaca secara lebih jernih, hasil ini seharusnya menjadi pengingat moral dan spiritual.

Kita unggul dalam makna hidup dan hubungan sosial, tetapi bagaimana dengan stabilitas finansial, kesehatan mental, atau ketimpangan sosial yang masih nyata di lapangan?

Rasa “bermakna” tidak selalu berarti “berdaya”. Banyak masyarakat yang menemukan ketenangan batin di tengah keterbatasan, tetapi masih terpinggirkan secara struktural. Maka, skor tinggi ini tidak boleh membuat kita lengah. Ia justru menantang kita untuk menjembatani antara kesejahteraan batin dan keadilan sosial.

Flourishing sejati bukan hanya tentang merasa cukup, tapi juga tentang memberi ruang bagi orang lain untuk ikut berkembang.

Belajar dari Dunia

Dari 22 negara, tampak kontras yang menarik:

  • Negara-negara berpendapatan tinggi seperti AS, Inggris, Jerman, Jepang cenderung rendah dalam makna hidup dan hubungan sosial.
  • Negara-negara berkembang seperti Indonesia, Filipina, Nigeria justru tinggi dalam makna, karakter, dan spiritualitas.

Ini menunjukkan bahwa modernitas tanpa makna bisa menjadi sumber kehampaan baru.
Bahwa kemajuan material tidak menjamin rasa “hidup utuh”.

Namun sebaliknya, spiritualitas tanpa keadilan sosial juga rapuh. Indonesia mesti belajar dari negara-negara yang berhasil menyeimbangkan keduanya — seperti Selandia Baru, yang menempati posisi sepuluh besar dengan keseimbangan antara kesejahteraan material dan mental.

Jalan ke Depan: Dari Flourishing Menuju Kesadaran

Apa pelajaran bagi bangsa ini?

Pertama, flourishing adalah proses, bukan pencapaian akhir.
Ia memerlukan perawatan terus-menerus — baik oleh kebijakan negara, maupun oleh kesadaran individu.
Jika pemerintah mampu menjaga kesinambungan pembangunan, memperkuat pendidikan karakter, dan memperluas akses kesehatan mental, maka flourishing bisa menjadi arah pembangunan nasional, bukan sekadar berita viral sesaat.

Kedua, spiritualitas perlu diterjemahkan menjadi solidaritas sosial.
Kebahagiaan pribadi baru bermakna ketika ia menular menjadi empati dan kepedulian.
Gotong-royong, kesederhanaan, dan rasa syukur bukan romantisme masa lalu, melainkan modal sosial yang menjadikan Indonesia unik di tengah dunia yang kehilangan makna.

Ketiga, pemerintah dan masyarakat perlu membangun indikator kesejahteraan baru — tidak hanya GDP atau pendapatan per kapita, tetapi ukuran kebahagiaan, keterhubungan sosial, dan kesadaran ekologis.

Melampaui Statistik

Kita boleh bersyukur, tetapi tidak berbangga diri secara berlebihan.
Flourishing Indonesia bukan prestasi satu rezim, melainkan hasil panjang dari daya hidup bangsa yang mampu menemukan makna dalam keterbatasan.

Data Harvard hanyalah cermin; yang menentukan arah langkah kita adalah kesadaran.
Seperti ungkapan bijak yang indah: “Tat Twam Asi” — aku adalah kamu, kamu adalah aku, dimana kita mampu melihat Sang Ilahi yang sama pada setiap wujud kehidupan, bukan saja manusia tetapi semua makhluk, fauna, maupun flora.

Selama kita masih melihat kesejahteraan orang lain sebagai bagian dari kesejahteraan kita sendiri, maka Indonesia akan terus flourish, tidak hanya dalam survei, tapi dalam kenyataan hidup sehari-hari.[T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: Indonesiakebahagiaanrefleksi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Iri Dengki: Penyakit Hati dan Komunikasi

Next Post

Indonesia Berdoa: Hujan yang Turun dari Langit Nurani

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails
Next Post
Indonesia Berdoa: Hujan yang Turun dari Langit Nurani

Indonesia Berdoa: Hujan yang Turun dari Langit Nurani

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co