14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Made Darsana, Kopi, Hutan, dan Ekonomi Berkelanjutan: Inspirasi dari Desa Wanagiri

Ni Kadek Sanchi Krisna Dewi by Ni Kadek Sanchi Krisna Dewi
November 20, 2024
in Persona
Made Darsana, Kopi, Hutan, dan Ekonomi Berkelanjutan: Inspirasi dari Desa Wanagiri

Made Darsana | Foto: Ist

BULELENG punya banyak hutan. Satu di antara terletak di Desa Wanagiri, sebuah wilayah di tepi Danau Buyan bagian utaram di Kecamatan Sukasada.

Wana artinya hutan, giri berarti gunung. Wanagiri bisa diterjemahkan dengan bebas menjadi hutan-gunung. Dan, tentu saja, sesuai namanya, Desa Wanagiri berada di dataran tinggi. Tentu juga, karena lokasinya paling tinggi, Desa Wanagiri menjadi salah satu desa yang mengalirkan air bersih ke desa-desa di bawahnya.

Di bawah Desa Wanagari ada Desa Ambengan, Desa Sambangan, Desa Panji, Desa Paji Anom, Desa Tegallinggah, Desa Selat dan Desa Baktiseraga. Tujuh desa inilah yang mendapat berkah dengan memanfaatkan aliran air dari Wanagiri.

Dalam buku “Atas Nama Air” yang diterbitkan Rumah Intaran disebutkan, Desa Wanagiri dan tujuh desa di bawahnya itu membangun kerjasama dalam menjaga kelestarian air. Menjaga kelestarian air yang sudah tentu tidak lepas dari menjaga kelestarian hutan. Jadi, meski hutan berada di desa bagian atas, desa di bagian bawah juga ikut menjaga hutan itu.   

Hutan, Kopi dan BUMDes Wanagiri

Made Darsana adalah sosok yang menjadi ketua dari kerjasama antar desa yang disebut juga dengan nama Desa Denbukit ini. Darsana menjelaskan, ada tiga area yang mempengaruhi kelestarian air, yakni area hutan, area tanah milik pribadi yang dimanfaatkan sebagai pemukiman, dan area perkebunan. Mengapa demikian? Karena sumber air terletak antara area hutan dengan area pemukiman.

Apabila daerah perkebunan dilimpahi banyak pupuk kimia tentu akan merusak kualitas atau kesuburan tanah, sehingga terjadi pencemaran pada tanah. Saat hujan, tanah yang tercemar itu akan dibawa oleh air melewati tanah hutan, sehingga tanah hutan ikut tercemar. Kondisi ini bisa terjadi, karena kontur di Desa Wanagiri ada di bagian atas, sementara hutan berada di bagian bawah. Selain itu tanah pemukiman juga banyak yang sudah dialihfungsikan baik dengan cara dijual atau dibangun sendiri sehingga mengurangi daerah resapan air.

Berdasarkan kesadaran itulah Desa Wanagiri mulai menata hutannya tanpa mengurangi manfaatnya untuk masyarakat desa. Made Darsana yang juga Ketua BUMDes Wanagiri menjelaskan, dahulu hutan tidak boleh dimanfaatkan oleh masyarakat, namun saat ini sudah diperbolehkan. Komuditas utama yang ada di hutan Desa Wanagiri adalah kopi.

Pohon kopi di hutan dan perkebunan Desa Wanagiri | Foto: Ist

Bagaimana kopi bisa tumbuh di hutan tersebut? “Mungkin karena dibawa oleh hewan,” tutur Made Darsana.

Komuditas kopi inilah yang dimanfaatkan oleh masyarakat untuk bisa menambah pendapatan bagi masyarakat sekitar. Kondisi ini didukung oleh desa dengan mendirikan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). BUMDes ini dipimpin dengan serius oleh Made Darsana, seorang pemuda yang memang serius dalam mengembangkan BUMDes itu. Meskipun ia hanya lulusan SMA, namun ia punya tekad  kuat untuk belajar. Terbukti sampai saat ini BUMDes Wanagiri semakin dipercaya masyarakat.

Pertanyaan selanjutnya, mengapa komuditas kopi yang dipilih? Tentu karena tanaman kopi itu sudah ditemukan di kawasan hutan sejak zaman dulu. Melalui berbagai program, BUMDes berinisiatif mengelola tanaman kopi di dalam hutan itu agar bermanfaat sebesar-besarnya dan seluas-luasnya bagi masyarakat. Dilihat dari kondisi geografis hutan yang berada di bawah perkebunan tanah milik pribadi, maka diperkirakan tanaman kopi itu tumbuh setelah biji kopi dibawa binatang atau terbawa air yang mengalir dari atas ke bawah saat hujan.

Kondisi kopi di dalam hutan itu cukup menguntungkan. Karena kopi adalah tumbuhan yang memang membutuhkan naungan dari tumbuhan hutan. Jika hendak menanam pun,  sebaiknya ditanam bersamaan dengan menanam tumbuhan naungan hutan, sehingga tidak akan merusak ekosistem hutan.

Secara ekonomi kopi memiliki nilai yang cukup tinggi dan menjadi konsumsi hampir semua orang. Kopi juga menjadi minuman yang tidak ketinggalan zaman. Maka dari itu kopi dapat meningkatkan pendapatan para petani. Maka, tepatlah, BUMDes Wanagiri mengembangkan kopi, karena sekaligus juga bisa melestarikan hutan.

Kopi dalam kemasan yang diproduksi BUMDes Wanagiri | Foto: Ist

BUMDes Wanagiri berdiri sejak tahun 2015 dengan nama Eka Giri Karya Utama. BUMDes ini dikelola dengan baik oleh Made Darsana dan timnya yang solid. Visi utamanya adalah bagaimana dapat meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat desa.

Made Darsana adalah salah satu orang yang sempat bekerja di luar desa, lalu kembali ke desa untuk membangun desa. Ia percaya, kembali ke desa tidak bisa dilakukan saat sudah lanjut usia, karena justru di masa produktiflah saatnya kembali ke desa.

Inspirasi dari Desa

Tindakan Made Darsana ini tentu saja sangat menginspirasi generasi muda. Di masa produktif seharusnya generasi muda sudah mulai peduli dan belajar tentang potensi-potensi yang ada di desa.

Seperti pernah dikatakan Guru Gede Kresna, pendiri Rumah Intaran, kitalah yang harus belajar dengan orang desa karena mereka justru sangat berdaya. Mengapa sangat berdaya karena sesungguhnya mereka kaya. Kekayaan yang paling utama menurutnya adalah udara bersih, air bersih dan makanan yang sehat. Saya tentu sepakat, karena tanpa udara, air dan makanan sehat, manusia tidak akan bisa hidup.

Yang dilakukan Made Darsana adalah langkah nyata, bagaimana menjaga kekayaan yang dimiliki desa-desa. Dalam prosesnya Made Darsana juga tidak lupa untuk menjaga hubungan baik dengan Tuhan atau Sang Pencipta. Hal ini dapat tercermin dalam sesajen atau banten sederhana yang ia bawa ketika memulai suatu pekerjaan di hutan. Banten menjadi sarana untuk memohon izin kepada sang pencipta agar segala usaha dapat bermanfaat bagi masyarakat, selain itu banten sebagai wujud komitmen masyarakat untuk menjaga kelestarian hutan.

Pohon kopi di area hutan Wanagiri | Foto: Ist

Dalam konteks ekonomi Made Darsana mengatakan, ia ingin masyarakat memiliki pendapatan harian, bulanan dan tahunan. Karena menurutnya menjadi petani adalah profesi yang pendapatannya tidak menentu dan membutuhkan kesabaran. Seperti halnya menanam kopi, tidak mungkin sehari menanam langsung bisa dipanen, butuh waktu sekitar 3 tahun untuk mendapatkan hasilnya setelah 3 tahun baru dapat dipanen lagi setiap tahunnya. Inilah yang akan menjadi pendapatan tahunan.

Sedangkan pendapatan bulanan dapat diperoleh dari memelihara ternak, seperti kambing yang dapat menghasilkan susu dan ayam yang menghasilkan telur setiap bulannya. Selanjutnya sayuran, bunga dan agrowisata yang mulai dikembangkan bisa menjadi pendapatan harian. Dengan demikian petani dapat menjaga kodisi ekonominya secara berkelanjutan.

Apa yang dilakukan warga di Desa Wanagiri, saya maknai bahwa hutan sangat bermanfaat bagi masyarakat dan menjaga hutan sesungguhnya terkandung nilai-nilai Tri Hita Karana, baik menjaga hubungan baik dengan Tuhan dengan selalu percaya keberadaanya, berhubungan baik sesama masyarakat desa dalam pemanfaatan hasil hutan dan menjaga kondisi alam itu sendiri dengan melestarikan hutan tidak hanya mengambil sumber daya alamnya.

Kita sebagai penikmat dari kerja keras mereka harus memberikan timbal baik yang positif misalnya dengan memberikan subsidi pupuk organik dari hilir ke hulu yang dapat menunjang keberhasilan pertanian di Desa Wanagiri tanpa merusak tanah atau dengan langkah kecil menggunakan air dengan bijak. [T]

Petani Kopi Wanagiri Bikin Film: Kopi Panen, Film Juara
Tentang Kopi [2] – Robusta dan Arabika di Wanagiri
Heritage Coffee Farm & Roastery: Usaha Melestarikan Sejarah dan Menumbuhkan Ekosistem Kopi di Bali Utara
Tags: bulelengDesa Wanagirihutankopikopi balikopi wanagiri
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Manajemen Penanganan Bencana dalam Pariwisata

Next Post

Luncurkan Album AIR, Sandrina Malakiano Rayakan Kisah Diri, Kekuatan, dan Kehidupan Perempuan

Ni Kadek Sanchi Krisna Dewi

Ni Kadek Sanchi Krisna Dewi

Anak dari seorang perajin di Desa Nagasepaha. Suka banget explore ke desa-desa, ketemu orang-orang kreatif, dan ngobrol bareng mereka yang vibes-nya positif. Saat ini sedang menempuh pendidikan sebagai mahasiswi S2 Akuntansi Undiksha.

Related Posts

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails

I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

by Made Susanta Dwitanaya
March 26, 2026
0
I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

NYALUK Sandi Kala (memasuki peralihan dari siang ke malam) di hari Pangrupukan di Desa  Tampaksiring, yang semakin tahun  semakin dikenal...

Read moreDetails

Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
March 13, 2026
0
Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

DI dalam stan pameran Kasanga Festival 2026 di Lapangan Puputan Badung, Denpasar, deretan ogoh-ogoh mini berdiri rapi menunggu penilaian. Suasana...

Read moreDetails

Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

RASA senang dan bangga tampak dalam wajahnya. Ketika namanya disebut untuk menerima penghargaan Bali Kerthi Nugraha Mahottama, kakinya melangkah dengan...

Read moreDetails

Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

by Made Adnyana Ole
February 28, 2026
0
Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

SUDAH sejak lama Wahyu Ardi dikenal sebagai sutradara dan penulis naskah drama modern, baik berbahasa Bali maupun bahasa Indonesia. Lalu,...

Read moreDetails

Ni Komang Pradnyawati, Lewat Konten Media Sosial “Elek” Raih Juara 1 di Bulan Bahasa Bali 2026

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Ni Komang Pradnyawati, Lewat Konten Media Sosial “Elek” Raih Juara 1 di Bulan Bahasa Bali 2026

ANA seorang siswi yang tidak disebutkan secara jelas sekolahanya tidak menyukai bahasa Bali, bahkan tidak pernah memakai Bahasa itu dalam...

Read moreDetails

I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

I Made Sunaryana terpilih sebagai Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali dalam ajang Bulan Bahasa Bali VIII. Itu artinya, karya...

Read moreDetails

Cerpen ‘Mangmung Langit Bukarés’ Karya Aries Pidrawan Lahir dari Riset Sejarah —-Juara Satu Lomba Cerpen Bulan Bahasa Bali 2026

by Made Adnyana Ole
February 27, 2026
0
Cerpen ‘Mangmung Langit Bukarés’ Karya Aries Pidrawan Lahir dari Riset Sejarah —-Juara Satu Lomba Cerpen Bulan Bahasa Bali 2026

Sakewala, ada ané makleteg di tangkahné. “Bagus Sutedja sané nuwé panjak akéh, tur sugih, prasida  kamatiang, apa buin kulawargan tiangé, rumasuk Ngurah, pasti sing...

Read moreDetails
Next Post
Luncurkan Album AIR, Sandrina Malakiano Rayakan Kisah Diri, Kekuatan, dan Kehidupan Perempuan

Luncurkan Album AIR, Sandrina Malakiano Rayakan Kisah Diri, Kekuatan, dan Kehidupan Perempuan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co