13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sekali Pakai | Cerpen Yuditeha

Yuditeha by Yuditeha
June 28, 2025
in Cerpen
Sekali Pakai | Cerpen Yuditeha

Ilustrasi tatkala.co | Diolah dengan Canva

AKU selalu membawa garpu plastik. Satu di tas kerja, satu di tas kecil warna hitam yang biasa kupakai belanja, dan beberapa lagi tersimpan rapi di laci dapur, masing-masing dibungkus plastik bening seperti hadiah kecil yang tak pernah diminta. Semuanya hanya kupakai sekali. Lalu kubuang. Entah kenapa. Mungkin karena aku merasa tak layak mencuci sesuatu yang bisa langsung dilupakan. Aku hidup dengan cara itu. Rapi. Terkontrol. Bahkan dengan orang-orang.

Suatu sore, sepulang kerja, aku memutuskan berhenti di kedai tua pinggir kota. Letaknya di bawah pohon asam besar yang tampaknya sudah ada sejak zaman Belanda belum tahu malu. Kedai itu sepi, hanya ada dua meja, kursi kayu yang sudah miring, dan aroma yang mengingatkanku pada dapur rumah ibu, dapur yang dulu ingin kutinggalkan.

Aku memesan semangkuk mi dan secangkir kopi. Ketika diantar, aku mematung. Di samping mangkuk, ada sebatang garpu. Berat. Kusam. Terbuat dari kuningan. Tak ada sumpit. Aku membuka tas, merogoh kantong kecil di dalamnya, tempat garpu plastik biasanya tersimpan. Nihil. Aku lupa membawanya. Sial.

Aku menatap garpu kuningan itu seakan ia benda asing dari planet lain. Mungkin karena ia pernah disentuh banyak orang. Mungkin karena ia tak bisa dibuang setelah kupakai. Mungkin karena, entahlah. Aku hanya mengaduk-aduk mi yang perlahan mendingin, berharap tiba-tiba seseorang datang dan menggantinya dengan mi kemasan yang tinggal seduh.

Saat itulah anak kecil datang. Usianya sekitar tiga tahun. Ia berlari sambil menggenggam pasir, tertawa lepas seperti tidak pernah tahu apa itu rasa malu atau takut gagal, sampai ia terpeleset dan menabrak meja tempatku duduk. Sebagian pasir itu terbang, menukik, dan jatuh tepat ke dalam mangkuk mi-ku yang belum tersentuh.

Anak itu menangis. Pemilik kedai terburu-buru menghampiri. Meminta maaf berulang kali. Sementara aku hanya mematung, merasa bersalah padahal tak tahu salahnya di mana. Aku melirik mangkuk. Pasir menempel di antara helai mi. Lapar dan muak bersamaan.

Pemilik kedai datang membawa mangkuk baru. Kali ini lengkap dengan sepasang sumpit kayu. Sekali pakai. “Maaf, cuma punya ini. Garpu satunya belum dicuci,” katanya pelan. Aku mengangguk. Mengucap terima kasih. Tapi lagi-lagi, aku hanya memegang sumpit itu tanpa niat benar-benar memakainya. Tangan kananku memainkannya seperti pensil. Mangkuk mi itu kembali dingin, seperti sebelumnya.

Aku tidak selalu begini. Dulu aku suka makan langsung dari piring besar, rebutan dengan saudara-saudara. Makan pakai tangan, bahkan berebutan gorengan terakhir yang tinggal setengah. Lalu suatu masa datang. Waktu di mana ayah pulang membawa luka. Ibu sibuk menangis diam-diam. Dan kami dipaksa tumbuh cepat tanpa diberi kesempatan bertanya kenapa nasi tiba-tiba harus dibagi lebih tipis dari biasanya.

Sejak itu aku belajar, jangan berharap banyak. Jangan terlalu dekat. Jangan pakai garpu yang harus dicuci. Semuanya sebaiknya sekali pakai saja. Ringan. Praktis. Tanpa beban kenangan. Termasuk hubungan.

Aku pernah pacaran. Satu kali. Lima tahun lalu. Lelaki itu suka masak, suka menyendok kuah langsung dari panci, suka menyuapiku meski kutolak. Ia bilang, “Makan itu soal rasa, bukan protokol.” .Tapi aku selalu cuci tangan terlalu lama, selalu pilih sendok yang baru dibuka dari bungkusnya. Lalu suatu malam, ia bertanya, “Kamu takut aku atau takut dekat?” Dan aku tidak menjawab. Karena aku tak tahu.

Sumpit itu masih di tanganku. Kedai mulai sepi. Anak kecil yang tadi jatuh kini duduk di kursi kecil sambil menggambar di tanah. Goresan jari-jarinya seperti puisi yang tak selesai. Aku merasa ingin mendekat. Ingin menanyakan namanya. Tapi aku tetap duduk, bermain sumpit seolah sedang memainkan waktu yang tak ingin bergerak.

Pemilik kedai menyapaku, kali ini dengan senyum. “Tak suka mi-nya, ya?”

Aku gelagapan. “Suka. Cuma, saya belum terlalu lapar.”

Ia mengangguk. Mungkin ia tahu aku berbohong. Tapi ia tidak menekan. Hanya duduk di bangku samping, mengambil benang dan jarum dari bawah meja, mulai menjahit sobekan kecil di celemeknya.

Aku menunduk, memandangi mangkuk mi yang makin menggumpal. Di luar, anak kecil tadi tertidur di pangkuan seseorang, mungkin ibunya. Jalanan di pinggir hutan mulai diselimuti kabut. Kedai ini seperti tersangkut di antara waktu yang menolak bergerak dan dunia yang enggan menunggu.

Lalu seseorang masuk. Aku tak langsung menoleh. Tapi langkahnya terdengar aneh. Ringan tapi mantap. Ada suara logam beradu. Mungkin kunci, atau gesper, atau semacamnya. Pemilik kedai langsung berdiri. Tak berkata apa-apa, hanya mematung. Begitu juga aku. Sumpit masih di tangan. Mangkuk di depan.

Lelaki itu menarik kursi. Duduk di seberangku. Rambutnya lebat. Matanya cekung. Tapi senyumnya seperti seseorang yang tahu terlalu banyak. Ia tak memesan apa pun. Hanya mengeluarkan sesuatu dari kantong jaketnya: sepasang sumpit kuningan.

“Aku pinjam punyamu,” katanya, menunjuk sumpit kayu di tanganku. “Sekali pakai, kan?”

Aku mengangguk. Lidahku kelu. Ada sesuatu dalam caranya bicara, seperti deja vu yang kelewat halus. Ia menyendok mi dari mangkukku. Pelan. Rapi. Seperti tahu rasanya dingin dan tak ingin membuatnya tambah sedih.

“Lima tahun lalu kamu pergi tanpa pamit,” katanya sambil mengunyah. “Tapi aku tetap simpan ini. Yang dari rumah. Yang biasa kita rebutkan.”

Aku nyaris menjawab. Tapi suara di kepalaku lebih keras. Aku tak ingat siapa dia. Aku sungguh tak ingat. Pemilik kedai masih berdiri. Tapi ia tetap tak berkata apa-apa. Hanya menatap sumpit kuningan itu seakan melihat sesuatu yang dulu pernah hilang.

“Aku kembalikan setelah selesai,” katanya, lalu bangkit. Keluar begitu saja. Tanpa menoleh. Sumpit kuningan itu dibawa pergi. Mangkukku tinggal separuh isi. Dan aku masih di sana, memegang sumpit kayu sekali pakai, tak yakin siapa sebenarnya yang baru saja duduk di hadapanku.

Pemilik kedai akhirnya duduk dan menjahit lagi. Aku berdiri. Meninggalkan mangkuk yang setengah isi dan sumpit kayu yang entah kenapa tadi terasa ringan sekali, seperti tidak pernah benar-benar kupegang. Aku berdiri, ingin cuci tangan. Penjual langsung menunjuk sebuah tempat. Tapi sebelum sampai di tempatnya, aku berbalik, seperti orang linglung.

Aku kembali duduk. Di kursi tempat lelaki tadi duduk. Lalu menemukan sesuatu di ujung baki: sebuah tisu yang dilipat rapi. Di salah satu sisinya, ada gambar kura-kura bertopi. Dan di bawahnya, tertulis dengan pulpen: Kupikir, tak cukup sekali. Ayo, besok lusa kita coba naik kereta yang sama. Duduk di gerbong dua, bangku dekat jendela.

Darahku berhenti sebentar. Tanganku ingat gerakan melipat itu. Cara ia selalu menggambar sesuatu di kertas yang akan dibuang. Kadang boneka, kadang peta kecil, kadang angka tanpa urutan. Tapi kura-kura, sesuatu yang pernah kupinta sekali digambarkan. Untuk alasan yang dulu kupikir sepele. Aku tak tahu sejak kapan tisu itu ada di situ. Tapi rasanya seperti ia baru saja meletakkannya. Aku merobek bungkus sumpit kayu yang tersisa. Perlahan. Seperti membuka amplop dari masa lalu. Dan kali ini, sumpitnya langsung kumasukkan ke saku. Dan aku masih betah duduk di kursinya. Aku tak ingin buru-buru melupakan, bahkan ingin mengingat-ingat sesuatu. [T]

Penulis: Yuditeha
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Buket Mawar Merah |  Cerpen Yuditeha
Ketut Asti | Cerpen Yuditeha
Teman Sepanjang Perjalanan | Cerpen Putu Gede Pradipta
Lengkingan Gagak Hitam | Cerpen Mas Ruscitadewi
Toh Langkir dan Perang Itu | Cerpen Mas Ruscitadewi
Rudra Tiga | Cerpen Mas Ruscitadewi
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Cindy Neo | Bleki, Sang Penjaga Alam

Next Post

Riuh Baleganjur Mempertemukan Koster dan Gen Z di Pesta Kesenian Bali 2025

Yuditeha

Yuditeha

Penulis tinggal di Karanganyar. IG: @yuditeha2

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
Riuh Baleganjur Mempertemukan Koster dan Gen Z di Pesta Kesenian Bali 2025

Riuh Baleganjur Mempertemukan Koster dan Gen Z di Pesta Kesenian Bali 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co