23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Di Puncak Tegeh Kepah  

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
September 20, 2024
in Esai
Di Puncak Tegeh Kepah  

Di Puncak Tegeh Kepah ( Foto : I Nyoman Tingkat)

 PERJALANAN pulang pergi dari Desa Adat Kutuh ke Desa Adat Bualu untuk mabraya pada era sebelum 1980-an hanya satu jalan dan satu jalur, yaitu  Jalan Darmawangsa namanya, kini. Seingat saya, sebelumnya jalan ini tanpa nama. Yang ada petunjuk jarak ke Denpasar, 25 km. Kala itu, jalur Gumi Delod Ceking  ke Peken Badung di Denpasar hanya ada satu, dari Denpasar melalui Jalan Imam Bonjol – Jalan Raya Kuta – Tuban — Kedonganan – Jimbaran – Tegeh Sari – Tegeh Buhu sampai simpang Nirmala kini. Jalur lurus menuju Pecatu hingga Uluwatu, sedangkan ke kiri melewati Ungasan – Kutuh – Kampial–Bualu – Tanjung.

Puncak Tegeh Kepah adalah batas antara Desa Adat Kampial dan Desa Adat Bualu di wilayah Kuta Selatan.  Pada zaman Orde Baru, di Puncak Tegeh Kepah dibangun tempat suci 5 agama yang disebut Puja Mandala. Di Kawasan Puja Mandala berdiri Pura, Gereja Katolik, Geraja Kristen, Wihara, dan Masjid. Berdirinya Puja Mandala menjelang Orde Baru tumbang ketika Menteri Pariwisata,Pos, dan Telekomunikasi dijabat Joop  Ave sebagai lambang toleransi beragama yang diimani dan diamini para pemeluknya. Kini, Puja Mandala malah menjadi objek wisata yang wajib dikunjungi para pelancong dari Jawa umumnya untuk mampir sekaligus bersembahyang sesuai dengan agama yang dianutnya. Di Puncak Tegeh Kepah ini mereka menemui Tuhannnya masing-masing dengan suntuk mohon keselamatan dalam  perjalanan selanjutnya.

Berdekatan dengan Puja Mandala, tepatnya di sebelah timur berdiri bak penampungan air.  Airnya itu untuk kawasan ITDC Nusa Dua. Dibangunnya  bak penampungan air itu melengkapi sumur peradaban tua, yang sudah ada sebelumnya  disebut suukan. Jika suukan adalah simbol peradaban kuno, bak menjadi simbol peradaban modern seiring dengan pengembangan kawasan Nusa Dua menjadi kawasan pariwisata elit sejak Orde Baru berkuasa, pada awal dekade 1970-an.

 Puncak Tegeh Kepah sebagaimana namanya mengacu pada dua makna. Pertama, Kepah berarti peralihan dari Desa Adat Kampial ke Desa Adat Bualu. Sebagai catatan, Desa Adat Bualu berdiri sekitar 1958 yang sebelumnya merupakan bagian dari Desa Adat Kampial. Itu pula sebabnya, setra Desa Adat Bualu menjadi satu dengan setra Desa Adat Kampial. Selain itu, Pura Penataran Desa Adat Kampial juga merupakan bagian ayah-ayahan dari Desa Adat Bualu. Namun, Desa Adat Bualu memunyai Pura Desa dan Pura Puseh tersendiri.

Kedua, Kepah berarti Pohon Kepuh atau pohon rangdu. Pohon Kepah biasanya  sebagai penanda desa dan tenget. Pohon besar itu kini masih ada dan di bawahnya berdiri Pura Tegal Penangsaran Desa Adat Bualu. Di sanalah tempat permakluman bila ada upacara ngaben/mengubur bagi yang meninggal di Desa Adat Bualu dengan menggunakan banten, minimal canang asebit sari. Di desa-desa adat di Bali, pohon besar adalah penanda desa yang berfungsi sebagai peneduh sekaligus sebagai ciri pusat desa dengan pasar desanya.

Di Puncak Tegeh Kepah, para pejalan kehidupan yang berjalan kaki tempo doeloe maentegan menarik nafas sejenak, melakukan pranayama. Pertama,menyaksikan kawasan Nusa Dua dan sekitarnya dengan nyiur melambai-lambai di arah timur. Ke situlah, arah yang dituju orang-orang dari desa Delod Ceking khususnya Kampial, Kutuh, Ungasan, dan Pecatu. Mereka maurup-urup melakukan barter alakadarnya membawa palawija dan palagantung selain gerang. Maurup-urup adalah strategi berkomunikasi berkearifan lokal dengan mengedepankan manyama braya yang lebih dikenal dengan tetawangan ’kenalan’ yang dirawat dan diwariskan ke anak cucu hingga kini. Dalam konteks kekinian, inilah yang disebut ekonomi kerakyatan.

Kedua, di Puncak Tegeh Kepah para pejalan kehidupan yang berjalan kaki berkilo-kilo jaraknya tanpa bersandal di tengah debu dan panas menyengat semangat tiadalah patah. Di kejauhan dari balik kawasan Nusa Dua yang kini berdiri hotel berbintang mewah tempat para pemimpin dunia mengambil keputusan tentang iklim global, air, ekonomi, dan lain-lain yang menyangkut politik global, di tempat inilah diputuskan. Nusa Dua Bali  menjadi tempat memutuskan kebijakan politik dunia yang menghasilkan piagam atau dokumen tertulis. Dalam arti luas, itulah sastra dunia sebagai pegangan para pemimpin dunia becermin. Pilihan yang tepat bila pujangga Jawa yang dikenal dengan Dang Hyang Dwijendra melahirkan karya sastra monumental di sini. Dari sini pula, para pemimpin dunia melaksanakan dharma wiweka untuk memilah dan memilih “ngepah” kebijakan yang memuliakan manusia, alam, dan lingkungan dengan pembangunan berkelanjutan. Inilah yang disebut kontinuitas oleh Ki Hadjar Dewantara.

Ketiga, dari Puncak Tegeh Kepah, para pejalan kehidupan juga dapat menyaksikan Pulau Nusa Penida di kejauhan seakan berdiri di atas  laut biru yang damai. Penampakan Nusa Penida di kejauhan melengkapi Nusa Dua di kedekatan, tampak berhadap-hadapan. Lebih-lebih di antara  Nusa Dua (Nusa Darma dan Nusa Paninsula yang dulu disebut Nusa Gede)  terdapat Batu Capil seakan menjadi pintu gerbang tempat memanggil para nelayan dari Nusa Penida untuk mampir. Utusan dari Nusa Penida diyakini membawa dua kabar, berkah atau musibah. Dalam konteks inilah, maka di Gumi Delod Ceking menjelang peralihan musim dari Kemarau ke Hujan digelar upacara Nangluk Merana ‘upacara menangkal gering’ dalam perspektif agraris berbasis maritim. Dalam tradisi di Desa Adat Kutuh, prosesi Merana Nangluk itu disebut mamendak. Harapannya, petani dan nelayan selamat dari gering ‘wabah’ tanpa   paceklik dan terhindar dari situasi sayah ‘gagal panen’.

Keempat, tidak jauh dari Puncak Tegeh Kepah dulu berdiri Bioskop Glory sebagai tempat hiburan bagi kaula muda dengan layar tancap. Belakangan, bioskop berada di area Pasar Central dekat Tragia bersebelahan dengan lokasi SMP Negeri 4 Kuta Selatan. Jika Bioskop Glory berbasis layar tancap, bila hujan penonton bubar menyelamatkan diri masing-masing, disingkat misbar : gerimis bubar.  Berbeda dengan bioskop di Pasar Central berbasis gedung representatif, penonton bisa berlama-lama di dalam gedung tidak terpengaruh cuaca.

Begitulah Puncak Tegeh Kepah adalah puncak terusan dari Puncak Tegeh Buhu dan Puncak Tegeh Kaman. Sebagai puncak terusan, Puncak Tegeh Kepah adalah puncak terendah menuju turunan ke arah Nusa Dua. Namun demikian, keindahannya pun menawan dan sungguh inspiratif. Banyak kisah dan narasi terbangun dari sini lantaran inilah akses satu-satunya dari Bualu menuju desa-desa di Kawasan Bukit Badung, di Kaki Pulau Bali yang dulu dikenal dengan nama Gumi Delod Ceking. Dulu kawasan ini sulit nasi tetapi kaya narasi yang pantas dikenang dan dicatat sebagai pangeling-eling.

Pada mulanya,  Puncak Tegeh Kepah adalah kawasan bengang seperti di Tegeh Buhu yang sepi. Namun, kini Puncak Tegeh Kepah adalah jalur supermacet bin bising. Diperlukan kesadaran dan kebijaksanaan menyikapi sehingga terhindar dari silang wacana yang menyebabkan hubungan disharmoni. Sugi Tenten pada Rabu Pon Sungsang, Sugi Jawa pada Kamis Wage Sungsang , dan Sugi Bali pada Jumat Kliwon Sungsang  adalah alur waktu untuk merenung menyambut Galungan tiba dengan kesadaran untuk menemukan keindahan sebagaimana di Puncak Tegeh Kepah tempo doeloe.

 Selamat menyambut Hari Galungan dan Kuningan. [T]

BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT

Rumput Laut Delod Ceking, Nasibmu Kini   
Di Puncak Tegeh Buhu  
Desa Adat  Kutuh Sebagai Desa Pemancar 
Di Puncak Tegeh Kaman 
Bak Inpres dan Cubang Air di Gumi Delod Ceking   
Tags: desa adat bualudesa adat kutuhGumi Delod Cekingkuta selatanNusa Dua
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pesta Rilis “Lebih Dekat” Nosstress: Membawa Lagu ke Rumah-rumah Pendengar

Next Post

Anugerah Kebudayaan Indonesia dan Para Teladan dalam Pemajuan Kebudayaan

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Anugerah Kebudayaan Indonesia dan Para Teladan dalam Pemajuan Kebudayaan

Anugerah Kebudayaan Indonesia dan Para Teladan dalam Pemajuan Kebudayaan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co