23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pertunjukan Puisi “Kutuk Sita”, Membebaskan Puisi dari Kutukannya dalam Acara Rabu Puisi Komunitas Mahima

Son Lomri by Son Lomri
October 4, 2025
in Panggung
Pertunjukan Puisi “Kutuk Sita”, Membebaskan Puisi dari Kutukannya dalam Acara Rabu Puisi Komunitas Mahima

Pertunjukan puisi Kutuk Sita dalam acara Rabu Puisi Komunitas Mahima di Singaraja

APAKAH puisi itu adalah pertunjukan? Tentu bukan, tapi bisa.

Puisi ditulis. Kekuatannya ada pada kata menempel di kertas atau layar hape Anda, dan ia dibaca. Penyair bisa bertapa untuk memilih kata pada puisinya, selain soal bentuk.

Sedang pertunjukan, ada pada aksi panggung—dipertontonkan. Kekuatannya ada pada gerak atau aksi pemain serta musik, dengan seabrek elemen pendukung—yang dimatangkan oleh sutradara sebagai penguat cerita.

Dan, begitulah. Puisi Kutuk Sita karya Made Adnyana Ole dipertunjukkan dalam acara Rabu Puisi Komunitas Mahima, di Sasana Budaya, Singaraja, Kamis, 2 Oktober 2025. Pertunjukan itu disutradarai Wahyu Mahaputra, seorang pegiat teater dan penyair dari Komunitas Mahima.

Kekuatan kata pada puisi itu dialihwanakan dengan kombinasi kekuatan yang lain: pembacaan di atas panggung, gerak pemain, lagu dan musik pengiring.

Pertunjukan itu dimainkan Rety Wijayanti, Chatrine F. Ndrotdrot, Gede Yoga Wismantara dan Kadek Wisnu Oktaditya. Dan, mereka “memperlihatkan” puisi di tas panggung dengan totalitas yang tinggi. Pertunjukan ini bisa menjadi satu gaya baru atau memang sebelumnya sudah ada, dalam memperlakukan puisi di atas panggung—sebagai pembacaan sang sutradara (seperti teater) tentang puisi tersebut.

Chatrine F. Ndrotdrot

Pertunjukan ini memberikan pengalaman membaca—dengan cara menononton, juga mendengarkan.

Ketika membaca puisi itu dalam bentuk teks, barangkali akan terasa bayangan tentang Bali. Tapi berbeda setelah menonton pertunjukan itu, nuasa demikian lenyap. Ada makna lain yang diberikan oleh sang sutradara. Dan barangkali, di sanalah konsep dimainkan Wahyu dalam mengantarkan—seperti apa Kutuk Sita di atas panggung sebagai mediumnya.

Ketika empat pemain masuk ke panggung. Satu pemain (Chatrine) membaca ulang puisi itu;

Jauhkan kutukmu

Dari jiwaku, Sita.

Aku Bukan Rama!—lanjut pembacaan Wisnu.

Lelaki kera—susul Yoga.

Perempuan bunga—kembali ke Chatrine.

Burung-burung singa—tegas Rety.

Ular ekor cahaya, seketika jadi bengis—tancap Wisnu dan Yoga.

Ketika berebut cincin mata delima di puncak kota—lanjut Wisnu

(Mendesis mereka bersamaan usai membaca itu)

Yang kalah mengulum bara. Yang menang

Menggenggam api

“Siapa menyelamatkan aku dari perkosa tanah,” —kata Rety membacakannya dengan tegas.

Aku bukan Rama!—keras suara Wisnu menimpali pembacaan Rety.

Lalu Chatrine menimpali lagi; Laut menangis, bersujud pada gunung.

Usai bait di atas dibacakan saling silang, terdengarlah tambahan lagu etnik Papua dibaie dibaio kuraiquide i o dibaie, yang dinyanyikan sendu oleh Chatrine yang memang berasal dari Papua.

Hal itu memberikan sesuatu, semacam ada kutukan di Papua. Tentu, sebagai penonton, pikiran saya pergi ke satu hal; tentang tanah—atau mungkin ular yang hilang selain tanah adat dan atau pembabatan hutan—yang bisa dilacak di google.

Chatrine F. Ndrotdrot, Kadek Wisnu Oktaditya, Gede Yoga Wismantara dan Rety Wijayanti, dalam pertunjukan puisi Kutuk Sita

Setelah itu, disusul nyanyian senandung Osing-Banyuwangi oleh Rety. Dua pemain menari—Aku Bukan Rama, ditajamkan oleh suara desisan ular dengan beberapa kain berkelabat—atas respon banyaknya peristiwa tak enak yang terekam oleh Rety dan Chatrine, termasuk Yoga dan Wisnu tentang Bali.

“Saya ingin, puisi Kutuk Sita ini, tak hanya dibaca atau ditonton ketika di atas panggung dalam pertunjukan puisi itu, bukan saja menyoal Bali, atau segala macam dongengnya. Ia harus dinikmati maknanya secara umum,” kata Wahyu, sutradara.

Dalam memaknai puisi itu, Wahyu dengan caranya sendiri, seakan membagikan bekal ilmu pengetahuannya yang diperoleh bulan lalu di Bandung ketika berlatih teater di Komunitas Celah-Celah Langit.

Ia membawa Kutuk Sita—pada gaya yang ekspresif seperti dramawan Iman Soleh, dengan nada yang tegas, mungkin juga bisa dibilang menantang ketika di atas panggung itu, memberi kesan protes.

Wahyu membagi perbait puisi itu pada masing-masing pemain satu, ada juga yang dua. Lalu satu bait terakhir dibacakan bersama; Tapi Aku Bukan Rama. Ya, secara tegas.

Dan pembacaan ulang pada puisi ke dalam pertunjukan, adalah bagian kepenyairan Wahyu—dalam menerka-nerka makna puisi bisa dirasakan dengan cara berbeda.

Dalam hal ini, Wahyu meramu interpretasi secara kolektif bersama empat pemainnya. Setiap pemain, merespon atas masalah apa yang sedang terjadi di kampung halamannya dengan cara mengalir saja.

Sehingga ketika bergerak, mereka menemukan bentuk lain, untuk memperkuat pemaknaan sebagaimana dimaksudkan Wahyu.

“Tak ada sutradara di pertunjukan ini,” kata Wahyu. “Kami semua terlibat—memaknai puisi ini ke dalam pertunjukan.”

Penonton pertunjukan puisi Kutuk Sita

Meski dengan memanfaatkan sumber daya yang ada, dengan waktu berlatih yang sebentar, satu minggu, kepuasan tetap didapat setelah empat orang itu—dari berbagai asal daerah; Bali, Banyuwangi, Papua—membawakan gerak tubuhnya dalam satu ruang yang sama, dengan nada pembacaan yang khas apalagi.

Kutuk Sita keluar dari kutukannya sebagai puisi—yang dianggap banyak orang; melulu tentang masalah Bali soal tanah yang kian dicaplok hantu, misalnya.

Tetapi di tempat lain juga seperti Papua, Banyuwangi, juga ada. Dan itu tawarkan oleh Chatrine dan Rety. Melalui konsep semacam itu, menjadi penegasan Wahyu, makna puisi sangatlah universal.

Sebut saja konflik tambang emas Tumpang Pitu, Banyuwangi, yang belum menemukan titik terang untuk rakyat mendapatkan maksudnya.

Rety membawanya pada pertunjukan dengan gerak masyarakat di sana masih berjuang atas haknya dalam mengembalikan nasib atas ruang hidup yang semula baik, sebelum ada proyek tambang.

Kain dibentangkan di atas panggung, tanda menolak, kain dihentak-hentak—pertanda protes dilakukan—menjadi bebunyian tambahan selain suara suling busur yang mengalun sepanjang pembacaan.

“Maknanya diserahkan pada penonton!” tutup Wahyu, tentang puisi itu, juga pertunjukannya. [T]

Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

Tags: Komunitas MahimaMade Adnyana Olepertunjukan puisiPuisiRabu Puisiseni pertunjukan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Objek Wisata Ciung Wanara: Legenda Sarat Intrik Politik

Next Post

Puisi-puisi Komang Sujana | Senja Lindap Begitu Saja

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
0
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

Read moreDetails

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
0
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

Read moreDetails

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
0
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

Read moreDetails

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
0
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

Read moreDetails

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

by tatkala
October 4, 2026
0
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

Read moreDetails

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

Read moreDetails

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

Read moreDetails

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

Read moreDetails

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
0
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

Read moreDetails

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
0
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Komang Sujana | Senja Lindap Begitu Saja

Puisi-puisi Komang Sujana | Senja Lindap Begitu Saja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co