6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rumah Tusuk Sate | Cerpen Putri Santiadi

Ni Kadek Putri Santiadi by Ni Kadek Putri Santiadi
November 2, 2024
in Cerpen
Rumah Tusuk Sate | Cerpen Putri Santiadi

Ilustrasi tatkala.co

JANTUNGKU berdegup kencang diiringi air mata yang perlahan mengalir di pipiku. Takut akan kehilangan kebahagiaan yang selama ini mengisi duniaku. Tempat ini sudah menjadi rumah yang membuatku nyaman. Segala sesuatu terasa sempurna, teman-teman yang selalu ada, rumah yang unik, dan tetangga yang penuh perhatian. Rasanya mustahil meninggalkan semua itu, bahkan sekedar berpamitan pun terasa berat. Siapa yang akan kutemui di tempat baru? Hanya satu harapanku pada ibu, jangan pindah dari rumah ini. Sayangnya, keputusan telah diambil.

Kini, semua tinggal kenangan. Teman-temanku tak akan bisa lagi kutemui. Tak ingin membuat perpisahan terasa lebih berat, kami bahkan tak saling mengucapkan selamat tinggal. Aku memilih diam membiarkan kepergian ini menjadi rahasia antara aku dan waktu. Semua barang diboyong ke rumah baru, perasaan tak nyaman langsung menyergap. Rumah baru ini berada di antara rimbunnya pohon dan jauh dari keramaian. Tak ada rumah di sekitar, tak ada teman untuk bermain, tak ada suara tawa anak-anak. Padahal, saat itu, teman adalah yang paling kubutuhkan. Yang ada hanyalah keheningan yang menggantung di udara.

Meski tembok rumah ini dipenuhi dengan hiasan mewah, tapi suasana ceria yang dulu kurasakan menghilang. Rasa takut sering menyelimuti, dan tidur sendirian menjadi sesuatu yang tak sanggup kulakukan. Aku merindukan rumah lamaku, bilik kecil yang hanya cukup untuk lima orang. Walau sempit, tempat itu jauh lebih berharga. Setiap malam kami berkumpul, menonton serial favorit sambil bercengkerama hingga aku terbatuk. Bahkan menunggu ayah pulang dari kerjanya hingga kami tertidur di kamar tamu

Di sini, hanya kami yang selalu berada di rumah. Kami menghabiskan waktu bersama, bermain dari siang hingga petang, belajar dan menonton televisi bersama. Jika ibu bekerja pagi, terkadang ia menemani kami, tetapi lebih sering ia dan ayah pulang larut malam karena sibuk bekerja. Di malam-malam sunyi itu, kami menyalakan televisi dengan suara keras, menutup rapat semua pintu dan jendela, tak berani melirik ke kanan atau kiri. Kami hanya terfokus pada layar, hingga akhirnya tertidur.

Belum genap setahun kami tinggal di sini, kejadian aneh mulai bermunculan. Siang itu, rumah dipenuhi keceriaan karena bibi dan paman datang. Aku begitu senang karena akhirnya punya teman. Paman datang membawa mangga dan meminta aku mengambil pisau serta mangkuk. Dengan sigap, aku berlari ke dapur, yang terletak di belakang rumah sebelum gudang. Ini masih siang, jadi aku merasa tenang.

Namun sebelum sempat mengambil mangkuk, aku terpaku. Seekor ular melingkar di rak piring. Aku menjerit dan melemparkan pisau.

 “Ibu, ada ular!”

Semua panik, mengira aku digigit. Ibu buru-buru menghampiri, bertanya dengan nada cemas.

“Di mana ularnya?”

Aku tak sanggup menjawab, ular itu menghilang begitu cepat. Sejak kejadian itu, aku enggan ke dapur sendirian.

Untuk menenangkan kami, nenek dipanggil untuk menjaga, terutama adikku yang masih balita. Tak hanya ular, kini tokek juga kerap mampir, suaranya bergema setiap malam. Awalnya kami menganggapnya penjaga rumah, tapi sebulan kemudian, kehadirannya mulai mengganggu. Malam-malam menjadi bising karena suara tokek yang bergema dari plafon, membuat kami sulit tidur.

Akhirnya, nenek turun tangan, memasang penangkal, dan menangkap tokek-tokek itu. Meski berbahaya, tak ada pilihan lain. Dengan cepat, hampir sepuluh tokek terperangkap dalam karung yang dibawa nenek. Namun tiba-tiba, adikku yang masih berusia dua tahun menangis meminta tokek itu dilepaskan. Nenek yang tak tega, menuruti permintaannya. Tapi akibatnya fatal, jari nenek hampir putus digigit oleh tokek yang marah.

Aku panik, hanya mampu menyelamatkan adikku. Tokek itu mencengkeram tangan nenek, dan aku berlari mengambil sapu untuk mengusirnya. Darah mengucur dari tangan nenek. Aku menatap darah itu, perasaan bersalah dan takut bercampur aduk. Ibu dan ayah yang baru pulang kerja terkejut melihat tangan nenek sudah dibalut perban. Mereka hanya bisa menghela napas panjang, sementara adik dibiarkan tanpa hukuman karena masih terlalu kecil untuk dimarahi.

Hari-hari berikutnya, ketakutan menjadi teman setia. Malam semakin panjang dengan rasa cemas yang menghantui. Kami selalu ingin tidur bersama, tak pernah berani berlama-lama sendirian di kamar. Rasanya seperti ada yang selalu mengawasi.


****

Selang beberapa bulan setelah insiden dengan tokek dan ular, nenek kembali ke kampung halamannya. Kami kembali merasa kesepian. Malam itu, teman ayah datang menginap, dan aku berusaha memberanikan diri untuk tidur sendiri. Namun, sekitar dini hari, keadaan menjadi gaduh. Aneh, aku tetap tak terbangun. Keesokan paginya, ibu dengan suara lembut berkata, “Jangan ke dapur dulu ya, kalau perlu sesuatu, bilang saja ke ibu atau ayah.”

Aku merasa bingung, dan kakakku kemudian menjelaskan dengan nada pelan, “Di bawah kulkas ada ular besar, ukurannya sebesar kaki orang dewasa!”

Mendengar itu, bulu kudukku langsung meremang. Aku bahkan tak berani masuk ke kamarku yang terletak dekat dapur. Pikiranku dipenuhi ketakutan bahwa ular itu bisa saja merayap masuk ke kamarku kapan saja. Dapur yang seharusnya tempat hangat, kini penuh ancaman. Aku merasa seolah rumah ini memiliki jiwa yang tak bersahabat denganku. Setiap kali melangkah ke dapur, aku selalu waspada, takut sesuatu akan muncul dari bayang-bayang lagi.

Ayah, tentu saja, penasaran dengan ular besar itu dan sangat ingin memeliharanya. Jika temannya tidak ada, mungkin ular itu masih bersembunyi di sana sampai bantuan datang. Temannya berhasil menangkap ular itu dan membawanya pulang untuk dipelihara.

Sejak hari itu, rumah yang tadinya terasa tenang mulai berubah. Setiap malam, suara tokek bergema dari plafon, dan siang hari ular sering terlihat menghampiri rumah kami. Memang, rumah ini terletak dekat hutan, jadi wajar banyak hewan liar yang datang.

Namun, menurut ibu, ini sudah terlalu berlebihan. Tetap saja ayah selalu berusaha menenangkan kami dengan kalimat bijaknya, “Tidak baik berprasangka buruk. Kita hidup berdampingan dengan alam. Selama kita tak mengganggu, mereka juga tak akan menyakiti!”

Kata-kata itu sedikit menenangkan, tapi tak cukup untuk menghilangkan rasa takut.

Kami tetap tinggal di rumah itu, meskipun setiap hari berada di bawah ancaman. Suatu sore, kami hendak pergi berbelanja. Hari sudah mendekati senja (sandikala), dan aku serta kakakku sudah siap. Namun, ibu masih mengobrol dengan tetangga di depan rumah. Karena bosan, aku mulai bermain-main di sofa ruang tamu. Saat aku tengkurap di sandaran sofa, tiba-tiba terasa ada yang mendorongku. Aku terjatuh, jungkir balik, dan gigiku patah.

Aku lari ke dapur, mencoba menyembunyikan rasa sakit, namun ibu segera menghampiriku.

“Apa yang terjadi, Del?” tanya ibu khawatir.

Aku tak menjawab, hanya terdiam.

Ibu menyuruhku membuka mulut, setelah melihat serpihan gigi di lantai, ia berkata, “Gigimu patah, Del.”

Aku melihat ke cermin dan benar saja, gigiku telah patah separuh.

Kakakku tertawa, “Sudah berapa kali diberitahu, kalau sandikala jangan bertingkah aneh!”

Aku hanya bisa terdiam, merenungi nasib sial yang menimpaku. Ini bukan salahku, ada orang yang tak terlihat telah membuatku terjatuh. Aku yakin, sebab dari atas sofa setinggi lututku, tubuhku terhempas dan berputar seperti melakukan salto. Aku menatap ibu dengan mata berkaca-kaca, berharap dia mengerti bahwa ini bukan sekedar kecelakaan. Jelas saja mereka tak percaya.

****

Malam itu, aah harus pergi bekerja sekitar pukul dua pagi. Hal itu bukanlah hal yang aneh bagi kami, karena ayah memang sering harus antre barang untuk dikirim ke Jawa. Kami berjaga sampai ayah pergi. Setelah itu, kami tidur bersama di kamar yang sama. Namun, perasaan cemas tetap menyergapku, seakan-akan ada hal buruk yang akan terjadi.

Belum lama kami terlelap, suara gaduh kembali terdengar dari bilik kamarku. Aku mencoba membuka mata, tetapi kelopak mataku terasa berat. Pikiranku hanya menganggap itu bayangan semata.

Namun, suara itu semakin dekat, sampai akhirnya ibu terbangun dan berteriak, “Siapa kalian?!”

Aku, kakak, dan adik langsung terbangun. Di depan kami berdiri tiga orang bertopeng dengan pakaian serba hitam.

Mereka memegang senjata tajam, dan salah satu dari mereka mengancam ibu, “Di mana kalian menyimpan emas dan barang berharga lainnya?”

Ibu menjawab dengan tegas, “Kami tak menyimpan apa pun di sini!”

“Jangan meninggikan suara, atau kau akan mati hari ini!” ancam salah satu penjahat, sembari menekan senjata di leher ibu.

Aku gemetar, namun aku tahu kami harus bertindak cerdas. “Lepaskan ibuku,” kataku sambil menunjukkan arah ke kamar, “Barang-barang berharga kami ada di kamar sebelah.”

Penjahat itu segera beralih perhatian, melepaskan ibu. Salah satu dari mereka, yang tampak lebih tenang, menyuruh kami diam agar bosnya tak marah. Kejadian itu berlangsung lama, dan pada suatu titik, kakak dan aku berusaha melawan ketika mereka hendak mengurung kami di gudang. Ini sebenarnya bagian dari strategi ibu, ia ingin kami keluar melalui jendela untuk meminta bantuan. Namun, sebelum kami sempat membuka jendela, dua penjahat sudah menarik kami kembali. Kami terlempar ke sofa.

Ibu berteriak, “Jangan sentuh anak-anakku!”

Suasana menjadi kacau, seperti adegan film laga yang sering kutonton. Tapi ini nyata. Berkali-kali aku mencoba meyakinkan diriku bahwa ini hanya mimpi, namun semua terasa semakin nyata ketika ibu dan adik terlempar ke jendela.

“Cukup!” teriak kakakku, “Kami rela dikurung di gudang asal kalian segera pergi dari sini.”

Dalam hitungan menit, kami terjebak di gudang, sementara ibu berusaha menenangkan kami dengan kata-kata lembutnya, “Semua akan segera berlalu. Ini hanya mimpi buruk.”

Aku merasa kecil dan tak berdaya. Suara keras dari penjahat yang mengancam ibu seolah merobek hatiku. Kami bertahan dalam ketakutan sampai ayam berkokok. Barulah sekitar pukul lima pagi, ibu berteriak dari ventilasi, meminta bantuan.

Tetangga yang rumahnya lumayan jauh dari kami, mendengar suara ibu. Untungnya ia sudah terbangun. Aku dengan jelas mendengar paman itu berteriak, membangunkan tetangga lainnya.

Beberapa menit kemudian, pintu itu didobrak dan aku memeluknya. Kali pertama, pagi datang bersama suara sirine polisi yang memecah keheningan, tetangga, sanak saudara mulai berkumpul, dan rumah kami menjadi sangat ramai. Ayah membatalkan perjalanannya ke Jawa setelah mendengar berita buruk itu. Para pencuri pergi, tapi ketakutan mereka tinggalkan.

****

Sejak malam itu, rumah besar ini tidak lagi terasa sebagai rumah. Setiap sudutnya menyimpan trauma, setiap dindingnya seperti berbisik pedihnya kejadian-kejadian itu. Kami tak pernah lagi tidur di kamar masing-masing, melainkan selalu berkumpul di kamar tamu. Setiap malam, aku terjaga mendengar suara-suara yang entah nyata atau hanya imajinasiku. Semua menjadi kenangan pahit, saat nenek digigit tokek, ular di dapur, gigiku yang patah, dan manusia bertopeng itu.

Beberapa hari kemudian, ibu memutuskan untuk berkonsultasi dengan seorang yang paham tata letak rumah. Menurut ahli feng shui bahwa tata rumah kami salah, pintu depan langsung menghadap gerbang, dan itu dianggap membawa sial.

“Jika kalian masih tinggal di rumah ini, kesialan dan petaka akan terus menghantui,” kata orang itu. Mitosnya, penghuni rumah seperti ini akan sering sakit, mengalami kecelakaan, dan tertimpa nasib buruk. Bapak yang awalnya skeptis, kini mulai percaya.

Kami akhirnya memutuskan untuk pindah. Rumah itu dijual, bersama segala kesialan yang pernah menyertainya. Kini, kami tinggal di rumah yang lebih sederhana, tanpa kamar tamu, hanya ruang terbuka yang nyaman. Walau kejadian itu sudah berlalu sepuluh tahun, bayangan kelamnya masih tertanam dalam ingatan kami.

****

Aku tahu, rumah itu sudah berpindah tangan, tapi bayangan tinggal di rumah itu tak pernah sepenuhnya hilang dari ingatanku. Meskipun tata letak rumah itu sudah di rubah, gerbangnya sudah dipindah di sisi kanan bangunan. Tapi, aku masih sering bertanya-tanya kepada ibu, apa setelah rumah itu berubah mereka tidak mengalami apa yang pernah kami rasakan? Mungkin petaka itu telah sirnah, seperti perkataan ahli feng shui.

Setiap kali aku melewati jalan tempat rumah itu berdiri, perasaan dingin menjalar di tubuhku. Aku hanya bisa berharap, rumah itu bisa menjadi tempat yang aman bagi penghuninya. Satu hal yang kutahu, rumah itu adalah saksi dari semua ketakutan dan trauma yang tak pernah benar-benar hilang. [T]

  • BACA cerpen lain di tatkala.co
Cintaku dan Cinta Kawanku | Cerpen Kadek Susila Priangga
Untuk Mamah dan Nenek | Cerpen Alfiansyah Bayu Wardhana
Tumbal Politik | Cerpen I Made Sugianto
Hyang Ibu
Jerit Padi Luka Pesisir | Cerpen Gede Aries Pidrawan
Arus Pelayaran | Cerpen Karisma Nur Fitria
Sejak Itu Samsu Berubah | Cerpen Khairul A. El Maliky

Sumbi Tak Mengandung Anak Tumang | Cerpen Amina Gaylene
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sajak-Sajak Helmi Y Haska | Hilirisasi, Zona Keheningan, Berlawan

Next Post

Semangkuk Gule dan 20 Ekor Kambing Muda untuk Kenikmatan Menonton Voli Tajun Cup

Ni Kadek Putri Santiadi

Ni Kadek Putri Santiadi

Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja

Related Posts

Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

by Muhammad Khairu Rahman
March 1, 2026
0
Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

DI sebuah kota yang tumbuh setengah hati—antara ambisi menjadi metropolitan dan kebiasaan menjadi desa besar—tinggallah seorang pejabat tua bernama samaran...

Read moreDetails

Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 28, 2026
0
Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

WARTAWAN itu menghela napas dalam-dalam. Ia merasa gundah. Rumah yang ia tempati belasan tahun terakhir hanyalah kamar sempit. Bersama istri...

Read moreDetails

Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
February 27, 2026
0
Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

“Sudah matang, Bu?”  teriaknya. Itu pertanyaan pukul 05.30 pagi. Aku tahu persis jamnya karena sejak pindah ke kompleks perumahan ini,...

Read moreDetails

Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
February 22, 2026
0
Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

SESEORANG sedang menyalakan dupa ketika lantainya terasa bergerak sedikit ke kiri lalu ke kanan. Kayu-kayu usuk rumah ikut berderit. Mata...

Read moreDetails

Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
February 21, 2026
0
Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di Universitas Bumi Langit, tempat matahari sering kalah terang dari ego para dosennya, terletak sebuah fakultas yang namanya saja sudah...

Read moreDetails

Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
February 20, 2026
0
Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

SETIAP pagi, sebelum matahari benar-benar mengusir sisa gelap dari halaman rumah, Ayah sudah duduk di meja makan dengan buku catatan...

Read moreDetails

Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

by Safir Ahyanuddin
February 15, 2026
0
Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

AKU pertama kali menggali kubur itu ketika usiaku sembilan tahun. Pagi itu tanah masih menyimpan dingin dari hujan semalam. Kakiku...

Read moreDetails

Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 14, 2026
0
Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

DUL percaya satu hal, bahwa seks adalah tanda kehidupan. Selama masih bisa, berarti ia belum selesai. Itulah sebabnya, pukul 04.10...

Read moreDetails

Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
February 13, 2026
0
Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

Kakek tua itu duduk melamun seusai menyabit rumput. Menyandarkan tubuh ringkihnya di batang pohon asem nan rimbun. Keranjangnya sudah penuh...

Read moreDetails

Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

by Galuh F Putra
February 8, 2026
0
Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

SITA menyandarkan pipinya pada telapak tangan, membiarkan jari-jarinya bergerak lembut menyentuh kulit wajahnya yang masih hangat dari sentuhan sore hari....

Read moreDetails
Next Post
Semangkuk Gule dan 20 Ekor Kambing Muda untuk Kenikmatan Menonton Voli Tajun Cup

Semangkuk Gule dan 20 Ekor Kambing Muda untuk Kenikmatan Menonton Voli Tajun Cup

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co