3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Seberapa Pantas Seseorang Disebut Cendekiawan?

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
June 2, 2025
in Esai
Syair Pilu Berbalut Nada, Dari Ernest Hemingway Hingga Bob Dylan

Ahmad Sihabudin

SIAPAKAH yang pantas kita sebut sebagai cendekiawan?. Kita tidak bisa mengaku-ngaku sebagai ilmuwan, cendekiawan, ilmuwan, apalagi mengatakan di depan publik saya ini, kami ini, adalah ilmuwan. Setahu saya ilmuwan atau cendekiawan itu pengakuan dari publik atas apa yang telah mereka kerjakan untuk masyarakat luas, dan mafaatnya dapat dirasakan baik lahir maupun batin.

Seseorang disebut ilmuwan, cendekiawan atau intelektual harus mengacu pada pemahaman umum atau batasan yang biasa masyarakat gunakan. Cendekiawan atau intelektual adalah orang yang menggunakan kecerdasannya untuk bekerja, belajar, menggagas, serta mempertanyakan dan menjawab persoalan tentang berbagai gagasan. Dalam bahasa Inggris, cendekiawan dikenal sebagai “scholar” atau “intellectual”.

Intelektual berarti seseorang yang memiliki kecerdasan tinggi, berakal, dan berpikiran jernih berdasarkan ilmu pengetahuan. Secara umum, intelektual adalah orang yang terlibat dalam kegiatan intelektual seperti berpikir, belajar, dan menggagas ide-ide baru. Intelektual juga dapat merujuk pada kemampuan untuk memperoleh informasi, berpikir abstrak, menalar, dan bertindak secara efisien.

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia dikemukakan, intelektual memiliki beberapa ciri khas: cerdas dan berakal, memiliki kecerdasan yang tinggi dan kemampuan berpikir secara rasional. Berpengetahuan luas, memiliki pengetahuan yang luas di berbagai bidang, terutama bidang yang menjadi minatnya. Berpikir kritis, mampu menganalisis masalah dengan mendalam dan mengidentifikasi solusi yang efektif. Mampu mengkomunikasikan ide, mampu menyampaikan pemikiran dan gagasan dengan jelas dan persuasif.  Berdedikasi pada pengembangan diri, selalu berusaha meningkatkan pengetahuan dan keterampilan. 

Terus apa dan siapa yang disebut ilmuwan itu?. Dalam kamus yang sama dikemukakan, ilmuwan adalah orang yang mendalami, menguasai, mengembangkan, dan menerapkan ilmu pengetahuan dan/atau teknologi untuk mencari kebenaran dan meningkatkan kesejahteraan manusia. Mereka adalah ahli dalam bidang ilmu tertentu, melakukan penelitian, eksperimen, dan pengembangan untuk memahami alam dan dunia di sekitar kita.

Dalam Wikapedia, ilmuwan (scientist) batasannya adalah orang yang ahli atau memiliki banyak pengetahuan mengenai suatu ilmu. Dalam arti yang lain, ilmuwan adalah orang yang berkecimpung dalam ilmu pengetahuan. 

Contoh beberapa ilmuwan terkenal termasuk Albert Einstein (fisikawan), Marie Curie (fisikawan dan kimiawan), Isaac Newton (fisikawan dan matematikawan), Nikola Tesla (insinyur dan fisikawan), dan BJ. Habiebie. Mereka telah memberikan sumbangan besar bagi kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi , dan peradaban manusia. Ini pengertian yang dapat saya pahami perihal predikat ilmuwan.

                                       ***

Menuliskan hal ini tidak bermaksud mengajari khalayak, hanya bagian sikap tanggung jawab sebagai akademisi pendidik, dan berbagi sudut pandang perihal tiga istilah tersebut. Saya pribadi  tidak berani mengatakan diri ini mengklaim sebagai ilmuwan, karena belakangan ini tiba-tiba saja ada yang mengaku-ngaku dirinya, kelompoknya, adalah ilmuwan, peneliti, berusaha mengobok-obok kerukunan persatuan bangsa, pemerintah kita, melalui “Isu Ijazah Palsu” Presiden ke-7 Joko Widodo.

Kelompok yang mengaku ilmuwan tersebut dalam pandangan saya yang mungkin keliru, sama sekali tidak mencerminkan perilaku sebagai ilmuwan, intelektual, atau cendekiawan sebagaimana pengertian batasan ilmuwan. Karena mereka bekerja atas dasar perasaan tidak suka, benci pada sosok pemilik ijazah dan keluarganya, untuk tujuan dan orientasi politik yang sarat kepentingan kelompok dan ambisi individu, padahal ilmuwan harus terbebas dari semuanya itu.

Selain perilaku kelompok yang mengatasnamakan ilmuwan dan peneliti tersebut, dalam menyampaikan apa yang mereka klaim sebagai “temuan” perihal ijazah Jokowi, seharusnya mendiskusikan, mendialogkan dalam suatu forum resmi; ada penelaah, peserta dialog lazimnya seminar hasil penelitian.

Bukan langsung dengan cara menyiarkan melalui media, dengan gaya memprovokasi, menghasut masyarakat luas melalui berbagai platform media sosial, acara-acara podcast di berbagai saluran yang cenderung ”saluran kelompok pembenci Jokowi”, teriak-teriak di jalan, juga di acara media televisi nasional, dengan narasi-narasi tuduhan, tidak menerima perbedaan pendapat, “pokoknya” temuan mereka yang paling valid.

Narasi mereka tidak mempercayai institusi-institusi resmi negara ini, mulai KPU, Universitas Gajah Mada, institusi resmi yang mengeluarkan ijazah bahkan mengobok-obok martabat perguruan tinggi yang sangat terhormat ini. Terakhir mereka tidak memepercayai hasil laboratorium forensik Bareskim Polri yang menyatakan ijazah Jokowi identik dengan sampel yang diuji, Bareskrim menyatakan  itu sah dan asli ijazah tersebut.

Perilaku mereka dengan narasi menolak semua keterangan dari sumber resmi, ini bukan perilaku ilmuwan, intelektual, cendekiawan, tapi perilaku orang yang sudah dipenuhi dengan sifat hasad, yaituperasaan dengki atau iri hati terhadap nikmat yang diberikan Allah kepada orang lain, disertai dengan keinginan agar nikmat tersebut hilang atau berpindah kepada dirinya. 

Hasad adalah sifat tercela yang harus dihindari karena dapat merusak kebaikan seseorang dan menimbulkan berbagai dampak negatif. Contohnya perilaku mereka sampai saat ini masih terus saja menarasikan keterangan merekalah yang benar; telinga, mata, dan hatinya seperti telah dibutakan.    

 Mereka bukan mencerminkan sikap seorang ilmuwan tetapi lebih kelompok orang-orang hasad, hatinya sudah ”menghitam”. Perilaku mereka dapat kita lihat dengan mendatangi Komnas HAM, dengan dalih mereka telah dikriminalisasi oleh pelapor, padahal mereka bekerja untuk ”kebenaran”, setelah mereka melakukan berbagai hinaan, sehina-hinanya kepada Presiden ke-7 RI. Mereka tidak terima dan mengadu pada Komnas HAM, ini menurut saya ”ganjil” dan lucu; ilmuwan kok tidak percaya diri, tidak yakin pada kebenaran yang mereka simpulkan.

Mereka mengatakan sudah dikriminalisasi oleh ”pelapor” alasannya mereka sedang bekerja sebagai ilmuwan untuk mencari kebenaran, padahal yang dikerjakannya adalah memfitnah, menyebarkan narasi bohong kepada publik, menghina, mencemarkan nama baik dan menghina martabat kelurga Jokowi. Itulah yang mereka kerjakan. Ruang publik NKRI jadi ”polusi” oleh sumpah serapah orang-orang yang mengaku-ngaku ilmuwan.

Padahal mengadukan mereka kepada yang berwenang Bareskrim Polri adalah hak setiap warga negara. Setelah dilaporkan oleh Jokowi, mereka mengaku sebagai korban kezaliman dan dikriminalisaasi; luar biasa memang ”ilmuwan”ini. Semoga UGM juga dapat melakukan langkah yang sama mengadukan mereka, karena institusi ini sudah mereka degradasi harkat martabatnya dengan narasi-narasi busuk mereka, dituduh sebagai institusi yang mengeluarkan ijazah palsu. Akhir tulisan ini kita berharap semoga selalu diberikan petunjuk dan hidayah oleh Allah SWT, dalam setiap melangkah di bumiNya dengan tidak menyombongkan diri. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis AHMAD SIHABUDIN
Pulau dan Kepulauan di Nusantara: Nama, Identitas, dan Pengakuan
Kita Hanyalah Setetes Air dan Butiran Debu | Refleksi dari Lagu “Dust in the Wind”
Mungkinkah Bumi Tanpa Konflik? Jawabnya Bersama Angin | Dari ”Blowing in The Wind” Bob Dylan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Screen Time vs Quality Time: Pilihan Berkata Iya atau Tidak dari Rayuan Dunia Digital

Next Post

GEMO FEST #5 : Mahasiswa Wujudkan Aksi, Bukan Sekadar Teori

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
GEMO FEST #5 : Mahasiswa Wujudkan Aksi, Bukan Sekadar Teori

GEMO FEST #5 : Mahasiswa Wujudkan Aksi, Bukan Sekadar Teori

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co