2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Taxman” dan Sindiran bagi Elite yang Berhidup Megah

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
September 3, 2025
in Esai
“Taxman” dan Sindiran bagi Elite yang Berhidup Megah

Ilustrasi: tangkap layar youtube

“If you drive a car, I’ll tax the street
If you try to sit, I’ll tax your seat
If you get too cold I’ll tax the heat
If you take a walk, I’ll tax your feet”

(Beatles,-Taxman)

POTONGAN bait tersebut merupakan bagian lirik lagu The Beatles “Taxman” yang ditulis oleh George Harrison, yang dirilis pada Agustus 1966. “Taxman” merupakan sindiran keras terhadap tarif pajak di Inggris yang tidak masuk akal. Dalam sebuah wawancara yang dimuat dalam autobiografinya I Me Mine, Harrison mengatakan bahwa “Taxman” ia tulis setelah menyadari bahwa walaupun dirinya dan Beatles mulai mendapatkan uang, namun sebagian besar dari uang tersebut ia bayarkan kepada “Taxman” (https://esensialis.wordpress.com/2017/07/14/beatles-dan-kritik-terhadap-pajak-progresif-inggris/).  Pada masa tersebut, lanjutnya ia harus membayar 19 shillings dan enam pence dari setiap pound yang ia dapat.

Menurut Harrison dalam sebuah wawancara, dirinya dan personel Beatles lainnya hanya akan mendapat enam pence atau satu perempatpuluh dari setiap pound yang mereka dapat. Dua nama Perdana Menteri Inggris yakni Harold Wilson dan Edward Heath disebut dalam lagu itu, kedua nama ini dianggap bertanggungjawab dalam tarif pajak sinting tersebut.

Beatles protes pajak karena besarannya, dan semuanya dipajak seperti bait di atas. Masyarakat kita gaduh perihal pajak, karena perilaku elit politik yang tidak memihak pada kami, rakyat yang taat membayar pajak.

Seperti tersiar berita di Kabupaten Pati, bupatinya dengan arogan bernarasi saat menaikan pajak bumi dan bangunan yang fantastis besar sekali menurut ukuran wajib pajak pada umumnya, sehingga terjadi demonstrasi besar-besaran di Kabupaten Pati. Rakyatnya ingin melengserkan sang Bupati “Mr. Taxman”, gaduh jagat Pati akibat ulah sang Taxman, Pati rusuh.

Selang dua tiga minggu kemudian rusuh dimana-man. Terjadi penjarahan di Jakarta dan sekitarnya, kota-kota besar di Indonesia,  Bandung, Makassar, Surabaya, Yogjakarta, Semarang, dan kota lainnya terjadi demonstrasi hebat. Sampai saat ini bahkan sekolah-sekolah banyak yang di liburkan. Di Makassar dua gedung parlemen kota dan provinsi dibakar. 

Bentuk  kemurkaan, kekecewaan rakyat dan massa juga dilampiaskan dengan menjarah rumah-rumah anggota parlemen, dan menteri keuangan, porak poranda rumah dan isinya senilai puluhan sampai ratusan miliar dalam sekejap lulu-lantah perabot rumah, pakaian dan barang-barang yang sangat pribadi dijarah, mobil-mobil mewah dihancurkan.

Bila kita lihat kemarahan rakyat mungkin salah satunya ditengah situasi sulit rakyat, elite di pemerintahan, parlemen berflexing ria, soal penghasilan, tunjangan ini itu dan lain-lain.

Rakyat tahu persis, bahwa mereka para elite itu menikmati berbagai fasilitas negara  dari tarif pajak yang dibayar rakyat selama ini. Mereka seolah tidak menggubris tuntutan aspirasi rakyat, malah dibalas dengan berjoget ria, bernarasi “guru menjadi beban negara, “kami ini kaum elite” wajar kalau dapat tunjangan ini itu, mereka bernarasi membela diri dan menantang “rakyat paling tolol” sedunia, katanya.

***

Saat unjuk rasa, demonstrasi besar-besaran di Jakarta terjadi insiden yang memilukan, seorang pengemudi ojek online tewas terlindas; atau dilindas, hanya Tuhan yang tahu. Dari peristiwa tersebut gelombang massa terus menerus sampai saat ini menyuarakan ketidakadilan yang dirasakan rakyat. Meskipun para elite yang dianggap sebagai “public enemy” sudah diberhentikan atau dinonaktifkan sebagai anggota parlemen. Unjuk rasa masih terus berlangsung sampai saat ini, salah satu tuntutannya adalah pemerintah pusat mencabut kebijakan pajak baru, RUU perampasan aset dan lain-lain. 

Kembali ke tema tulisan, perihal beban pajak yang harus ditanggung rakyat, besaran pajak yang ditetapkan oleh pemerintah, umumnya nyaris rakyat sebagai warga negara menerima tanpa penolakan yang berarti, karena memang masyarakat kita sudah menyadari manfaat pajak untuk berbagai macam pembangunan negara kita.

Seperti saya sampaikan di atas bukan nilai besarnya perkara pajak A, pajak B, dan C berapa pun kami bayar pajaknya mulai pajak bumi dan bangunan, kendaraan bermotor, penghasilan, makanan yang kita makan di resto, belanja di supermarket dan sebagainya. Pokoknya kita bayar Berapa pun pajaknya, masyarakat kita ini sangat taat pada pajak, terbukti pajak sebagai penopang utama negara kita. Karena katanya “Orang Bijak Taat Pajak” demikian semboyan yang dikeluarkan kantor-kantor pajak. masyarakat kita mungkin terbilang sangat santun.

Namun melihat tingkah polah para elite yang selama ini tidak mendengar, menyapa rakyatnya dengan baik, komunikasi publik para elite umumnya buruk, selalu menuai kontroversi, kurang peka pada apa yang dirasakan publik, terutama membahas beberapa pajak yang dibebankan pada rakyat.

Malah pernah marak fenomena figur publik, para elit, keluarga pejabat publik yang suka pamer harta ramai diperbincangkan. Fenomena pamer harta oleh beberapa kalangan ini bisa disebut dengan istilah  flexing. Orang yang suka pamer harta berlebihan dan hidup megah ini kemudian juga disebut dengan crazy rich. Bahkan anggota parlemen yang digeruduk masa rumahnya juga dijuluki crazy rich.  

Masyarakat juga pernah cenderung sering dihebohkan dengan kekayaan oknum pegawai Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan yang sangat tinggi. Bahkan, harta kekayaan yang dimiliki dinilai tidak wajar sehingga menimbulkan spekulasi dari berbagai pihak. Hal ini mencuat setelah kasus penganiayaan yang dilakukan Mario Dandy Satriyo beberapa tahun yang lalu, terhadap Cristalino David Ozora, putra pengurus Pimpinan Pusat GP Ansor. Bukan hanya kasusnya, namun gaya hidup dan kekayaan yang dimiliki keluarga Mario Dandy yang jadi sorotan. Akhirnya merebak ke semua pegawai pajak menjadi sorotan public.

Mereka mempertontonkan harta dan hidup megahnya, baik berupa uang, mobil mewah, rumah mewah ataupun saldo ATM. Secara harfiah, flexing dalam bahasa Inggris berarti pamer. Flexing adalah menunjukkan sesuatu kepemilikan atau pencapaian dengan cara yang dianggap orang lain tidak menyenangkan. Flexing atau pamer biasanya dilakukan untuk mencapai beragam tujuan, di antaranya menunjukkan status dan posisi sosial, menciptakan kesan bagi orang lain, dan menunjukkan kemampuan. Ajang pamer itu tidak hanya dilakukan oleh satu orang ke orang lainnya, tapi juga ke masyarakat luas dengan menggunakan media sosial seperti Instagram, Twitter, TikTok hingga YouTube (https://m.tribunnews.com/lifestyle/2022/03/25/hukum-pamer-harta-atau-flexing-menurut-islam-ini-bahayanya?page=all).

Perilaku “riya” tersebut, dapat menyulut emosi massa,  perbuatan riya ini merupakan perbuatan syirik kecil yang memiliki dosa yang besar (https://www.suara.com/news/2022/03/21/114902/bagaimana-hukum-pamer-kekayaan-menurut-islam-ini-jawaban-ustadz-adi-hidayat). Hal ini sebagaimana Allah SWT pernah bersabda dalam Al-Quran Surat Luqman ayat 18: “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.”

Selain mencederai kepercayaan masyarakat, gaya hidup mewah yang ditonjolkan juga melanggar azas kepatutan dan kepantasan publik. Meskipun, harta yang dimiliki berasal dari cara-cara yang halal. Memamerkan harta merupakan sikap riya yang dilarang oleh Islam, dan semua ajaran agama. Semoga para elite sadar diri, bahwa mereka digaji difasilatasi berbagai kebutuhannya oleh negara dari jerih payah rakyat dalam membayar pajak. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis AHMAD SIHABUDIN
Tags: flexinggaya hidupgaya hidup mewahpajakpejabat
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tikus-Tikus Kantor dan Harga Murah Nyawa Rakyat

Next Post

“From Sketch To Soul”: Pameran Perdana Indira Laksmi di Tegal Temu Space

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
“From Sketch To Soul”: Pameran Perdana Indira Laksmi di Tegal Temu Space

"From Sketch To Soul": Pameran Perdana Indira Laksmi di Tegal Temu Space

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co