14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jurnalis Sebagai Terapis

Angga Wijaya by Angga Wijaya
July 17, 2025
in Esai
Telenovela

Angga Wijaya

SERING saya alami, sebagai seorang jurnalis, saat melakukan wawancara dengan narasumber—terutama wawancara tertutup— dialog berlangsung secara santai, apalagi ketika menulis profil narasumber dimana mereka banyak berbicara  tentang diri mereka. Cair dan penuh keakraban.

Saya melihat narasumber air muka mereka berubah; menjadi lebih cerah, terlebih lagi saat menceritakan sesuatu yang lucu—tawa berderai di antara kami yang menyiratkan sebuah keakraban antara jurnalis dan narasumber yang akan ditulis kisahnya.

Melihat hal ini, saya menyimpulkan bahwa pekerjaan jurnalis dalam beberapa aspek mempunya kesamaan dengan terapis; sama-sama pandai mendengarkan, tidak memotong pembicaraan lawan bicara, kemampuan menganalisa yang baik, dan juga menjadi rekan atau teman yang setara. Terlebih, pertemuan dengan narasumber kemudian dilanjutkan dengan sebuah pertemanan secara personal, di luar pekerjaan sebagai jurnalis.

Hal tersebut tentunya sangat manusiawi, dua manusia saling terhubung karena adanya rasa saling mengerti dan memahami satu sama lain. Tidak selalu berdasar atas materi. Lebih dari itu, memang secara psikologis manusia tidak bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Jurnalis, yang secara umum dikenal pintar dan banyak mempunyai koneksi, menjadi nilai tambah ketika dijadikan teman.

Adakalanya, saat jurnalis melakukan wawancara, narasumber berbicara di luar topik utama pembicaraan. Jika begitu, saya biasanya membiarkan saja, sebab saya paham, dengan bercerita secara lepas, seseorang biasanya akan merasa lebih baik. Tugas jurnalis, mendengarkan dengan baik, tak perlu menjawab jika memang belum dibutuhkan. Karena, kalau memotong pembicaraan, narasumber yang sedang asyik bercerita bisa juga akan merasa diabaikan atau merasa dirinya kurang berharga untuk didengarkan, atau tema pembicaraan yang dirasa kurang menyenangkan dan membosankan.

Terapis, dalam beberapa sisi, sebenarnya juga hanya sebagai pendengar yang baik. Klien yang punya masalah dapat bercerita dengan nyaman, tanpa merasa dihakimi, biasanya bercerita tentang masalah atau tekanan pribadi yang dihadapinya. Bahkan, hal-hal yang ‘gelap’ dan  buruk tentang diri mereka juga diceritakan pada terapis –yang secara resmi menyandang profesi psikolog atau psikiater—tanpa beban.

Dari wawancara dan perbincangan tersebut, terapis kemudian menganalisa, memberi saran dan masukan tentang hal-hal apa saja yang mesti diperbaiki pada diri narasumber misalnya cara pandang dalam melihat dan mengatasi masalah. Sehingga, diharapkan klien dapat menjalani kenyataan dengan sebaik-baiknya. Hal ini akan membuat klien merasa lebih baik, memiliki kekuatan baru untuk menghadapi kehidupan yang memang penuh dinamika dan kompleksitas.

Bedanya dengan jurnalis, hanya tentang metode dan profesionalitas saja. Jurnalis tentu tidak semuanya membaca atau belajar secara otodidak bidang psikologi, meski ada beberapa jurnalis yang memang lulusan psikologi ketika kuliah. Ada juga, jurnalis yang suka membaca banyak buku di luar profesinya dan psikologi menjadi ketertarikannya sehingga ia punya pengetahuan tentang ilmu jiwa—istilah lama dalam bahasa Indonesia, untuk menyebut psikologi (dan juga psikiatri).

Meskipun jarang terjadi, selain karena belajar secara otodidak, ada juga beberapa jurnalis yang dalam periode kehidupannya mengalami krisis jiwa yang membawanya pada gangguan kepribadian atau bahkan gangguan mental. Ini tentu bersifat kasuistik. Pada pengalaman seperti ini, ada dua hal yang bisa terjadi; jatuh dalam ketidakberdayaan, penyakit tambah parah karena tidak berobat, berhenti bekerja sebagai jurnalis karena kondisi mental yang buruk, atau tetap bekerja sebagai jurnalis dengan segala “gejala” penyakit yang menganggu termasuk juga dirasakan rekan kerja, atasan, keluarga atau orang lain yang karena pekerjaan mengenalnya dengan baik (dan juga buruk), termasuk stigma gangguan mental yang menyertainya.

Sebaliknya, ada jurnalis yang dengan sadar berobat ke psikolog atau psikiater, menjalani terapi dengan patuh, minum obat-obatan anti-depresan atau bahkan obat-obat anti-psikotik jika mereka “dihinggapi” gangguan mental berat seperti skizofrenia atau bipolar. Jika fase ini berhasil mereka lewati—terutama menerima kenyataan bahwa mereka masih sakit dan butuh pengobatan—kemungkinan besar jurnalis sekaligus penyintas gangguan mental ini bisa perlahan bangkit, pulih, berdaya bahkan menjadi lebih “hebat” dari masa sebelum mereka sakit.

Jurnalis yang seperti ini, kita temui biasanya pada kisah novel, film, dan cerita pendek yang bersifat fiktif namun juga ada yang ditulis berdasarkan kisah nyata di masyarakat. Namun, potret jurnalis sekaligus penyintas dapat juga kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Dari mereka, kita bisa mengambil hikmah dan pelajaran; bahwa krisis jiwa tidak harus berakhir di rumah sakit jiwa, asalkan gejala penyakit diketahui sejak dini.

Di sini pentingnya pengetahuan tentang kesehatan mental. Gangguan mental yang biasanya muncul pada usia muda, antara usia 15 hingga 25 tahun, pada fase dimana seseorang mencari jati diri, merasakan pengabaian dan penolakan oleh keluarga, tetangga, bahkan masyarakat dan lingkungan sekitar. Ada juga yang mengalami trauma masa kecil yang membuat mereka tumbuh menjadi pribadi yang teramat sensitive atau sebaliknya terlihat pendiam namun menyimpan api amarah yang sewaktu-waktu bisa meledak kapan saja; menjadi agresif, kasar, bahkan hingga mengamuk atau merusak benda-benda di rumah atau di sekitar tempat tinggal.

Pengidap dan penyintas gangguan mental bisa pulih—tidak seperti anggapan banyak orang yang kemudian menjadi stigma dan stereotype—bahwa orang dengan gangguan jiwa tidak bisa sembuh, berbahaya, patut dijauhi, tak punya masa depan sehingga lebih baik dikurung di rumah, bahkan dipasung, tanpa diajak berobat ke fasilitas kesehatan terkecil seperti Puskesmas yang kini di Indonesia telah membuka layanan kesehatan mental.

Jurnalis yang pulih dari gangguan mental, kemudian mendirikan atau bergabung di komunitas kesehatan mental, akhirnya bisa menjadi aktivis kesehatan mental yang tangguh. Sebab, ia telah mengalami apa yang banyak orang di Bali dan Indonesia sering ungkapkan: “gila/sinting/buduh/mengong” dan telah “keluar” dari kawah Candradimuka kehidupan, sehingga menjadi pribadi yang membumi, penuh empati, simpati dan terpenting punya kepekaan yang tinggi, sehingga mampu banyak membantu orang lain baik melalui karya-karya jurnalistik, banyak menulis tentang kesehatan mental dan menjadi sarana edukasi bahkan inspirasi bagi para pembaca—membuat keyakinan baru bahwa ODGJ mampu bekerja bahkan punya prestasi yang orang “normal” juga bisa raih.

Bukan berarti seorang jurnalis mesti “sakit jiwa” dulu baru bisa menjadi terapis jiwa bagi mereka yang membutuhkan. Bukan itu. Jurnalis—tetap saja punya kemiripan dan kemampuan seperti layaknya para terapis, dengan alasan penjelasan yang saya kemukakaan daam tulisan ini. Namun, pekerjaan jurnalis yang penuh tekanan, jam tidur yang tak teratur, kesehatan yang rawan, temasuk kesehatan mental membuat jenis profesi ini sangat rawan mengalami gangguan mental, seperti gangguan cemas atau anxiety dalam skala terendah, atau bahkan juga stress dan depresi pada tingkat lanjut.

Jika begitu, sudah selayaknya perusahaan media lebih peka terhadap kesehatan mental terutama untuk pekerja media. Belum saya temukan survei atau penelitian akademis tentang gangguan mental dikaitkan dengan profesi jurnalis/wartawan, terutama di Indonesia. Semoga para jurnalis—yang pandai mendengarkan seperti layaknya terapis—tidak lantas sakit dan membutuhkan psikolog atau psikiater. Maka itu, mari menjaga diri dengan baik, termasuk bagi perusahaan media dan sesama pekerja media untuk saling peduli dan menjaga solidaritas. Salam. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA

Penulis adalah penyintas skizofrenia paranoid, wartawan, penyair, dan esais asal Jembrana, Bali. Telah menulis 15 buku sejak 2018, dan aktif bekerja sebagai wartawan sejak 2015.

ODGJ Bisa Pulih, Mengapa Sulit Percaya?
Pengalaman Awal Mula Didiagnosa Skizofrenia
Post-Therapy: Semua Orang Pernah Sakit dan Terluka
Tags: jurnaliskesehatan jiwaSchizophrenia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dari Kesulitan Menuju Keindahan — Catatan Perjalanan ke Ciletuh, Jawa Barat

Next Post

PICA Fest Kembali, Lebih Ramai dan Lebih Ramah

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
PICA Fest Kembali, Lebih Ramai dan Lebih Ramah

PICA Fest Kembali, Lebih Ramai dan Lebih Ramah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co