23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

I Nyoman Tamat, Tak Tamat-Tamat Mengabdi untuk Seni Budaya Bali

Ni Komang Sariasih by Ni Komang Sariasih
October 3, 2025
in Persona
I Nyoman Tamat, Tak Tamat-Tamat Mengabdi untuk Seni Budaya Bali

Nyoman Tamat

DI tengah hiruk-pikuk modernisasi, ada sosok yang tetap setia menjaga irama gamelan Bali. Dia adalah I Nyoman Tamat, S.Pd., M.Pd.. Ia bisa disebut sebagai seorang maestro gamelan yang kini berusia 62 tahun.

Nyoman Tamat telah mendedikasikan hidupnya untuk seni budaya Bali. Lahir pada 18 Oktober 1963 di Banjar Sedang Kaja, Desa Sedang, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, Bali.  Nyoman Tamat, selain sebagai seorang guru seni, juga penjaga warisan leluhur yang tak tergantikan.

Dengan latar belakang keluarga yang kental dengan seni, ia membuktikan bahwa gamelan bukan sekadar hobi, melainkan jalan hidup yang membentuk identitas Bali.

Tamat lahir dari keluarga dengan gen seni yang kuat. Kakek dan ayahnya adalah penabuh gamelan, membuatnya terpapar seni sejak kecil. Lingkungan sekitar di Desa Sedang juga mendukung. Pada tahun 1973, saat masih SD, ia sudah menjadi pengiring tari Janger dalam lomba tingkat kecamatan.

Kehadirannya di SMP 2 Abiansemal memberi pengaruh terhadap perkembangan seni di sekolah itu. Saat itu belum ada fasilitas gamelan di sekolah, namun di situ ia membangun ekstra kurikuler tabuh di SMP itu. Komite saat itu dari Desa Sedang sehingga SMP itu dibelikan gamelan.

Pilihan pendidikan pun dipengaruhi keluarga. Pamannya menawarkan biaya sekolah di PGA (Pendidikan Guru Agama) atau SMKI (Sekolah Menengah Karawitan Indonesia). Nyoman Tamat memilih SMKI pada 1981, dengan bayangan bisa bekerja di hotel sore hari untuk biaya hidup.

Meski dari keluarga sederhana, ia berjuang mengumpulkan SPP. SMKI setara SMA kejuruan, dengan tambahan satu tahun pendalaman seni, dan ia lulus pada 1985. Sebelum masuk, ia diuji tiga materi: tari, vokal, dan tabuh—ia memilih tabuh karena skill otodidaknya.

Nyoman Tamat bersama cucunya

Setelah lulus, ia mengikuti program pemerintah PGSLP (Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Pertama) yang ijazahnya dari Surakarta. Ia termasuk di antara 112 guru seni yang diangkat di Bali, termasuk gurunya sendiri dari SMKI. Di sini, ia belajar sambil dibayar. Pendidikan tingginya ia lalui di jurusan Sendratasik (Seni Drama, Tari, dan Musik) dari 1996 hingga 2000.

Perjalanan Karir sebagai Guru dan Seniman

Karir Nyoman Tamat dimulai sebagai guru di SMP, dengan tugas di Dinas Pendidikan Provinsi Bali. Ia mendirikan Seka Gong “Tut Wuri Handayani” di tingkat provinsi dan “Bandana Yowana” di Kabupaten Badung. Dengan statusnya guru, ia sering pentas atas perintah atasan. Nyoman Tamat mengajar siswa tetapi pentas juga tetap berjalan dan mendapat piagam. Ia mengajar di SMP 2 Abiansemal, tapi juga aktif di pemerintahan kabupaten dan provinsi.

Sebagai seniman, ia sangat produktif: megambel dari rumah, kabupaten, hingga nasional. Satu hari itu ia bisa tiga kali pentas—pagi upacara nikah, sore kegiatan agama lainnya, maupun malamnya bisa saja ada odalan. Ia mewakili kabupaten pada 1982 dengan gegitan (lagu diiringi gamelan) dan 1983 di Sanur. Pengalaman ngayah (pengabdian) di pura-pura seperti Batur, Besakih, Uluwatu, Serangan, hingga Pura Lumajang dan Anjungan Jakarta, membuatnya tak asing dengan panggung besar.

Tantangan terbesar dalam mengajar seni budaya adalah sifatnya yang berbasis bakat.

“Kalau hobi siswa di bidang seni, mudah diajarkan. Tapi kalau bakatnya tidak ada, sulit. Kita harus sabar, kuasai materi, dan memotivasi mereka—paling tidak, buat mereka senang dulu,” jelasnya.

Di SMP 2 Abiansemal, ia bangga karena seringkali juara lomba seperti lomba belaganjur, kidung, atau seni lainnya. Ia juga menyampaikan cara menanamkan seni ke anak muda: tunjukkan keberhasilan idola seperti penari terkenal, dan rendah hati tapi tunjukkan kemampuan.

Tantangan Kesehatan dan Perbedaan Generasi

Pada 15 Januari 2019, Nyoman Tamat didiagnosis sakit asam urat, yang membuatnya mengurangi pentas malam pada 2023.

“Pernah nabuh untuk arja anak-anak sampai malam, besoknya sakit. Sekarang, kalau ada pun mungkin saya tolak karena tubuh sudah tidak fit,” katanya.

Perbedaan generasi dalam belajar gamelan begitu mencolok, seperti dulu memang sangat mendalam tanpa alat bantu, sekarang mudah dengan rekaman HP. Saat tampil, mlebih merasa malu saat tampil di atas panggung, karena ia merasa, mereka itu utusan dari sekolah.

“Kalau merasa takut seharusnya tidak mungkin, karena mereka orang pilihan dan di seni itu jarang ada rasa takutnya, kalau waktu latihan baru mereka takut ungkap Pak Tamat ketika ditanya tentang ketakutan dalam pentas seni.

Kehidupan Pensiun: Dari Sawah ke Ngayah

Setelah pensiun, Nyoman Tamat mengisi waktu di sawah atau bermain dengan cucu. Ia mengatakan itu untuk hiburan, supaya tidak stres. Ngayah di pura dan banjar pun tetap ikut.

Berkebun baginya juga terpengaruh seni, “Harus tunjukkan yang terbaik, seperti menanam padi dengan pundukan (pematang) bersih dan cara bagus dan kita pun merasa senang,” ujarnya.

Cucunya menunjukan gen seni juga, terkadang ikut menyanyi saat ia bernyanyi atau megambel. Antara guru dan seni, ia pilih seni—“Hidup saya dari seni.”

Nyoman Tamat mengajari cucunya makendang

Nyoman Tamat menyampaikan pandangannya tentang seni Bali dulu dengan sekarang, ia melihat perbedaan besar, dulu seni dihargai masyarakat, sekarang kurang dipandang.

“Dikira cari uang atau panggung, padahal kita tunjukkan yang terbaik untuk kelompok. Seni ekspresi jiwa, meski mahal,” katanya. Pendidikan seni membuat kehidupan lebih bagus.

Pesannya untuk generasi muda, “Lestarikan seni budaya Bali karena Bali dilihat dari budayanya. Kita tak punya hasil bumi banyak, yang ada adalah seni sebagai sumber budaya dan agama. Biar Bali tetap ajeg dan lestari—harus punya skill seni apapun itu.”

Kisah Nyoman Tamat amat menginspirasi dari gen keluarga hingga pensiun, ia ajegkan Bali melalui gamelan. Ia buktikan, seni bukan hanya panggung, tapi jalan menuju kehidupan yang bermakna. [T]

  • Catatan: Artikel ini adalah hasil dari pelatihan jurnalistik berkaitan dengan program magang mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali di tatkala.co

Penulis: Ni Komang Sariasih
Editor: Adnyana Ole

Tags: Abiansemalkarawitan baliSeniTokoh Seni
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menyadari dan Resah Terhadap yang Politik

Next Post

Runtuhnya Marwah Penelitian Indonesia

Ni Komang Sariasih

Ni Komang Sariasih

Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali

Related Posts

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails

I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

by Made Susanta Dwitanaya
March 26, 2026
0
I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

NYALUK Sandi Kala (memasuki peralihan dari siang ke malam) di hari Pangrupukan di Desa  Tampaksiring, yang semakin tahun  semakin dikenal...

Read moreDetails

Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
March 13, 2026
0
Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

DI dalam stan pameran Kasanga Festival 2026 di Lapangan Puputan Badung, Denpasar, deretan ogoh-ogoh mini berdiri rapi menunggu penilaian. Suasana...

Read moreDetails

Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

RASA senang dan bangga tampak dalam wajahnya. Ketika namanya disebut untuk menerima penghargaan Bali Kerthi Nugraha Mahottama, kakinya melangkah dengan...

Read moreDetails
Next Post
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

Runtuhnya Marwah Penelitian Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar
Tualang

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

by Made Wirya
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co