24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pemberdayaan Perempuan dalam Tradisi Megebeg-Gebegan di Desa Tukadmungga Sebagai Teater Wisata Budaya di Bali Utara

Son Lomri by Son Lomri
July 25, 2025
in Panggung
Pemberdayaan Perempuan dalam Tradisi Megebeg-Gebegan di Desa Tukadmungga Sebagai Teater Wisata Budaya di Bali Utara

Pemberdayaan Perempuan dalam Tradisi Megebeg-Gebegan Sebagai Teater Wisata Budaya di Bali Utara

DESA Tukadmungg, Kecamatan Buleleng, Bali, punya tradisi unik. Namanya, tradisi Megebeg-Gebegan. Ini tradisi tolak bala yang diwariskan turun-temurun yang biasanya dilakukan sehari sebelum Nyepi.

Prof. Dr. Ni Made ruastiti, S.St., M.Si., salah satu Guru Besar Bidang Seni Pertunjukan Pariwisata, Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, tertarik menelitii tradisi itu untuk dihubungkan dengan pemberdayaan perempuan dan seni pertunjukan untuk pariwisata. Penelitiannya berjudul Pemberdayaan Perempuan Melalui Revitalisasi Tradisi Megebeg-Gebegan Sebagai Teater Wisata Budaya di Bali Utara.

Tetaer wisata budaya yang merupakan output dari penelitiannya dipertunjukkan Rabu, 23 Juli 2025, di Desa Tukadmungga dan disaksikan oleh masyarakat setempat.  Pertunjukan itu melibatkan 250 orang anak-anak dan remaja, bekerjasma dengan Sanggar Seni Wahyu Semara Shanti.

Megebeg-Gebegan itu sendiri meruapakan ritual persembahan caru godel (anak sapi), yang sejak dahulu dikenal sebagai upacara tolak bala dengan melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Prosesi penataan sesajen, caru, hingga aksi kolektif perebutan daging godel adalah rangkaian sakral yang tak hanya bertujuan spiritual, tapi juga mempererat kohesi sosial. Namun, kini tradisi ini tengah mengalami pergeseran bentuk — dari ritus sakral menjadi teater wisata berbasis komunitas.

Transformasi tradisi ini ke seni pertunjukan atau teater tidak mengurangi nilai sakralitasnya. Justru sebaliknya, diperkuat oleh peran aktif kaum perempuan yang bukan hanya menghidupkan tradisi, tetapi juga merekonstruksi narasinya menjadi lebih komunikatif, inklusif, dan adaptif terhadap zaman.

Pemberdayaan Perempuan

Keberadaan perempuan dalam budaya, nyaris terhitung di semua ranah. Di ranah upacara agama, misalnya, perempuan banyak sekali terlibat. Mulai dari tahap produksi atau persiapan, hingga sebuah penutupan, pun, perempuan tak pernah absen, ya, termasuk dalam ranah entertainment juga perempuan selalu terlibat.

Tapi, bagaimana keberadaan perempuan sebagai pemeran utamanya itu, nyaris tak disebut-sebut. Sehingga menambah kesan bahwa perempuan diakui sebagai manusia yang berarti, hanya dibalik layar.

“Pemberdayaan perempuan, dia sudah berdaya tapi enggak dapat pengakuan.” kata Prof. Ruastiti.

Prof Ruastiti melakukan penelitian selama dua tahun bersama I Nyoman Kariasa, Arya Pageh Wibawa, Ni Kadek Suryani, dan I Wayan Winaja. Untuk pertunjukannya ia berkolaborasi dengan Sanggar Wahyu Semara Shanti, di mana pertunjukan itu sebagai medium pemberdayaan perempuan melalui sebuah pertunjukan.

Apa yang menjadikan desa itu layak sebagai objek penelitian, secara kultur-budaya dan sosial, terutama keterlibatan perempuan pada urusan domestik dan ritual yang dominan tapi jarang disebut atau dibahas itu, memang layak untuk diangkat kepermukaan secara gender.

Di Desa Tukadmungga, Megebeg-Gebegan memang telah menjadi ritual penolak bala dalam upacara persembahan caru godel (anak sapi). Acara itu biasa dilakukan setahun sekali, terutama di malam pengerupukan atau sehari sebelum hari nyepi.

Kemudian bagaimana peran-peran perempuan dalam ritual itu sangatlah besar. Ya, tidak hanya melakukan dari mulai perancangan komposisi gebegan, penyususnan sesajen, namun juga sampai pada tahap pelatihan koreografi dan narasi.

Misalnya, pekerjaan ibu-ibu PKK terhadap ritual itu cukup kompleks. Seperti memimpin prosesi matur piuning di Pura Khayangan Tiga, dan sekaligus menghidupkan aspek spiritual ritus melalui kidung dan nyanyian dharma gita.

Sementara perempuan muda ikut serta masuk ke dalam barisan pertunjukan dengan perannya membawa gebogan dan sesaji, yang menambah keindahan serta kesan harmonis pada ritual itu sangat kuat.

Keterlibatan Perempuan dalam Pertunjukan Pariwisata

Selain perempuan (dewasa) ikut terlibat, perempuan (masih) kanak-kanak pun ikut dilibatkan sebagai simbol regenerasi melalui perannya dalam mebawa canang.

Dari pertunjukan “Megebeg-gebegan sebagai Teater Wisata Budaya di BaliUtara” itu, Prof Ruastiti, dkk, menemukan fenomena itu sebagai contoh nyata dari komunitas dalam makna turnerian, di mana batas hierarki dan usia dilampaui oleh solidaritas dalam praktik budaya kolektif.

Dapat dirasakan, kata Prof Ruastini, bagaimana perempuan terlibat dalam satu ritual itu telah melewati batas-batas usia. Yang menjadikan kehadiran para perempuan lintas-generasi mengkontraskan keindahan secara visual dengan sarat makna simbol-simbol.

“Mereka menentukan bentuk dan warna gebegan, pilihan bahan alami untuk properti, dan penataan ruang yang sesuai kosmologi lokal. Properti seperti tombak, janur yang tidak hanya menjadi objek visual, tetapi penanda spiritual yang dibentuk oleh narasi simbolik perempuan,” kata Prof Ruastiti.

Sehingga pertunjukan yang direvitalisasi ini, menjadi semacam duplikatnya agar para pengunjung lokal atau mancanegara bisa merasakan tidak hanya setahun sekali, tetapi juga kapan saja sebagai sebuah pertunjukan teater wisata. Tinggal datang saja ke desa itu sebagai tamasyabudaya.

Tapi untuk tetap menjaga kesakralannya, mestilah diingat, bahwa tradisi Megebeg-Gebegan dalam pertunjukan itu sudah dikonsep berbeda dengan tujuannya yang lebih rekreatif (pariwisata). Tetapi bukan berarti kesakralannya diganggu gugat, sebab, revitalisasi pada tradisi itu masih di garis yang wajar.

Terdapat sebuah prosesi (semacam) peed aya (pawai), yang terdiri dari pembawa obor, canang sari, gebogan, dan juga ada penari rejang serta baris upacara.

Selepas prosesi itu, dilangsungkan prosesi mecaru yang dilaksanakan oleh Jro Mangku Gusti Aji. Kemudian, langsung dilaksanakan tradisi megebeg-gegeban yang terdiri dari 4 banjar di Desa Tukadmungga, yang terdiri dari Banjar Dharma Yasa, Dharma Yadnya, Dharma Semadi dan Banjar Dharma Kerti.

“Saya kemas dalam seni pertunjukan yang lebih estetik dan mempergunakan dua barungan ensambel gamelan yakni gamelan gong kebyar mepacek dan barungan baleganjur,” kata koreografer Kadek Angga Wahyu Pradana, juga sebagai Ketua Sanggar Wahyu Semara Shanti.

Saat pertunjukan berlangsung, perempuan sengaja ditonjolkan lebih banyak dari pada laki-laki. Kisaran 250 anak-anak terlibat di pertunjukan itu dengan jumlah 150 anak-anak perempuan sebagai penari, pembawa uperengga atau sejenis canang obor, dan 100 anak laki-laki bertugas sebagai penabuhnya.

Pertunjukan itu memberi kesan sangat kuat secara realitas, bahwa perempuan menjadi tonggak atau bahkan mesin utama kebudayaan. Melalui pertunjukan itu pula bahwa jumlah yang dominan, bahwa nafas perempuan sebenarnya memiliki pengaruh untuk kehidupan.

 “Nah, karena ini kita kaitkan dengan pariwisata, kita akan coba untuk memberdayakan perempuan jadi leader lah,” kata Ni Made Ruastiti.

Selain perempuan dilibatkan dalam pertunjukan teater budaya, yang diwakilkan oleh kanak-kanak. Mereka yang dewasa, akan diberikan pemahaman dan pelatihan teknologi atau penguasaan terhadap pengelolaan sebuah website sebagai pendukung kepariwisataan.

Terus, peningkatan bahasa atau komunikasi untuk membawa keberadaan mereka, pada posisi layak sebagai manusia yang setara dan berada juga akan dilakukan nantinya. [T]

Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

Teater Pakeliran Tutur Candra Bherawa | Proses Penciptaan Karya Teater Bertolak Dari Penjelajahan Teater Tradisi Bali
PKM ISI Denpasar: “Ngodakin” Bersama Kelompok Seni Okokan “Omelan I Kayu Bolong” di Kerambitan
Tags: Desa TukadmunggaPerempuanTradisitradisi bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Global Youth Forum Ikut Belajar di Sekolah Adat Manik Empul Pedawa

Next Post

Alih Media Seni, Dorong Transformasi Nilai dan Peluang Ekonomi Kreatif — Diskusi Festival Seni Bali Jani 2025

Son Lomri

Son Lomri

Kontributor tatkala.co

Related Posts

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
0
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

Read moreDetails

Ketika Musik, Lukisan, dan Kesadaran Bertemu dalam Nyanyian Dharma

by Pranita Dewi
April 20, 2026
0
Ketika Musik, Lukisan, dan Kesadaran Bertemu dalam Nyanyian Dharma

Pertunjukan Nyanyian Dharma digelar di Ruang Taksu, Gedung Dharma Negara Alaya (DNA), Denpasar, Minggu (19/4) malam, menampilkan kolaborasi musik dengan...

Read moreDetails

‘Wellnes Conference’ di Bali Spirit Festival: Preventif Ciri ‘Wellness Tourism’, Kuratif Tujuan ‘Medical Tourism’

by I Nyoman Darma Putra
April 19, 2026
0
‘Wellnes Conference’ di Bali Spirit Festival: Preventif Ciri ‘Wellness Tourism’, Kuratif Tujuan ‘Medical Tourism’

Perbedaan antara wellness tourism dengan medical tourism menjadi salah satu pertanyaan dalam dalam Wellness Conference (Wellness Talk Show), Kamis, 16 April 2026, di Pelataran Hotel, Ubud....

Read moreDetails

Eksplorasi Material dan Gerak, Serangkai Inovasi Komunitas Wayang Ental di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Komang Puja Savitri
April 14, 2026
0
Eksplorasi Material dan Gerak, Serangkai Inovasi Komunitas Wayang Ental di Festival Wayang Bali Utara 2026

SEJAK awal, ada rasa penasaran yang menggantung di antara penonton yang duduk lesehan di wantilan Museum Soenda Ketjil. Wayang, dalam...

Read moreDetails

Membaca Buleleng dalam Museum Soenda Ketjil —Catatan Kecil dari Festival Wayang Bali Utara 2026

by Son Lomri
April 12, 2026
0
Membaca Buleleng dalam Museum Soenda Ketjil —Catatan Kecil dari Festival Wayang Bali Utara 2026

MALAM itu, Kamis, 9 April 2026, ada pertunjukan wayang kulit serangkaian Festival Wayang Bali Utara (FWB) di Wantilan Pelabuhan Tua...

Read moreDetails

Museum Soenda Ketjil: Kebanggaan Budaya atau Sekadar Ketakutan Akan Kehilangan?

by I Nengah Juliawan
April 11, 2026
0
Museum Soenda Ketjil: Kebanggaan Budaya atau Sekadar Ketakutan Akan Kehilangan?

MUSEUM Soenda Ketjil di Singaraja tidak hanya menjadi ruang sunyi yang menyimpan masa lalu, melainkan juga ruang publik yang terus...

Read moreDetails

Tradisi yang Mulai Bernegosiasi dengan Zaman —Dari Pentas Wayang Bungkulan di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Komang Puja Savitri
April 11, 2026
0
Tradisi yang Mulai Bernegosiasi dengan Zaman —Dari Pentas Wayang Bungkulan di Festival Wayang Bali Utara 2026

WAYANG sebagai produk masa lalu yang kini diratapi, ditangisi oleh orang-orang karena hampir hilang di tengah hiburan dunia digital. Pertunjukan...

Read moreDetails

Ubud Artisan Market dalam Kehangatan Paskah, Rayakan Kreativitas, Komunitas, dan Akhir Pekan di Ubud

by tatkala
April 5, 2026
0
Ubud Artisan Market dalam Kehangatan Paskah, Rayakan Kreativitas, Komunitas, dan Akhir Pekan di Ubud

Yayasan Mudra Swari Saraswati dengan bangga kembali menghadirkan Ubud Artisan Market (UAM), curated market yang merayakan kreativitas, komunitas, dan kerajinan...

Read moreDetails

Api yang Tak Pernah Kenyang: Ketika ‘Lobha’ Menjelma dalam Ogoh-Ogoh STT Eka Budhi, Banjar Danginjalan, Guwang, Sukawati 2026

by Dede Putra Wiguna
March 24, 2026
0
Api yang Tak Pernah Kenyang: Ketika ‘Lobha’ Menjelma dalam Ogoh-Ogoh STT Eka Budhi, Banjar Danginjalan, Guwang, Sukawati 2026

DI Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, kreativitas anak muda kembali menemukan bentuknya dalam karya ogoh-ogoh untuk menyambut Nyepi Caka...

Read moreDetails

Les Ngembak Festival 2026: Merawat Jejak dari Bukit ke Laut

by Nyoman Nadiana
March 23, 2026
0
Les Ngembak Festival 2026: Merawat Jejak dari Bukit ke Laut

PANGGUNG itu kecil saja. Tapi cukup untuk menampung ekspresi masyarakat Desa Les, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng. Di atas panggung kecil...

Read moreDetails
Next Post
Alih Media Seni, Dorong Transformasi Nilai dan Peluang Ekonomi Kreatif — Diskusi Festival Seni Bali Jani 2025

Alih Media Seni, Dorong Transformasi Nilai dan Peluang Ekonomi Kreatif -- Diskusi Festival Seni Bali Jani 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co