23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Di Baturiti, Nenek ke Surga, Diantar Rasa “Bareng Ngayah” Warga Bali dan Keturunan Tionghoa

Julio Saputra by Julio Saputra
February 2, 2018
in Esai

Warga adat Bali di Baturiti menggotong mayat nenek saya yang warga keturunan saat diantar ke kuburan di Baturiti Tabanan. /Foto: Julio

 

SUATU sore, April 2017, saya sedang mengantuk di kelas saat ikut mata kuliah di Undiksha Singaraja. Tiba-tiba saya menerima sebuah pesan singkat yang sangat menyanyat hati. Pengirimnya ayah saya. Nenek saya, ibunda ayah tercinta, telah berpulang.

Saya langsung terjaga dari kantuk. Tapi tetap tak bisa konsentrasi ikut kulih. Saya ingin cepat bergegas ke kampung halaman saya di Desa Baturiti, Kecamatan Baturiti, Tabanan. Dan begitu kuliah usai saya langsung meluncur ke kampung. Tentu, karena nenek termasuk satu orang yang sangat saya sayangi, dan dia menyayangi saya juga.

Kesedihan menimpali saya di atas motor, di sepanjang perjalanan pulang.

Di rumah, saya temui dan langsung larut dalam suasana adat persemayaman dan tradisi kematian yang khas etnis Tionghoa. Ya, saya dan tentu juga keluarga saya adalah etnis Tionghoa yang menetap sejak bertahun-tahun di Desa Baturiti.

Sepasang lampion putih sebagai tanda adanya orang yang meninggal telah digantung di depan rumah. Jenasah nenek telah selesai dimandikan dan dikenakan pakaian yang telah dilubangi dengan hio yang menyala, juga telah siap untuk dimasukan ke dalam peti.

Altar untuk persemayaman jenasah nenek disiapkan. Beberapa lilin menyala di dekat foto nenek. Harum dupa yang dibakar tercium memenuhi ruangan. Semua anak-anak dan cucu-cucu, juga beberapa kerabat dan sanak famili nenek menggunakan pakaian serba putih dan topi putih yang terbuat dari kain blacu.

Nuansa upacara persemayaman tersebut sangat kental rasa Tionghoa-nya. Namun tidak demikian suasana yang tampak di luar ruang persemayaman, seperti di halaman rumah dan depan rumah. Tidak ada nuansa Tionghoa sama sekali. Suasana yang terasa justru sama persis seperti suasana pada tradisi serangkaian acara kematian milik orang Hindu Bali.

Di halaman samping rumah, beberapa wanita dewasa yang merupakan krama banjar adat di wilayah Desa Baturiti dan sekitarnya terlihat menggunakan pakaian adat Bali, kebaya dan kamen warna gelap. Mereka membantu mengurus tamu pelayat, semisal menyapa, menyiapkan hidangan, dan lain-lain.

Suasana di dapur seperti dapur orang Bali pada umumnya. Para ibu menyiapkan jamuan untuk para pelayat. Di halaman belakang, banyak pria dewasa krama banjar setempat juga berpakaian adat, dengan baju dan kain warna gelap, membantu membuat tetaring dan sarana lain. Pada malam hari mereka megebagan (berjaga) agar rumah duka tidak sepi sekaligus agar keluarga yang berduka bisa istirahat dan konsentrasi mengikuti ritual.

Saat acara pembakaran jenasah, peti nenek tidak diangkut menggunakan mobil milik sebuah yayasan suka duka pada umumnya, namun digotong oleh krama Bali menuju kuburan yang letaknya 5 kilometer dari rumah saya. Warga etnis Bali dan Tionghoa dengan pakaian khas masing-masing tampak bercampur-aduk dalam sebuah ritual.

Mereka memang mudah dikenali dari pakaiannya. Warga etnis Tionghoa menggunakan pakaian pakaian serba putih, sedangkan warga etnis Bali menggunakan pakaian serba hitam atau warga gelap. Namun ekspresi ketulusan dari wajah-wajah mereka tampak sama. Suara gamelan dari sekaa gong juga ikut menemani perjalanan nenek saya menuju tempat pembakaran di kuburan. Suasana adat Tionghoa dan Bali benar-benar menjadi satu. Mereka bareng-bareng ngayah, mereka ngayah bareng-bareng.

Bukan Hal Baru

Suasana seperti itu bukanlah hal yang baru di Desa Baturiti. Etnis keturunan dan krama Bali di Baturiti memang sudah seperti keluarga sejak lama. Dari sekian ribu jumlah penduduk di Baturiti, sekitar 200 orang di antaranya adalah etnis keturunan Tionghoa, salah satunya adalah keluarga saya sendiri.

Erlina Kang Adiguna, atau yang lebih dikenal dengan Mama Leon, juga merupakan etnis keturunan Tionghoa yang menjadi warga atau penduduk Desa Baturiti. Tahun masuknya etnis keturunan Tionghoa ke Desa Baturiti tidak diketahui secara pasti, namun jalinan antara keduanya diyakini bermula dan semakin erat dengan hadirnya tujuh orang sesepuh dari negeri Cina ke Desa Baturiti.

Mereka tidak membawa bekal apa-apa, namun mereka mewarisi berbagai hal yang bermanfaat di kemudian hari bagi warga etnis Tionghoa yang bermukim di desa itu, seperti cara-cara berdagang, bertani, serta ajaran-ajaran kehidupan yang bijak serta penanaman etos kerja dan lain-lain.

Pergaulan warga etnis Tionghoa di Baturiti makin berkembang setelah didirikannya perkumpulan Tiong Hwa Hwe Tjoe Batoeriti atau Perkumpulan Cing Bing Kongsi Baturiti pada 28 April 1931. Perkumpulan tersebut merupakan perkumpulan yang menghimpun orang-orang Tionghoa di Desa Baturiti dengan tujuan membantu etnis Tionghoa yang meninggal dunia.

Toleransi dan kerukunan etnis keturunan Tionghoa dan krama Bali di Desa Baturiti sudah menjadi budaya tersendiri yang dijaga oleh masyarakat di desa itu, baik oleh masyarakat etnis Tionghoa maupun warga lokal Desa Baturiti. Etnis keturunan Tionghoa selalu mencerminkan sikap toleransi dan kerukunan yang tinggi kepada etnis Bali, begitu pula etnis Bali kepada etnis Tinghoa di Baturiti. Mereka saling terbuka, menghormati dan membantu satu sama lain.

Contohnya pun beragam. Etnis keturunan Tionghoa selalu memberikan sumbangan untuk segala jenis upacara manusia dan keagamaan yang ada di Desa Baturiti, seperti odalan di Pura Desa atau Pura Puseh. Ketika salah seorang etnis Bali memiliki acara kematian, etnis keturunan Tionghoa juga akan ikut melayat dan membantu.

Yang menarik, etnis keturunan Tionghoa juga terdaftar di banjar masing-masing, sehingga saat Hari Raya Nyepi tiba, pemuda-pemudi Tionghoa di Desa Baturiti juga ikut menjadi bagian dari pawai ogoh-ogoh di bawah naungan seka teruna masing-masing.

Jika etnis keturunan Tionghoa memiliki acara, etnis Bali juga akan mengulurkan tangannya memberi bantuan, menyumbangkan pikiran mereka, tenaga, bahkan materi. Contohnya seperti saat acara kematian nenek saya itu. Benar-benar acara adat kematian yang terasa Bali namun sebenarnya Cina.

Abhiseka Buddha Rupang

Contoh lain adalah saat acara Abhiseka Buddha Rupang atau menempatkan patung Buddha dalam ruang dhammasala Vihara Dhammadana, Baturiti ,pada tahun 2011. Acara tersebut sangat besar dan meriah karena melibatkan seluruh umat Buddha di seluruh Bali. Saat itu sikap toleransi dari etnis Bali sangat bisa dilihat. Warga dari empat banjar yang ada di Desa Baturiti turut ngayah.

Mereka membuat 50 penjor yang ditancapkan di sepanjang jalan raya menuju ke Vihara. Ada juga parade 32 gebogan dari ibu-ibu PKK, gamelan gong dari sekeha gong dan tarian rejang dewa dari sekaha teruna di Desa Baturiti. Mereka semua ambil bagian menyambut kedatangan arca Buddha. Suasana Bali dan Buddha juga kuat terasa.

Di hari gembira, seperti pada Hari Raya Galungan bagi umat Hindu dan Imlek bagi warga keturunan, suasana saling berbagi kebahagiaan juga tampak kental. Mereka saling ngejot atau berbagi dan saling hantar makanan satu sama lain.

Misalnya pada hari raya besar Galungan dan Kuningan, etnis Bali akan berbagi makanan khas hari raya tersebut kepada tetangga-tetangga etnis Tionghoa, seperti lawar, sate, babi guling, urutan, tum dan lain-lain. Pada hari raya besar etnis Tionghoa, yaitu Tahun Baru Imlek, giliran etnis Tionghoa untuk saling berbagi makanan dan jajanan khas Imlek kepada para tetangga etnis Bali, seperti mie panjang umur, kue lapis, kue keranjang, jeruk mandarin dan lain sebagainya.

Masih banyak wujud toleransi dan kerukunan antar etnis Tionghoa dan Bali di Desa Baturiti. Hubungan yang harmonis antara etnis Tionghoa dan umat Buddha Baturiti tentu saja menjadi warisan yang harus dijaga untuk tetap meraih kesejahteraan, kebahagiaan antarumat yang berlandaskan keluhuran budi dan hati.

Lahir, hidup, dan mati, bagi saya dan keluarga, juga bagi keluarga keturunan di Desa Baturiti, adalah ritual biasa yang tak bikin cemas. Lahir di Baturiti, hidup di Baturiti, dan mati di Baturiti, akan dibantu oleh warga Baturiti, apa pun asal-usul etnisnya.

Saya lihat dan rasakan sendiri saat nenek meninggal dan ritual menuju surga. Maka, Selamat Jalan, Nenek. Jika lahir kembali, lahirlah di Baturiti, jadi anak dari warga keturunan Tionghoa atau jadi anak warga Bali, sama saja. (T)

Peserta Anugerah Jurnalisme Warga

Tags: baliBudhahinduTionghoatoleransi
Share598TweetSendShareSend
Previous Post

Kelas Jurnalisme Warga: Ketika Anak-anak Pengungsi Bercerita

Next Post

Bersenandung Bhineka dari Bajawa

Julio Saputra

Julio Saputra

Alumni Mahasiswa jurusan Bahasa Inggris Undiksha, Singaraja. Punya kesukaan menulis status galau di media sosial. Pemain teater yang aktif bergaul di Komunitas Mahima

Related Posts

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails
Next Post

Bersenandung Bhineka dari Bajawa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co