PAGI. Langkah kaki Widya Mutyari dan temannya, Tirta Yani, tampak terburu-buru datang ke Ruang Niti Sastra, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Undiksha Singaraja, Sabtu pagi, 9 Agustus 2025.
Mereka berdua adalah peserta kegiatan Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya di bidang Asah Bakat Penulisan Cerita Pendek (Cerpen) yang diselenggarakan Yayasan Mahima Indonesia serangkaian program Singaraja Literary Festival (SLF) 2025 berkolaborasi dengan Kementerian Kebudayaan RI.
Pada Sabtu pagi itu, pemateri yang dihadirkan adalah sastrawan Putu Juli Sastrawan yang baru saja meluncurkan novel barunya yang berjudul “Menuai Badai”.
MTN Seni Budaya ini sebagai program strategis nasional yang bertujuan untuk menjaring, mengembangkan, dan mempromosikan talenta seni budaya Indonesia secara terstruktur dan berkelanjutan.
Untuk itulah Widya Mutyari dan Tirta Yani datang terburu-buru. Selain karena terlambat, mereka ingin tahu lebih dekat dengan sastra, ingin tahu lebih khusus juga, apa dan bagaimana menulis cerpen itu.
Di meja registrasi di lorong lantai dua FBS, Undiksha, para peserta sekitar 80 orang itu sudah mengambil antreannya masing-masing. Sesuai waktu datang, Widya dan Tirta mendapat antrean paling belakang, mendapat kursi duduk juga paling belakang. Tak apa, katanya.
“Aku ikut ini karena tertarik sih, Kak. Aku senang baca cerpen juga,” kata Widya.
Widya sudah sejak SMP suka baca sastra, sampai sekarang bahkan. Dan baru-baru ini, dia sudah melahap habis novel Si Anak Hilang—karya Tere liye.
“Saya suka Tere Liye sama Boy Candra juga,” lanjut Widya.
Tidak jauh berbeda, Tirta juga mengatakan hal sama tentang alasan ikut workshop ini karena suka dengan cerpen.

Widya (kiri) dan Tirta (kanan), menyimak di kursi duduk paling belakang | Foto: tatkala/Son
Bagi dua orang itu, cerpen bisa dibaca sekali duduk ketimbang novel—yang membutuhkan waktu satu sampai tiga hari. Tapi intinya, mereka suka baca.
“Walaupun tidak terlalu sering, Kak. Hehe,” kata Tirta rendah hati.
Tirta pernah dapat juara menulis cerpen tahun lalu, 2024. Dan ketika mendapat bingkisan sebuah pulpen, buku catatan(noote book), dan buku kumpulan cerpen terbitan Mahima Institute Indonesia, ia tampak merasa senang, membuka-buka buku itu.
Dia juga merasa bergairah lagi untuk menulis karena merasa punya asupan baru, ya, buku itu. Katanya, dia sudah lama tidak punya buku baru dan sudah lama tak menulis cerpen.
Berbeda dengan Widya, ia hanya senang membaca, dan tak ada cita-cita untuk menulis cerpen.
“Saya tidak ada keinginan untuk menulis, Kak. Hanya suka baca aja,” ucap Widya dengan kumis tipis setengah senyum itu. Manis.
Empat Trik Agar “Yakin” Sebelum Menulis Cerpen
Selepas para peserta, yang terdiri dari siswa-siswi SMA dan Mahiswa-mahasiswi itu duduk, Juli Sastrawan lantas memulai workshop-nya.
Sekilas mengenal Juli Sastrawan, atau biasa disapa Juli, adalah sastrawan yang mengawali proses belajar di Komunitas Mahima. Sejak 2022 ia berfokus pada penelitian memori kolektif, politik ingatan, serta narasi sejarah dalam sastra dan seni.

Juli Sastrawan, David Irianto (tim MTN Kementerian Kebudayaan RI) dan Kadek Sonia Piscayanti (Pendiri dan Direktur SLF) saat membuka acara MTN Asah Bakat di kampus Undiksha Singaraja | Foto: Tim SLF 2025
Pada 2024, ia menjalani residensi menulis di Kyoto dan menjadi peneliti tamu di Pusat Kajian Asia Tenggara, Universitas Kyoto. Saat ini, ia tengah mengerjakan proyek penulisan yang mengeksplorasi bagaimana fiksi menjadi medium bagi penyintas dan saksi mata Peristiwa 1965 dan Bom Atom Hiroshima.
“Menulis itu, memang berat, yah. Berat sama dipikul,” kata Juli memulai kelasnya dengan humor.
Sontak para peserta tertawa. Acara menjadi cair. Tidak tegang.
“Tapi,” lanjut Juli, “Tidak sama dengan mustahil!”.
Para peserta pun terdiam. Seakan mereka kejatuhan energi tambahan mendengar berat tidak sama dengan mustahil. Ya, ada kemungkinan-kemungkinan di dalamnya, untuk penulis pemula.

Juli Sastrawan memberikan materi | Foto: Tim SLF 2025
Agar semakin yakin para peserta bisa menulis cerpen, Juli lemparkan empat tips. Widya dan Tirta, dan para peserta lainnya menangkap empat trik itu.
Satu, kata Juli.Adalah semangat. “Semangat itu, sangat penting dibangun untuk bisa menulis.”
Kedua, menjauhi jalan yang tidak benar. Maksudnya, jangan plagiat. Jangan nyolong cerita milik orang lain. Harus orisinil ciptaan sendiri. Harus kreatif. Belajar.
Kemudian yang ketiga, adalah belajar merelakan. Dalam hal ini, merelakan tulisan yang jelek saat belajar itu, perlu. Dan itu tidak apa-apa.
Terus yang keempat, yaitu mendiskusikan karya yang sudah selesai dibuat.
“Bisa mendiskusikannya dengan teman atau siapa saja yang enak diajak ngobrol. Atau pergi ke komunitas sastra untuk menerima masukan [yang lebih intens] agar tulisan lebih berkembang,” kata Juli.
Terhalang belakang punggung-punggung peserta lain, Widya tampak senyum-senyum tipis. Dia masih diam-menyimak, bertahan di kursi duduk paling belakang itu bersama Tirta. Mereka menyimak sangat serius.
Cerbung, Ice Breaking Menyambung Kalimat
Sebelum jauh Juli Sastrawan memberikan pemahaman tentang Istilah-istilah struktur cerita, Istilah-istilah tokoh, dan Struktur 3 Babak dalam cerpen seperti apa, ia lebih dulu mengajak para peserta untuk bermain cerbung (cerita bersabung), sebagai ice breaking.
Pada permainan itu, para peserta ditugaskan untuk membuat satu kalimat dari kalimat yang sudah dibuat oleh Juli: Sesaat setelah pintu lift terbuka, kami dikejutkan oleh pemandangan yang tak pernah kami bayangkan.
“Jangan pikir panjang. Langsung buat saja. Kemudian baca,” kata Juli Sastrawan agar para peserta tidak merasa terbebani. “Silahkan akses barcodenya,” tunjuk Juli ke layar.

Interaksi aktif peserta | Foto: Tim SLF 2025
Setelah diakses, dari peserta baris paling depan pojok kanan, kalimat itu dilanjutkan. Kata peserta pertama setelah menuliskan, “Terlihat pemandangan berkabut tersebut penuh misteri yang perlu dijawab yang tidak hanya oleh mata.”
Kemudian peserta di sebelahnya menyambung, “Udara menyesakan paru-paru kami sehingga urat nadi terkerut, menjerat seperuh darah yang mengalir ke otak kami!”
“Dilorong berkabut itu banyak darah berceceran,” lanjut peserta lainnya, dan para peserta sorak kengerian; uuuuuh….
Setelah sorak kengerian reda, peserta selanjutnya melanjutkan cerita, “Di antara kabut itu berdiri seseorang yang memegang pisau di tangan kirinya.”
“Yang tak pernah aku bayangkan seseorang itu adalah suamiku,” lanjut peserta lainnya, menghasilkan gelak tawa. Ramai orang menertawakan kalimat itu lucu—karena aneh sendiri.
“Ternyata objek itu adalah selai stoberi,” lanjut peserta lainnya tambah aneh, dan gelak tawa semakin meledak. Haha.


Interaksi aktif peserta | Foto: Tim SLF 2025
Selepas menulis cerita bersambung dengan satu kalimat, Juli Sastrawan menyatukan kalimat itu sesuai urutan, lalu membacanya :
“Sesaat setelah pintu lift terbuka, kami dikejutkan oleh pemandangan yang tak pernah kami bayangkan. Terlihat pemandangan berkabut tersebut penuh misteri yang perlu dijawab yang tidak hanya oleh mata. Udara menyesakan paru-paru kami sehingga urat nadi terkerut, menjerat seperuh darah yang mengalir ke otak kami.
Dilorong berkabut itu banyak darah berceceran
Di antara kabut itu berdiri seseorang yang memegang pisau di tangan kirinya
Yang tak pernah aku bayangkan seseorang itu adalah suamiku. dAN TERNYATA objek itu adalah selai stoberi. Suamiku mendatangiku dan menawarkan pisau untuk dijual. Suamiku datang membawa bunga dihiasi sosok hitam di belakangnya.
Dari balik pintu yang aku lihat terdengar suara gemuruh yang ku anggap itu ibuku. Ternyata itu bukan ibuku tapi bapakku. Ternyata bapakku sedang mengelas pagar. Ternyata yang dilas adalah tulang.
Aku melihat ke sekitar dan aku melihat tulang itu adalah tulang ibuku.
Itu adalah tulang ibu yang telah lama hilang dalam kegelapan.
Dengan santai suamiku berkata, “sayang kamu juga mau?”
Lalu aku menjawab pertanyaan itu, “Aku mau!”
Ya, aku mau dicintai. Lanjutnya.
Naas, tapi ini bukan hal pertama kali yang aku hadapi
Hal tersebut begitu cepat hingga aku lupa makan dan maagku kambuh. Aku pun terkaget kaget dengan kejadian tersebut hingga pingsan. Dia mencium keningku. Lalu aku terbangun memanjat tembok untuk mengejarnya. Lalu di pengejaran itu orang orang membantuku meneriaki dia maling. Begitu semangat aku berteriak, ada rentenir. Tidak dapat berpikir jernih lagi. Lalu aku tetap berlari dan mengabaikan renternir itu. Aku mendengar suara keras, seperti mobil pengangkut sampah yang membangunkanku dari mimpi.”
Tepuk tangan terdengar…
Evaluasi
Dari cerbung atau sebuah ice breaking itu, para peserta mendapatkan pengalaman mengumbar imajinasinya masing-masing, dan tidak takut untuk menuliskannya.
Dari ketidakraguan para peserta dalam menuliskannya, pun, Juli Sastrawan menilai mereka memiliki kemampuan dan kepribadian yang unik untuk menulis.
Namun, ada catatan bersama untuk dijadikan sebagai evaluasi. Yaitu, sebelum menulis sebuah cerpen, mesti lebih dulu menentukan; memulai dan mengakhiri. Agar ceritanya tidak terkesan sekadar mimpi, khayali.
“Dari cerbung itu juga, kita belajar soal karakter. Di cerbung itu, pembaca dibingungkan oleh si tokoh itu, sebenarnya siapa?” kata Juli.
Sehingga penokohan dan karakter itu perlu ditentukan, diciptakan, agar cerita lebih mudah dipahami dan logis.

Interaksi aktif peserta | Foto: Tim SLF 2025
Dalam cerita pendek (cerpen), ada istilah-istilah struktur cerita yang mesti diketahui. Narasi, konflik, cerita, latar, set-up, rangkaian adegan, ketegangan, dan penyelesaian. Yang membangun cerpen menjadi bertubuh dan hidup.
Narasi dapat dipahami sebagai pengisahan suatu cerita atau kejadian. Konflik adalah masalah utama dalam cerita. Latar, yaitu tempat terjadinya cerita.
Dan, keberadaan set-up sebagai penjelasan awal yang digunakan untuk memulai cerita. Kemudian rangkaian adegan adalah peristiwa-peristiwa yang membangun cerita.
Terus dalam cerpen juga harus ada ketegangan, sebagai kesulitan tertentu yang harus dihadapi oleh karakter dalam cerita. Dan yang terakhir, yaitu penyelesaian sebagai akhir dari cerita, akan diseperti apakan ending-nya, juga harus ditentukan. Boleh menggantung. Boleh tidak menggantung.
“Nah, di cerbung yang kita buat tadi itu, terlalu banyak kejadiannya. Di cerpen itu justru sederhana, cukup satu atau dua saja ada konflik,” kata Juli Sastrawan saat evaluasi hasil ice breaking menyusun cerita dengan masing-masing peserta satu kalimat.
Ia juga membedakan antara menulis cerpen dan novel. Bahwa di dalam cerpen hanya ada satu fokus saja tentang konflik, berbeda dengan novel yang biasanya lebih kompleks.
Kemudian soal penokohan, si tokoh dihadirkan harus membawa maksud dan tujuan bukan sekadar ada. Posisi tokoh dalam cerita itu, berfungsi untuk menjalankan cerita agar lebih hidup. Lebih ada yang ingin disampaikan.
Penokohan bisa apa saja bentuknya. Bisa pohon, bisa binatang, bisa manusia. Dan penokohan-penokohan yang dibuat, pula mesti dideskripsikan—bagaimana ia secara fisik, pula bagaimana karakternya. Harus detail diciptakan.
Beberapa penulis besar seperti George Orwell, melalui karyanya yang berjudul Animal Farm, menyeret babi-babi, burung, ayam, itu jadi tokoh. Kemudian memasukan karakteristik pada tokoh-tokohnya itu secara detail, sehingga antara cerita dan tokoh saling berkaitan.
“Apa yang diinginkan oleh si tokoh? Nah, motivasi itulah yang membuat cerita itu bergerak, karena dia ada masalah. Misalnya kebebasan, atau apa…,” kata Juli Sastrawan, menekankan pada setiap tokoh, atau dalam hal ini tokoh utama, mesti memiliki (semacam) premis, mengapa ia melakukan sesuatu itu dengan sadar.
Kemudian dalam penokohan juga, mesti ada kondisi eksternal. Yaitu sebuah kondisi yang berhubungan dengan orang lain, seperti persoalan.
Boleh juga kondisi internal. Seperti monolog batin, atau persoalan pribadi yang mengarah pada gangguan psikologis.
Struktur Tiga Babak, Formula Untuk Menyusun Cerita
Agar tidak bingung saat menulis cerita pendek, menentukan penokohan hingga karakter, dan latar-setting tempat itu, bisa meggunakan teknik struktur tiga babak.
Struktur tiga babak, adalah cerita yang memuat awal (beginning); berisi perkenalan tokoh dan masalah yang dia hadapi, tengah(middle); berisi perkembangan konflik yang muncul, dan akhir(End); berisi penyelesaian dari konflik dalam cerita.

Interaksi aktif peserta | Foto: Tim SLF 2025
Tiga kerangka itu bisa menyelamatkan si penulis dari kebingungan, karena berguna sebagai kerangka dasar yang menentukan seperti apa ‘bangunan’ ceritanya nanti.
Kemudian tiap-tiap babak dipisahkan oleh ‘tiang-tiang penyangga cerita’ yang disebut sebagai ‘Key Turning Point’, yang menjadi penanda posisi karakter dalam mencapai tujuannya.
Sampai di situ, ia juga menegaskan bagaimana formula struktur tiga babak memuat; Siapa melakukan apa lalu bagaimana?
“Dengan struktur ini, kerangka cerita akan menjadi solid, terarah dan dramatis,” jelas Juli Sastrawan.
Kemudian seorang peserta bertanya, “Untuk bagian beginning, atau bagian opening cerita, kalo boleh tahu, bagaimana membuat pembuka yang tidak monoton?” kata Agus Dwi Budiasa, salah satu peserta dari SMA 4 Singaraja.
Juli Sastrawan lantas menjawab, bahwa dalam membuat cerita, ia selalu mengawalinya dengan masalah.
“Seperti di novel terbaruku Menuai Badai, aku mengawalinya dengan statement di kepalanya (si tokoh utama),” jawab Juli Sastrawan. Lantas ia membacakan pembuka dalam novovelnya itu sebagai contoh :
“Bahwa sebenar-benarnya hidup yang baik, adalah hidup yang mementingkan diri sendiri. menyelamatkan hidup kita sendiri dan mendahulukan diri kita sendiri. apabila selama hidup kita menjumpai bahwa pilihan membunuh atau dibunuh, pilihlah untuk membunuh. dengan begitu kita tak perlu memikirkan apa-apa setelah karena kita telah mementingkan diri sendir. Karena pucuk dari kebahagiaan adalah yang bermakna pada kebahagiaan kita sendiri.”
Melalui statement yang ada pada si tokoh itu, kata Juli. Bisa ditemukan sebuah karakter yang jelas, yaitu si tokoh itu memikirkan dirinya sendiri.
“Melalui statement itu, kita menemukan bahwa dia punya masalah,” kata Juli Sastrawan tentang kalimat pembuka pada novelnya Menuai Badai yang diterbitkan oleh Gramedia.
Cara demikian dipilih Juli, juga untuk menyentak pembaca dengan masalah. Secara psikologis, pembaca akan merasa tertarik untuk membaca cerita lanjutannya seperti apa. Karena merasa ada yang memukul.
Berbeda dengan cerita yang dibuka dengan suasana. Seperti pohon-pohon melambai, debur ombak, yang tidak menimbulkan apa-apa terhadap karakter, pembuka semacam itu hanya meninggalkan kesan deskripsi tempat saja.
Kemudian juga menyoal penutup, itu boleh saja menggantung. Yang terpenting, seberapapun fiksinya, kata Juli. “Dia harus logis.”
Berkhayal dengan What if
Selain dengan struktur tiga babak, agar tak bingung untuk membuat cerita, bisa juga dengan cara berkhayal menggunakan What if—Bagaimana jika.
What If, atau bagaimana jika, adalah teknik awal mengembangkan ide—membangun cerita dengan cara bertanya lalu menjawabnya sendiri. Yangbisa memantik mengeluarkan imajinasi yang lebih kaya.
Juli Sastrawan mengaku ia sering menggunakan teknik itu untuk membuat sebuah cerita. Cara menggunakannya gampang. Cukup membuat pertanyaan yang kita fikirkan tentang sesuatu. Lalu menjawabnya.
“Misalnya, bagaimana jika bayanganmu suatu hari berhenti meniru gerakanmu dan mulai punya kehendak sendiri?” kata Juli Sastrawan.

Interaksi aktif peserta | Foto: Tim SLF 2025
Bagaimana jika seorang nelayan menemukan botol berisi jin? Bagaimana jika kamu menemukan sebuah buku yang setiap kali kamu membacanya, kejadian di dalam cerita itu terjadi di dunia nyata, tapi dengan perubahan kecil yang tidak bisa kamu kendalikan?
Membuat pertanyaan-pertanyaan semacam itu, kata Juli. Bisa mempermudah si penulis untuk membangun cerita dengan cara menjawab pertanyaan-pertanyaan dirinya sendiri. Yang akan menjadi cerita Panjang jika diteruskan, jika dicari dijawab terus menerus.
Dengan cara itu bisa membuat cerpen menjadi mengalir, dan kaya dengan imajinasi. Konflik yang kuat, dan logika kalimat yang baik.
Syahdan, Widya Mutyari—yang awalnya datang hanya untuk mendengarkan, pada akhirnya ia akan mencoba menulis cerpen selepas workshop.
“Saya merasa bertambah wawasan saya tentang cerpen. Mungkin setelah ini saya mau nulis. Karena tadi, kan, juga sekaligus praktik menulis.” kata Widya Mutyari.
Begitupun dengan temannya, Tirta Yani. Dia merasa lebih bersemangat untuk kembali menulis cerpen dengan dua teknik tadi. Selamat mencoba. Merdeka. [T]
Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole



























