26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pengabdi Suku Baduy: Dua Tahun Ditolak, Kini Disayangi

Asep Kurnia by Asep Kurnia
February 17, 2025
in Esai
Pengabdi Suku Baduy: Dua Tahun Ditolak, Kini Disayangi

Bidan Eros Rosita / Foto Dok. Asep Kurnia

SUATU komunitas adat dimana pun tidak bisa berdiam diri pada satu kondisi tertentu, karena  putaran perkembangan zaman mengharuskan untuk berubah. Artinya, kapan pun akan dan pasti mengalami perubahan. 

Baduy adalah salah satu contoh komunitas yang terus mengalami perubahan di berbagai aspek baik sosial , budaya dan ekonomi.  Padahal suku Baduy yang sampai ini masih berkategori sebagai Komunitas Adat Terpencil dan masih termasuk Desa Adat.

Perubahan yang begitu cepat dan sporadis di Baduy sudah tidak bisa lagi dipungkiri, bahwa itu bukti nyata yang menunjukkan mereka terpaksa atau tidak harus mengalami dan mengikuti perubahan sekaligus demi memenuhi tuntutan kebutuhan zaman; kalau tidak mau kesulitan dan terkucilkan dalam pergaulan dunia.

Sudah menjadi rumus baku bahwa perubahan itu terjadi akibat adanya pengaruh dan faktor penyebab lainnya. Menurut penulis , perubahan itu terjadi hanya oleh dua faktor, pertama yaitu faktor internal yang berpengertian bahwa perubahan itu datang dari keinginan,  motivasi dan inisiatif diri sendiri atau masyarakat. Kedua, faktor  eksternal dalam artian ada desain khusus dari pihak luar yang diperuntukkan  membantu memberdayakan serta mengubah pola hidup dan aspek kehidupan lain yang bermanfaat bagi kemajuan sesuai kebutuhannya.

Pada poin faktor eksternal inilah penulis ingin memberi sumbangsih informasi dan pengetahuan pada publik  tentang sosok-sosok manusia Pengabdi dan Pembaharu (agent of change) yang memiliki andil besar terhadap terjadinya perubahan paradigma atau pola berpikir para tokoh adat, masyarakat dan kawula muda  atau new generation Baduy. Tentunya pengabdi dan pembaharu yang dimaksudkan adalah pengabdi dan pembaharu menurut versi penulis yang memiliki ciri khusus. 

Ruang lingkup pengabdian itu luas, bisa di pegunungan,  di tengah samudra,  di rimba belantara begitu pun di kota dan di pedesaan. Bisa juga dilakukan di berbagai lembaga resmi pemerintahan  atau organisasi masyarakat ,  bisa  dilakukan oleh seorang pegawai,  guru, atau jabatan profesi lainnya. Sifatnya melayani masyarakat dengan gerakan 3E yaitu Enlighten, Educate & Empower (mencerahkan,  mendidik dan memberdayakan).

Satu syarat terpenting bagi seseorang dinyatakan sebagai “pengabdi” adalah tindakannya selalu berkelanjutan (terus menerus) dalam melakukan darma bakti. Lalu siapakah sosok-sosok pengabdi Suku Baduy itu ? Berikut kisahnya.

Dua Tahun Ditolak Baduy

Baduy sebagai salah satu suku yang kuat memegang aturan adat dengan sebutan Pikukuh Katujuh (amanat leluhur) selalu diterjemahkan sebagai suku tertinggal, kelompok prasejahtera,  tidak berpendidikan, tidak paham tentang hidup sehat, hidup sederhana tetap tradisional apa adanya ,  menolak modernisasi dan menghindari hidup berpola modern, dan sebutan lainnya. Itu adalah problematika yang mereka hadapi dari masa ke masa.

Menolak pelayanan kesehatan modern dan pendidikan formal adalah dilema dan problem terberat yang sudah terjadi berpuluh tahun ke belakang sejak Baduy mulai dibuka penampilannya di ruang publik.

Sejak 50 tahun ke belakang informasi tentang suku Baduy tidak pernah ramai menghiasi ruang publik. Mereka sangat silent and hidden activity ketika berkomunikasi dan bersilaturahmi dengan pihak luar Baduy, termasuk berkunjung ke pemerintahan saat melaksanakan  tugas ritual  Seba-nya (silaturahmi).

Dari beberapa problematika yang dihadapi Baduy,  kesehatan dan pendidikan serta kesejahteraan adalah 3 aspek yang menjadi sorotan utama pemerintah dan para pemerhati Baduy. Berbagai program dan terobosan untuk membantu menghijrahkan mereka dari 3 aspek yang dianggap jauh tertinggal dari kondisi tetangga saudara sebangsa dan setanah air yang sudah lebih maju kerap disodorkan pada mereka. Termasuk berbagai kajian khusus tentang Baduy sulit untuk diterapkan, tetap mentok dengan bahasa yang kurang enak yaitu “ditolak”, dengan alasan klasik bahwa semua tawaran itu lagi-lagi dinyatakan bertentangan dengan sosial budaya dan hukum adat mereka.

Sampai tahun 1997 saat  penulis bersama istri  datang ke Baduy untuk menunaikan tugas negara menjadi petugas kesehatan di suku Baduy, situasi  “penolakan pola hidup modern” masih kencang dirasakan. Aura kata buyut pamali atau pantangan dan larangan adat begitu kuat mencengkeram di kehidupan mereka. Ucapan tokoh adat dan putusan Lembaga Adat Tangtu Tilu Jaro Tujuh merupakan kepastian hukum yang tidak bisa diutak-atik.

Saat itu bagi masyarakat Baduy menerima orang luar Baduy  atau bersilaturahmi dengan orang luar Baduy menjadi kendala tersendiri yang sulit dipecahkan, mengingat doktrin kuat dari  para tokoh adat tentang penanaman rasa takut bahwa orang luar atau asing itu dicurigai  akan merusak kehidupan mereka. “Kami mah sieun dijual tonggong ka pamarentah (kami takut dicatut nama ke pemerintah)” itu pesan psikologis yang menempel erat di pemikiran warga Baduy.

Sehingga saat kami datang ke mereka, seluruh pasang mata warga mengawasi penuh dengan kecurigaan bahwa kita akan mencelakakan , merusak dan menjual mereka. Itu situasi dan kondisi serta tantangan terberat selama 2 tahun pertama (1997-1999) kami bertugas di Suku Baduy. Mereka masih menolak kedatangan  kami (bidan Eros Rosita dan Penulis), walau sudah dijelaskan bahwa kami sebagai petugas resmi kesehatan dari pihak pemerintah untuk suku Baduy.

“Kekakuan” Masyarakat Baduy Luar dan Hukum Adat Mulai Lentur

Pada saat kami datang, resistensi sosial suku Baduy, terutama ketakutan terhadap perubahan bagaikan tembok tebal yang sulit untuk ditembus. Jangankan untuk bisa mengubah pola hidup sehat dan mengubah cara pandang mereka,  bertemu dan menerima orang luar saja mereka begitu sulit dan selektif sekali. Itu situasi kondisi riil saat kami mengawali ditugaskan ke suku Baduy. Sehingga interaksi kami sebagai petugas dengan masyarakat Baduy sungguh sulit  sekali dilakukan.  Sempat kami patah semangat dan putus asa untuk mengundurkan diri dan minta pindah tugas.

Tetapi, tepat mengakhiri 2 tahun kami terus melakukan sosialisai dan pendekatan kepada mereka, datanglah mukjizat dan keajaiban berkat sebutir permen  Lolipop,  mereka akhirnya  mulai menerima keberadaan istri penulis sebagai bidan suku Baduy.

Untuk lebih mengakrabi tentang siapa sosok bidan suku Baduy, penulis coba sajikan kutipan profil dan curhatan bidan Suku Baduy yang ditulis pada tahun 2019 oleh bidan Eros Rosita berikut ini.

“Saya mulai ditugaskan oleh Dinas Kesehatan  (Dinkes) Kabupaten Lebak pada tahun 1997, tepatnya pada tanggal  25 September 1997 untuk menjadi Bidan Desa  Kanekes dengan SK Bidan PTT Desa Terpencil No KP.00.03.1.1.12512 (Perpanjangan masa bakti 3 tahun kedua ) NR.PTT : 10.4.008.041 yang ditanda tangani oleh Dr.H.E , Maohjar Djamhur, MPH, Kepala Kanwil Kesehatan Propinsi Jawa Barat. Dengan surat tugas No :800 /228/ KEPEG tanggal 01 Oktober 1997 tertanda tangan Dr. H. Djadja Buddy Suhardja S. MPH. Kepala Dinkes Kabupaten Lebak, ternyata berada di wilayah pembinaan  Puskesmas Cisimeut, Kecamatan Leuwidamar.

 Kemudian pada tahun 2001 menjadi Bidan Teladan , pada bulan Nopember tahun 2000  diangkat menjadi PNS dengan tugas khusus membina suku Baduy ketika Kabupaten Lebak masih termasuk Propinsi Jawa Barat.  Di manakah tugas PTT awal pertama kerja? Sangat jauh, yaitu pada tahun 1994 di desa terpencil yang bernama Desa Mangkualam, Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Pandeglang yang sangat berdekatan sekali dengan Cagar Alam Ujung Kulon.

Sedetik tidak terpikir dan sejenak tak terbayangkan, bahwa saya akan menetap di Ciboleger sebagai kampung terdekat tempat transit awal menuju Tanah Ulayat Adat Baduy, dan tak sedikit pun berpikir bahwa saya akan mampu menyenangi tugas dan kewajiban sebagai Bidan Khusus Pembina Suku baduy. Tapi  ternyata, kehendak dan keputusan Tuhan memang tak dapat saya tolak, bahwa saya memang diciptakan dan dipersiapkan untuk menolong masyarakat Baduy dalam meningkatkan “derajat sehat“ hidup masyarakat Baduy secara umum dan “derajat kesehatan ibu anak“ secara khusus. 

Kini saya sangat meyakini bahwa tugas negara ini adalah sebuah tugas mulia yang harus saya lakukan dengan penuh kesadaran, kesabaran, ketabahan, ketelitian,  tanggungjawab, terencana dan terukur serta penuh percaya diri, bahwa pekerjaan ini akan sangat  bermanfaat bagi orang banyak; termasuk diri saya sendiri. Semoga akan bernilai ibadah. Amien.

Tugas awal saya di suku Baduy cukup membuat saya hampir putus asa. Mengapa? Karena ternyata Baduy bukan masyarakat biasa seperti yang kita kenal. Baduy adalah masyarakat yang pada kehidupan sehari-harinya sangat  ketat dan kuat dalam memegang aturan adat (memegang Pikukuh Karuhun).  Mereka sangat patuh terhadap ucapan para pemuka adat dan sangat takut melanggar adat,  sehingga mereka sangat menjauhkan diri dari kehidupan modern.

Tak terhitung bentuk-bentuk hambatan, tantangan serta ancaman yang saya hadapi dalam melaksanakan tugas kebidanan, baik secara fisik karena letak geografis yang sangat sulit, wilayah yang sangat luas dan penyebaran kampung yang sangat banyak serta jaraknya berjauhan.

Secara psikis sering bertentangan dengan hukum dan acara-acara adat, ditambah lagi dengan kebiasaan masyarakat berladang di tempat yang jauh, sehingga sulit untuk bertemu atau berkumpul,  karena tiap hari rutinitasnya adalah pergi pagi pulang sore untuk berladang.

Hal lain yang tak kalah menyulitkan saya dalam menunaikan tugas baik dalam memberikan pelayanan kesehatan, memberikan penyuluhan, mengajak, maupun dalam memengertikan serta menyadarkan mereka akan pentingnya kesehatan ibu dan anak adalah karena mereka dilarang bersekolah secara formal, sehingga pola pikir dan pola hidup mereka sangat sederhana sekali. Yach bisa pembaca bayangkan bagaimana sulitnya saya menghadapai  masyarakat yang tidak mengenyam pendidikan?

 Tapi berkat dukungan moril bapak saya (Idi Rosidi), atasan-atasan saya di Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak serta intensifnya kunjungan Ibu Ketua IBI dan anggota IBI Kabupaten dan Propinsi Banten ke suku Baduy; bahkan tahun 2008 ibu Harni Kusno ketua IBI pusat beserta pengurus IBI Provinsi mengunjungi Baduy (Desa Kanekes). Tidak henti-hentinya beliau memberikan arahan, masukan dan petunjuk pada saya.

Bahkan di tahun 2012 saat ada kunjungan bunda Asmuyeni IBI Pusat dan bunda Emi IBI Provinsi Banten pun memberi arahan bersamaan dengan kejadian saya menolong melahirkan warga Baduy Dalam Cikartawana. 

Saya sangat mengingat pesannya: ”Jangan hiraukan ibu yang berkunjung ke desa, tapi lihatlah dan segera tangani ibu dan bayi daripada kami, Ros ingat bekerja tulus ikhlas mengabdi mengemban amanat bangsa“. Juga yang tak kalah pentingnya dukungan moral dan spritual dari suamiku (Asep Kurnia)  yang selalu menemani dan mendampingi  hampir di setiap kegiatan, baik pada kegiatan penyuluhan, kunjungan rumah, pendekatan pada tokoh adat, bahkan pada kegiatan pelayanan atau pertolongan medis.

Akhirnya “bongkahan batu” hambatan yang sangat terjal itu pada tahun kedua dari tugas dapat saya lalui. Kini setelah hampir 22 tahun akhirnya saya dapat diterima sebagai petugas kesehatan kemudian  dipercayai. Dan yang paling saya banggakan  adalah, kini   mereka sangat membutuhkan saya bukan hanya sebagai bidan saja.

Mungkin kawan-kawan seprofesi tidak akan percaya bahwa pada awalnya saya dibenci, kemudian ditakuti, lalu dijauhi hingga akhirnya dipercaya dan disayangi. Mengapa dibenci karena anggapan mereka saya orang asing yang akan merusak kebiasaan dan budaya  mereka.

Mengapa ditakuti karena mereka menganggap saya akan mencelakakan dan menjerumuskan mereka, dan mengapa saya dijauhi karena mereka ragu terhadap gerak-gerik dan tingkah laku saya  dalam memperkenalkan tugas kebidanan. Dan mengapa sekarang mereka sangat mempercayaiku dan menyayangiku karena saya telah dapat membuktikan bahwa apa yang saya lakukan pada mereka bermanfat bagi kesehatan dan kehidupan mereka.

Kebahagian yang paling istimewa dan jadi momentum catatan sejarah berharga bagi saya adalah bisa mengubah hukum adat yang asalnya menolak pelayanan kesehatan modern menjadi menerima pelayanan kesehatan modern. Dalam bahasa undang-undangnya, saya bisa meng-Amandemen.

Semoga kepercayaan mereka ini tidak pernah berhenti sampai kapan pun! Kemarin, sekarang  dan nanti seluruh jiwaku dan ragaku akan tetap diperuntukkan bagi Baduy demi pengabdian yang abadi agar mereka berhijrah. Saya akan terus mencerahkan mereka, mengedukasi mereka, dan memberdayakan mereka dari generasi ke generasi. Amien“.

Bila pembaca merasa penasaran tentang sosok para pengabdi suku Baduy, simak episode berikutnya. [T]

Penulis: Asep Kurnia
Editor: Adnyana Ole

  • BACA esai-esai tentang BADUY
  • BACA esai-esai lain dari penulis ASEP KURNIA
Para Pejuang Akademisi Suku Baduy
“The Baduy Warrior”: Pejuang Suku Baduy
Para Pejuang dan Pengabdi Suku Baduy
Sekilas Informasi Wisata  Saba Budaya  Baduy
Efek Intensitas Wisatawan Saba Budaya Baduy
Tags: kesehatanmasyarakat adatProvinsi BantenSuku Baduy
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mencari Titik Terang di Goa Peteng, Gumi Delod Ceking   

Next Post

Dewa Gede Widiatmika dan Ketut Prameisti Adinda Divani, Duta GenRe UPMI Bali 2025

Asep Kurnia

Asep Kurnia

Pemerhati Baduy, tinggal di tapal batas Baduy

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Dewa Gede Widiatmika dan Ketut Prameisti Adinda Divani, Duta GenRe UPMI Bali 2025

Dewa Gede Widiatmika dan Ketut Prameisti Adinda Divani, Duta GenRe UPMI Bali 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co