24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cerpen, Seberapapun Fiksinya Tetap Harus Logis | Dari MTN Asah Bakat Penulisan Cerpen Bersama Juli Sastrawan

Son Lomri by Son Lomri
August 9, 2025
in Khas
Cerpen, Seberapapun Fiksinya Tetap Harus Logis | Dari MTN Asah Bakat Penulisan Cerpen Bersama Juli Sastrawan

Juli Sastrawan saat memebri materi dalam kegiatan MTN Asah Bakat Penulisan Cerpen di Singaraja | Foto: Tim SLF 2025

PAGI. Langkah kaki Widya Mutyari dan temannya, Tirta Yani, tampak terburu-buru datang ke Ruang Niti Sastra, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Undiksha Singaraja, Sabtu pagi, 9 Agustus 2025.

Mereka berdua adalah peserta kegiatan Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya di bidang Asah Bakat Penulisan Cerita Pendek (Cerpen) yang diselenggarakan Yayasan Mahima Indonesia serangkaian program Singaraja Literary Festival (SLF) 2025 berkolaborasi dengan Kementerian Kebudayaan RI.

Pada Sabtu pagi itu, pemateri yang dihadirkan adalah sastrawan Putu Juli Sastrawan yang baru saja meluncurkan novel barunya yang berjudul “Menuai Badai”.

MTN Seni Budaya ini sebagai program strategis nasional yang bertujuan untuk menjaring, mengembangkan, dan mempromosikan talenta seni budaya Indonesia secara terstruktur dan berkelanjutan.

Untuk itulah Widya Mutyari dan Tirta Yani datang terburu-buru. Selain karena terlambat, mereka ingin tahu lebih dekat dengan sastra, ingin tahu lebih khusus juga, apa dan bagaimana menulis cerpen itu.

Di meja registrasi di lorong lantai dua FBS, Undiksha, para peserta sekitar 80 orang itu sudah mengambil antreannya masing-masing. Sesuai waktu datang, Widya dan Tirta mendapat antrean paling belakang, mendapat kursi duduk juga paling belakang. Tak apa, katanya.

“Aku ikut ini karena tertarik sih, Kak. Aku senang baca cerpen juga,” kata Widya.

Widya sudah sejak SMP suka baca sastra, sampai sekarang bahkan. Dan baru-baru ini, dia sudah melahap habis novel Si Anak Hilang—karya Tere liye.

“Saya suka Tere Liye sama Boy Candra juga,” lanjut Widya.

Tidak jauh berbeda, Tirta juga mengatakan hal sama tentang alasan ikut workshop ini karena suka dengan cerpen.

Widya (kiri) dan Tirta (kanan), menyimak di kursi duduk paling belakang | Foto: tatkala/Son

Bagi dua orang itu, cerpen bisa dibaca sekali duduk ketimbang novel—yang membutuhkan waktu satu sampai tiga hari. Tapi intinya, mereka suka baca.

“Walaupun tidak terlalu sering, Kak. Hehe,” kata Tirta rendah hati.

Tirta pernah dapat juara menulis cerpen tahun lalu, 2024. Dan ketika mendapat bingkisan sebuah pulpen, buku catatan(noote book), dan buku kumpulan cerpen terbitan Mahima Institute Indonesia, ia tampak merasa senang, membuka-buka buku itu.

Dia  juga merasa bergairah lagi untuk menulis karena merasa punya asupan baru, ya, buku itu. Katanya, dia sudah lama tidak punya buku baru dan sudah lama tak menulis cerpen.

Berbeda dengan Widya, ia hanya senang membaca, dan tak ada cita-cita untuk menulis cerpen.

“Saya tidak ada keinginan untuk menulis, Kak. Hanya suka baca aja,” ucap Widya dengan kumis tipis setengah senyum itu. Manis.

Empat Trik Agar “Yakin” Sebelum Menulis Cerpen

Selepas para peserta, yang terdiri dari siswa-siswi SMA dan Mahiswa-mahasiswi itu duduk, Juli Sastrawan lantas memulai workshop-nya.

Sekilas mengenal Juli Sastrawan, atau biasa disapa Juli, adalah sastrawan yang mengawali proses belajar di Komunitas Mahima. Sejak 2022 ia berfokus pada penelitian memori kolektif, politik ingatan, serta narasi sejarah dalam sastra dan seni.

Juli Sastrawan, David Irianto (tim MTN Kementerian Kebudayaan RI) dan Kadek Sonia Piscayanti (Pendiri dan Direktur SLF) saat membuka acara MTN Asah Bakat di kampus Undiksha Singaraja | Foto: Tim SLF 2025

Pada 2024, ia menjalani residensi menulis di Kyoto dan menjadi peneliti tamu di Pusat Kajian Asia Tenggara, Universitas Kyoto. Saat ini, ia tengah mengerjakan proyek penulisan yang mengeksplorasi bagaimana fiksi menjadi medium bagi penyintas dan saksi mata Peristiwa 1965 dan Bom Atom Hiroshima.

“Menulis itu, memang berat, yah. Berat sama dipikul,” kata Juli memulai kelasnya dengan humor.

Sontak para peserta tertawa. Acara menjadi cair. Tidak tegang.

“Tapi,” lanjut Juli, “Tidak sama dengan mustahil!”.

Para peserta pun terdiam. Seakan mereka kejatuhan energi tambahan mendengar berat tidak sama dengan mustahil. Ya, ada kemungkinan-kemungkinan di dalamnya, untuk penulis pemula.

Juli Sastrawan memberikan materi | Foto: Tim SLF 2025

Agar semakin yakin para peserta bisa menulis cerpen, Juli lemparkan empat tips. Widya dan Tirta, dan para peserta lainnya menangkap empat trik itu.

Satu, kata Juli.Adalah semangat. “Semangat itu, sangat penting dibangun untuk bisa menulis.”

Kedua, menjauhi jalan yang tidak benar. Maksudnya, jangan plagiat. Jangan nyolong cerita milik orang lain. Harus orisinil ciptaan sendiri. Harus kreatif. Belajar.

Kemudian yang ketiga, adalah belajar merelakan. Dalam hal ini, merelakan tulisan yang jelek saat belajar itu, perlu. Dan itu tidak apa-apa.

Terus yang keempat, yaitu mendiskusikan karya yang sudah selesai dibuat.

“Bisa mendiskusikannya dengan teman atau siapa saja yang enak diajak ngobrol. Atau pergi ke komunitas sastra untuk menerima masukan [yang lebih intens] agar tulisan lebih berkembang,” kata Juli.

Terhalang belakang punggung-punggung peserta lain, Widya tampak senyum-senyum tipis. Dia masih diam-menyimak, bertahan di kursi duduk paling belakang itu bersama Tirta. Mereka menyimak sangat serius.

Cerbung, Ice Breaking Menyambung Kalimat

Sebelum jauh Juli Sastrawan memberikan pemahaman tentang Istilah-istilah struktur cerita, Istilah-istilah tokoh, dan Struktur 3 Babak dalam cerpen seperti apa, ia lebih dulu mengajak para peserta untuk bermain cerbung (cerita bersabung), sebagai ice breaking.

Pada permainan itu, para peserta ditugaskan untuk membuat satu kalimat dari kalimat yang sudah dibuat oleh Juli: Sesaat setelah pintu lift terbuka, kami dikejutkan oleh pemandangan yang tak pernah kami bayangkan.

“Jangan pikir panjang. Langsung buat saja. Kemudian baca,” kata Juli Sastrawan agar para peserta tidak merasa terbebani. “Silahkan akses barcodenya,” tunjuk Juli ke layar.

Interaksi aktif peserta | Foto: Tim SLF 2025

Setelah diakses, dari peserta baris paling depan pojok kanan, kalimat itu dilanjutkan. Kata peserta pertama setelah menuliskan, “Terlihat pemandangan berkabut tersebut penuh misteri yang perlu dijawab yang tidak hanya oleh mata.”

Kemudian peserta di sebelahnya menyambung, “Udara menyesakan paru-paru kami sehingga urat nadi terkerut, menjerat seperuh darah yang mengalir ke otak kami!”

“Dilorong berkabut itu banyak darah berceceran,” lanjut peserta lainnya, dan para peserta sorak kengerian; uuuuuh….

Setelah sorak kengerian reda, peserta selanjutnya melanjutkan cerita, “Di antara kabut itu berdiri seseorang yang memegang pisau di tangan kirinya.”

“Yang tak pernah aku bayangkan seseorang itu adalah suamiku,” lanjut peserta lainnya, menghasilkan gelak tawa. Ramai orang menertawakan kalimat itu lucu—karena aneh sendiri.

“Ternyata objek itu adalah selai stoberi,” lanjut peserta lainnya tambah aneh, dan gelak tawa semakin meledak. Haha.

Interaksi aktif peserta | Foto: Tim SLF 2025

Selepas menulis cerita bersambung dengan satu kalimat, Juli Sastrawan menyatukan kalimat itu sesuai urutan, lalu membacanya :

“Sesaat setelah pintu lift terbuka, kami dikejutkan oleh pemandangan yang tak pernah kami bayangkan. Terlihat pemandangan berkabut tersebut penuh misteri yang perlu dijawab yang tidak hanya oleh mata. Udara menyesakan paru-paru kami sehingga urat nadi terkerut, menjerat seperuh darah yang mengalir ke otak kami. 

Dilorong berkabut itu banyak darah berceceran 

Di antara kabut itu berdiri seseorang yang memegang pisau di tangan kirinya 

Yang tak pernah aku bayangkan seseorang itu adalah suamiku. dAN TERNYATA objek itu adalah selai stoberi. Suamiku mendatangiku dan menawarkan pisau untuk dijual. Suamiku datang membawa bunga dihiasi sosok hitam di belakangnya. 

Dari balik pintu yang aku lihat terdengar suara gemuruh yang ku anggap itu ibuku. Ternyata itu bukan ibuku tapi bapakku. Ternyata bapakku sedang mengelas pagar. Ternyata yang dilas adalah tulang. 

Aku melihat ke sekitar dan aku melihat tulang itu adalah tulang ibuku. 

Itu adalah tulang ibu yang telah lama hilang dalam kegelapan. 

Dengan santai suamiku berkata, “sayang kamu juga mau?”

Lalu aku menjawab pertanyaan itu, “Aku mau!”

Ya, aku mau dicintai. Lanjutnya. 

Naas, tapi ini bukan hal pertama kali yang aku hadapi

Hal tersebut begitu cepat hingga aku lupa makan dan maagku kambuh. Aku pun terkaget kaget dengan kejadian tersebut hingga pingsan. Dia mencium keningku. Lalu aku terbangun memanjat tembok untuk mengejarnya. Lalu di pengejaran itu orang orang membantuku meneriaki dia maling. Begitu semangat aku berteriak, ada rentenir. Tidak dapat berpikir jernih lagi. Lalu aku tetap berlari dan mengabaikan renternir itu. Aku mendengar suara keras, seperti mobil pengangkut sampah yang membangunkanku dari mimpi.”

Tepuk tangan terdengar…

Evaluasi

Dari cerbung atau sebuah ice breaking itu, para peserta mendapatkan pengalaman mengumbar imajinasinya masing-masing, dan tidak takut untuk menuliskannya.

Dari ketidakraguan para peserta dalam menuliskannya, pun, Juli Sastrawan menilai mereka memiliki kemampuan dan kepribadian yang unik untuk menulis.

Namun, ada catatan bersama untuk dijadikan sebagai evaluasi. Yaitu, sebelum menulis sebuah cerpen, mesti lebih dulu menentukan; memulai dan mengakhiri. Agar ceritanya tidak terkesan sekadar mimpi, khayali.

“Dari cerbung itu juga, kita belajar soal karakter. Di cerbung itu, pembaca dibingungkan oleh si tokoh itu, sebenarnya siapa?” kata Juli.

Sehingga penokohan dan karakter itu perlu ditentukan, diciptakan, agar cerita lebih mudah dipahami dan logis.

Interaksi aktif peserta | Foto: Tim SLF 2025

Dalam cerita pendek (cerpen), ada istilah-istilah struktur cerita yang mesti diketahui. Narasi, konflik, cerita, latar, set-up, rangkaian adegan, ketegangan, dan penyelesaian.  Yang membangun cerpen menjadi bertubuh dan hidup.

Narasi dapat dipahami sebagai pengisahan suatu cerita atau kejadian. Konflik adalah masalah utama dalam cerita. Latar, yaitu tempat terjadinya cerita.

Dan, keberadaan set-up sebagai penjelasan awal yang digunakan untuk memulai cerita. Kemudian rangkaian adegan adalah peristiwa-peristiwa yang membangun cerita.

Terus dalam cerpen juga harus ada ketegangan, sebagai kesulitan tertentu yang harus dihadapi oleh karakter dalam cerita. Dan yang terakhir, yaitu penyelesaian sebagai akhir dari cerita, akan diseperti apakan ending-nya, juga harus ditentukan. Boleh menggantung. Boleh tidak menggantung.

“Nah, di cerbung yang kita buat tadi itu, terlalu banyak kejadiannya. Di cerpen itu justru sederhana, cukup satu atau dua saja ada konflik,” kata Juli Sastrawan saat evaluasi hasil ice breaking menyusun cerita dengan masing-masing peserta satu kalimat.

Ia juga membedakan antara menulis cerpen dan novel. Bahwa di dalam cerpen hanya ada satu fokus saja tentang konflik, berbeda dengan novel yang biasanya lebih kompleks.

Kemudian soal penokohan, si tokoh dihadirkan harus membawa maksud dan tujuan bukan sekadar ada.  Posisi tokoh dalam cerita itu, berfungsi untuk menjalankan cerita agar lebih hidup. Lebih ada yang ingin disampaikan.

Penokohan bisa apa saja bentuknya. Bisa pohon, bisa binatang, bisa manusia. Dan penokohan-penokohan yang dibuat, pula mesti dideskripsikan—bagaimana ia secara fisik, pula bagaimana karakternya. Harus detail diciptakan.

Beberapa penulis besar seperti George Orwell, melalui karyanya yang berjudul Animal Farm, menyeret babi-babi, burung, ayam, itu jadi tokoh. Kemudian memasukan karakteristik pada tokoh-tokohnya itu secara detail, sehingga antara cerita dan tokoh saling berkaitan.

“Apa yang diinginkan oleh si tokoh? Nah, motivasi itulah yang membuat cerita itu bergerak, karena dia ada masalah. Misalnya kebebasan, atau apa…,” kata Juli Sastrawan, menekankan pada setiap tokoh, atau dalam hal ini tokoh utama, mesti memiliki (semacam) premis, mengapa ia melakukan sesuatu itu dengan sadar.

Kemudian dalam penokohan juga, mesti ada kondisi eksternal. Yaitu sebuah kondisi yang berhubungan dengan orang lain, seperti persoalan.

Boleh juga kondisi internal. Seperti monolog batin, atau persoalan pribadi yang mengarah pada gangguan psikologis.

Struktur Tiga Babak, Formula Untuk Menyusun Cerita

Agar tidak bingung saat menulis cerita pendek, menentukan penokohan hingga karakter, dan latar-setting tempat itu, bisa meggunakan teknik struktur tiga babak.

Struktur tiga babak, adalah cerita yang memuat awal (beginning); berisi perkenalan tokoh dan masalah yang dia hadapi, tengah(middle); berisi perkembangan konflik yang muncul, dan akhir(End); berisi penyelesaian dari konflik dalam cerita.

Interaksi aktif peserta | Foto: Tim SLF 2025

Tiga kerangka itu bisa menyelamatkan si penulis dari kebingungan, karena berguna sebagai kerangka dasar yang menentukan seperti apa ‘bangunan’ ceritanya nanti.

Kemudian tiap-tiap babak dipisahkan oleh ‘tiang-tiang penyangga cerita’ yang disebut sebagai ‘Key Turning Point’, yang menjadi penanda posisi karakter dalam mencapai tujuannya.

Sampai di situ, ia juga menegaskan bagaimana formula struktur tiga babak memuat; Siapa melakukan apa lalu bagaimana?

“Dengan struktur ini, kerangka cerita akan menjadi solid, terarah dan dramatis,” jelas Juli Sastrawan.

Kemudian seorang peserta bertanya, “Untuk bagian beginning, atau bagian opening cerita, kalo boleh tahu, bagaimana membuat pembuka yang tidak monoton?” kata Agus Dwi Budiasa, salah satu peserta dari SMA 4 Singaraja.

Juli Sastrawan lantas menjawab, bahwa dalam membuat cerita, ia selalu mengawalinya dengan masalah.

“Seperti di novel terbaruku Menuai Badai, aku mengawalinya dengan statement di kepalanya (si tokoh utama),” jawab Juli Sastrawan. Lantas ia membacakan pembuka dalam novovelnya itu sebagai contoh :

“Bahwa sebenar-benarnya hidup yang baik, adalah hidup yang mementingkan diri sendiri. menyelamatkan hidup kita sendiri dan mendahulukan diri kita sendiri. apabila selama hidup kita menjumpai bahwa pilihan membunuh atau dibunuh, pilihlah untuk membunuh. dengan begitu kita tak perlu memikirkan apa-apa setelah karena kita telah mementingkan diri sendir. Karena pucuk dari kebahagiaan adalah yang bermakna pada kebahagiaan kita sendiri.”

Melalui statement yang ada pada si tokoh itu, kata Juli. Bisa ditemukan sebuah karakter yang jelas, yaitu si tokoh itu memikirkan dirinya sendiri.

“Melalui statement itu, kita menemukan bahwa dia punya masalah,” kata Juli Sastrawan tentang kalimat pembuka pada novelnya Menuai Badai yang diterbitkan oleh Gramedia.

Cara demikian dipilih Juli, juga untuk menyentak pembaca dengan masalah. Secara psikologis, pembaca akan merasa tertarik untuk membaca cerita lanjutannya seperti apa. Karena merasa ada yang memukul.

Berbeda dengan cerita yang dibuka dengan suasana. Seperti pohon-pohon melambai, debur ombak, yang tidak menimbulkan apa-apa terhadap karakter, pembuka semacam itu hanya meninggalkan kesan deskripsi tempat saja.

Kemudian juga menyoal penutup, itu boleh saja menggantung. Yang terpenting, seberapapun fiksinya, kata Juli. “Dia harus logis.”

Berkhayal dengan What if

Selain dengan struktur tiga babak, agar tak bingung untuk membuat cerita, bisa juga dengan cara berkhayal menggunakan What if—Bagaimana jika.

What If, atau bagaimana jika, adalah teknik awal mengembangkan ide—membangun cerita dengan cara bertanya lalu menjawabnya sendiri. Yangbisa memantik mengeluarkan imajinasi yang lebih kaya.

Juli Sastrawan mengaku ia sering menggunakan teknik itu untuk membuat sebuah cerita. Cara menggunakannya gampang. Cukup membuat pertanyaan yang kita fikirkan tentang sesuatu. Lalu menjawabnya.

“Misalnya, bagaimana jika bayanganmu suatu hari berhenti meniru gerakanmu dan mulai punya kehendak sendiri?” kata Juli Sastrawan.

Interaksi aktif peserta | Foto: Tim SLF 2025

Bagaimana jika seorang nelayan menemukan botol berisi jin? Bagaimana jika kamu menemukan sebuah buku yang setiap kali kamu membacanya, kejadian di dalam cerita itu terjadi di dunia nyata, tapi dengan perubahan kecil yang tidak bisa kamu kendalikan?

Membuat pertanyaan-pertanyaan semacam itu, kata Juli. Bisa mempermudah si penulis untuk membangun cerita dengan cara menjawab pertanyaan-pertanyaan dirinya sendiri. Yang akan menjadi cerita Panjang jika diteruskan, jika dicari dijawab terus menerus.

Dengan cara itu bisa membuat cerpen menjadi mengalir, dan kaya dengan imajinasi. Konflik yang kuat, dan logika kalimat yang baik.

Syahdan, Widya Mutyari—yang awalnya datang hanya untuk mendengarkan, pada akhirnya ia akan mencoba menulis cerpen selepas workshop.

“Saya merasa bertambah wawasan saya tentang cerpen. Mungkin setelah ini saya mau nulis. Karena tadi, kan, juga sekaligus praktik menulis.” kata Widya Mutyari.

Begitupun dengan temannya, Tirta Yani. Dia merasa lebih bersemangat untuk kembali menulis cerpen dengan dua teknik tadi. Selamat mencoba. Merdeka. [T]

Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

Dari Halaman Buku ke Denyut Kota: Percakapan Patjarmerah, SLF, dan UWRF di Singaraja Literary Festival 2025
Tanpa Rencana, Marah-Marah Melulu, dan Seni Menerima Diri di Singaraja Literary Festival 2025
Ketika Pohon-Pohon Tumbang Berbicara: Puisi Aan Mansyur dan Suara Penyembuhan di Singaraja Literary Festival 2025
Sembuh Oleh Sastra, Mengapa Tidak? — Cerita Ratih Kumala, Oka Rusmini dan Cyntha Hariadi di Singaraja Literary Festival 2025
Tags: CerpenKementerian KebudayaanMTN Seni BudayasastraSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2025
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Login, Lalu Hidup Berjalan

Next Post

Berdialog dengan Harimau | Cerpen Depri Ajopan

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
0
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

Read moreDetails

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

Read moreDetails

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

Read moreDetails

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

Read moreDetails

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
0
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

Read moreDetails

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
0
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

Read moreDetails

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

by Jaswanto
August 7, 2026
0
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

Read moreDetails

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

by tatkala
August 6, 2026
0
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

Read moreDetails
Next Post
Berdialog dengan Harimau | Cerpen Depri Ajopan

Berdialog dengan Harimau | Cerpen Depri Ajopan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo
Pop

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma
Esai

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
Telenovela
Esai

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

by Angga Wijaya
August 24, 2026
Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini
Kritik Seni

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

“Everybody In Bali Seems to be an artist” Kutipan itu persis terlontar 89 tahun lalu dari Miguel Covarrubias. Seorang seniman...

by Made Chandra
August 24, 2026
Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

by Andre Syahreza
August 23, 2026
PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co