24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kepo, Saat Rasa Ingin Tahu Begitu Menganggu

Angga Wijaya by Angga Wijaya
September 18, 2025
in Esai
Kepo, Saat Rasa Ingin Tahu Begitu Menganggu

Ilustrasi tatkala.co | Diolah dengan Canva

DALAM berbagai kesempatan, saat sedang berada lama di sebuah warung atau kafe, bekerja dengan menggunakan laptop; menulis berita, esai, atau puisi, saya bukan hanya pelanggan yang pasif. Apalagi, sebagai “Rojali”, Rombongan Jarang Beli, menikmati fasilitas tanpa melakukan pembelian. Bekerja dari warung atau kafe, saya biasanya memesan kopi panas bahkan hingga dua cangkir, disela dengan es teh. Saya jarang memesan makanan, sebab setelah makan biasanya saya mengantuk dan itu bisa menganggu semangat menulis.

Pada sebuah kafe kecil, ketika saya memesan kopi untuk kedua kalinya, terdengar tawa dari staf kafe dilanjutkan percakapan dengan staf lain. Awalnya saya berpikir positif, namun setelah saya perhatikan dengan seksama, saya tahu bahwa sayalah yang dibicarakan. Rupanya di Bali, bekerja dengan laptop berjam-jam di kafe masih dianggap “kurang umum”.

Saya sadar, berlama-lama di kafe memang menambah beban listrik untuk re-charge laptop atau ponsel. Karena itu, saya membayar lebih dengan memesan kopi dan es teh seharga total 30 ribu rupiah. Itu saya hitung setara dengan bila saya memesan makanan ditambah minuman. Saya tidak mau kafe merasa rugi hanya karena saya duduk lama..

Namun, celetukan dan obrolan staf tidak hanya terjadi sekali dua kali. Di tempat lain pun tak jauh berbeda, apalagi jika pemilik atau manajer tidak ada. Para staf, jika tidak bermain ponsel, biasanya mengobrol, mengomentari tamu, mencari sesuatu yang janggal. Padahal, tak ada yang aneh. Apa hak mereka untuk mengomentari pembeli, kecuali jika ada pelanggaran hukum misalnya mencuri, melakukan pelecehan, atau berkelahi? Dari pengalaman itu saya sampai pada satu kesadaran: kebiasaan ingin tahu urusan orang lain ini sudah terlalu biasa, seakan menjadi “budaya”.

Tapi apakah pantas disebut budaya? Saya meragukannya. Kata budaya berasal dari bahasa Sanskerta buddhi—berkaitan dengan budi, sesuatu yang luhur, mulia, dan baik. Korupsi, misalnya, sering disebut “budaya korupsi”. Padahal jelas itu bukan sesuatu yang patut dimuliakan. Karena itu, ketimbang menyebutnya budaya, lebih tepat jika kita menyebutnya kebiasaan sosial.

Dari Penasaran ke Kepo

Dalam bahasa gaul Indonesia, kebiasaan ingin tahu urusan orang lain disebut kepo. Kata ini sebenarnya serapan dari bahasa Hokkien kaypoh, yang berarti cerewet atau suka ikut campur. Bedanya dengan “penasaran” cukup tipis, namun penting. Penasaran sifatnya netral, bahkan positif, rasa ingin tahu terhadap sesuatu yang wajar, misalnya jalan cerita film atau isi sebuah buku. Sementara kepo cenderung negatif, yakni ingin tahu berlebihan, terutama menyangkut kehidupan pribadi orang lain.

Pengalaman saya di kafe itu bukan hal besar, tapi cukup menggambarkan bagaimana “kepo” sering bekerja, yakni melihat sesuatu yang dianggap janggal, lalu menjadikannya bahan obrolan. Dari gosip ringan, komentar tak penting, sampai prasangka.

Dengan hadirnya internet dan media sosial, kepo menemukan rumah barunya. Jika dulu orang hanya bisa kepo lewat obrolan tatap muka, kini kepo cukup dilakukan dengan membuka layar ponsel.

Facebook, Instagram, TikTok, atau bahkan WhatsApp Story menjadi ladang subur. Mau tahu kegiatan seseorang? Tinggal klik. Mau tahu siapa pacarnya? Lihat foto yang di-tag. Mau tahu kabar tetangga? Periksa status WhatsApp. Semua seolah tersedia untuk kepentingan rasa ingin tahu.

Di satu sisi, media sosial memberi ruang berbagi. Di sisi lain, ia membuka celah bagi perilaku kepo yang mengikis privasi. Kita mungkin hanya ingin tahu kabar seorang kawan, tapi ada juga yang menjadikannya bahan gosip. Dari sekadar komentar, kepo bisa berubah menjadi stalking, perundungan, atau bahkan ancaman nyata terhadap keamanan seseorang.

Seperti dua sisi mata uang, kepo tak melulu buruk. Ada sisi positif yang jarang disadari, yaitu, rasa ingin tahu bisa mendorong kita belajar, mencari informasi, dan memahami dunia lebih luas. Dalam jurnalisme, misalnya, rasa kepo adalah modal awal. Wartawan harus kepo terhadap fakta, data, dan cerita tersembunyi.

Namun, kepo yang sehat berbeda dari kepo yang mengganggu. Kepo yang sehat berorientasi pada pengetahuan, sementara kepo yang mengganggu berorientasi pada kehidupan pribadi orang lain. Bedanya terletak pada etika.

Kepo negatif sering berujung gosip, perundungan, dan prasangka. Contoh paling nyata adalah budaya komentar di media sosial, setiap unggahan publik figur selalu ada yang mengaitkan dengan kehidupan pribadi, bahkan yang tidak relevan sekalipun. Seolah-olah publik berhak ikut campur.

Perspektif Psikologi

Dari perspektif psikologi, rasa ingin tahu (curiosity) adalah bagian alami dari perkembangan manusia. Anak-anak belajar karena rasa ingin tahu. Ilmuwan menemukan hal-hal baru juga karena didorong rasa ingin tahu. Namun, ketika curiosity bergeser menjadi kepo, masalah mulai muncul.

Psikolog menjelaskan bahwa kepo berlebihan bisa muncul karena rasa tidak aman dalam diri seseorang, atau insecure. Orang yang tidak percaya diri dengan hidupnya sendiri cenderung lebih banyak mencari celah dalam hidup orang lain. Ada juga yang melakukannya sebagai bentuk kontrol sosial—ingin merasa lebih baik dengan menilai kehidupan orang lain. Dalam kasus yang lebih ekstrem, kepo bisa menjadi obsesi, dorongan ingin tahu yang tidak terkendali, menyerupai perilaku kompulsif.

Apakah kepo bisa disebut tanda gangguan mental? Tidak selalu. Sebagian besar kepo hanyalah pola sosial yang umum. Namun, bila kepo sudah mengarah pada perilaku obsesif, menguntit, atau bahkan merusak privasi orang lain, ia bisa menjadi gejala masalah psikologis yang lebih serius.

Wajar jika manusia ingin tahu tentang sesamanya. Itu bagian dari kodrat kita sebagai makhluk sosial. Tetapi wajar tidak berarti boleh tanpa batas. Di sinilah pentingnya menata rasa ingin tahu.

Kita perlu bertanya pada diri sendiri, apakah informasi itu memang kita butuhkan, atau hanya sekadar memuaskan rasa kepo? Apakah pertanyaan kita membuat orang lain nyaman, atau justru membuatnya merasa diselidiki? Apakah kita ingin tahu karena peduli, atau sekadar mencari bahan gosip?

Dalam hidup modern yang serba terbuka, menjaga batas privasi menjadi semakin penting. Media sosial membuat kita mudah mengakses kehidupan orang lain, tapi itu tidak berarti kita berhak mengomentari semuanya. Etika, empati, dan rasa hormat tetap harus menjadi pegangan.

Pengalaman saya di kafe itu, mungkin tampak sepele. Tapi ia memberi gambaran tentang bagaimana rasa ingin tahu bisa dengan mudah bergeser menjadi sikap mengganggu. Dari obrolan ringan, menjadi gosip, lalu mengikis batas antara kepedulian dan perundungan.

Kepo, pada akhirnya, adalah soal bagaimana kita mengelola rasa ingin tahu. Ia bisa menjadi energi positif bila diarahkan pada hal-hal produktif. Tapi ia juga bisa berubah menjadi racun sosial bila digunakan untuk mencampuri urusan pribadi orang lain. Privasi, meski semakin tipis di era digital, tetaplah hak setiap orang. Dan setiap kali kita tergoda untuk kepo, barangkali ada baiknya kita mengingat satu hal sederhana, bahwa, tidak semua yang kita ingin tahu, memang pantas untuk kita ketahui. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: media sosialPsikologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kampusku Sarang Hantu [33]: Nenek Penyapu Halaman Kampus

Next Post

Di Bawah Dukungan Sang Ibu, Oky Septiani Sabet Medali Emas Woodball Porprov Bali 2025

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
0
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

Read moreDetails

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

by Angga Wijaya
August 24, 2026
0
Telenovela

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

Read moreDetails

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails
Next Post
Di Bawah Dukungan Sang Ibu, Oky Septiani Sabet Medali Emas Woodball Porprov Bali 2025

Di Bawah Dukungan Sang Ibu, Oky Septiani Sabet Medali Emas Woodball Porprov Bali 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo
Pop

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma
Esai

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
Telenovela
Esai

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

by Angga Wijaya
August 24, 2026
Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini
Kritik Seni

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

“Everybody In Bali Seems to be an artist” Kutipan itu persis terlontar 89 tahun lalu dari Miguel Covarrubias. Seorang seniman...

by Made Chandra
August 24, 2026
Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co