23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kemerdekaan Perempuan di Layar Kaca: Refleksi Umur dan Nasib Korea Selatan – Indonesia

Syfa Amelia by Syfa Amelia
August 14, 2025
in Esai
Demokratisasi Sinema: TikTok dan “Reels” sebagai Panggung Baru Film Pendek Indie

Syfa Amelia

ADA yang menarik perhatian saya akhir-akhir ini. Pada bulan September nanti akan tayang 4 drama Korea female centric di Netflix dan platform streaming lainnya. Yang membuat saya tertarik karena 4 drama ini memiliki satu kesamaan benang merah yaitu narasi yang berpusat pada perempuan.

Pertama, drama Aema yang berkisah tentang dunia aktris pada tahun 1980 dengan segala intriknya, kemudian You and Everything Else, sebuah kisah persahabatan di tengah kondisi sakit parah. Lalu  ada A Hundred Memories yang bercerita tentang kisah hangat persahabatan dua kondektur bus di tahun 1980, dan ada Project Y, drama dengan genre aksi noir perihal dua sahabat yang bertekad mencuri emas 80 miliar won untuk mengubah nasib.

Fenomena di atas membuat saya melakukan refleksi bahwa satu bulan setelah kemerdekaan Indonesia dan Korea, empat drama di atas tayang seolah menjadi simbol sebuah perjuangan yang juga penting, yaitu kemerdekaan perempuan di layer kaca. Korea dengan lingkungannya yang sangat patriarki dan misoginis, adanya drama female centric ini seperti menjadi harapan bahwa industri sinema di Korea telah berhasil berubah, tidak lagi berfokus pada laki-laki sebagai tumpuan utama.

Beberapa tahun terakhir Korea Selatan telah menunjukkan perubahan di industri hiburan mereka. My Name yang dibintangi Han So Hee sebagai gangster tangguh dan The Glory yang dibintangi Song Hye Kyo yang merencakan pembalasan dendam tanpa ada sosok lelaki sebagai pahlawan. Ada juga Little Women yang berfokus pada kisah 3 kakak beradik perempuan.

Munculnya drama-drama di atas bukan sekadar tren, namun respons atas meningkatnya kesadaran akan isu sosial dan gender di Korea Selatan. Penonton cenderung lebih kritis, menginginkan cerita yang kompleks, berani dan inspiratif. Penonton ingin perempuan adalah sebuah pribadi yang bisa menentukan nasibnya sendiri. Laku kerasnya drama tersebut dan pujian dari kritikus membuktikan bahwa narasi yang berpusat pada perempuan memiliki pasar luas dan menguntungkan.

Dari kasus di atas otomatis saya terpikir pada industri hiburan di Indonesia. Kita memiliki film Yuni karya Kamila Andini yang menjadi contoh film female centric, di mana ia tidak hanya menempatkan Yuni sebagai karakter utama, namun juga menggunakan perspektif yang mengkritik norma sosial yang membatasi kemerdekaan perempuan. Ada juga film seperti Athirah dan Kartini dengan nada serupa.

Namun jika dibandingkan dengan jumlah produksi di Korea Selatan, Indonesia terasa masih berada di tahap awal. Masih banyak karakter perempuan di film atau sinetron Indonesia yang terjebak stereotip, seperti ibu yang berkorban, istri tersakiti atau objek nafsu. Dominasi narasi laki-laki masih sangat rekat, terutama di genre aksi. Perempuan sering hanya menjadi gadis yang harus diselamatkan laki-laki.

***

Saya jadi melakukan refleksi kenapa Indonesia masih di posisi itu padahal kemerdekaan kita dan Korea hanya beda berapa hari. Saya merunut beberapa alasan yang menurut saya menjadi faktor dari fenomena tersebut yaitu pertama, resistensi pasar. Produser ragu untuk membuat karya female centric, karena takut tidak laku. Formula lama seperti film horor atau romansa laki-laki dan aksi laki-laki masih dianggap menjual di pasar Indonesia.

Padahal Korea sudah menunjukkan keberanian eksperimen genre telah berhasil membuka pasar baru. Kedua, minimnya perempuan di balik layar. Memang Indonesia mengalami pertambahan jumlah perempuan di industri hiburan, namun representasinya masih tetap kecil dibanding laki-laki. Cerita yang lahir dari perspektif laki-laki akan membatasi kedalaman karakter perempuan. Akhirnya narasi perempuan akan dangkal dan penuh stereotip.

Kemerdekaan kita setiap Agustus bijaknya dimaknai tidak hanya sebagai kebebasan dari penjajahan fisik, namun juga sebagai momentum untuk membebaskan dari belenggu stereotip gender. Di industri film dan serial, artinya bisa menempatkan perempuan di ruang sebagai subjek utama yang menggerakkan narasi bukan hanya pelengkap.

Banyaknya representasi perempuan dan cerita tentang perempuan, seperti perempuan yang memiliki ambisi di Aema, perempuan yang merayakan persahabatan di You and Everything Else dan A Hundred Memories serta perempuan yang melangkah penuh keberanian mengambil risiko sepeti di Project Y. Karya tersebut tidak hanya menghibur namun juga menginspirasi. Bukti bahwa perempuan adalah pribadi yang kompleks, memiliki banyak sisi dan kisah mereka layak diceritakan.

Semoga refleksi dari industri Korea ini menjadi cambuk bagi sineas dan produser di Indonesia. Sudah saatnya kita memberikan lebih banyak kemerdekaan untuk perempuan di layar kaca—bukan hanya sebagai bintang, tapi juga sebagai pencerita, penulis, dan sutradara yang bisa menyuarakan narasi autentik tentang pengalaman perempuan. Dengan begitu, layar kaca kita tidak hanya akan menjadi cermin dari realitas yang ada, tapi juga jendela menuju masa depan yang lebih setara. [T]

Penulis: Syfa Amelia
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Batas Budaya: Transnasionalisme Semu dalam Proyek Film dan Drama Jepang-Korea
Estetika dalam Film Dokumenter: Kunci Visual untuk Bercerita
Demokratisasi Sinema: TikTok dan “Reels” sebagai Panggung Baru Film Pendek Indie
Menonton Seperti Membaca:  Strategi Membaca Film di Kelas Bahasa
Tags: filmIndonesiaKorea SelatanPerempuan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Masiat Paturu Bali”, Ketika Saudara Menjadi Lawan

Next Post

“Rahasia Bapak”,  Pertunjukan Tari Penuh Kekacauan — Catatan Menonton Karya Ujian Mahasiswa Pascasarjana ISI Surakarta di Desa Aan

Syfa Amelia

Syfa Amelia

Dosen Prodi Kajian Film, TV dan Media, Fisip, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” ( UPNVJ) Jakarta

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
“Rahasia Bapak”,  Pertunjukan Tari Penuh Kekacauan — Catatan Menonton Karya Ujian Mahasiswa Pascasarjana ISI Surakarta di Desa Aan

“Rahasia Bapak”,  Pertunjukan Tari Penuh Kekacauan -- Catatan Menonton Karya Ujian Mahasiswa Pascasarjana ISI Surakarta di Desa Aan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co