GELOMBANG pembayaran digital mulai mengubah cara orang bertransaksi di Indonesia. Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) menjadi wajah baru pembayaran nontunai yang digadang-gadang praktis, cepat, dan serba mudah. Namun, di Desa Gunaksa, Klungkung, masih diwarnai keraguan dari kekhawatiran soal keamanan hingga kebingungan cara penggunaannya.
Sejak diluncurkan oleh Bank Indonesia dan Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) pada 2019, Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) mencatat pertumbuhan yang signifikan. Bahkan per Juni 2025, kenaikan volume transaksi QRIS mencapai 148,50%. Dari besarnya persentasi tersebut, mencerminkan bahwa terdapat pergeseran perilaku masyarakat dan modernitas yang semakin matang.
QRIS menjadi primadona terutama di kalangan anak muda dan pelaku usaha kreatif. Format kodenya yang seragam memungkinkan pembeli membayar dari berbagai aplikasi dompet digital atau mobile banking hanya dengan satu pemindaian. Selain praktis, QRIS mengurangi kebutuhan uang tunai, meminimalkan risiko uang palsu, dan mendukung pencatatan keuangan yang lebih rapi bagi pelaku usaha.
Survei KKN-PPM Udayana Ungkap Penerimaan QRIS di Desa Gunaksa, Klungkung
Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Desa Gunaksa, Klungkung, mulai menggunakan QRIS sebagai alat pembayaran. Kehadiran metode ini menjadi langkah awal untuk mengikuti arus digitalisasi transaksi. Namun, penggunaan QRIS ini hanya diterapkan oleh beberapa pelaku UMKM saja.
Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Udayana Periode XXXI tahun 2025 telah melakukan survei ke 17 UMKM di Desa Gunaksa. Dari hasil survei, tercatat hanya empat pelaku UMKM di Desa Gunaksa yang telah memiliki QRIS. Mayoritas belum menggunakannya karena merasa lebih nyaman bertransaksi tunai, meski ada pula yang sudah memanfaatkan QRIS namun terbatas pada pelanggan tertentu. Beberapa kendala utama yang muncul meliputi kekhawatiran soal keamanan, kurangnya pemahaman cara penggunaan, serta keberatan terhadap biaya administrasi yang dikenakan.
Pandangan dan Kekhawatiran Warga
Warga Desa Gunaksa memberikan beragam pandangan terkait penggunaan QRIS sebagai metode pembayaran. Salah satunya adalah Muhammad Rhoisul A. (20), pelaku usaha kuliner, yang memilih tetap mengandalkan uang tunai. “Lebih nyaman menggunakan tunai dan kendala terdapat pada biaya admin,” ujarnya.
Kekhawatiran utama warga yang meliputi keamanan transaksi digital, potensi biaya tersembunyi, serta keterbatasan pemahaman terkait cara penggunaan QRIS, mmembuat sebagian pedagang ragu meninggalkan metode pembayaran konvensional.
Meski menawarkan efisiensi, adopsi QRIS masih terhambat oleh rendahnya literasi digital, terutama di kalangan pelaku usaha kecil. Keraguan terhadap keamanan dan keengganan mempelajari teknologi baru menjadi tantangan yang harus diatasi agar penerapan QRIS dapat berjalan merata di desa.
Inovasi ini memang membawa janji kemudahan, tetapi juga memunculkan pertanyaan besar: apakah QRIS akan menjadi pintu menuju ekonomi desa yang lebih maju, atau justru meninggalkan sebagian warga yang belum siap beradaptasi? [T]
Penulis: Vivit Arista Dewi
Editor: Adnyana Ole



























