12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menjeda dan Menjahit: Hidup yang Dijahit Ulang dari Sunyi ke Sadar

Emi Suy by Emi Suy
July 7, 2025
in Esai
Menjeda dan Menjahit: Hidup yang Dijahit Ulang dari Sunyi ke Sadar

Foto ilustrasi: Emi Suy

Menjeda dan Menjahit: Hidup yang Diperjuangkan Diam-Diam

SETIAP pagi, jalan-jalan ramai oleh langkah-langkah tergesa. Wajah-wajah yang sama, rute yang sama, ritme yang tak berubah: bangun, bekerja, pulang, tidur, dan ulangi. Rutinitas, selimut hangat yang perlahan mencekik, sering kita terima sebagai tanda tanggung jawab. Namun ketika manusia berhenti bertanya, ia tidak benar-benar hidup; ia sekadar bertahan.

Kita memburu target, menyusun daftar to-do, mengejar angka, tetapi jarang menghitung apa yang diam-diam hilang: waktu bersama diri, keberanian mencoba hal baru, rasa ingin tahu yang perlahan padam. Rutinitas yang awalnya menopang dapat berubah menjadi borgol halus yang mempersempit pandang. Yang paling menakutkan bukanlah gagal, melainkan merasa aman dalam hidup yang tak lagi bernyawa.

Ada yang hidup, tapi jiwanya tak turut serta. Itu catatan kecil dalam jeda pagi yang tak sempat dibaca banyak orang.

Hidup yang utuh bukan tentang sibuk yang tak selesai. Ia tentang hadir dengan makna. Bukan hanya gerak, melainkan diam yang mendalam. Bukan sekadar selamat, melainkan merasa utuh sebagai manusia. Untuk itu, kita perlu menjeda. Berani berhenti, berani bertanya: masihkah aku hidup atau hanya bernapas dalam keterbiasaan?

Jeda dan Jarum: Cara Perempuan Menyelamatkan Hidupnya

Di tengah riuh rutinitas, ada sosok yang bahkan tak diberi waktu mengeluh: perempuan. Mereka tidak sekadar bergerak; mereka menjahit hidup yang nyaris koyak sambil tetap menghidangkan sarapan, menyeka air mata, dan menyusun ulang sisa harapan. Jarum itu kecil, tetapi di tangan perempuan ia menjelma senjata sunyi. Bukan untuk menyerang, melainkan untuk menyatukan serpihan diri.

“Perempuan mesti bisa menjahit, setidaknya menjahit lukanya sendiri.”

Kalimat itu lahir dari tubuh lelah dan hati nyaris habis. Perempuan tidak selalu menang, tetapi mereka terus menjahit agar tidak terus kalah oleh luka yang diam-diam menggerogoti jiwa. Mereka diajarkan memberi bahkan saat diri sendiri kekurangan. Menampung air mata, menyimpan kecewa, namun tetap memasak dengan cinta. Di balik semua itu ada jarum tak terlihat, digenggam setiap malam untuk menambal harga diri, merajut keberanian, menyulam kembali napas esok hari.

Kadang hasil jahitan tak rapi, tetapi cukup. Cukup menahan luka agar tak menganga, cukup agar esok pagi mereka bisa berbisik, “Aku masih di sini.”

benang-benang luka
perempuan menyulam sunyi
dari ujung air mata yang sembunyi
ia bukan sedang memperbaiki masa lalu
tapi sedang merajut harapan yang baru
meski benangnya tipis dan jarumnya tumpul
perempuan tetap menjahit dirinya penuh

Hidup yang Dijahit Ulang: Dari Sunyi ke Sadar

Tak semua luka bisa disembuhkan. Beberapa hanya bisa dijahit, meski dengan tangan gemetar dan benang hampir putus. Perempuan tidak dilahirkan kuat. Mereka dibentuk oleh kehilangan, ditempa oleh pengkhianatan, diasah oleh kesunyian. Dunia melaju terlampau cepat, menuntut mereka mengejar dengan napas nyaris habis. Ketika tak ada lagi yang bisa digenggam, mereka memungut sisa-sisa diri, menjahitnya satu per satu dengan doa sumbang dan air mata diam-diam.

Mereka hidup dalam sunyi yang penuh kerja tersembunyi. Sunyi itulah ruang kesadaran perlahan tumbuh. Menyadari tak apa-apa bila belum pulih sepenuhnya. Cukup bila hari ini bisa bertahan. Menjahit hidup bukanlah mengulang masa lalu, melainkan memberi bentuk baru pada diri yang sempat hancur. Dari sunyi ke sadar, dari luka ke makna, itulah hidup yang dijahit ulang.

Perempuan tidak selalu ingin menang. Ia hanya ingin tidak terus kalah oleh luka yang diam-diam menggerogoti tubuhnya sendiri.

Tidak apa-apa kalau hari ini hanya bisa berdiri sebentar. Kau telah cukup kuat menjahit hidupmu kembali tanpa harus membuktikannya kepada siapa pun.

Perempuan dan Peran: Menjahit Diri dalam Banyak Nama

Perempuan tak hidup dalam satu nama. Ia adalah pribadi, istri, ibu, anak, pekerja, sahabat–dan dalam setiap peran itu, ia diminta hadir sepenuhnya. Ia bukan hanya menjalani, tapi juga merawat, menyambung, merapikan, dan seringkali menyembunyikan lukanya agar tak membebani orang lain. Bukan karena ingin tampak kuat, tetapi karena tahu kapan harus menjadi pelindung, dan kapan harus melindungi dirinya sendiri.

Sebagai individu, ia butuh ruang untuk merasa cukup menjadi dirinya sendiri. Sebagai ibu, ia harus sanggup membelah waktu untuk cinta yang tak kenal lelah. Sebagai istri, ia belajar menautkan dua jiwa tanpa kehilangan dirinya sendiri. Sebagai pekerja, ia mendisiplinkan lelah, mengemas marah, menyusun mimpi dalam hitungan hari.

Namun perempuan tidak selalu bisa memilih kapan ia menjadi siapa. Dunia kadang menariknya ke segala arah secara bersamaan, dan ia harus menjahit semua itu dalam satu tubuh. Ia meramu kekuatan dari keterbatasan. Ia menyulam peran-peran itu dengan benang yang tak selalu terlihat, tetapi terasa pada kehadiran yang utuh: dalam dekapan, dalam senyum, dalam diam yang mengerti.

Peran-peran itu tidak saling menghapus. Justru di sanalah letak keindahannya. Ia bukan satu, bukan seribu, tapi satu tubuh dengan seribu wajah. Dan yang paling menakjubkan: semua ia jalani, bukan karena bisa segalanya, tapi karena tak punya pilihan untuk berhenti–selain tetap hidup, dan mencintai hidup itu sendiri, seutuh dan serapuh apapun bentuknya.

Menjeda bukan kemewahan. Ia adalah kebutuhan agar kita tidak mati di tengah hidup. Jarum di tangan perempuan mengingatkan bahwa pemulihan kerap berlangsung dalam diam: benang demi benang, hari demi hari. Jika hari ini kau lelah tanpa tahu sebab, mungkin yang kau perlukan bukan sekadar libur, melainkan keberanian menengok ke dalam. Menjeda, meraba luka, lalu perlahan menjahitnya.

Jangan hanya hidup untuk bertahan. Hiduplah untuk menjelajah, walau hanya sejauh keheningan batinmu sendiri. Sebab yang benar-benar hidup bukan yang paling sibuk, melainkan yang paling sanggup berhenti dan bertanya, masihkah aku hidup, atau hanya menjalani hari-hari yang tak kupahami artinya?

Ada hari-hari di mana hidup terasa terlalu panjang untuk dijalani, tapi terlalu singkat untuk dimengerti. Di sanalah kita belajar menjahit bukan hanya luka, tapi juga makna. Kita tak selalu butuh kata bijak. Cukup jeda yang jujur. Cukup keberanian untuk duduk diam dan mendengar detak hati sendiri.

Karena tidak semua luka harus diumumkan, dan tidak semua perjuangan harus disaksikan. Ada yang cukup diketahui langit dan disimpan dalam dada yang tak pernah benar-benar sembuh, tapi tetap memilih hidup.

Jika hari ini kau merasa lelah tanpa nama, dan tubuhmu seperti tak lagi cukup kuat, ingatlah ini. Kau bukan gagal. Kau sedang menjahit ulang dirimu perlahan, tapi sungguh.

Dan itu pun sudah sebuah kemenangan. Dapat merefleksikan ini semua di sela waktu kerja. [T]

Kayu Besar, 7-7-2025

Penulis: Emi Suy
Editor: Adnyana Ole

BACA tulisan-tulisan lain dari penulis EMI SUY

Di Tangga Sekolah, Aku Melihatmu Tumbuh
Kebahagiaan Istri Terletak di Tangan Suami
Menulis: Perspektif Pengalaman Pribadi
Tags: filosofirefleksirenungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Panggung Budaya untuk Mengingat Seratus Tahun Rarud Batur

Next Post

Manis dan Anggun, Legong Bhima Sakti dari Sanggar Seni Cakup Kaler, Petang-Badung, di Pesta Kesenian Bali 2025

Emi Suy

Emi Suy

Lahir di Magetan, Jawa Timur, dengan nama Emi Suyanti. Emi penyair perempuan Indonesia yang ikut mendirikan Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) dan saat ini aktif menjadi pengurus, serta menjabat sebagai sekretaris redaksi merangkap redaktur Sastramedia, sebuah jurnal sastra daring. Sampai saat ini Emi sudah menerbitkan lima buku kumpulan puisi tunggal, yaitu Tirakat Padam Api (2011), serta trilogi Sunyi yang terdiri dari Alarm Sunyi (2017), Ayat Sunyi (2018), Api Sunyi (2020) serta Ibu Menanak Nasi Hingga Matang Usia Kami (2022), buku kumpulan esai sastra Interval (2023), serta satu buku kumpulan puisi duet bersama Riri Satria berjudul Algoritma Kesunyian (2023). Penulis Naskah Opera (Libretto) I’m Not For Sale tentang perjuangan tokoh perempuan Ny. Auw Tjoei Lan menantang kematian menyelamatkan kehidupan, oleh pianis dan komponis Ananda Sukarlan. Puisi Emi Suy dimuat di lebih dari 200 buku kumpulan puisi bersama, serta di berbagai media online, seperti Basabasi.co, Sastramedia.com, juga dimuat di media nasional, antara lain Malutpost, Lampung Post, Banjarmasin Post, Suara Merdeka, Media Indonesia, serta Kompas. Puisinya pernah dimuat di majalah internasional dalam bahasa Inggris; majalah Porch Litmag.

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Manis dan Anggun, Legong Bhima Sakti dari Sanggar Seni Cakup Kaler, Petang-Badung, di Pesta Kesenian Bali 2025

Manis dan Anggun, Legong Bhima Sakti dari Sanggar Seni Cakup Kaler, Petang-Badung, di Pesta Kesenian Bali 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co