2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tantangan Pariwisata Indonesia: Daya Saing Global dan Keberlanjutan Lokal

Muhammad Yamin by Muhammad Yamin
November 13, 2024
in Esai
Tantangan Pariwisata Indonesia: Daya Saing Global dan Keberlanjutan Lokal

Muhammad Yamin

DINAMIKA ekonomi politik global telah membawa pariwisata Indonesia ke persimpangan yang krusial. Di satu sisi, integrasi ekonomi global membuka peluang besar bagi pertumbuhan sektor pariwisata nasional. Namun di sisi lain, tekanan kompetisi global dan standarisasi industri pariwisata internasional mengancam keberlanjutan basis sosial-ekonomi masyarakat lokal yang selama ini menjadi tulang punggung pariwisata Indonesia.

Fenomena ini terlihat jelas dalam kasus sentra industri kerajinan di Kabupaten Gianyar, Bali. Sebelum tahun 2002, kawasan ini menjadi contoh ideal bagaimana pariwisata dapat mendorong pemberdayaan ekonomi lokal melalui industri kreatif. Namun, implementasi perjanjian perdagangan bebas dan transformasi teknologi global telah mengubah lanskap industri pariwisata secara fundamental.

 Pengrajin tradisional yang mengandalkan keterampilan tangan kini tergerus oleh produksi massal berbasis teknologi. Pasar seni tradisional yang dahulu menjadi hub interaksi langsung antara wisatawan dan pengrajin lokal, kini kalah bersaing dengan pusat perbelanjaan modern yang dikelola pemodal besar.

Paradoks Pembangunan Pariwisata

Data dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menunjukkan tren yang menarik sekaligus mengkhawatirkan. Sepanjang 2009-2019, meski jumlah kunjungan wisatawan mancanegara tumbuh rata-rata 10,7% per tahun dan penerimaan devisa meningkat signifikan, distribusi manfaat ekonomi justru semakin terkonsentrasi pada pelaku usaha berskala besar. Fenomena ini mencerminkan apa yang dalam kajian ekonomi politik internasional disebut sebagai “paradoks pertumbuhan tanpa pemerataan” – di mana integrasi ke dalam sistem ekonomi global justru memperlebar kesenjangan ekonomi domestik.

Kasus Gianyar memberikan ilustrasi yang jelas tentang paradoks ini. Sebelum tahun 2002, Desa Celuk tercatat sebagai salah satu desa terkaya di Indonesia berkat industri kerajinan peraknya. Namun kini, dari 180 pengrajin di Banjar Seseh, hanya tersisa kurang dari 50 yang masih aktif.

Ironisnya, volume produksi dan perdagangan kerajinan perak tidak mengalami penurunan signifikan – yang berubah adalah struktur kepemilikan dan model produksinya. Pemodal besar dengan teknologi modern telah mengambil alih dominasi pasar yang dulunya dikuasai pengrajin tradisional.

Paradoks serupa terlihat dalam pola perkembangan akomodasi wisata. Data BPS menunjukkan pertumbuhan jumlah kamar hotel berbintang yang pesat, namun pada saat yang sama banyak homestay dan penginapan lokal yang gulung tikar karena tidak mampu bersaing. Fenomena “tourist bubble”, di mana wisatawan terkonsentrasi di kawasan-kawasan eksklusif yang terputus dari kehidupan masyarakat lokal semakin menguat.

Urgensi Reorientasi Kebijakan

Situasi paradoksal dalam pembangunan pariwisata Indonesia membutuhkan reorientasi fundamental dalam pendekatan kebijakan. Paradigma yang semata mengejar pertumbuhan kuantitatif perlu diimbangi dengan perhatian lebih besar pada aspek keberlanjutan sosial-ekonomi masyarakat lokal. Kondisi ini menuntut serangkaian langkah strategis yang komprehensif dan terkoordinasi.

Langkah pertama yang krusial adalah penguatan kapasitas adaptif pelaku usaha lokal. Alih-alih membiarkan mereka berkompetisi secara head-to-head dengan pemain global, diperlukan kebijakan yang membantu mereka menemukan ceruk pasar yang unik berbasis keunggulan lokal.

Program literasi digital yang disesuaikan dengan karakteristik lokal, akses pembiayaan inklusif yang mempertimbangkan siklus bisnis pariwisata, serta pendampingan pengembangan produk yang memadukan kearifan tradisional dengan tuntutan pasar kontemporer menjadi kunci keberhasilan adaptasi ini. Fasilitasi sertifikasi dan standardisasi juga diperlukan namun dengan pendekatan yang tidak memberatkan sembari tetap menjamin kualitas.

Selanjutnya, reformulasi regulasi investasi pariwisata menjadi keniscayaan untuk lebih memperhatikan kepentingan lokal. Revisi ketentuan tentang porsi kepemilikan lokal dalam usaha pariwisata perlu dibarengi dengan penerapan kewajiban kemitraan substantif dengan UMKM setempat.

Pembatasan skala usaha di kawasan-kawasan strategis juga diperlukan untuk menjaga keseimbangan ekosistem pariwisata. Insentif khusus bagi investor yang membuktikan komitmen pada pemberdayaan ekonomi lokal dapat menjadi instrumen penyeimbang, didukung dengan penguatan peran pemerintah daerah dalam pengawasan investasi pariwisata.

Pengembangan model pariwisata alternatif yang lebih berkelanjutan juga menjadi prioritas yang tidak bisa ditunda. Community-based tourism, creative tourism, eco-tourism, cultural tourism, dan rural tourism perlu didorong sebagai alternatif dari mass tourism konvensional. Model-model ini terbukti lebih efektif dalam menciptakan nilai tambah yang terdistribusi lebih merata ke masyarakat lokal, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan dan autentisitas budaya.

Reformasi tata kelola destinasi yang lebih partisipatif dan inklusif menjadi fondasi penting dalam reorientasi kebijakan ini. Pembentukan Destination Management Organization (DMO) yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan, penguatan peran lembaga adat dan komunitas lokal dalam pengambilan keputusan, serta pengembangan sistem monitoring dampak pariwisata yang komprehensif menjadi bagian integral dari reformasi ini.

Implementasi reorientasi kebijakan ini membutuhkan perubahan mindset di semua level. Di tingkat pusat, koordinasi lebih erat antar kementerian menjadi prasyarat keberhasilan. Sementara di tingkat daerah, penguatan kapasitas pemerintah lokal dalam perencanaan dan pengelolaan pariwisata perlu menjadi prioritas. Pembiayaan inovatif melalui tourism development fund yang dikelola secara profesional bisa menjadi solusi untuk mendukung inisiatif pembangunan pariwisata berkelanjutan.

Meskipun akan menghadapi resistensi dari pihak-pihak yang diuntungkan status quo, pengalaman berbagai negara seperti New Zealand dan Costa Rica membuktikan bahwa pariwisata berkelanjutan yang berpihak pada kepentingan lokal justru menciptakan daya saing yang lebih kuat di pasar global. Keberhasilan reorientasi ini akan menentukan tidak hanya masa depan pariwisata Indonesia, tetapi juga keberlanjutan pembangunan ekonomi nasional secara keseluruhan.

Tantangan Implementasi

Tekanan dari mitra dagang internasional dan investor global yang menginginkan liberalisasi lebih lanjut menjadi kendala signifikan yang tidak bisa diabaikan. Perjanjian perdagangan internasional yang telah ditandatangani Indonesia, seperti ASEAN Framework Agreement on Services (AFAS) dan berbagai perjanjian bilateral, seringkali membatasi ruang gerak pemerintah dalam menerapkan kebijakan protektif untuk pelaku usaha lokal.

Resistensi dari pelaku usaha besar yang telah mapan juga membentuk lapisan tantangan tersendiri. Kelompok ini, yang telah menikmati keuntungan dari struktur industri pariwisata yang ada, cenderung memiliki pengaruh politik dan ekonomi yang kuat untuk mempertahankan status quo. Mereka seringkali berargumen bahwa standardisasi dan konsolidasi industri adalah keniscayaan untuk meningkatkan daya saing pariwisata Indonesia di pasar global. Narasi ini mendapatkan dukungan dari lembaga-lembaga internasional yang mempromosikan agenda liberalisasi sektor jasa.

Di level birokrasi, ego sektoral dan tumpang tindih kewenangan antara pusat dan daerah menciptakan kompleksitas tersendiri. Desentralisasi yang tidak dibarengi dengan penguatan kapasitas pemerintah daerah seringkali menghasilkan kebijakan yang tidak koheren dan kadang kontraproduktif. Sebagai contoh, semangat daerah untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) terkadang mendorong kebijakan yang lebih berpihak pada investor besar dibanding pelaku usaha lokal.

Tantangan teknis juga muncul dalam bentuk kesenjangan infrastruktur digital dan keterbatasan akses terhadap pembiayaan. Meski digitalisasi dipromosikan sebagai solusi untuk memberdayakan pelaku usaha lokal, realitasnya banyak daerah masih menghadapi kendala konektivitas internet dan literasi digital yang rendah. Sementara itu, sistem perbankan konvensional seringkali kesulitan mengakomodasi karakteristik unik usaha pariwisata skala kecil yang memiliki arus kas musiman dan aset tidak berwujud.

Aspek sosial-budaya menambah dimensi kompleksitas tersendiri. Di beberapa destinasi, terjadi ketegangan antara keinginan untuk mempertahankan autentisitas budaya dengan tuntutan modernisasi industri pariwisata. Generasi muda dari komunitas lokal seringkali lebih tertarik bekerja di sektor modern dibanding meneruskan usaha tradisional keluarga, menciptakan ancaman terhadap keberlanjutan warisan budaya yang justru menjadi daya tarik pariwisata.

Namun, pengalaman krisis-krisis sebelumnya – mulai dari krisis finansial Asia 1997, bom Bali, hingga pandemi COVID-19 – telah menunjukkan bahwa ketahanan sektor pariwisata Indonesia sangat bergantung pada keberlanjutan basis sosial-ekonomi lokalnya. Ketika arus wisatawan internasional terhenti, justru pasar domestik dan kreativitas pelaku lokal yang membantu sektor ini bertahan. Pembelajaran ini menegaskan pentingnya membangun ekosistem pariwisata yang lebih seimbang, meski harus menghadapi berbagai tantangan implementasi.

Menghadapi kompleksitas tantangan ini, diperlukan pendekatan bertahap namun konsisten dalam implementasi reorientasi kebijakan. Pembentukan koalisi pemangku kepentingan yang mendukung agenda reformasi, penguatan basis bukti untuk kebijakan melalui riset dan evaluasi dampak, serta komunikasi publik yang efektif untuk membangun dukungan luas menjadi prasyarat keberhasilan. Yang terpenting, harus ada political will yang kuat dari pemerintah untuk mengambil langkah-langkah yang mungkin tidak populer dalam jangka pendek namun krusial untuk keberlanjutan jangka panjang.

Peluang dan Prospek

Di tengah beragam tantangan yang kompleks, perkembangan global kontemporer justru membuka jendela peluang bagi reorientasi pembangunan pariwisata Indonesia yang lebih seimbang. Tren pariwisata global sedang mengalami pergeseran paradigmatik, di mana wisatawan semakin menghargai autentisitas, keberlanjutan lingkungan, dan dampak sosial positif. Pergeseran preferensi ini menciptakan ruang bagi model pariwisata alternatif yang lebih berpihak pada kepentingan lokal.

Pandemi COVID-19, meski membawa dampak destruktif, telah mengakselerasi transformasi digital dalam industri pariwisata global. Kemajuan teknologi digital, jika dimanfaatkan dengan tepat, bisa menjadi enabler bagi pelaku usaha lokal untuk menjangkau pasar lebih luas tanpa harus tergantung pada intermediari konvensional.

Platform digital lokal dan marketplace khusus untuk produk kreatif tradisional kini memiliki peluang untuk berkompetisi dengan platform global, didukung oleh meningkatnya kesadaran konsumen akan pentingnya mendukung ekonomi lokal.

Munculnya konsep ekonomi sirkular dan regeneratif dalam diskursus pembangunan global juga memberikan momentum bagi transformasi pariwisata Indonesia. Model bisnis pariwisata yang mengintegrasikan prinsip-prinsip keberlanjutan tidak lagi sekadar pilihan etis, tetapi menjadi kebutuhan pasar. Investor global semakin mempertimbangkan kriteria Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam keputusan investasi mereka, menciptakan insentif baru bagi pengembangan pariwisata yang lebih berkelanjutan.

Perkembangan regional Asia Pasifik juga menawarkan peluang strategis. Kebangkitan kelas menengah di negara-negara Asia, terutama China dan India, membuka pasar baru yang potensial. Karakteristik wisatawan Asia yang cenderung lebih mengapresiasi nilai-nilai budaya Timur memberikan keunggulan komparatif bagi destinasi Indonesia yang kaya akan warisan budaya. Terlebih, kedekatan geografis memungkinkan pengembangan paket wisata yang lebih terjangkau dan berkelanjutan.

Di level domestik, menguatnya gerakan ekonomi kreatif memberikan fondasi yang kokoh bagi pengembangan pariwisata berbasis komunitas. Kolaborasi antara pelaku industri kreatif lokal dengan sektor pariwisata membuka peluang untuk menciptakan pengalaman wisata yang unik dan bernilai tambah tinggi. Integrasi antara pariwisata, ekonomi kreatif, dan kearifan lokal berpotensi menciptakan model pembangunan yang tidak hanya menghasilkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperkuat identitas budaya.

Yang tidak kalah penting, Indonesia memiliki keunggulan inherent dalam bentuk keragaman budaya dan kekayaan alam yang luar biasa. Dalam era di mana autentisitas dan pengalaman unik menjadi premium, aset ini memberikan basis yang kuat untuk membangun proposisi nilai yang berbeda dari destinasi massal konvensional. Pengembangan wisata berbasis alam (ecotourism) dan budaya (cultural tourism) yang dikelola oleh komunitas lokal memiliki prospek cerah seiring dengan menguatnya kesadaran lingkungan dan pencarian pengalaman otentik di kalangan wisatawan global.

Prospek jangka panjang pariwisata Indonesia akan sangat bergantung pada kemampuan memanfaatkan peluang-peluang ini sembari mengatasi tantangan struktural yang ada. Keberhasilan dalam mengembangkan model pariwisata yang menyeimbangkan daya saing global dengan keberlanjutan lokal tidak hanya akan menentukan masa depan sektor ini, tetapi juga dapat menjadi blueprint bagi transformasi sektor-sektor ekonomi lainnya menuju pembangunan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Penutup

Dinamika ekonomi politik global telah membawa sektor pariwisata Indonesia ke titik kritis yang memerlukan reorientasi fundamental. Pengalaman empiris dari berbagai destinasi wisata, terutama kasus Gianyar di Bali, menunjukkan bahwa integrasi ke dalam sistem pariwisata global tanpa penyeimbang kebijakan yang tepat telah menciptakan paradoks pembangunan.

Di satu sisi, sektor ini mencatatkan pertumbuhan agregat yang mengesankan dalam hal kunjungan wisatawan dan penerimaan devisa. Namun di sisi lain, konsentrasi manfaat ekonomi pada segelintir pelaku usaha besar dan tergerusnya basis sosial-ekonomi lokal menimbulkan pertanyaan serius tentang keberlanjutan model pembangunan pariwisata yang ada.

Urgensi untuk melakukan reorientasi kebijakan menjadi semakin mendesak di tengah transformasi lanskap pariwisata global pasca-pandemi. Pengalaman krisis COVID-19 membuktikan bahwa ketahanan sektor pariwisata sangat bergantung pada keberlanjutan ekosistem lokalnya.

Dibutuhkan pendekatan yang lebih nuanced dalam menyikapi globalisasi – tidak semata-mata menerima tekanan liberalisasi atau sebaliknya menutup diri, melainkan mengembangkan strategi cerdas yang memungkinkan pelaku lokal berpartisipasi dalam rantai nilai global dengan posisi yang lebih menguntungkan. Ini mencakup penguatan kapasitas adaptif pelaku usaha lokal, reformulasi regulasi investasi yang lebih protektif, dan pengembangan model pariwisata alternatif yang berkelanjutan.

Keberhasilan dalam menyeimbangkan imperatif daya saing global dengan keberlanjutan basis sosial-ekonomi lokal akan menentukan tidak hanya masa depan sektor pariwisata, tetapi juga relevansinya sebagai instrumen pembangunan ekonomi yang inklusif. Tantangan implementasi yang kompleks, mulai dari resistensi pelaku usaha besar hingga keterbatasan kapasitas institusional, membutuhkan pendekatan bertahap namun konsisten yang didukung komitmen politik kuat.

Momentum perubahan preferensi wisatawan global yang semakin menghargai autentisitas dan keberlanjutan, serta transformasi digital yang membuka peluang baru bagi pelaku lokal, harus dimanfaatkan secara optimal untuk mendorong transisi menuju model pariwisata yang lebih seimbang dan berkelanjutan. [T]

Menyatukan Pajak Turis Dunia: Menggagas Standar Baru bagi Pariwisata Global
Menimbang Dana Abadi Pariwisata
Glamping, Staycation, Instagrammable, Babymoon: Leksikon Baru Dalam Geliat Pariwisata Ekonomi Kreatif
“Community-Based Tourism” Sebagai Salah Satu Upaya Pemulihan Pariwisata Bali
Tags: PariwisataPariwisata Berkelanjutanpariwisata globalpembangunan pariwisata
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mahasiswa UPMI Bali Magang di tatkala.co : Mereka Belajar Menceritakan Peristiwa Nyata

Next Post

Belajar Mengenal Wayang dari Eksperimen “Wayang Bercerita”

Muhammad Yamin

Muhammad Yamin

Dosen Jurusan Hubungan Internasional, FISIP Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah dan pengamat ekonomi politik internasional dengan fokus pada sektor pariwisata dan pembangunan berkelanjutan.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Belajar Mengenal Wayang dari Eksperimen “Wayang Bercerita”

Belajar Mengenal Wayang dari Eksperimen “Wayang Bercerita”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co