12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kita Barangkali adalah Sangging Lobangkara, Pelukis yang Terbang ke Surga

Abdi Jaya Prawira by Abdi Jaya Prawira
April 10, 2025
in Esai
Kita Barangkali adalah Sangging Lobangkara, Pelukis yang Terbang ke Surga

Foto ilustrasi: melukis bersama Wayan Sani dan anak-anak dalam acara Tamasya Tak Biasa di Taman Budaya Bali | Foto: tatkala.co

SATUA (cerita) Bali punya satu nama yang pernah terbang tanpa sayap. Ia terbang bersama seni di antara jalur tak kasat mata penghubung bumi dan langit. Namanya dalam satua adalah I Sangging Lobangkara. Seorang pemahat, sekaligus pelukis yang digandrungi. Dalam satua, dia membingkai batas antara keindahan dan keabadian, antara kelana estetik dan pendakian spiritualnya sendiri.

Satua I Sangging Lobangkara cukup familiar. Cerita ini dijadikan salah satu materi dalam materi pelajaran bahasa Bali di sekolah-sekolah, juga tersedia versi ceritanya di beberapa situs internet. Kajian ilmiahnya pun pernah dikerjakan IGA Darma Putra (2017), “Satua I Sangging Lobangkara dalam Tradisi Nyastra Bali”. Selain itu, bentuk prestisius satua ini berada dalam rupa lontar koleksi Gedong Kirtya Singaraja. Naskah lontar ini umurnya lebih tua tiga kali umur saya.

Menurut cerita, I Sangging Lobangkara bukan pelukis biasa. Ia juga bukan sekadar perajin terampil. Ia seorang seniman yang mendapat berbagai permintaan oleh raja, dalam satua ini tepatnya Raja Klungkung. Permintaan ini seolah tantangan. Bukan tantangan untuk membuktikan siapa dia, tetapi mungkin karena kerajaan tidak tahu lagi cara membayar imajinasi yang terlalu besar untuk memuaskan hausnya kerinduan estetis berbalut ekspektasi karya kualitas tinggi.

Awalnya biasa saja. Sebuah permintaan membuat keraton, plus patung dalam waktu sebulan. Tidak ada peristiwa heroik, tidak ada drama, keraton pun selesai. Hanya keterampilannya yang bekerja seperti silap mata. Raja lalu memintanya melukis permaisuri. Dan Sangging pun berhasil. Ia lalu disuruh menggambar seisi hutan. Harimau yang tak mungkin diminta berpose pun menjadi jinak di hadapan Sangging. Sapuan kuasnya lalu menyelesaikan semua. Tidak ada yang luput dari sana, mungkin daun kering yang menempel di kuku kijang juga akan ikut terlukis bila satua ini disampaikan dengan sedikit lebih detail.

Berikutnya samudra. Dengan tubuh dalam kotak kaca, I Sangging menembus dunia bawah laut. Ia menggambar bukan dari imajinasi, tetapi dari pengamatan langsung dari dasar laut. Jauh sebelum kita mengenal diving atau kapal selamsebagai cara memanjakan mata untuk menonton biota dasar laut, I Sangging sudah melakukannya. Ia berekreasi, sambil berkreasi. Laut tak jadi kuburan untuknya, laut jadi museum hidup yang menunggu diabadikannya.

Terakhir dia disuruh ke langit. Ia tak diberi burung, tak juga diberi sayap. Ia diberi goangan. Benda ini adalah penghasil bunyi dalam layangan. Namun, bisa jadi ini adalah sebuah kerangka layang-layang raksasa. Sangging pun diterbangkan dengan tali, selayaknya anak kecil yang percaya sepenuhnya pada angin. Ia mengudara, sampai talinya putus. Dan uniknya, dia tak jatuh. Ia melayang, jauh sampai surga dan yang jelas ia tidak dikisahkan mati. Sesampai di surga, ia tak ingin kembali ke dunia. Apa yang perlu dicari lagi di bumi, setelah langit sudah bisa ia lukis dari dalamnya?

Perbandingan Versi

Cerita ini dikenal juga secara lisan di Jawa. Bedanya, kisah ini berakhir tragis. Salah satu versinya menuturkan sang seniman, yang bernama Sungging Prabangkara dituduh berbuat serong karena menggambar istri raja terlalu sempurna, bahkan sampai pada rincian yang hanya sang raja sendiri yang mengetahuinya. Ia dianggap berbahaya. Misi yang diberikan padanya pun adalah bentuk eksekusi. Rute pembinasaan disamarkan sebagai sebuah titah kerajaan.

Tali layangan dalam versi cerita ini konon sengaja diputus. Ia bukan terbang ke surga, tapi sengaja dihempaskan. Ada pula yang menyebutnya mendarat di Negeri Cina. Mungkinkah ini karena seni dianggap terlalu berbahaya oleh penguasa, karena imajinasi yang tidak dikendalikan bisa menyingkap apa yang sesungguhnya ingin disembunyikan?

Oleh sebab itu, Bali punya versi cerita yang lebih lembut dan kalem. Sangging Bali bukan korban kecemburuan raja, melainkan seniman yang perlahan ditarik menjauh dari dunia fana. Tugasnya terlalu besar dan filosofis. Tiap tugasnya seolah adalah undangan untuk naik level spiritual. Setelah berhasil mewujudkan rumah, dia berhasil mewujudkan lukisan istri raja. Berikutnya ia pergi menembus belantara hutan, lalu menyelami dalamnya samudra tiada bertepi hingga berakhir melanglang langit dan tiba di surga. Ia bukan dibinasakan, tetapi dilepas. Ia tidak mati, hanya berpindah. Dan dia tidak jatuh, hanya menolak untuk turun.

Sangging dan Laku Spiritual

Satua I Sangging Lobangkara bisa dibaca sebagai narasi tentang seni sebagai jalan spiritual. Ia menyentuh filosofi: bahwa yang paling puncak dari kerja kreatif adalah puncak estetis itu sendiri. Ketika seni sudah tidak lagi mengabdi pada penguasa, ketika seni tidak lagi puas dinikmati, maka ia menjadi perjalanan menuju Yang Tak Terlukiskan.

Layangan yang membawanya ke langit menjadi metafora paling jernih tentang ini. Layang-layang yang semula hanya permainan tradisional, menjelma sebagai sarana komunikasi vertikal, lalu menjadi kendaraan seniman yang tak bisa lagi dikurung pagar istana. Baru-baru ini kita pun melihat seniman yang terlalu jujur dan presisi lalu dianggap berbahaya. Tetapi, ketika dunia cukup bijak untuk tidak menghukumnya, maka ia akan terbang sendiri, perlahan menjauh dari keramaian.

Mungkin kita semua adalah Sangging yang terhalang oleh sensor, oleh algoritma, oleh undangan lomba yang harus menghasilkan karya romantisme belaka. Tak boleh menyinggung realita yang pahit. Tetapi kita tetap menggambar, kadang gambar kita tak dilihat, kadang dihapus, mungkin saja juga disangka meniru.

Namun jika kita terus menggambar, terus merekam hutan, laut dan langit dalam bahasa kita sendiri, mungkinkah suatu saat goangan itu datang juga? Dan jika talinya putus, semogalah kita akan melayang bukan karena kalah, tetapi karena sudah selesai dengan dunia yang tidak paham lukisan kita.

Siapa tahu? Ternyata surga bukan tempat dengan gerbang emas, tetapi ruang sunyi yang hanya bisa dimasuki oleh mereka yang tahu cara menggambar angin. Mereka yang rampung memahami dirinya sendiri, dan alam makro di sekitarnya. [T]

Penulis: Abdi Jaya Prawira
Editor: Adnyana Ole

SEKSUALITAS BALI: Dari Penyatuan Raga Menuju Aksara
DI BALIK TOPENG DALEM SIDDHAKARYA
SOMYA DAN ŚŪNYA: Yang Terlupakan dari Gemuruh Euforia Ogoh-Ogoh
Tags: baliceritalontarsastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kampusku Sarang Hantu [10]: Cemburu pada Khodam Perempuan

Next Post

Kilas Balik Teruna Teruni Denpasar 2025: “Kle Nok, Konsisten Kali Meriahnya”

Abdi Jaya Prawira

Abdi Jaya Prawira

Pande Putu Abdi Jaya Prawira, tinggal di Tulikup, Gianyar. Alumnus Sastra Jawa Kuno Udayana.

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Kilas Balik Teruna Teruni Denpasar 2025: “Kle Nok, Konsisten Kali Meriahnya”

Kilas Balik Teruna Teruni Denpasar 2025: “Kle Nok, Konsisten Kali Meriahnya”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co