2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Manusia Toksin: Menelan Fitnah Menolak Fakta

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
June 18, 2025
in Esai
Syair Pilu Berbalut Nada, Dari Ernest Hemingway Hingga Bob Dylan

Ahmad Sihabudin

Memuliakan manusia berarti memuliakan penciptanya. Merendahkan manusia berarti merendahkan dan menistakan penciptanya.

.- Gus Dur.,

Drama ijazah palsu yang terus disuarakan oleh sekelompok orang, lama kelamaan dapat menjadi toksin sosial, yaitu terganggunya psikis masyarakat oleh suara-suara sumbang yang ditiupkan hampir setiap hari lewat media massa dan media sosial, lewat berbagai rupa, kemasan acara.  

Istilah  toxic people atau ada juga yang menyebutnya toksin sosial mungkin sudah tidak asing lagi. Istilah ini diungkapkan untuk orang  yang beracun atau memberikan dampak buruk terhadap psikis orang lain, membuat tidak nyaman lingkungan secara psikis.

Masyarakat mungkin sudah banyak dan cenderung terpapar oleh virus yang disebarkan oleh “manusia toksis”, baik sebagai pengikutnya maupun yang anti pernyataan “ijazah palsu” tersebut.

Buktinya ruang diskusi publik, media kita sangat ramai oleh pro-kontra, yang harusnya sudah selesai ketika Bareskrim Polri menyatakan ijazah tersebut identik, setelah diuji di laboratorium forensik, bahkan sebelumnya pihak Universitas Gajah Mada juga sudah menyatakan asli, juga lembaga negara KPU, KPUD juga menyatakan clear asli.

Inilah masalahnya kelompok ini terus menarasikan “ijazah palsu” cenderung memaksakan kehendak, mencari-cari dalih, alasan ini-itu, menolak semua pernyataan resmi institusi negara, pengadilan harus segera digelar agar perkara ini cepat selesai, sehingga dapat mengurangi manusia toksin berkembang biak.

Toxic sering digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang “beracun” secara emosional atau psikologis.  Dalam koteks sosial sifat toxic ini perilaku yang sangat tidak menyenangkan, cenderung mengundang permusuhan, selalu mencari-cari kesalahan orang lain, menghasut sana-sini, mengadu domba dan kerap memutarbalikan fakta. Kalau dalam dunia pewayangan sering disebut “sengkuni”.

Sifat ini tentu harus dibasmi, kalau bisa kita terhindar dari  toxic sosial ini, karena dapat mengganggu kenyamanan orang lain, membuat dijauhi banyak orang, hingga membuat kita sulit untuk memiliki hubungan sosial yang baik.

Salah satu cara untuk menghindari sifat toksin ini adalah, sebelum menilai orang lain, ada baiknya kita instrospeksi diri terlebih dahulu,  mungkin saja kitalah yang justru membawa racun atau memberi dampak buruk terhadap orang lain, dan lingkungan masyarakat.

Sifat-sifat negatif yang dibawa oleh manusia toxic, seperti iri hati, kebencian, manipulasi, dan kebiasaan menyebarkan keburukan, tidak hanya merusak hubungan interpersonal, tetapi juga mengancam keharmonisan masyarakat (https://uin-alauddin.ac.id/tulisan/detail/manusia-toxic–bahaya-dampak-dan-solusi-islami-untuk-kehidupan-bermakna–1224# )

                                                          ***

Kelompok orang yang terus nyinyir pada soal ijazah Jokowi, keluarga Jokowi, dan segala kebijakan masa pemerintahan sebagai Presiden ke-7, dapat juga kita kelompokan sebagai manusia toxic, bila kita perhatikan sifat, sikapnya mau menang sendiri, dengan menyebarkan informasi yang sangat sulit dipertanggungjawabkan. Menghina dan mengingkari institusi resmi negara, pokoknya hanya keterangan mereka yang paling benar. Mereka menelan fitnah yang mereka sebarkan, menolak semua fakta yang disampaikan semua lembaga.

Sifat toxic secara umum memiliki ciri yang membuat seseorang sulit untuk berinteraksi dengan orang lain karena sikapnya yang negatif, merusak, dan tidak sehat. Orang dengan sifat toxic sering kali suka mengkritik, tidak bisa menerima kritik, dan sulit untuk meminta maaf. Mereka juga cenderung egois, manipulatif, dan tidak memiliki empati (https://uin-alauddin.ac.id/tulisan/detail/manusia-toxic–bahaya-dampak-dan-solusi-islami-untuk-kehidupan-bermakna–1224# )

 Ciri-ciri sifat toxic tersebut, berikut ini.  Suka mengkritik orang lain tetapi tidak suka mendapat kritikan, dengan kritikan yang terlalu kasar dan cenderung fitnah, sangat berlebihan, ini dapat melukai perasaan orang yang dikritik. Terlalu mencampuri urusan orang lain, bahkan yang sifatnya pribadi, dengan menggunakan bahasa yang tidak sopan dan halus (https://www.djkn.kemenkeu.go.id/kpknl-jakarta2/baca-artikel/14375/Basmi-Sifat-Toxic-Dalam-Diri.html)

Sifat yang menonjol dari manusia toksin, sulit meminta maaf dan tidak mau disalahkan. Manusia toksin selalu merasa dirinya benar dan sangat sulit mengucapkan kata maaf. Bahkan, mereka menyalahkan orang lain atas kesalahannya sendiri. Hal ini juga biasa disebut playing victim—bereaksi seolah ia korban, padahal ialah pelakunya.

Terlalu terobsesi dengan diri sendiri, secara berlebihan ini ditandai dengan suka menyombongkan diri, senang merendahkan orang lain, tidak suka disaingi orang lain, iri hati atas kesenangan orang lain, dan masih ada beberapa lagi prilaku toxic. Dari beberapa sifat toxic, adakah pada diri kita sifat tersebut? Semoga tidak terjangkit.

Untuk menghindari sifat ini, caranya adalah memperkuat landasan keimanan kita, menjalankan ibadah agama kita dengan keikhlasan, keimanan sejati pada kitab suci keyakinan kita, untuk menjauhi perilaku buruk dan menanamkan akhlak mulia dalam setiap aspek kehidupan.

Menutup tulisan ini, menurut keyakinan saya dalam Al-Quran surat Al-Isra ayat 37, “Dan janganlah engkau berjalan di muka bumi ini dengan sombong; sesungguhnya engkau tidak akan mampu menembus bumi dan tidak akan sampai setinggi gunung”.

Ayat ini menekankan pentingnya kerendahan hati dan keadaban dalam bersikap, sebagai lawan dari perilaku toxic yang merugikan orang lain. Rasulullah SAW juga bersabda dalam Hadist Riwayat Bukhari: “Seorang Muslim adalah seseorang yang orang lain selamat dari lisan dan tangannya”.

Manusia toxic, bukan hanya fenomena perilaku yang merugikan, tetapi juga masalah spiritual yang membutuhkan terapi mendalam. Penyembuhan sifat toxic dimulai dari introspeksi diri, penerapan akhlak mulia, dan keberanian untuk menjauh dari lingkungan yang membawa pengaruh buruk. Dalam konteks sosial, diperlukan upaya bersama untuk menciptakan komunitas yang mendukung, saling mengingatkan, dan mengedepankan nilai-nilai keimanan kita. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis AHMAD SIHABUDIN
Paradoks Kebebasan Berpendapat dan Kebebasan Menghina
Pulau dan Kepulauan di Nusantara: Nama, Identitas, dan Pengakuan
Kita Hanyalah Setetes Air dan Butiran Debu | Refleksi dari Lagu “Dust in the Wind”
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Manusia Tikus”, Gen Z yang Terjebak di Kolong Kasur

Next Post

Yang Kecil, Yang Tak Selesai Dirasakan

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Yang Kecil, Yang Tak Selesai Dirasakan

Yang Kecil, Yang Tak Selesai Dirasakan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co