22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bandara Internasional Bali Utara [BIBU]: Berkah atau Serapah?

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
July 12, 2025
in Esai
Bandara Internasional Bali Utara [BIBU]: Berkah atau Serapah?

Ilustrasi tatkala.co

BALI tak pernah benar-benar sunyi dari desir ambisi. Di balik harum dupa dan kidung pemujaan, ada mesin-mesin proyek yang diam-diam terus menggerus sunyi. Termasuk yang belakangan ini kembali bergaung seperti mantra yang dipaksakan: Bandara Internasional Bali Utara, atau singkatnya, BIBU.

Nama yang terdengar modern, berwawasan global, dan tentu saja menjanjikan. Tapi apakah benar ia berkah, atau justru serapah yang dibungkus janji? Bali, seperti seorang perempuan tua yang tetap menawan, kini kembali dirayu dengan gincu pembangunan. Tapi tubuhnya tak lagi muda. Tanahnya retak. Lautnya lelah. Langitnya kadang berawan meski musim sedang cerah.

Mimpi yang Ditalangi Utang

Katanya, bandara ini tidak akan menguras APBN. Tak keluar uang sepeser pun. Tapi kita tahu, dalam dunia modern, tak ada makan siang gratis. Yang tak dibayar tunai hari ini, akan ditagih besok lewat cicilan, lewat tanah yang harus digadaikan, lewat ruang hidup yang menyempit, lewat suara jangkrik yang tergantikan deru pesawat.

Dalam akuntansi spiritual Hindu, utang bukan sekadar angka. Ia adalah ṛṇa, utang moral kepada semesta, kepada leluhur, kepada tanah tempat kita berpijak. Dan jika utang ini gagal dibayar, bukan hanya anak-cucu yang menanggungnya, tapi seluruh garis karma Bali akan terikat di simpul dosa kolektif.

Bandara di Atas Laut, Ancaman di Atas Tanah

BIBU rencananya akan dibangun di atas reklamasi laut. Sebagian mungkin menganggap ini solusi cerdas agar tidak merusak daratan. Tapi sesungguhnya, justru fasilitas pendukung seperti jalan tol, kawasan perniagaan, depo logistik, terminal darat, dan kompleks properti yang akan mencaplok lahan hijau, sawah produktif, dan ruang adat di daratan.

Inilah ironi paling menyakitkan: yang disebut “kemajuan” justru meminggirkan alam dan spiritualitas Bali. Sawah dan hutan akan menjadi aspal dan beton. Pura dan jalur upacara akan terpotong proyek. Dan mata air akan tertutup konstruksi.

Ancaman Nyata: Serobot Ekosistem & Fragmentasi Budaya

Menurut Prof. Ir. Daniel Murdiyarso, Ph.D., peneliti senior CIFOR dan pakar ekologi lanskap:

“Pembangunan besar di daerah hijau yang belum terfragmentasi akan menciptakan ecological island yang melemahkan daya tahan kawasan terhadap bencana ekologis seperti banjir dan kekeringan.”

Demikian pula WALHI Bali memperingatkan bahwa proyek pendukung BIBU akan membelah jalur ekosistem dari pegunungan ke laut, menghancurkan biodiversitas, dan memperbesar risiko bencana ekologis di Bali Utara—daerah yang selama ini masih alami.

Nyoman Gelebet: Ruang Bali Adalah Ruang Suci

Ir. I Nyoman M. Gelebet, tokoh arsitektur Bali yang mewariskan tatanan Asta Kosala-Kosali, dengan tegas menolak pembangunan yang mencederai spiritualitas ruang. Ia pernah menyatakan:

“Ruang di Bali bukan sekadar ruang fungsional, melainkan ruang spiritual. Struktur tidak boleh merusak harmoni antara purusa dan bhuwana, manusia dan alam.”

Bagi Gelebet, membangun bandara yang memaksakan pola struktur modern ke dalam lanskap Bali sama dengan mengoyak struktur kosmologis Bali. Di mana tanah tidak boleh lebih tinggi dari gunung, dan pembangunan tidak boleh melangkahi pura. Di mata beliau, ini bukan sekadar salah tempat—tapi salah cara berpikir.

Prof. Ida Bagus Adnyana Manuaba: Bali Itu Jiwa, Bukan Zona Investasi

Prof. Ida Bagus Adnyana Manuaba, budayawan dan spiritualis, mengingatkan bahwa:

“Kita terlalu banyak bicara tentang Bali sebagai tempat investasi, terlalu sedikit tentang Bali sebagai tempat pelindungan jiwa.”

Ia menyuarakan kekhawatiran terhadap pembangunan besar yang membajak Bali atas nama kemajuan.

“Bali boleh modern, tapi tidak boleh kehilangan akar. Modernisasi tanpa spiritualisasi adalah pemakaman budaya.”

Bali Adalah Loka, Bukan Lokasi

Guruji Anand Krishna, tokoh spiritual dan penulis buku The Wisdom of Bali (2009), menulis:

“Bali bukan sekadar tempat. Ia adalah loka — ruang spiritual yang menghubungkan manusia dengan langit dan bumi. Pembangunan yang mengabaikan spirit ini hanya akan melahirkan tempat kosong tanpa jiwa.”

Ia menambahkan:

“Jika kita membangun tanpa kesadaran, kita sedang meruntuhkan pilar-pilar budaya kita sendiri. Bali tidak memerlukan lebih banyak bangunan. Bali memerlukan lebih banyak penghormatan terhadap nilai-nilai luhur dan kearifan lokal Bali”

Bagi beliau, pembangunan sejati lahir dari kesadaran, bukan dari kontrak dan kapital. Tanpa itu, kita hanya sedang mengelola kehancuran.

Ibu Kota Baru, Bukan Bandara Baru

Mengapa tidak memindahkan ibu kota provinsi Bali ke utara alih-alih membangun bandara? Singaraja punya sejarah sebagai pusat pemerintahan. Ini bukan ide baru, melainkan kembali ke akar. Pemindahan pusat pemerintahan jauh lebih bermakna dan berkelanjutan dibanding menghadirkan bandara yang akan membuka pintu bagi aliran kapital tak terkendali.

Ini bukan soal gedung, tapi soal arah pandang. Kita perlu menggeser paradigma dari betonisasi ke budhisasi – dari pembangunan fisik menuju pembangunan batin.

Tanah Ini Sudah Penuh Luka

Bali bukan tanah kosong. Ia penuh kisah, penuh roh, penuh upacara. Setiap jengkalnya adalah kitab hidup. Maka setiap proyek pembangunan harus dibaca dengan aksara suci, bukan kalkulasi. Tanah ini sudah penuh luka. Jangan tambahkan lagi.

BIBU mungkin menjanjikan berkat. Tapi jangan lupa: tak semua yang bersinar adalah pencerahan. Kadang, sinarnya justru berasal dari api yang membakar perlahan.

Pembangunan Bukan Soal Beton, Tapi Soal Budhi

Bali bukan pulau untuk dibangun. Ia pulau untuk direnungi. Ia adalah tempat orang belajar menghaturkan dupa dan doa, bukan mendirikan gedung dan parkiran pesawat. Jika kita masih bisa membedakan antara kemajuan dan kesombongan, maka kita masih punya harapan.

Dan jika harapan itu masih ada, mari kita jaga Bali dengan satu mantra yang paling sederhana: cukup.
Save Bali — atau lebih tepatnya:
Serve Bali, Ibu yang telah menyusui kita semua di sini. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Bali, di Antara Pesona dan Luka
Ini tentang Bandara Bali Utara: Bukan Debat Politisi atau Akademisi, Jangan Baper!
Mari Memandang Pencoretan Bandara Bali Utara dengan Perspektif Lain
Bali, Pulau Surga yang Lelah
Tags: balibandarabandara bali utarabuleleng
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Problematika Desa Adat Baduy Menuju Desa Wisata — [Bagian 1]

Next Post

Film “1 Kakak 7 Ponakan” — Apakah Ini Pesan Tersirat untuk Generasi Sandwich?

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Film “1 Kakak 7 Ponakan” — Apakah Ini Pesan Tersirat untuk Generasi Sandwich?

Film "1 Kakak 7 Ponakan" -- Apakah Ini Pesan Tersirat untuk Generasi Sandwich?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co