24 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi Hidayatul Ulum | Waktu yang Kuselipkan pada Saku Ingatan

Hidayatul Ulum by Hidayatul Ulum
July 13, 2025
in Puisi
Puisi-puisi Hidayatul Ulum | Waktu yang Kuselipkan pada Saku Ingatan

Hidayatul Ulum

Waktu yang Kuselipkan pada Saku Ingatan

Kujatuhkan setengah jam di bulevar
Demi memungut setengah jam yang lain
Menyusur koridor panel surya
Ke tempat berpijakmu, latar abu-abu berpaving:
Berdiri
Disiram dan menadah cahaya matahari

Sejenak bersemuka
Dimulai dari tolehmu secepat kakiku menuju tiba

Di sela-sela
Ketika jarak hanya sejengkal dan raga tinggal merapat
Sesalku adalah tiada yang kuperbuat

Andai gugup gemetar diri tak meriapi
Andai getar suara tak rintangi
Akan kulewati
Celah-celah kecil yang hanya milidetik itu, menyebut namamu

Waktu makin berjalan
Satu jam memang tak pernah panjang
Setengahnya telah hilang
Maka pada sisa waktu
Mesti kusimpan remah temu
: Sebaik yang kumampu

Siapa yang sadar?
Kuselipkan setengah jam pada saku ingatan
Sebagai kenang-kenangan perjalanan jauh
Juni ke Juli, Juli ke Agustus
Jarak tempuh yang sarat lintas tak lurus

Di ujung waktu
Kaku, terpaku, terpancang kakiku
Tak ikhlas melepas
Makin jauh langkahmu

Tolehan sejenak
Apa yang kau lihat di barat?
Beliku menelanmu bulat-bulat
Dan pertanyaanku … tak menemu jawab

K, 2024-2025 

Aku, Kau, dan Pohon-Pohon

Pada jalan setapak itu,
aku ingin membawamu.
Akan kutunjukkan
riuhnya selokan penuh kecebong
atau mungkin ikan-ikan kecil,
jembatan dengan pagar di satu sisi
yang dirambati tanaman bunga
dengan lebah-lebah mengisapi,
serta jalanan naik samping beringin
yang akar gantungnya berjalin-jalin.

Maukah?
Sambil kita berbincang
tentang kelokan-kelokan hidup yang kita lewati
di luar pertemuan ini.

Hidup menggelar pilihan
dan kita akan tiba di persimpangan
yang sudutnya ditumbuhi ketapang.
Kita bisa menyeberang,
melewatinya,
menuruni beberapa anak tangga,
dan berakhir tiba di suatu pelataran
lantas menuju ke selatan.

Dari sana dapat kau lihat,
bangunan sederhana
tempatku pernah temukan
biji-biji pohon saga
yang kini telah lenyap
entah ke mana.
Selain keputusan,
kadang-kadang
hidup juga mengambil hal berharga, bukan?

Kita tidak akan mampir
karena aku ingin mengajakmu
terus berjalan
hingga kita tiba di taman kecil
dengan pohon beringin lain.

Pada salah satu kursi di sana suatu sore
aku pernah menangisimu,
tetapi cerita itu
bukan tujuanku.
Aku hanya ingin tahu
pohon apa yang paling kau suka?
Hingga tak bisa kau lepas rasa kagum
dalam hatimu
terhadapnya.

Aku suka …
ficus benjamina
pada
taman
museum itu.

Tak pernah bosan ia kukagumi,
kadang sambil duduk menyesap kopi,
mengudap kue muffin mungil
di tengah teriknya hari,
atau mengamati burung-burung
mematuki apa pun.

Cukupkah?

Kita bisa beranjak
kalau kau mau.
Akan kutunjukkan
pohon kenitu favoritku
tepat di pelataran dengan replika candi
tak jauh dari situ.

Mengapa aku suka pohon kenitu?
Oh, ayolah!
Pohonnya berdaun indah,
seperti disepuh emas
bila kau lihat dari bawah.
Kau bisa merasa
jadi orang paling kaya
hanya dengan tengadah kepala.

Jadi,
pohon apa yang paling kau suka?

Beri
tahu
aku
biar
aku
juga
suka
dan
ingat
caramu
berkata-kata.

K, Oktober-November 2024
 

Hujan Hari Keenam—Darinya Puisi Ini Kulahirkan

masih ingatkah hujan hari keenam
pekan pertama bulan terakhir, tahun kemarin?
hujan tak henti-henti, awet sekali.
aku berteduh, bernaung gazebo,
belakang gedung sekolah pascasarjana,
bersembunyi dari ingar-bingar
dan menghadapi keterasingan.

itu bukan rencana awal.

usai dari ruang tata usaha,
aku ingin lift mengantarku ke lantai delapan,
ke suatu ruang tempat aku bisa melihat pelataran
dengan kabut rindu pada retina
dari balik kaca jendela.
tapi antrean padat seperti mencegat,
aku pun mengurungkan niat dan memilih keluar gedung,
tanpa sempat pamit pada ikan-ikan hias di akuarium
yang pernah kutatap dan kukagumi
dalam durasi lama berdiri.

ikan-ikan yang sangat ingin kusapa lagi.

di gazebo, aku banyak memikirkanmu.
tiba-tiba juga ingin tahu,
seperti apa rupa jas hujan yang kau miliki?
apakah bagian punggungnya bergambar penguin?
ataukah seluruh permukaannya berhias motif polkadot?
demi tuhan. aku penasaran. tanpa spesifik alasan.

hujan tak lekas reda dan justru kian menderas curahnya.
ia menarik benang ingatan
tentang nuansa sepotong cerita
karya ray bradbury yang diterjemahkan maggie tiojakin
ke dalam bahasa kita sebagai hujan berkepanjangan,
dan tak dapat kupungkiri, persis yang kurasakan:
dingin menggerayang,
menjejakkan lembap-basah pada pakaian.
makin menggigilkan kau di ingatan.
melekat erat. menggelisahkan.

cuaca yang semuram itu …
aku ingin tahu bagimu.
apa hanya sekadar guyur air yang tak putus
ataukah panggilan renung yang tengah berembus?

dan bila kau bertanya,
apa urgensi
hujan hari keenam kukisahkan?
karena hari itu aku ingin melihatmu,
tapi semesta tak berpihak kepadaku.

maka darinya puisi ini terlahir
akan menyapamu jika kau baca adalah takdir.

K, 2025

Catatan: Puisi ini terinspirasi dari kenangan pribadi penulis serta latar suasana dalam cerpen The Long Rain karya Ray Bradbury yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Maggie Tiojakin dengan judul Hujan Berkepanjangan. 


Fragmen Pertemuan: Letak Demi Letak, Sebelum Kita Berjarak

/1/
di ambang gawang
kita pandang hijau tanah lapang
sesaat sebelum canggung datang
bergelung pada ruang percakapan.

kutatap sejenak rerumputan;
menimbang, tepatkah bila pada hamparnya
kuserah-titipkan gawaiku yang sederhana
sebab tasku jauh di luar jangkauan
dan kau yang dekat, cergas tawarkan bantuan.

tas hitam yang kau bawa,
kuletakkan gawaiku
pada mulutnya yang menganga.

kita,
masih perihal yang sama.

/2/
pada hampar tanah berumput
kau bertanya padaku tentang sudut
tentang kiri atau kanan,
aku bingung memberi jawaban.

kemudian topiku diterbangkan angin,
angin yang menggulung mendung,
mendung yang menutupi gunung,
gunung yang diam-diam aku ingin.

tak apa
memang kita bisa apa?
kita tak punya senjata
bertikai melawan cuaca

kembali berjumpa,
langit kini dan dulu tak ada bedanya.

/3/
di bawah pohon trembesi,
kau tersandung paving tak rata,
ingatanku seketika kembali
pada bait puisi lama kita.

latar hayati,
rerumputan dan tanah,
tempat berpijak tampak basah
tersapu sinar matamu yang tabah.

trembesi,
bila kau tahu namanya trembesi,
apakah kau terkenang sejarahmu sendiri?
di bawahnya aku berdiri: meminta kanopi.

sendiri,
tak sepertimu yang (pernah di sini) dikelilingi.

/4/
adalah taman dengan serumpun pohon pisang
atau mekar bunga pohon kamboja
yang tidak aku dekati, lantaran
serupa senyum yang kau sebut, tak leluasa.

banyak senyum dan tawa
kau bagi pada muram cuaca
sementara gelebah bertingkah
pada hatiku yang dirundung tanya
: bagaimana jika hari itu terakhir kalinya?

bertemu denganmu
berdiri di hadapanmu
berbicara denganmu
berjalan di sampingmu
tertawa denganmu
tersentuh kebaikanmu

semoga tidak
sungguh, semoga tidak

ingatkah?
sebelum sikap yang pemungkas
kau sempat melarangku melihat atas
padahal itu hanyalah burung-burung melintas.

aku tahu kau ingin aku menatapmu
oh, tepatnya lingkar pandang itu
tapi apa kau juga tahu keinginanku?
sekadar kau mengingat letak demi letak
atau jejak demi jejak, sebelum kita berjarak

K, 2025 

Barat Daya

Sebelum kau disembunyikannya,
sederet pohon menyekat kita.

Di tanganmu rahasia,
kenangan lama berkarang bunga;
melindap sekaligus menyingkap
misteri hari, kita pernah bersitatap.

Barat daya, sebelum kau ke sana
pertanyaanmu bernada cepat
seolah tanya esok-lusa
kepadaku, tak akan lagi sempat.

Tahukah kau, aku tergeragap?

Waktu menyentak,
pikiranku mengilat,
percakapan kita seperti kereta,
melaju di rel yang jauh
jarak antarbantalannya.

Referensi kota yang tak kuterima
sebab tak familiar pada segala
jalan dan wilayahnya
hingga kota yang kuanggap dekat
agar jarak kian merapat;
tawa kita adalah kebahagiaan singkat.

Kemudian penghabisan,
sebelum pamit terlontar
dengan santun kau titip salam
—sudah,
sudah kusampaikan—

dan meski tidak beliau katakan, aku tahu
Bapak amat terkesan kepadamu.

K, 2025 

Penulis: Hidayatul Ulum
Editor: Adnyana Ole


[][] Klik untuk BACA puisi-puisi lain

Puisi-puisi Hidayatul Ulum | Selasar Sebelum Selasa
Puisi-puisi Ahmad Fatoni | Sun Rise di Bromo
Puisi-puisi Yuditeha | Lelaki di Gunung Batur
Puisi-puisi Tjahjono Widarmanto | Riwayat, Takziah, Pulung Gantung
Puisi-puisi Sonhaji Abdullah | Menyesap Manis Perih Hidup
Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bajak, Bijak, Bajik dalam Pariwisata

Next Post

Sambal Kacang Ni Komang | Cerpen Muhammad Aswar

Hidayatul Ulum

Hidayatul Ulum

merupakan alumni Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Malang. Puisi-puisinya telah dimuat di sejumlah media, antara lain SIP Publishing, Bacapetra.co, Basabasi.co, Kompas.id, Magrib.id, Majalahelipsis.id, Pronesiata.id, Redaksi Marewai, dan Cantante.id. Perempuan yang akrab disapa Hida ini dapat dihubungi melalui akun Instagram: @hida_adenanthera.

Related Posts

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

by Chusmeru
June 20, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

by Putu Intan Juliantika
June 14, 2026
0
Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak...

Read moreDetails

Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

by IRZI
June 13, 2026
0
Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

JESS BUAT PRANITA DEWI Meong-meong alih je bikule—suara itu melintas dari pelataran purake satelit, kabel bawah laut, ruang transit;atma mengikutinya...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

by Selendang Sulaiman
June 7, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

sore di gerbang tim. jam tiga sore, matahari pucat di belakang mendung,angin kencang menyapu sisa pohonan di cikini.aku duduk di...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

by Angga Wijaya
June 6, 2026
0
Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

DOA UNTUK TETANGGA Di beranda kos, aku kerap duduk sendiri. Dalam hatimengucap doa. Aku berdoa, semoga semua tetanggadiberi rezeki yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ama Gaspar

by Ama Gaspar
June 5, 2026
0
Puisi-puisi Ama Gaspar

Sajak Tentang Air IDari perut bumi, riwayat meambat di selasar masa;menjelma buih, pecik, riak, arus, dan air. Dari kulit tanah,...

Read moreDetails

Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu

by Muammar Qadafi Muhajir
May 31, 2026
0
Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu

Kelambu Suatu hari, aku bicara dengan kelambuDia berkeluh kesah tentangmalam itu doa-doakutidak sengaja tersangkut di ketiaknyaIa bilang ia khilaf dan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Pusat Cahaya

by Eddy Pranata PNP
May 30, 2026
0
Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Pusat Cahaya

CANGKIR TEH YANG MENUA kita masuki rumah baru, AC yang tidak dinginrapikan dapur dan kamar, bersihkan kamar mandi: "au, kita...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Hujan Malam

by Sholihul Mubarok
May 29, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Hujan Malam

ASIMTOTE sebentar nyala mataharidari pagimenyalak matakudan matamuselalu silau ada jeda tersembunyidi bibir sianglebih sunyidari celah renggang akan tetapi, bayangmemanjang satu...

Read moreDetails
Next Post
Sambal Kacang Ni Komang | Cerpen Muhammad Aswar

Sambal Kacang Ni Komang | Cerpen Muhammad Aswar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co