DI sela pelaksanaan tugas dinas, pagi itu, Kamis, 19 September 2025, di meja makan Hotel Grand Mercure Adisucipto, Yogyakarta, saya sebenarnya hanya berniat menyendok bubur ayam sambil menikmati aroma kopi. Tapi siapa sangka, di balik secangkir kopi itu, saya malah mendapat “menu tambahan” berupa kuliah kepemimpinan gratis dari seorang kepala sekolah penuh energi: Bapak Imam Tejo Marwoto, Kepala SMKN 1 Pangentan, Banjarnegara.
Dengan logat yang renyah dan cerita ngalir kayak Sungai Serayu di musim hujan, beliau membedah konsep kepemimpinan yang ia sebut manajemen kolosal. Jangan bayangkan kolosal ala film peperangan atau konser dangdut di lapangan desa. Kolosal di sini artinya membangun sekolah bukan kerja satu orang, melainkan kerja bersama. Kepala sekolah, guru, siswa, satpam, tukang kebun—semua diajak mikir, semua diajak bergerak, semua punya peran.
“Kalau kepemimpinan hanya andalkan kepala sekolah, itu namanya one man show,” ujarnya sambil terkekeh. “Lama-lama kepalanya panas, show-nya bubar!”
Tawa pun pecah. Sekolah memang tak bisa berdiri hanya di pundak satu orang; ia harus ditopang banyak tangan, pikiran, dan hati.
Yang membuat saya lebih tercenung: Pak Imam tidak sekadar berteori. Ia mencontohkan bagaimana siswa diajak melek bahwa bertani bukan profesi kelas dua — mereka didorong menjadi petani milenial: mampu memadukan gadget dan pemasaran digital dengan kearifan lokal. Kreativitas diolah: bunga liar, daun, batang, hingga barang bekas disulap menjadi karya bernilai jual. Hemat, ramah lingkungan, penuh makna.
Sambil menyeruput kopi, saya geli sendiri. Kita sering cari inspirasi jauh-jauh, padahal di meja sarapan bisa ketemu “narasumber” yang gagasannya menohok dan menggelitik. Manajemen kolosal ala Pak Imam sederhana tapi dalam: jangan jadi kepala sekolah seperti “Raja”. Jadilah dirigen — yang membuat semua alat musik berbunyi padu. Kalau hanya satu orang meniup trompet keras-keras, jadinya bukan musik, melainkan kebisingan.
Kalau didengar sekilas, istilah manajemen kolosal ala Pak Imam ini kayak judul film kolosal tentang perang kerajaan. Padahal, maksudnya sederhana: sekolah itu bukan one man show, tapi show rame-rame. Nah, kalau dicocokkan dengan teori manajemen modern, ternyata pas banget!
Pertama, ada yang namanya distributed leadership. Bahasa gampangnya: kepemimpinan jangan ditumpuk semua di kepala sekolah. Nanti kepalanya panas, ubun-ubun berasap, dan ujung-ujungnya malah masuk angin. Bagi-bagi peran aja, biar guru, siswa, bahkan satpam ikut punya “panggung”.
Kedua, gaya Pak Imam ini mirip transformational leadership. Ia bukan sekadar nyuruh-nyuruh, tapi ngajak orang terinspirasi. Bedanya dengan servant leadership, kalau yang ini kepala sekolah ibarat pelayan: siap ngelayani supaya tim bisa jalan. Jadi kepala sekolahnya bukan raja yang duduk di singgasana, tapi dirigen yang sibuk memastikan semua alat musik bunyinya pas. Kalau cuma trompetnya yang digeber kencang, ya bukannya musik… tapi kebisingan.
Ketiga, kalau pakai kacamata learning organization ala Peter Senge, sekolahnya Pak Imam itu mirip laboratorium hidup. Semua orang belajar bareng: guru belajar dari siswa, siswa belajar dari kebun, tukang kebun pun bisa jadi guru. Nah, kalau sudah begini, seminar di hotel bintang lima jadi kalah pamor sama meja sarapan hotel bintang empat.
Keempat, konsep change management versi Kotter juga ada nuansanya di sini. Ada urgensi (kenapa harus berubah), ada koalisi (tim yang kompak), ada quick wins (hasil cepat yang bikin semua semangat). Misalnya bikin buket bunga dari daun singkong—murah, unik, dan bisa jadi trend di Instagram.
Dari Dapur Rumah ke Panggung Sekolah
Kalau manajemen biasanya diibaratkan sebagai sebuah orkestra, maka manajemen kolosal ala Pak Tejo lebih mirip pentas gong kebyar di Bali. Semua harus main serentak, ada gong besar, ada kendang, ada ceng-ceng, bahkan ada penari dadakan yang entah dari mana munculnya. Intinya, kerja besar tidak bisa hanya andalkan satu pemain solo.
Pak Tejo paham betul teori Mintzberg atau Drucker itu bagus, tapi kalau dipakai mentah-mentah di sekolah pedesaan, hasilnya bisa bikin kepala guru tambah mumet. Maka ia putar haluan: manajemen kolosal harus lahir dari pengalaman paling dekat—yakni rumah tangga. Bagaimana mengatur listrik supaya hemat, bagaimana mengolah sampah supaya tidak bikin jengkel, bagaimana mengatur anak-anak yang hobinya rebutan Wi-Fi—semua jadi laboratorium kecil di rumahnya. Nah, resep-resep itu kemudian ia boyong ke panggung sekolah.
Hebatnya lagi, Pak Tejo bukan sekadar teoritisi ruang tamu. Ia menekuni bidang Energi Terbarukan. Jadi, kalau ada guru yang kehabisan ide mengajar, ia tinggal bilang: “Listrik matahari saja tidak pernah mengeluh, masa kita mau kalah sama panel surya?” Seloroh itu membuat suasana cair, tapi di baliknya ada transfer ilmu nyata. Anak-anak pun didorong berpikir: bagaimana menciptakan wirausaha baru berbasis energi, teknologi, atau bahkan olahan ide sederhana melalui proses permentasi yang lahir dari keseharian.
Dengan gaya kolosal ini, sekolah bukan lagi sekadar ruang kelas, tapi panggung eksperimen besar. Guru, siswa, dan bahkan tukang kebun pun bisa jadi bagian dari orkestra. Bedanya dengan rumah tangga, kalau di sekolah jumlah pemainnya ratusan. Tapi justru di situlah tantangannya: bagaimana setiap orang bisa ikut menabuh alatnya masing-masing, tanpa ada yang fals.

Maka, manajemen kolosal ala Pak Tejo bukan sekadar teori populer, melainkan praktik nyata: dari dapur rumah ke ruang guru, dari atap berpanel surya ke laboratorium siswa, dari ide kecil ke cita-cita besar. Semua untuk satu tujuan—melahirkan alumni yang bukan hanya cari kerja, tapi juga menciptakan kerja.
Pada akhirnya, manajemen kolosal ala Pak Tejo mengajarkan kita satu hal sederhana: jangan terlalu sibuk mencari resep sukses di buku-buku manajemen internasional kalau ide segar justru sudah ada di dapur sendiri. Dari rumah ke sekolah, dari pengalaman sehari-hari ke panggung pendidikan, semua bisa jadi bahan bakar perubahan—apalagi kalau digabung dengan energi terbarukan yang tidak pernah habis.
Seperti kata Peter Drucker, “The best way to predict the future is to create it.” Kalau diterjemahkan ala Pak Tejo, mungkin bunyinya begini: “Cara terbaik menebak masa depan itu ya bikin sendiri, jangan cuma nunggu jatah dari dari pasar kerja.”
Atau dalam kearifan lokal Bali, kita bisa mengutip ungkapan lama, “Dadia gumi sane becik saking awak sane becik” (Jadikan dunia yang baik dimulai dari diri yang baik). Dengan gaya kolosal, Pak Tejo sedang membuktikan pepatah itu: dimulai dari diri, keluarga, lalu menular ke sekolah, dan akhirnya ke masyarakat luas melalui alumninya.
Jadi, dalam manajemen kolosal, tidak ada istilah “satu orang superman.” Yang ada adalah “super team” yang bisa menyalakan cahaya, meski awalnya hanya bermodal lampu kecil di rumah Pak Tejo.
Manajemen kolosal ini sebenarnya juga merupakan paket hemat berbagai teori manajemen modern. Bedanya, penyajiannya bukan lewat buku tebal berbahasa Inggris, tapi lewat obrolan di meja sarapan sambil ngopi. Rasanya lebih nyantol di hati karena disampaikan dengan logat Banjarnegara yang renyah.
Dari meja sarapan itu saya bawa pulang dua hal sederhana: rasa bubur ayam yang enak, dan satu gagasan kepemimpinan yang mudah diingat. Manajemen kolosal bukan retorika; ia praktik yang bisa dioperasionalkan lewat struktur, budaya, dan pelibatan banyak orang di sekolah. Kalau Pak Imam mengajari kita sesuatu, itu bukan sekadar cara mengelola. Itu cara memanusiakan sekolah — menjadikannya ruang bagi semua orang, dari satpam hingga siswa, merasa punya andil, punya kreativitas, dan punya martabat.[T]
Penulis: I Wayan Yudana
Editor: Adnyana Ole



























