12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tentang Kopi [2] – Robusta dan Arabika di Wanagiri

tatkala by tatkala
June 26, 2020
in Esai
Pangan, Hidup Mati Bangsa

Tobing Crysnanjaya || Ilustrasi tatkala.co || Nana Partha

Udara yang segar, pemandangan berlembah nan indah, sejauh mata memandang saya melihat hamparan kebun kopi, perjalanan melintasi jalanan berkelok-kelok akhirnya terbayarkan sudah, lelah mata akibat asap dan debu jalanan kini digantikan dengan pemandangan maha sempurna, “nikmat apa yang engkau dustakan” celoteh saya di dalam hati.

Mobil melaju melintasi jalanan Wanagiri, sesekali kami bertanya kepada orang yang kami temui di jalan, mereka menuntun kami kepada titik, dimana saat itu kami berjanji untuk melihat-lihat perkebunan di daerah puncak, yang oleh masyarakat sekitar ditanami berbagai macam jenis tanaman bunga dan kopi antara lainnya.

Mobil menuju ke gang kecil, dekat balai pertemuan warga, saya putuskan untuk memarkir kendaraan disana dan kami semua turun, kami disapa oleh seorang pemuda, dengan rendah hati, dia mengantarkan kami untuk bertemu guru kami Sugi Lanus yang sudah duluan menunggu kami disana, olehnya kami diajak berkeliling kebun sembari mendengarkan cerita tentang kopi.

Menurut beliau Wanagiri memiliki potensi perkebunan kopi yang bagus, ada dua jenis kopi yang dibudidayakan oleh masyarakat, jenis robusta untuk daerah bagian bawah dan arabica untuk daerah atas. Hampir sama dengan komoditas perkebunan lainnya, disaat kondisi pariwisata sedang berada di titik nol, komoditas kopi juga mengalami tekanan tersendiri, apalagi jenis kopi arabica yang harganya relatif tinggi dipasaran, mengingat jenis kopi ini dipasarkan untuk segmen wisatawan, dampakya lebih terasa lagi.

Ngos-ngosan, badan ini terasa agak berat lagi, sebab sudah lama tidak dipanaskan, lama tidak berolahraga. Saya melihat Pak Wan dan Guru Sugi sangat lincah naik turun bukit, sementara kami yang lebih muda nampak pelan, menikmati langkah demi langkah hingga pada akhirnya sampai pada jalanan beraspal, darisana lantas kami sepakat bahwa pertemuan ini mesti dilanjutkan lagi, kami memutuskan untuk ngopi dan menikmati “jaja godoh” di Puncak Wanagiri, dimana kami bisa melihat pemandangan Danau Buyan dan Tamblingan.

Untuk sekadar diketahui oleh kita, khususnya anak muda yang sering menyebutkan diri sebagai generasi milenial, agar jangan terlalu abai dengan kenyataan, danau memiliki fungsi yang amat vital untuk kehidupan, tiada mungkin ada kehidupan tanpa air, sebab dari itu sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk menjaga kelestariannya, bersyukurlah Bali pulau yang kecil, memiliki empat danau yang mampu menghidupi seluruh penghuninya, jika danau diabaikan, sudah pasti bencana di tangan.

Sugi begitu panggilan akrabnya, tentu untuk mereka yang sudah akrab dengan beliau, akan bisa merasakan gambaran suasana yang sarat akan makna, tak terhitung berapa kali kopi di cangkir itu sudah saya seruput, berpindah dari satu posisi ke posisi lain, alur cerita beliau yang sangat rapi, jika dituliskan bukan tidak mungkin pembicaraan beliau menjadi sebuah artikel.

Waktu berlalu begitu cepat, Pak Wan sedari awal berjanji kepada saya, jika semesta mengijinkan, beliau ingin mengajak saya berkunjung ke rumah sahabatnya di Desa Munduk, Guru Sugi yang mendengar rencana itu akhirnya ikut juga bersama kami. Munduk adalah Desa yang terlatak tidak jauh dari Kawasan Danau Tamblingan, dan Desa ini merupakan bagian dari Catur Desa Adat Dalem Tamblingan yang mana sangat memiliki andil yang amat besar dalam upaya konservasi Kawasan Danau Tamblingan.

Putu Ardana, dalam kehidupan nyata saya belum pernah bertemu dengan beliau, walau sebenarnya melaui kanal sosial media, saya sering mengamati aktivitas beliau yang amat substansi dan menginspirasi, salah satunya adalah dengan memperkenalkan potensi kopi yang dikembangkannya dengan nama The Blue Tamblingan. Usut punya usut, ternyata varian ini amat sangat terbatas, hal ini karena jenis kopi yang digunakan memiliki karakteristik, salah satu faktor penyebabnya karena pohon kopi yang ditanam di Areal Kebun The Blue Tamblingan tidak terpapar sinar mentari di pagi hari, oleh karena terhalang perbukitan.

Menurut beliau, produk kopi yang dihasilkan memiliki cita rasa yang unik, sehingga ketika produk ini diperkenalkan langsung mengundang animo yang sangat tinggi dari penikmat kopi di Nusantara. Kualitas kopi terbaik adalah merupakan penggabungan antara budidaya sampai kopi itu menjadi green bean, jika diprosesntase proses ini memengaruhi hampir lima puluh persen kualitas, sementara pembakaran itu mempengaruhi dua puluh persen serta penyeduhan sekitar dua puluh persennya.

Pak Putu, begitu saya memanggilnya, beliau mengatakan kepada kami bahwa kopi yang dikembangkannya pernah dibandrol dengan harga sekitar sebelas juta rupiah perkilo dalam acara lelang amal oleh Keluarga Alumni Gadjah Mada (KAGAMA) yang diselenggarakan saat terjadi bencana banjir di SUMSEL. Dan sangat beruntung, saya bersama teman-teman lainnya mendapatkan kesempatan menyeruput nikmatnya “The Blue Tamblingan”, “jangan bilang penikmat kopi, kalau belum sempat menikmati kopi seharga seekor sapi ini” celoteh saya.

Menurut Pak Putu, kopi masuk ke Munduk sekitaran tahun 1920, hal ini juga diperkuat oleh research Guru Sugi yang menyatakan bahwa sekitar tahun 1930 wisatawan mancanegara mulai berkunjung ke Bali melalui Pelabuhan Buleleng, dan kuliner yang disajikan saat itu sesampainya mereka di Bali adalah dengan suguhan kopi. Di eropa, Belanda mempromosikan Bali di era itu, dengan menyebutkan bahwa Kopi Buleleng adalah jenis kopi paling pahit di Dunia, ini bukti bahwa salah satu cara untuk berdiplomasi adalah dengan menguasai teknik pemrosesan kopi, dan lagi-lagi rujukan kita adalah sejarah masa itu dan hal ini masih relevan sampai saat ini.

Ngobrol santai ini berlangsung sampai larut malam, berbagai macam topik sudah tercatat rapi dalam buku harian yang saya bawa, suatu saat nanti saya akan tuliskan lagi, misalkan tentang peradaban desa misalnya. Sebagai pengantar sahaja, peradaban desa ini merupakan saripati pemikiran dari Putu Ardana dalam kontek mengharmoniskan cara hidup masyakakat dengan nilai-nilai kearifan lokal yang merupakan karakter dan ciri khas Desa tersebut. Berharap suatu saat nanti, saya berkesempatan juga mengundang beliau, dalam acara Wawancara Ekslusif di Bawah Pohon Intaran yang saya pandu, semoga beliau membaca tulisan ini dan berkenan menerima undangan ini. [T]

Tags: bulelengkopi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Polemik RUU Haluan Ideologi Pancasila di Tengah Pandemi Covid-19

Next Post

Seni Dalam Lipatan Pandemi

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Seni Dalam Lipatan Pandemi

Seni Dalam Lipatan Pandemi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co