22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

”Nyoman” dan ”Ketut”: Antara Lestari Nama, Nambah Anak, atau Nambah Beban Perempuan

Komang Puja Savitri by Komang Puja Savitri
April 21, 2025
in Esai
”Married by Accident” Bukan Pernikahan Manis Cinderella

Komang Puja Savitri

KEBIJAKAN Keluarga Berencana (KB) ala Bali yang dicanangkan Gubernur Bali Wayan Koster, sentah kenapa, membuat saya gelisah. Sebagai perempuan muda yang belum menikah saya merasa kebijakan ini punya persoalan, terutama jika dikaitkan dengan perempuan.

Kebijakan itu sendiri sebenarnya memicu perdebatan publik yang hangat sejak diumumkan. Kebijakan ini, dari berbagai berita yang saya dengar, bertujuan untuk melestarikan nama tradisional Bali (sesuai urutannya), terutama nama “Nyoman” (anak ketiga) dan “Ketut” (anak keempat). Kenapa dilestarkan? Karena dianggap mulai punah.

Untuk melestarikan nama Nyoman dan Ketut, maka, pesan yang ditangkap adalah sebuah keluarga idealnya memiliki 3 atau empat anak, sehingga ada anak ketiga yang bernama Nyoman dan anak keempat bernama Ketut.

Narasi ini seolah mengukuhkan kembali pandangan tradisional tentang keluarga besar, dan tanpa disadari, menempatkan perempuan pada posisi yang rentan.

Mengapa?Karena yang paling utama menanggung proses mengandung, melahirkan, dan membesarkan anak adalah perempuan. Kebijakan yang tampak netral ini, sesungguhnya berpotensi besar untuk menyentuh ranah paling pribadi dan sensitif dari kehidupan seorang perempuan, yakni hak reproduksi dan kendali atas tubuhnya sendiri.

Kontroversi pun tak terhindarkan. Di satu sisi, ada yang mendukung kebijakan ini sebagai upaya penting melestarikan warisan budaya yang tak ternilai. Nama-nama Bali memang memiliki makna filosofis dan historis, mencerminkan akar dan identitas seseorang dalam keluarga.

Tapi, di sisi lain, kritik keras muncul, terutama dari kalangan yang sensitif terhadap isu kesetaraan gender dan hak asasi manusia. Mereka melihat adanya potensi penafsiran yang keliru, di mana anjuran ini bisa disalahpahami sebagai anjuran untuk memiliki anak dalam jumlah tertentu, bahkan jika itu bertentangan dengan keinginan atau kondisi individu.

Bagi saya, sebagai seorang perempuan, kebijakan yang mengaitkan nama dengan urutan kelahiran hingga anak keempat ini menimbulkan kekhawatiran yang mendalam. Rasanya seperti ada tangan tak kasat mata yang mencoba mengatur berapa jumlah “produk” yang harus dihasilkan oleh “pabrik” ini—yaitu rahim perempuan.

Dan di sinilah kegelisahan itu bersemayam, mengendap di sudut hati saya sebagai perempuan yang belum menikah. Kebijakan Wayan, Made, Nyoman, Ketut ini, dengan kode empat anaknya dengan bonus insentif buku dan seragam yang entah sampai kapan berlakunya.

Tiba-tiba muncul bayangan skenario agak absurd di mana calon suami kelak, dengan mata berbinar-binar, bilang, “Sayang, kita kan harus punya Nyoman dan Ketut biar lengkap. Kan kata Pak Gubernur bagus. Lagian ada insentif buku lho. Jadi, minimal empat anak, ya!”

Insentif buku? Seragam? Astaga. Kepala saya langsung pusing tujuh keliling memikirkan realitanya. Empat kali hamil, empat kali melahirkan dengan segala risikonya. Empat mulut yang butuh makan, empat otak yang butuh pendidikan berkualitas (jauh lebih mahal dari sekadar insentif buku dan seragam), empat hati yang butuh perhatian dan kasih sayang tanpa terbagi habis. Apa iya insentif itu sepadan dengan taruhan kesehatan fisik dan mental saya, serta jaminan kualitas hidup keempat calon anak yang akan saya lahirkan dan rawat? Rasanya seperti ditawari permen kapas untuk menukar ginjal.

Aneh bin ajaib, bagaimana bisa negara sejauh ini mengulurkan tangannya, bahkan sampai ke kasur dan rahim individu? Memasuki ranah paling privat, menunggangi narasi budaya untuk mengatur jumlah anak dalam sebuah keluarga. Kebebasan perempuan untuk menentukan berapa banyak anak yang ingin ia lahirkan, kapan ia siap, dan apakah ia bahkan ingin punya anak sama sekali, menjadi terancam ketika kebijakan publik seperti ini muncul.

Bicara soal sensitivitas gender, kebijakan ini rasanya seperti menunjuk hidung perempuan dan berkata, “Nah, ini dia ‘mesin’ yang akan menjalankan program kita!”

Perempuan direduksi menjadi objek, sekadar alat biologis untuk mencapai tujuan demografis atau pelestarian nama. Fokusnya pada ‘hasil’ (jumlah anak dengan nama urut), bukan pada proses, beban, dan hak perempuan yang menjalani seluruh proses biologis dan pengasuhan itu. Bikin gelisah, karena lagi-lagi perempuan yang dijadikan poros utama, tapi bukan sebagai subjek yang berhak memilih.

Ada pula bisik-bisik kecemasan patriarki yang nyaring terdengar di balik semua ini. Ketakutan kalau perempuan tidak menikah, tidak punya anak, maka putuslah generasi. Dalam kasus KB Bali, juga ada kecemasan seakan-akan kelangsungan peradaban hanya bergantung jumlah generasi tertentu dan bergantung pula pada kemampuan perempuan untuk terus-menerus melayani fungsi reproduksi.

Tapi, pernahkah kita berpikir, bukankah kecemasan ini sesungguhnya memancarkan kecemburuan yang tersembunyi dari pihak laki-laki? Mereka tidak memiliki kemampuan untuk menciptakan kehidupan baru di dalam tubuhnya sendiri. Mereka ‘iri’ karena tidak punya ‘pabrik’ itu.

Bayangkan saja, ini skenario agak nyentrik yang mungkin bikin sebagian orang panik: Bagaimana jika setiap perempuan memutuskan untuk menonaktifkan ”pabrik”nya? Ia mengatakan, “Sudah cukup. rahim ini bukan milik negara, bukan milik tradisi, bukan milik kalian. Ini milikku, dan aku berhak memutuskan.”

Jika itu terjadi, paniklah banyak orang yang selama ini merasa memegang kendali atas produksi manusia, yang mengira akses ke rahim perempuan adalah hak kodrati mereka, yang membungkus kekuasaan dengan dalih kodrat dan tradisi.

Sampai kapan akhirnya kita akan berhenti melihat perempuan sebagai sekadar inkubator berjalan, yang ”tugasnya mencetak anak sesuai pesanan nama”, apalagi demi secuil insentif pendidikan?

Kapan kita akan melihat kami sebagai individu utuh, dengan akal budi, emosi, mimpi, dan hak penuh atas tubuh dan kehidupan kami sendiri? Kebijakan publik seharusnya memberdayakan, bukan memberi kode jumlah minimal anak.

Anjuran nama Nyoman-Ketut menjadi pengingat bahwa tembok patriarki itu masih berdiri kokoh, menantang kami untuk terus menggugat dan meruntuhkannya, demi kedaulatan atas diri sendiri. [T]

Penulis: Komang Puja Savitri
Editor: Adnyana Ole

Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja yang sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.

”Married by Accident” Bukan Pernikahan Manis Cinderella
Tiga Tips Menggunakan Kecerdasan Buatan Agar Tidak Terjerat Dehumanisasi
Masa Depan Pendidikan di Era AI: ChatGPT dan Perplexity, Alat Bantu atau Tantangan Baru?
ChatGPT, Solusi Cerdas atau Sekadar Jalan Pintas?
Dewata Kusayang, Dewataku Malang: Bali yang Digempur Kapitalisme
Tags: baliGubernur BaliKB BaliPerempuanWayan Koster
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pemilihan Duta GenRe Kota Denpasar 2025: Nuartha dan Nadia Siap Jadi Figur Remaja Teladan

Next Post

Warisan Semangat Kartini: Perempuan Indonesia di Era Modern

Komang Puja Savitri

Komang Puja Savitri

Mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Warisan Semangat Kartini: Perempuan Indonesia di Era Modern

Warisan Semangat Kartini: Perempuan Indonesia di Era Modern

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co