14 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

SOMYA DAN ŚŪNYA: Yang Terlupakan dari Gemuruh Euforia Ogoh-Ogoh

Putu Eka Guna Yasa by Putu Eka Guna Yasa
March 9, 2025
in Esai
SOMYA DAN ŚŪNYA: Yang Terlupakan dari Gemuruh Euforia Ogoh-Ogoh

Ogoh-ogoh | Gambar diolah dari berbagai sumber di internet

Sumber Sastra

Ogoh-ogoh yang kini menghiasi setiap sudut balai banjar di Bali lahir dari rahim rangkaian pelaksanaan hari suci Nyepi. Secara lebih khusus, ogoh-ogoh diarak sehari sebelum Nyepi melalui prosesi yang dikenal luas dengan sebutan Pangrupukan. Sebelum sampai pada pusaran hal yang mungkin luput dari perhatian, mari kita tengok dulu sejumlah sumber sastra tentang Pangrupukan. Dengan sandaran sastra, kita bisa melihat genetika ide dari kreativitas ini, termasuk pula perkembangannya kini.

Pustaka Aji Swamandala memaparkan bahwa pada saat Tilem Kasanga, kawanan Kala dan Kali mendatangi desa untuk mencari mangsa (apan Sang Kala Kali wus minder mangulati bhuktinira, mara ring desa-desa kabeh). Oleh sebab itu, baik di perempatan desa maupun di rumah, warga masyarakat menghaturkan sesajen berupa pacaruan. Setelah upacara pacaruan dihaturkan, barulah Pangrupukan dilaksanakan. Menariknya, pustaka Aji Swamandala menyatakan Pangrupukan dengan istilah Caru Asasapen yang berarti ‘caru yang digelar sebelum Nyepi’. Ketika caru dipersembahkan, pada saat yang bersamaan diiringi pula oleh gambelan, kentongan bulus, dan sorak sorai yang ramai (maduluran tangguran, mambulus, mwang surangkang ramya).

Senada dengan Aji Swamandala, pustaka Sundarigama sebagai salah satu sumber literasi upacara yang paling sistematis di Bali bahkan memberikan penjelasan yang lebih rinci. Pustaka ini menyatakan bahwa pada malam tergelap di fase peralihan bulan ke-9(sekitar Maret) menuju ke-10 (sekitar April) upacara Bhūṭa Yadnya mesti digelar di pusat desa. Tingkatannya bisa dipilih mulai dari yang terkecil, yaitu caru panca sata, panca sanak, ataupun tawur pada tingkatan yang lebih besar. Di pekarangan rumah dipersembahkan sesajen berupa nasi sembilan tanding dengan ayam brumbun, serta tetabuhan tuak dan arak yang diletakkan di depan pintu rumah. Sesajen itu ditujukan kepada Sang Bhuta Raja dan Kala Raja. Tidak ketinggalan, para pasukan Bhuta Kala juga diberikan sesaji berupa nasi 108 tanding yang dilengkapi dengan jeroan mentah, serta satu segehan agung.

Setelah selesai melakukan upacara tawur, barulah Pangrupukan dilakukan. Tujuan Pangrupukan yang utama menurut pustaka Sundarigama adalah mengembalikan para Bhuta Kala ke tempat asalnya (umantukaken ikang sarwa bhuta kala kabeh) dan mengusir wabah, baik sasab maupun mrana (angunduraken sasab mrana) sehingga tidak mengganggu stabilitas desa. Sarana yang digunakan adalah obor-obor, kokorok, dan api yang dinyalakan dengan daun kelapa kering serta disembur dengan rempah masui. Pada saat Pangrupukan, para pendeta memanjatkan berbagai jenis mantra penolak dan pelindung agung. Usai menggelar ritual di perempatan desa, upacara selanjutnya dilakukan di dalam rumah. Baik laki-laki maupun perempuan diharapkan menyucikan diri dengan cara menatab sarana upacara yang maknanya sering tidak kita ketahui: yaitu sayut pamyakala [pengusir Kala], lara malaradan [peluruh lara], dan prayascita [penyuci pikiran].

Secara lebih khusus lagi, pustaka Siwa Tattwa Purana menjelaskan persembahan pada Tilem Kasanga yang berupa tawur ditujukan kepada Sang Hyang Kala Gumi (Tĕka wĕnang wong ing madhya ginawe tawur mwang Nyepi sadinten. Den hana pranging satha ya lalapĕn Sang Kala Bhumi). Sarana persembahannya adalah tetesan darah ayam sabungan yang dilaksanakan warga desa. Hal inilah yang menyebabkan banyak sabung ayam kecil yang kerap dilakukan sebelum pelaksanaan tawur. Meski sudah sangat berkurang karena ada aturan yang melarang judi sabung ayam, di beberapa desa tradisi ini masih hidup hingga saat ini.

Menyimak penjelasan pustaka di atas yang menggambarkan suasana heroik serupa pertempuran pada Aji Swamandala dan Sundarigama, kita menjadi tergoda untuk menafsirkan lebih jauh arti kata Pangrupukan. Apakah mungkin kata iniberasal dari paruput dalam bahasa Bali yang berarti ‘bertarung di dalam tempat terkurung’? Maksudnya, ketika hendak mengembalikan Bhuta Kala ke tempatnya, terjadi proses adu kekuatan sehingga mereka menjauh dari desa. Dugaan ini dapat diperkuat dengan istilah lain, yaitu Nogtog yang bermakna ‘mengetuk pintu dengan keras’ di tempat-tempat para Bhuta Kala potensial untuk tinggal. Demikian pula, satu istilah lagi yang sering digunakan untuk Pangrupukan, yaitu Ngrebeg yang berarti ‘menggrebek’ kawanan Bhuta Kala sehingga kembali ke tempat asalnya.

Ogoh-Ogoh

Berdasarkan tiga sumber sastra yang menjelaskan pelaksanaan Pangrupukan pada hari suci Tilem Kasanga di atas, keterangan yang secara langsung mewajibkan adanya ogoh-ogoh pada saat Pangrupukan atau Caru Sasepen tidak ditemukan. Dalam Aji Swamandala hanya disebutkan ketika caru digelar mesti diiringi gambelan, kentongan bulus, dan sorak-sorai yang ramai. Dalam konteks pangramya inilah ogoh-ogoh dihadirkan. Ogoh-ogoh yang dibuat dengan kreativitas tinggi dapat dipastikan akan menjadi magnitud bagi orang-orang untuk bersama-sama berkeliling desa.

Istilah ogoh-ogoh sendiri sesungguhnya relatif baru. Dalam bahasa Bali, kata yang dekat dengan istilah ogoh-ogoh adalah ogah yang bermakna goyang. Kata ogah-ogah berarti bergoyang-goyang. Untuk menunjukkan bahwa ada gerakan sosok bertubuh besar yang bergoyang-goyang, maka muncullah kata ogoh-ogoh. Bunyi o yang mendominasi kata tersebut memiliki konfigurasi makna sesuatu yang besar, sama seperti kata kecrot, kebrot, grobog, dan yang lainnya.

Lagu ogoh-ogoh di youtube | Foto: tangkap layar youtube

Kata ogoh-ogoh kemungkinan besar makin populer ketika Okid Kress dan Yan Bero menciptakan dan menyanyikan lagu yang berjudul Ogoh-Ogoh pada tahun 1990-an. Konteks pemakaian kata ogoh-ogoh dalam lagu ini sesungguhnya tepat. Sebab, Okid Kress dan Yan Bero menyebutkan ogah-ogah ogoh-ogoh Kala Kali lumampah yang bermakna ‘bergoyang-goyang terus, [ketika] Kala dan Kali berjalan’.

Melacak lebih jauh ke era kolonial, setidaknya dari karya Miguell Covarubias, pelaksanaan Pangrupukan di Bali tahun 1930-an belum memakai ogoh-ogoh. Covarubias dalam buku monumentalnya Island of Bali itu hanya menyatakan bahwa upacara tawur yang dilaksanakan di Denpasar sempat diramaikan dengan sabung ayam. Pemerintah Belanda saat itu memberikan izin kepada masyarakat untuk melakukan sabung ayam karena diyakini berhubungan erat dengan ritus tawur kasanga. Sesudah sabung ayam dan tawur kasanga, masyarakat meledakkan petasan di segala arah dan menyuarakan semua kentongan dengan riuh rendah. Para penduduk juga berlarian dalam kelompok-kelompok dengan wajah dan tubuh yang digambari, membawa obor, memukul gendang, gong, kaleng, atau apa pun yang dapat menghasilkan bunyi. Masyarakat kala itu meneriakkan kata magedi-magedi ‘pergi-pergi yang dilakukan hingga larut malam.

Ogoh-Ogoh Paksi Ireng, Karya Marmar Herayukti | Foto: Now Bali.co.id

Seluruh penjelasan etnografis Covarubias di atas sangat relevan dengan penjelasan Aji Swamandala, Sundarigama, dan Siwa Purana Tattwa. Dari penjelasan penting tersebut, kreativitas pembuatan ogoh-ogoh tampaknya belum terjadi pada zaman kolonial. Demikian pula pada masa sebelumnya ketika masyarakat Bali masih berada di zaman kerajaan. Meskipun tradisi serupa sudah ada, misalnya pembuatan kaki patuk dan nini patuk (dadong sempret) pada saat ritus upacara pangabenan. Banyak pihak yang menduga bahwa kreativitas kolektif untuk membuat ogoh-ogoh pada saat Pangrupukan terjadi sekitar tahun 1980-an dan berlanjut hingga sekarang. Bahkan, pembuatan ogoh-ogoh menjadi lebih bergairah, daripada pelaksanaan hari suci Nyepi yang dilakukan setelahnya.

Ramya, Somya, dan Śunya

Ogoh-ogoh memang sebentuk kreativitas budaya yang anyar. Apabila kita mengacu pada pustaka Aji Swamandala, ogoh-ogoh yang diarak keliling desa pada saat Pangrupukan merupakan bagian dari pangramya ‘peramai’ (surangkang ramya). Sama seperti gambelan dan kulkul bulus yang kini bertransformasi menjadi berbagai bentuk seni pertunjukan seperti balaganjur, masyarakat Bali juga menyisipkan satu seni rupa sebagai simbol Bhuta Kala pada saat tawur dilakukan, yaitu ogoh-ogoh.

Lantas, kenapa ogoh-ogoh identik dengan wujud yang menakutkan? Penjelasan ini bisa kita temukan dalam pustaka Adiparwa, khususnya dalam fragmen Jaratkaru. Sang Jaratkaru adalah pendeta yang memiliki wajah menakutkan karena bertugas untuk menghancurkan kekuatan jahat. Teks itu menyatakan sebagai berikut: tekaning katakutnyāśarira, yogya katakutana, apan makasbhāwa kṣaya. Dalam konteks yang lebih luas, para dewata dalam ajaran Hindu (Siwa) juga memiliki bentuk krura [menakutkan] ketika hendak menghancurkan kejahatan. Parwati, shakti Shiwa memiliki wujud Durga Mahesasura Mardini ketika mengalahkan raksasa bengis berkepala kerbau. Krisna sebagai perwujudan Wisnu pun memiliki wujud Krisna Murti ketika hendak menghukum Kurawa atas berbagai kejahatan yang dilakukannya dalam Mahabarata.

Sampai di sini, kiranya tentang wujud ogoh-ogoh yang menyeramkan ditopang oleh sumber sastra. Dengan itu, kehadiran ogoh-ogoh sesungguhnya menjadi bagian utuh dari Pangrupukan yaitu dalam proses mengembalikan [mengusir] para Bhuta Kala ke asalnya masing-masing pasca mendapatkan sesajen berupa tawur. Dalam bahasa yang lebih sederhana, usai mendapatkan sesajen di jantung desa, para Bhuta Kala yang berwatak destruktifdiharapkan bisa menjadi somya ‘damai’ serta tidak tinggal dan mengganggu stabilitas desa. Pada saat yang bersamaan, ogoh-ogoh juga diharapkan dapat menjadi sebentuk kekuatan yang lebih besar untuk mengusir wabah dan musibah berupa sasab dan mrana yang bisa saja menimpa desa dalam siklus waktu tahunan terutama sasih ka-6 (Desember) sampai ke-9 (Maret).

Proses transformasi dari ramya ‘ramai’ ke somya ‘damai’ pada saat Pangrupukan mesti bergerak selangkah lagi untuk sampai pada puncaknya yaitu mencapai sunya ‘keheningan tertinggi’ pada saat hari suci Nyepi dilakukan. Catur Brata Panyepian yang terdiri atas empat janji diri seperti tidak menyalakan api (mati geni), tidak memenuhi objek indrawi (mati lelanguan), tidak bepergian (mati lelungan), dan menghentikan aktivitas (mati karya) itulah yang dijadikan sarana untuk mencapai keheningan secara penuh. Dengan melakukan berbagai jenis brata, kita diharapkan dapat suntuk dalam samadhi sebagai bagian dari ajaran yoga. Tujuan akhir dari yoga adalah bersatu dengan beliau yang bertubuh Kesunyian Tertinggi, yaitu Parama Shiwa.

Sampai saat ini, di balik euforia ogoh-ogoh yang ramya ‘ramai’ kita sering melupakan dimensi somya ‘damai’ dan shunya ‘sunyi’ sebagai capaian dari pendakian rohani yang lebih tinggi ketika hari suci Nyepi. Ternyata, budaya kita yang terlalu kolektif menyebabkan Nyepi menjadi tidak mudah. Untuk memasuki ruang diri pada saat Nyepi, orang Bali perlu bantuan Pacalang untuk lalu lalang. Meski di dalam rumah mungkin tak ada satupun brata yang dijalankan.

Tak hanya pada saat Nyepi, bagian yang penting untuk kita jadikan bahan renungan adalah pelaksanaan Pangrupukan. Kalau dari informasi Miguell Covarubias kita tahu bahwa sejak era tahun 1930-an Pangrupukan dapat diiringi dengan gambelan sederhana berupa kulkul bulus dan alat lain untuk menghasilkan bunyi, anggota sekaa truna kini tak perlu khawatir apabila tidak memiliki gambelan balaganjur. Tak ada gambelan, kulkul masih bisa digunakan. Tak ada kulkul, kata “magedi-magedi” masih bisa dihasilkan sendiri. Suara-suara itu melengkapi mantra pangraksa yang diucapkan oleh para pendeta.

 

Anak-Anak Menggambar dan Mewarnai Diri dengan Wajah Menakutkan, dalam Ritus Ngrebeg di Tegalalang | Foto: Kompas.com

Di samping itu, jika dari penjelasan Covarubias kita menyadari bahwa pembuatan ogoh-ogoh sesungguhnya bagian dari alih kreativitas orang-orang yang semula memoles dan menggambar wajah sendiri [serupa dengan ritus Ngrebeg di Desa Tegalalang] lalu berkembang menjadi pembuatan kreativitas seni berupa ogoh-ogoh, anggota sekaa truna tidak perlu memaksakan diri untuk menghabiskan dana yang besar agar bisa bersaing dengan banjar lain yang memang memiliki sumber dana yang tinggi. Salah satu kriteria penting dari maraknya lomba ogoh-ogoh yang perlu dipertimbangkan adalah persoalan dana yang dihabiskan. Seharusnya, semakin sedikit uang yang dikeluarkan, pada saat yang bersamaan ada kreativitas yang dimekarkan. Bukankah penekun kawisesan di Bali sudah lama menyadari, bahwa bukan sarana ‘bahan’ yang penting, tapi jnyana ‘kualitas pemikiran’ original dari penciptanya?

Terakhir, jika kita sadar bahwa ogoh-ogoh dan pacaruan secara esensi adalah bagian dari persembahan kepada beliau yang memiliki ‘kekuatan destruktif semesta’ bergelar Sang Kala Gumi, seharusnya tak ada lagi bahan ogoh-ogoh yang dapat menyebabkan kerusakan bumi seperti sampah plastik, botol bekas minuman, bahan sterofom, dan lainnya. Demikian pula pada saat mengaraknya keliling desa. Melalui Pangrupukan dan Nyepi mari kita jeda sebentar, agar bumi yang terus kita eksploitasi berkesempatan mendetoksifikasi ‘memulihkan’ diri. [T]

Paris, 5 Maret 2025

Penulis: Putu Eka Guna Yasa
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis PUTU EKA GUNA YASA
YONINÉ GENTOSIN: Mengubah Kualitas Kelahiran Perspektif Ida Padanda Made Sidemen
TRI KARANA SWARŪPA : Temuan Ida Wayan Oka Granoka untuk Menjawab Tantangan Zaman
“Warabhoga”: Refleksi Makanan Bergizi untuk Pelajar-Pertapa dalam Sastra Kawi
Tags: baliHari Raya NyepihinduHindu Baliogoh-ogohtradisi nyepi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kawalu, Bulan Puasanya Suku Baduy

Next Post

Masa Depan Pendidikan di Era AI: ChatGPT dan Perplexity, Alat Bantu atau Tantangan Baru?

Putu Eka Guna Yasa

Putu Eka Guna Yasa

Pembaca lontar, dosen FIB Unud, aktivitis BASAbali Wiki

Related Posts

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

by Angga Wijaya
October 13, 2026
0
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

Read moreDetails

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

Read moreDetails

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
0
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

Read moreDetails

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

Read moreDetails

Wartawan Kehabisan Bensin

by Angga Wijaya
October 12, 2026
0
Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

Read moreDetails

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

Read moreDetails

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
0
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

Read moreDetails

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

by Angga Wijaya
October 10, 2026
0
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

Read moreDetails

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
0
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

Read moreDetails

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

Read moreDetails
Next Post
Masa Depan Pendidikan di Era AI: ChatGPT dan Perplexity, Alat Bantu atau Tantangan Baru?

Masa Depan Pendidikan di Era AI: ChatGPT dan Perplexity, Alat Bantu atau Tantangan Baru?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈
Pameran

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

by tatkala
October 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari
Ulas Buku

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi
Esai

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

by Angga Wijaya
October 13, 2026
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada
Esai

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan
Esai

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran
Pameran

“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

"GARBHA Wedana: A Story Before It Begins" menjadi pameran perdana Dyurupa, komunitas seniman rupa berbasis di Bali. Pameran yang melibatkan...

by Nyoman Budarsana
October 12, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Wartawan Kehabisan Bensin
Esai

Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

by Angga Wijaya
October 12, 2026
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia
Tualang

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Esai

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co