23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pertunjukan Puisi “Kutuk Sita”, Membebaskan Puisi dari Kutukannya dalam Acara Rabu Puisi Komunitas Mahima

Son Lomri by Son Lomri
October 4, 2025
in Panggung
Pertunjukan Puisi “Kutuk Sita”, Membebaskan Puisi dari Kutukannya dalam Acara Rabu Puisi Komunitas Mahima

Pertunjukan puisi Kutuk Sita dalam acara Rabu Puisi Komunitas Mahima di Singaraja

APAKAH puisi itu adalah pertunjukan? Tentu bukan, tapi bisa.

Puisi ditulis. Kekuatannya ada pada kata menempel di kertas atau layar hape Anda, dan ia dibaca. Penyair bisa bertapa untuk memilih kata pada puisinya, selain soal bentuk.

Sedang pertunjukan, ada pada aksi panggung—dipertontonkan. Kekuatannya ada pada gerak atau aksi pemain serta musik, dengan seabrek elemen pendukung—yang dimatangkan oleh sutradara sebagai penguat cerita.

Dan, begitulah. Puisi Kutuk Sita karya Made Adnyana Ole dipertunjukkan dalam acara Rabu Puisi Komunitas Mahima, di Sasana Budaya, Singaraja, Kamis, 2 Oktober 2025. Pertunjukan itu disutradarai Wahyu Mahaputra, seorang pegiat teater dan penyair dari Komunitas Mahima.

Kekuatan kata pada puisi itu dialihwanakan dengan kombinasi kekuatan yang lain: pembacaan di atas panggung, gerak pemain, lagu dan musik pengiring.

Pertunjukan itu dimainkan Rety Wijayanti, Chatrine F. Ndrotdrot, Gede Yoga Wismantara dan Kadek Wisnu Oktaditya. Dan, mereka “memperlihatkan” puisi di tas panggung dengan totalitas yang tinggi. Pertunjukan ini bisa menjadi satu gaya baru atau memang sebelumnya sudah ada, dalam memperlakukan puisi di atas panggung—sebagai pembacaan sang sutradara (seperti teater) tentang puisi tersebut.

Chatrine F. Ndrotdrot

Pertunjukan ini memberikan pengalaman membaca—dengan cara menononton, juga mendengarkan.

Ketika membaca puisi itu dalam bentuk teks, barangkali akan terasa bayangan tentang Bali. Tapi berbeda setelah menonton pertunjukan itu, nuasa demikian lenyap. Ada makna lain yang diberikan oleh sang sutradara. Dan barangkali, di sanalah konsep dimainkan Wahyu dalam mengantarkan—seperti apa Kutuk Sita di atas panggung sebagai mediumnya.

Ketika empat pemain masuk ke panggung. Satu pemain (Chatrine) membaca ulang puisi itu;

Jauhkan kutukmu

Dari jiwaku, Sita.

Aku Bukan Rama!—lanjut pembacaan Wisnu.

Lelaki kera—susul Yoga.

Perempuan bunga—kembali ke Chatrine.

Burung-burung singa—tegas Rety.

Ular ekor cahaya, seketika jadi bengis—tancap Wisnu dan Yoga.

Ketika berebut cincin mata delima di puncak kota—lanjut Wisnu

(Mendesis mereka bersamaan usai membaca itu)

Yang kalah mengulum bara. Yang menang

Menggenggam api

“Siapa menyelamatkan aku dari perkosa tanah,” —kata Rety membacakannya dengan tegas.

Aku bukan Rama!—keras suara Wisnu menimpali pembacaan Rety.

Lalu Chatrine menimpali lagi; Laut menangis, bersujud pada gunung.

Usai bait di atas dibacakan saling silang, terdengarlah tambahan lagu etnik Papua dibaie dibaio kuraiquide i o dibaie, yang dinyanyikan sendu oleh Chatrine yang memang berasal dari Papua.

Hal itu memberikan sesuatu, semacam ada kutukan di Papua. Tentu, sebagai penonton, pikiran saya pergi ke satu hal; tentang tanah—atau mungkin ular yang hilang selain tanah adat dan atau pembabatan hutan—yang bisa dilacak di google.

Chatrine F. Ndrotdrot, Kadek Wisnu Oktaditya, Gede Yoga Wismantara dan Rety Wijayanti, dalam pertunjukan puisi Kutuk Sita

Setelah itu, disusul nyanyian senandung Osing-Banyuwangi oleh Rety. Dua pemain menari—Aku Bukan Rama, ditajamkan oleh suara desisan ular dengan beberapa kain berkelabat—atas respon banyaknya peristiwa tak enak yang terekam oleh Rety dan Chatrine, termasuk Yoga dan Wisnu tentang Bali.

“Saya ingin, puisi Kutuk Sita ini, tak hanya dibaca atau ditonton ketika di atas panggung dalam pertunjukan puisi itu, bukan saja menyoal Bali, atau segala macam dongengnya. Ia harus dinikmati maknanya secara umum,” kata Wahyu, sutradara.

Dalam memaknai puisi itu, Wahyu dengan caranya sendiri, seakan membagikan bekal ilmu pengetahuannya yang diperoleh bulan lalu di Bandung ketika berlatih teater di Komunitas Celah-Celah Langit.

Ia membawa Kutuk Sita—pada gaya yang ekspresif seperti dramawan Iman Soleh, dengan nada yang tegas, mungkin juga bisa dibilang menantang ketika di atas panggung itu, memberi kesan protes.

Wahyu membagi perbait puisi itu pada masing-masing pemain satu, ada juga yang dua. Lalu satu bait terakhir dibacakan bersama; Tapi Aku Bukan Rama. Ya, secara tegas.

Dan pembacaan ulang pada puisi ke dalam pertunjukan, adalah bagian kepenyairan Wahyu—dalam menerka-nerka makna puisi bisa dirasakan dengan cara berbeda.

Dalam hal ini, Wahyu meramu interpretasi secara kolektif bersama empat pemainnya. Setiap pemain, merespon atas masalah apa yang sedang terjadi di kampung halamannya dengan cara mengalir saja.

Sehingga ketika bergerak, mereka menemukan bentuk lain, untuk memperkuat pemaknaan sebagaimana dimaksudkan Wahyu.

“Tak ada sutradara di pertunjukan ini,” kata Wahyu. “Kami semua terlibat—memaknai puisi ini ke dalam pertunjukan.”

Penonton pertunjukan puisi Kutuk Sita

Meski dengan memanfaatkan sumber daya yang ada, dengan waktu berlatih yang sebentar, satu minggu, kepuasan tetap didapat setelah empat orang itu—dari berbagai asal daerah; Bali, Banyuwangi, Papua—membawakan gerak tubuhnya dalam satu ruang yang sama, dengan nada pembacaan yang khas apalagi.

Kutuk Sita keluar dari kutukannya sebagai puisi—yang dianggap banyak orang; melulu tentang masalah Bali soal tanah yang kian dicaplok hantu, misalnya.

Tetapi di tempat lain juga seperti Papua, Banyuwangi, juga ada. Dan itu tawarkan oleh Chatrine dan Rety. Melalui konsep semacam itu, menjadi penegasan Wahyu, makna puisi sangatlah universal.

Sebut saja konflik tambang emas Tumpang Pitu, Banyuwangi, yang belum menemukan titik terang untuk rakyat mendapatkan maksudnya.

Rety membawanya pada pertunjukan dengan gerak masyarakat di sana masih berjuang atas haknya dalam mengembalikan nasib atas ruang hidup yang semula baik, sebelum ada proyek tambang.

Kain dibentangkan di atas panggung, tanda menolak, kain dihentak-hentak—pertanda protes dilakukan—menjadi bebunyian tambahan selain suara suling busur yang mengalun sepanjang pembacaan.

“Maknanya diserahkan pada penonton!” tutup Wahyu, tentang puisi itu, juga pertunjukannya. [T]

Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

Tags: Komunitas MahimaMade Adnyana Olepertunjukan puisiPuisiRabu Puisiseni pertunjukan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Objek Wisata Ciung Wanara: Legenda Sarat Intrik Politik

Next Post

Puisi-puisi Komang Sujana | Senja Lindap Begitu Saja

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

KEMEGAHAN menyambut malam pembukaan Buleleng Festival 2026. Sebanyak 150 penari tampil memukau dalam kolaborasi akbar, mengawali peresmian festival yang dibuka...

Read moreDetails

Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

LELAKI muda duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon kamboja di Palemahan Kangin, Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja,...

Read moreDetails

“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

by I Putu Gede Pradipta Utama
August 17, 2026
0
“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

DI tengah kehidupan masyarakat Desa Metra, Yang Api, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, masih lestari sebuah seni pertunjukan ritual yang memiliki...

Read moreDetails

Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

MATAHARI perlahan muncul ketika alunan musik mulai mengisi udara pagi di Pantai Sanur. Di antara suara ombak dan cahaya matahari...

Read moreDetails

Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

ANAK-ANAK bergerak mengikuti irama. Ada yang mengepakkan tangan seperti burung, melangkah dalam barisan, memainkan properti, hingga berpindah formasi bersama teman-temannya....

Read moreDetails

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

by Nyoman Budarsana
August 16, 2026
0
Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

ANAK-ANAK itu menebar senyum ceria. Di tengah halaman hijau yang teduh, mereka berlari, bermain, bernyanyi, dan berinteraksi bersama teman-temannya. Ruang...

Read moreDetails

Nenden Shintawati di SUVJF 2026: Dari Penyanyi Cilik ke Jazz Kelas Dunia

by Dede Putra Wiguna
August 15, 2026
0
Nenden Shintawati di SUVJF 2026: Dari Penyanyi Cilik ke Jazz Kelas Dunia

SALAH satu momen menarik ketika Salamander Big Band tampil membuka Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF) 2026 pada Jumat, 7...

Read moreDetails

Sebelum Merah Putih Berkibar, SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Sudah Riuh Lebih Awal Lewat Panggung Ekspresi

by Dede Putra Wiguna
August 15, 2026
0
Sebelum Merah Putih Berkibar, SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Sudah Riuh Lebih Awal Lewat Panggung Ekspresi

SORAK sorai suporter terdengar dari sudut aula. Tepuk tangan menyambut setiap penampilan, sementara tawa pecah di antara adegan-adegan drama yang...

Read moreDetails

Ubud FolkFest 2026: Menanam Seni dan Budaya untuk Masa Depan

by Nyoman Budarsana
August 15, 2026
0
Ubud FolkFest 2026: Menanam Seni dan Budaya untuk Masa Depan

KETIKA suling mulai dimainkan, suasana seketika berubah. Para pemain Genjek Pondok Pekak, Ubud, bergerak dengan ekspresi yang kuat. Penari laki-laki...

Read moreDetails

Dodot Trio di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 dan Cerita Empat Dekade Jazz di Balik ‘The Story of White Piano’

by Dede Putra Wiguna
August 13, 2026
0
Dodot Trio di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 dan Cerita Empat Dekade Jazz di Balik ‘The Story of White Piano’

MALAM di Subak Stage, Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF) 2026, berjalan dalam suasana tenang ketika Dodot Trio mulai memainkan...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Komang Sujana | Senja Lindap Begitu Saja

Puisi-puisi Komang Sujana | Senja Lindap Begitu Saja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co